Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
PART INEKE & RAIN


__ADS_3

..."RAIN?"...


..."Doorr"...


Mendengar teriakan Ineke yang berlari ke arahnya, Rain menjadi tidak fokus, ia melesatkan tembakan, namun tangannya yang goyah membuat tembakan itu melesat ke arah yang salah. Untunglah peluru itu hanya mengenai hamparan pasir putih di samping Pria yang tengah bersimpuh tadi.


..."Rain?"...


Ineke berlari menghamburkan diri kedalam pelukan Rain, ia memeluk tubuh suaminya itu dengan sangat erat, benar-benar erat.


Derai air matanya mengalir membasahi pipi, Ineke seakan tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang menatapnya saat ini.


..."Please? Don't Do this!"...


Ineke masih terus memeluk Rain membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang tampan itu. Tangannya meraih senjata dalam genggaman Rain, lalu melemparnya ke sembarang arah.


Untuk sesaat ia kembali teringat dengan Dion, yang pergi meninggalkannya untuk selamanya karna panasnya timah peluru yang menghujam di dada.


Ineke telah merasakan sakit dan deritanya kehilangan orang yang ia cintai, kini, ia tak ingin lagi merasakan hal yang sama. Tiba-tiba ada perasaan takut di hati Ineke jika sesuatu terjadi pada Rain suaminya. Cinta itu telah tumbuh.


Rain mengangkat dagu Ineke. Membuat Istrinya menatap kearahnya. Ineke yang menangis menatap Rain dengan tatapan sendu.


Hati Rain berdetak kencang ketika melihat Ineke yang berlari sambil meneriaki namanya. Itu sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya.


Rain menatap manik Ineke semakin dalam. Mendekatkan kepalanya pada wajah Ineke. Tanpa mempedulikan orang-orang yang masih berada di sekitarnya, Rain mulai menautkan bibirnya pada bibir Ineke. Dengan gerakan lembut yang mem*bukkan.


Ineke berjinjit mencoba mengimbangi tinggi suaminya. Ia memejamkan mata dan kedua tangannya memegang dada bidang Rain. Sedangkan, tangan kanan Rain memeluk pinggang Ineke Agar semakin me n*mpel sempurna pada tubuhnya. Dan tangan kirinya menyentuh lembut pipi Ineke.


Mereka melakukannya cukup lama, hingga Cen mengambil alih atas orang-orang disana. Meninggalkan sepasang Suami-Istri yang baru dilanda asmara.


Semakin lama mereka saling menautkan bibir, menyesap, membelit lidah, dan merasakan manisnya Sa* liv*a


Rain lantas menggendong tubuh istrinya seperti seorang Raja yang menggendong Ratunya, memasuki Istana, untuk memadu cinta. Rain melangkah dengan menggendong tubuh Ineke seakan tanpa beban. Tanpa melepas tautan pada bibir mereka.


Rain berhenti ketika mereka sampai di depan lift. Ia menghentikan aksinya dan menurunkan tubuh istrinya. Ineke hanya menunduk. Rain kembali menangkup wajah Ineke, melihatnya semakin dalam.


..."Apa kau bersedia?"...


Ineke hanya mengangguk sekali dengan pelan. Mendapat jawaban persetujuan. Rain dengan wajah yang berbinar memencet tombol lift. Ia menuju lantai atas menggunakan alat itu. (Ya, ngapain Ineke lari menuruni anak tangga coba? Itu ada lift ke?)

__ADS_1


Saat berada di lift, Rain kembali mengeksplore istrinya. Menautkan bibir mereka, menelusuri setiap bagian yang sangat didambanya. Hingga mereka sampai di dalam kamar.


Rain melepas sendiri satu persatu pakaian yang dikenakannya. Seorang Rain Cosa Bos Mafia Klan Rain Cosa. Sang Pria Cassanova. Berdiri gagah dengan tinggi tubuhnya 173 cm, tubuhnya yang berotot indah memanjakan mata kaum hawa. Dada yang bidang dan ketampanan yang pari purna.


Ia mendekati sang istri yang hanya diam berdiri tanpa melakukan apa-apa.


Rain memulai gerakan demi gerakan pembukaan. Pemanasan, membimbing Ineke kedalam kendalinya, hingga gerakan inti layaknya suami istri itu terjadi.


..."Kau menjadi Istri Partner Ranjang ku sekarang sayang!" Lirih Rain di telinga Ineke....


Ineke hanya diam memejamkan mata.


Rain melakukannya dengan gerakan pelan. Tidak begitu sulit, pelan-pelan menyatu dengan sempurna.


Rain memberi tanda kepemilikan hampir di seluruh bagian depan istrinya. Menikm*to buah sang istri, Rain melakukannya dengan g*i r*h cinta.


Bergerak maju mundur dengan teratur, des*han-des*han memalukan itu menggema memenuhi kamar. Mereka tengah mencari kepuasan dan saling memuaskan.


Suhu rendah dari AC tak dapat mendinginkan mereka yang tengah terbakar gelora. Bulir-bulir keringat itu menyaksikan pertempuran mereka.


Lagi dan kagi Bibir mereka saling bertaut, bahkan terkadang mengigit.


Ranjang ikut bergoyang mengikuti irama yang di mainkan. Hingga beberapa jam kemudian. Rain berteriak menghantarkan pelepasan kedalam tubuh istrinya, dan tubuh Ineke yang melengking ke atas merasakan hal yang sama.


..."Dion!"...


Satu kata yang terucap dari mulut Ineke dengan lirih sontak mengagetkan Rain. Ia mengangkat sedikit tubuhnya yang tengah menindih Ineke.


...'Apa? Dion?'...


Mata Ineke terpejam sempurna, ia langsung terlelap dalam mimpi indahnya. Tanpa menyadari ada hati yang begitu terluka karna suara lirih yang baru saja ia ucapkan. Satu nama yang mampu menyayat hati seorang Rain Cosa begitu dalam. Sakit yang Ter amat sangat.


Rain lekas berdiri. Ia melihat istrinya yang kini terbaring dalam lelap tidurnya. Mata Rain memerah, rahangnya mengeras menahan amarah. Hatinya seperti di tumbuk oleh benda tumpul yang menyesakkan dada. Rain merasa sakit hati yang begitu dalam.


Malam pertamanya bersama istri, wanita yang sangat dicintai ternodai oleh lirih sang istri yang menyebut nama pria lain di telinganya.


Rain lekas membersihkan diri dan meninggalkan Ineke. Ia melangkah keluar seperti Raja Iblis yang tak bisa lagi di kendalikan.


Kedua tangannya memegang senjata. Ia harus segera mencari pelampiasan amarahnya sekarang.

__ADS_1


...****************...


Hati tetaplah hati, tidak hanya dimiliki oleh kaum wanita, tapi pria pun sama halnya. Sosok makhluk yang terlihat kuat itu bisa begitu rapuh dan hancur karna hati.


Rain telah hancur dalam cintanya. Ia telah kalah karna rasa yang di banggakannya.


Hari-hari berlalu begitu saja. Rain pulang lambat saat Ineke tengah terlelap, dan pergi meninggalkan Mansion saat Ineke masih terlelap.


Ia berusaha menghindari Ineke. Tapi ia tak mampu jika sampai harus mengutarakan sakit hatinya akibat ulah sang istri.


Rain bisa menerima keadaan Ineke yang bukanlah seorang virgin. Itu bukanlah masalah baginya. Tapi bibir Ineke yang mengucap nama Dion dengan lirih di saat akhir permainan mereka. Jelas membekas dalam lubuk hatinya.


Semakin hari Ineke mulai merasa tidak betah. Rain yang sekarang bukanlah Rain yang dulu ia kenal. Rain suaminya telah berubah.


..."Bukankah aku telah menyerahkan diriku seutuhnya? Kenapa dia berubah?"...


Ineke bertekad malam ini ia tidak akan tidur sampai suaminya itu datang, ia harus meminta penjelasan pada Rain atas berubahnya sikap Rain pada dirinya.


Jam menunjukkan pukul 00:10. Kamar Ineke gelap tanpa cahaya lampu menerangi. Terdengar seseorang membuka pintu kamar secara pelan.


Rain memasuki kamar, menutup kembali pintunya dengan pelan, lalu menyalakan saklar lampu.


Ia sedikit kaget mendapati Ineke yang berdiri di hadapannya dengan jarak beberapa meter.


Ineke mengernyitkan dahi melihat penampilan Rain. Ia seperti seorang pria yang tak terurus, Kemejanya kusut, wajahnya terlihat kucel, dan, percikan-percikan darah di leher dan dada Rain sontak membuat Ineke membulatkan mata semakin kaget.


..."Rain?"...


Rain berjalan menjauh dari Ineke yang mencoba mendekatinya.


..."Tunggu Rain, kenapa kau berubah? Kenapa kau menghindari ku Rain? Apa salahku? Sampai kau bersikap seperti ini padaku?"...


Rain tak bergeming. Ia melepas jam di tangannya di taruh di atas nakas. Lalu melepas kemejanya. Melemparnya ke sembarang tempat. Ia berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya sendiri dengan badan membungkuk dan kedua tangan berpegangan pada sisi meja.


..."Rain, jawab aku, apa aku hanya Mainan bagimu? Hingga setelah kau puas memainkan ku kau akan mencampakkan ku?"...


Ineke berteriak di samping Rain. Ia sendiri tengah diliputi amarah saat ini.


Rain dengan gerakan cepat mencekik leher Ineke menguncinya di dinding.

__ADS_1


Ineke kelabakan membulatkan matanya mendapat serangan itu. Terlihat mata Rain yang merah karna amarah, bulir bening mulai menetes membasahi pipinya. Rahangnya tegas jelas menahan amarah. Giginya beradu dengan deru nafas yang menggebu.


Ineke hanya diam menerima perlakuan itu dari Rain. Dadanya sendiri secara tiba-tiba berdetak begitu kencang. Nafasnya tersengal.


__ADS_2