Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
PLAN 'A'


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Ayla dan Ineke jelas di Landa rasa cemas, panik dan tegang, Arend selalu menjadi tiang penyangga mereka untuk tetap tegar, berpikir positif. Dan meyakinkan Mama dan Aunty nya jika semuanya baik-baik saja.


Sedangkan Zico, mereka semua menyembunyikan keadaan rumit ini dari anak itu.


Mereka mengatakan pada Zico jika Papah Aryan dan Dion tengah melakukan perjalanan bisnis.


Sejak hari itu, tidur Ayla maupun Ineke tidak pernah tenang, malam mereka selalu terasa panjang dan di sertai derai air mata.


Makan pun tidak bisa dengan baik. Hanya ketika ada Zico mereka bersikap seolah semuanya normal.


Ayla tengah bersimpuh di atas sajadahnya. Air matanya deras membasahi pipi, tubuhnya tertutup oleh mukena warna putih. Tangannya menengadah meminta, memohon pertolongan dari yang maha kuasa.


Tak henti-hentinya Ayla setiap malam berdoa untuk keselamatan suaminya. Dan juga Dion.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ayla masih terjaga, sampai pukul 4 terdengar suara adzan subuh, Ayla menunaikan shalat, karna matanya yang terasa berat akibat mengantuk akhirnya Ayla tertidur di atas sajadahnya.


Pagi telah tiba.


Ineke membantu Sila di dapur menyiapkan sarapan. Zico tengah bercermin, memakai pakaiannya sambil di bantu oleh Arend.


Setelah Zico siap, Arend mendorong kursi roda Zico ke meja makan.


..."Baca ini selagi menunggu yang lain datang."...


Arend memberikan buku detektifnya yang waktu itu pada Zico. Lalu Arend melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamar Ayla di atas.


..."Aku akan memanggil mama dulu."...


Arend sampai di depan pintu kamar Ayla. Arend sedikit ragu saat akan mengetuk pintu.


...'Apa semalam Mama tidak tidur lagi? Dan dia baru tidur? Tapi, jika mama tidak sarapan, badannya juga akan melemah."...


Akhirnya Arend tetap mengetuk pintu.


..."Mah. Mamah sudah bangun?"...


Tidak ada jawaban. Arend membuka pelan gagang pintu kamar Ayla. Tidak di kunci, ia mulai melangkah mengedarkan pandangan.


Matanya terhenti ketika mendapati orang yang di tuju tengah tertidur di atas sajadah.


...'Ya sudahlah, biarkan mama tidur.'...


Arend hendak memutar badan kembali keluar, hingga langkahnya terhenti ketika mendengar bunyi dering dari ponsel Ayla yang ada di atas Nakas.


...*Papah Aryan...


...Calling,,,,...


Tanpa pikir panjang Arend mengangkat panggilan itu.


..."Halo, Ayla? Sayang?"...


..."Halo Pah, ini Arend, Papah ada dimana sekarang?"...


Mendengar ada suara, Ayla mulai mengerjapkan mata, mengumpulkan kesadaran. Arend melihat ke arah mamanya yang mulai bangun. Segera Arend mendekati mamanya dan menekan panel kamera untuk panggilan video.

__ADS_1


..."Pah, Papah dimana sekarang?"...


Ayla membulatkan mata, kini kesadarannya dengan cepat terkumpul. Ia langsung meraih benda pipih itu dari tangan Arend.


..."Papah ada di suatu tempat Arend. Papah tidak bisa mengatakannya sekarang."...


Nampak wajah Aryan memenuhi ponsel Ayla, begitu pun sebaliknya nampak wajah Ayla memenuhi layar ponsel Aryan.


..."Ayla, sayangku?"...


..."Mas Aryan."...


..."Jangan menangis Ayla, sayangku, kumohon, kau membuat ku sakit jika melihatmu seperti itu."...


Ayla langsung mengusap air matanya. Ia berusaha tenang dan tegar sekarang.


..."Dengar, aku tidak punya banyak waktu. Akan ada beberapa orang yang datang menjemput kalian nanti. Kalian ikut dengan mereka. Setelah semua masalah ini, kita akan kembali bisa bertemu."...


..."Mah, berikan padaku."...


Arend meminta ponsel yang di pegang Ayla.


..."Bagaimana cara kami bisa mengenali orang-orang itu pah? Agar kami tidak salah mengenali orang.?"...


Arend memang anak yang genius. Sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain bisa terlintas dalam pikirannya.


..."Bagaimana mereka bisa mengenali orang-orangmu Rain?"...


Terdengar Aryan tengah berbicara dengan seseorang.


...'Rain?'...


..."Arend, dengarkan Papah, mereka semua memiliki tato yang sama di kelingkingnya. Tato kecil huru C"...


Arend menganggukkan kepala mengerti.


Ayla meminta kembali ponselnya.


..."Mas, Mas Aryan, kamu dimana? Apa yang sedang terjadi? Kapan kamu akan kembali Mas? Aku sangat takut.!"...


Ayla tak dapat lagi membendung air mata dan menyembunyikan kepanikannya.


..."Ayla, aku baik-baik saja. percayalah. Ayla, Arend. Papah harus segera mematikan panggilan sekarang juga."...


..."Tunggu pah, ada Polisi yang mencari papah, Tuan David dan Gita di temukan tewas di kantor Papah."...


..."Tenang Arend. Masalah itu sudah selesai. Orang-orang papah sudah menyelesaikannya"...


Panggilan di akhiri. Ayla menangis dalam pelukan Arend. Tapi paling tidak, ada kelegaan di hati mereka karna Aryan baik-baik saja.


Tidak lama kemudian Ineke masuk kedalam kamar Ayla sambil menangis tapi juga terlihat bahagia.


..."Ayla, Dion menghubungiku. Dia baik-baik saja."...


Ternyata, hal yang sama juga di lakukan Dion pada Ineke.


..."Iya ke, Aryan juga menghubungiku. Syukurlah mereka baik-baik saja."...

__ADS_1


Mereka bertiga berpelukan haru.


..."Kita harus mengemas baju dan barang kita yang mungkin akan kita butuhkan. Dion bilang"...


Belum sempat Ineke menyelesaikan perkataanya, Ayla sudah menjawab.


..."Iya ke, Aryan sudah menjelaskannya. Ayo. Cepat Arend.!"...


Mereka semua sarapan dengan cepat, lalu mengemasi barang sebelum mereka yang akan menjemput datang.


Arend meminta pada seluruh orang rumah untuk tetap berada di dalam rumah sampai mereka berangkat nanti.


Dan jika ada orang datang, dia harus di cegah di depan luar gerbang. Dan Arend harus di beritahu untuk melihat langsung orang yang datang sebelum semuanya keluar.


(Anak yang pemberani)


..."Mah, kita akan kemana? Kenapa kita berkemas?"...


Ayla dengan senyum manis membelai pipi Zico yang duduk di kursi roda.


..."Kita akan liburan sayang, Kita akan menemui Papah nanti."...


..."Papah? Dia sudah menelfon?"...


Ayla mengangguk.


..."Kenapa Papah tidak bicara sama Zico dulu mah?"...


Ayla harus mencari alasan agar Zico tidak merasa sakit hati. Karna sebenarnya Aryan juga dalam situasi terjepit dan buru-buru.


..."Papah sangat sibuk sayang. Tapi dia bilang sangat merindukan mu. Kamu tidak marah kan?"...


Zico menggeleng.


Arend, dan Ineke juga sudah siap. Mereka berkumpul di ruang tengah. Bu Nana bertanya mencoba mencari tahu mau kemana mereka pergi.


Ayla hanya menjawab mereka akan liburan.


Penjaga gerbang depan datang masuk kedalam rumah.


..."Tuan Muda, ada yang datang."...


Arend mengangguk dan menyuruh agar pintu di kunci dari dalam. Lalu Arend keluar menemui orang tersebut. Mereka ternyata banyak. Sekitar 6 orang dengan 3 mobil.


Yang pertama Arend lihat adalah jari kelingking mereka, benar saja, apa yang di takutkan Arend terjadi. Satu pun di antara mereka tidak ada yang memiliki tatto huruf C sebagai tanda.


..."Kalian siapa, dan ada urusan apa?"...


..."Kami datang kemari mencari Nona Ineke, Kami datang atas pesan dari Dion."...


..."Baik, kalian tunggu sebentar, akan ku panggilkan."...


Arend kembali masuk. Mengunci gerbang dari dalam, membiarkan mereka menunggu di luar.


Arend berpikir cepat. Mereka bukan orang-orang yang dimaksud Papahnya. Akan ada Orang-orang Papahnya nanti yang datang, dan biarkan mereka menyelesaikannya di luar.


Saat Arend sampai di dalam rumah. Dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


..."Kita tunggu sebentar lagi."...


__ADS_2