Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
PENDAKIAN


__ADS_3

Arend telah siap melakukan perjalananya, Zico berlari keluar dari arah rumahnya, di ikuti Dion yang mengejarnya.


..."Tuan muda, Saya mohon, jangan lakukan ini, saya bisa kehilangan nyawa saya jika tuan muda melakukan ini."...


Arend melangkah meninggalkan Zico yang di rasa berdrama dengan Dion.


Zico kembali berlari mengejar langkah Arend. Kini mereka berjalan beriringan.


..."Tuan muda Arend, kumohon, tunggu, Tuan Aryan akan sangat marah jika sampai anda melakukan ini, kemarin waktu camping saja dia sudah sangat marah. Ku mohon batalkan rencana kalian ini."...


..."Dia tidak berhak jika mau marah terhadapku. Tapi, Kau bisa tetap tinggal Zico, jangan mengikuti ku."...


Zico menggeleng.


..."Tuan Arend.!"...


..."Selangkah lagi kamu mengikuti jalan ku, akan ku pastikan kaki mu patah Tuan Dion."...


...'Anak ini benar-benar menakutkan.'...


Terpaksa Dion menghentikan langkahnya membiarkan mereka jalan semakin jauh.


Ayla pergi ke kios, Ineke membersihkan dan membereskan rumah.


Dion datang.


..."Bagaimana ini ke? Aku bisa mati di bunuh Tuan Aryan jika dia tahu kedua jagoannya pergi mendaki gunung."...


Ineke tertawa tipis melihat Dion dengan ekspresi yang benar-benar takut.


..."Tenang lah Dion, tidak akan terjadi apa-apa, pengetahuan Arend tentang alam sangat bagus. Disana nanti juga pasti akan ada banyak pendaki lain."...


...****************...


Aryan selesai melakukan meeting jam 11.30, ia membuka ponselnya yang sedari tadi dalam mode off.


Ada begitu banyak panggilan dari Dion. Dan dua panggilan dari Zico?


...'Apa semuanya baik-baik saja?'...


Aryan menghubungi ponsel Zico, Ponsel itu berdering dari arah kamar Arend. Ineke mengambilnya.


..."Iya Tuan Aryan?"...


..."Ineke? Dimana Zico, kenapa kamu yang mengangkatnya.?"...


..."Sepertinya Zico melupakan ponselnya. Dia meninggalkan ponselnya di kamar Arend."...


..."Tapi, dimana Zico sekarang?"...


..."Dia sedang mendaki gunung, bersama Arend."...

__ADS_1


..."Apa?"...


Ineke menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Teriakan Zico bisa merusak gendang telinga.


Aryan menutup panggilan secara sepihak.


Kini giliran ponsel Dion yang berbunyi.


(bunyi panggilan masuk)


..."Matilah aku!"...


..."Dion, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membiarkan kedua putra ku melakukan hal ekstrem itu lagi? Apa kau sudah bosan hidup hah?"...


..."M M Ma Maaf Tuan Aryan. Saya tidak bisa mencegah mereka, tuan muda Arend mengancam akan mematahkan kaki saya jika saya menghalangi jalannya, bahkan Nyonya Ayla saja tidak bisa melarang tuan muda Arend untuk berangkat."...


Telpon kembali di putuskan secara sepihak.


Aryan langsung melakukan perjalanan kembali ke desa, ia di temani oleh 1 bodyguard dan 1 orang supir. Kemungkinan mereka akan sampai di desa malam hari.


(Pasti sangat melelahkan selalu melakukan perjalanan bolak balik.)


...****************...


Arend dan Zico mulai mendaki gunung ketika jam menunjukkan pukul 07.45.


Setelah melakukan registrasi pendakian, Arend mengajak Zico berdoa sebentar sebelum memulai perjalanan.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Lalu ke Pos 3. jarak antara Pos 2 dan Pos 3 lumayan jauh.


Setelah mendaki selama setengah hari, hampir 6 jam, dengan 4 kali ber istirahat, akhirnya Arend dan Zico mencapai titik Pos 3.


Mereka kembali beristirahat sejenak sebelum akhirnya akan kembali melanjutkan perjalanan.


Banyak pendaki lain yang juga tengah beristirahat di sana.


Di Pos 3 ini ada sebuah warung kecil, hampir sama dengan yang ada di Pos 1 dan Pos 2.


Dan ini adalah Pos terakhir yang terdapat warung, setelah ini nanti, mereka harus benar-benar bisa menghemat dan me manage Perbekalan air dan makanan mereka, agar tidak kehabisan ketika waktu turun nanti.


Untuk bisa mencapai puncak, mereka harus melewati 1 Shelter lagi yakni Shelter 2. Dan mereka akan mendirikan tenda di Shelter 2 untuk bermalam disana, mengistirahatkan tubuh, lalu di sepertiga malam, sekitar jam 2 malam mereka akan melanjutkan pendakian menuju puncak atau SUMMIT.


SUMMIT di malam hari bertujuan agar mereka bisa sampai di puncak pada waktu subuh pagi, Waktu fajar menyapa, agar bisa mendapatkan momen Sun Rise.


Jika mereka mendaki sejak sore atau malam, mereka akan sampai di puncak tengah malam, Suhu nya bisa sampai 5°. Dan Fisik manusia tidak akan bisa bertahan. Bisa mengalami Hipotermia.


Bisa di bilang mendaki satu hari, bermalam sebentar, lalu turun lagi, dan sampai di bawah dalam waktu 1 hari, jadi total pendakian sampai puncak kembali turun adalah 2 hari 1 malam.


Kini Arend mendaki tidak lagi hanya berdua dengan Zico, ada anak-anak mapala yang usianya sudah 20 an ke atas, mereka pendaki dari luar daerah. Dan mereka melakukan perjalanan pendakian bersama setelah saling berkenalan.


Arend dan Zico sampai di Shelter 2 pukul 4 sore. Setelah selesai mendirikan tenda, Arend mengajak Zico untuk menjalankan ibadah shalat ashar bersama.

__ADS_1


Mereka memulai acara bermalam. Memasak, dan makan bersama.


Lalu mencoba untuk langsung tidur di jam 8 setelah menunaikan shalat isya'. Agar nanti ketika jam 2 Pagi bisa bangun dan segera melakukan SUMMIT


...****************...


Aryan sampai di rumah Ayla pukul 9 Malam.


Tanpa aba-aba ia langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Dion.


Ineke yang melihatnya refleks berteriak.


..."Maaf Bos."...


Sekali lagi Aryan menghantamkan pukulan ke muka Dion hingga ujung bibirnya sudah berdarah dan membiru.


Ternyata ketakutan Dion memang fakta adanya, ada rasa penyesalan di hati Ineke telah menertawakan Dion pagi tadi.


..."Kenapa kau tidak mencegahnya Dion?"...


Aryan mencengkeram kuat kerah kemeja Dion. Dion sudah pasrah. Kalaupun dia melawan dia malah akan tambah KO dengan pukulan dari bodyguard yang berada di belakang Aryan.


Seorang pria berkulit hitam dengan badan yang tegap tinggi dan besar.


..."Ma Maaf Bos"...


Lagi, pukulan itu bebas melayang mendarat pada muka Dion.


..."Aryan!"...


Aryan tidak menghiraukannya.


Ayla menarik tangan Aryan.


..."Mas."...


Aryan menghentikan kebrutalannya ketika suara lembut itu di dengar oleh telinganya.


Aryan melepaskan Dion dengan kasar. Ia menoleh ke arah Ayla.


..."Aku akan menjemput mereka Ay."...


..."Tidak perlu Mas, Besok juga Arend dan Zico pasti sudah pulang. Kalau Mas menyusul mereka sekarang, Arend pasti tidak suka. Lagian juga gak akan keburu. Pasti mereka sekarang sudah sangat jauh, dan mungkin hampir mencapai puncak."...


..."Lantas aku harus bagaimana Ayla? Apa aku hanya diam seperti orang bodoh disini menunggu kedua putraku kembali?"...


..."Besok mereka pasti sudah turun. Kita doakan saja agar mereka baik-baik saja."...


..."Kau tidak akan ku lepaskan."...


Aryan kembali menatap Dion dengan tatapan marah, kesal dan membunuh.

__ADS_1


__ADS_2