
Di Tim A ada Ayla, Aryan, Arend dan Cen. Di Tim B ada Ineke, Rain, Zico dan Bian.
Bianca melihat dari samping lapangan yang di buat dadakan oleh para Bodyguard. Koin di lempar. Tim A yang akan memulai Servis.
..."Priiiiiittt!"...
Peluit di bunyikan oleh Bodyguard yang menjadi Wasit.
Aryan bersiap di posisi, ia siap memulai. Dan Bola itu melambung keatas net menuju lapangan lawan setelah di pukul keras oleh Aryan.
Tim B mempertahankan, Rain menerima bola, Bola itu memantul dari genggaman tangan satu ke tangan lainya. Mereka saling menyerang dan saling mempertahankan.
Bola jatuh pertama kali di lapangan Tim A.
..."Yeeaayyy!!"...
Ineke dan Zico berteriak keras mengawali kemenangan.
Mereka melanjutkan. Bergantian bersorak ketika bola itu jatuh memberi poin. Ayla dan Aryan berciuman saat Tim mereka yang mendapat poin tambahan. Sedangkan Ineke dan Rain masih canggung dan tak berani melakukan itu. Ineke hanya bersorak dan saling memeluk bersama Zico.
Sampai pada titik Aryan melakukan Smash untuk menyerang Tim B, dan bolanya justru mengenai pipi Bianca yang berdiri di pinggir lapangan dengan keras.
..."Aaahhhh!"...
Bianca sampai terjatuh ke tanah pasir.
..."Bianca?"...
Semua menghentikan permainan. Rain dan Bian mendekat. Aryan pun sama halnya. Ia merasa bersalah karna ia yang melakukan Smash tadi.
..."Kau tidak apa-apa?"...
Aryan terlihat khawatir. Tangannya dengan lembut menyentuh Pipi Bianca yang terkena serangan Bola Voly. Pipi Bianca memerah, bahkan mungkin bisa lebam.
Bianca hanya terdiam menatap wajah Aryan yang ternyata begitu sangat tampan. Apalagi berada dekat seperti ini. Dadanya berdetak tidak normal secara tiba-tiba.
Bianca tidak mempedulikan orang-orang yang bertanya dengan keadaannya, ia hanya fokus melihat Aryan yang terlihat mengkhawatirkannya. Hati Bianca berdebar. Ia jatuh cinta pada Aryan di waktu yang salah. Jatuh cinta pada orang yang salah.
..."Ini terlihat parah, harus segera di obati."...
Suara Bariton Aryan terdengar begitu menggairahkan di telinga Bianca, ia bahkan lupa dengan rasa sakit di pipinya saat ini.
..."Sorry, aku gak sengaja, sungguh."...
Bianca seperti terhipnotis. Ia hanya menggeleng.
..."Bianca, ayo kita masuk, kita obati lukamu."...
Bian membangunkan Bianca, ia juga khawatir dengan saudari kembarnya itu.
Mereka akhirnya dengan terpaksa menghentikan permainan. Kembali berjalan memasuki Rumah Rain. Di luar senja sudah mulai menghilang, di gantikan dengan Susana Maghrib yang datang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan masuk rumah, Bianca terus memperhatikan Aryan yang terlihat mesra bersama Ayla. Membantu Ayla merapikan anak rambutnya yang keluar dari hijab nude nya. Sambil mengecup pipi Ayla terus menerus.
Ineke bergandeng tangan dengan Zico dan Arend. Rain yang berjalan di belakang berdampingan dengan Cen merasa kesal. Sang Bos Mafia cemburu pada anak-anak bawang. Cen menahan tawa melihat ekspresi muka Bos nya yang terlihat gomuk.
Mereka kembali ke kamar masing-masing, sebelum nantinya akan bertemu di meja makan pukul 8. Ayla dan Aryan berjamaah, Arend dan Zico pun melakukan hal yang sama.
Ineke nampak sendu melihat mukenah nya yang semenjak datang ke tempat ini tak pernah di sentuh nya. Ketika sahabatnya Ayla datang. Ineke baru menyadari kelalaiannya selama ini.
Ia mengambil air wudhu. Lantas mengenakannya.
..."Kamu? Mau Shalat?"...
Rain datang menghampiri Istrinya yang sudah bersiap. Ineke menganggukkan kepala. Rain hanya membalas dengan anggukan juga, tersenyum dan berlalu.
Ineke melakukannya dengan khusyu' dan khidmat. Setelah selesai, Ineke hendak menyimpan kembali mukenanya ke ruang ganti. Langkahnya terhenti mendapati Rain, suaminya juga melakukan hal yang sama di dalam sana secara tersembunyi.
Ineke tersenyum senang melihatnya, ia mengurungkan niatnya masuk ke ruangan itu, membiarkan suaminya menyelesaikan kewajibannya dulu sebagai seorang muslim. Ia tidak mau jika Rain merasa malu saat Ineke masuk dan mendapati ia tengah melakukan ibadah. Biarkan Rain terbiasa dan menunjukkannya sendiri nantinya.
Ayla berada di dapur. Ikut nimbrung sama para koki yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. Menu masakan yang di buat menurut Ayla sangat luar biasa. Ia dengan kecerewetannya meminta resep, ilmu, dan cara membuatnya. Untunglah meski sebelumnya Rain tak beragama, dapurnya tak pernah di gunakan untuk memasak makanan yang di haramkan oleh Islam.
Semua terlihat menyenangkan sekarang.
...****************...
Air yang tenang pun mampu menghanyutkan. Detik Bom waktu yang berdetak pelan pun bisa meledak, Memporak porandakan.
Angin yang memberi kehidupan pun bisa menjadi badai saat menerjang. Tapi, lihatlah Karang, yang tetap bertahan dengan kuatnya, meski ombak terus datang menghantam.
...****************...
Ayla mengisi piring Zico dan Aryan, Sedangkan yang lainya melakukan secara mandiri.
Ineke merasa kaku jika harus melakukan hal yang sama seperti Ayla lakukan pada suaminya. Dan Rain memahami itu.
Ayla menceritakan hari-harinya semenjak Ineke keluar dari rumah. Ineke mendengarnya antusias, Aryan sesekali mengelus pucuk kepala istrinya sambil tersenyum.
...'Sesayang itukah dia terhadap istrinya?'...
Bianca terus menatap Aryan. Pipinya terlihat lebam. Tapi tidak terlalu parah, sudah di obati.
..."Kalau kamu, Ke? Bagaimana menjalani hari selama disini? Rain selalu sibuk kan? Bahkan malam itu kau sampai harus tidur sendirian. Rain harus di beri pelajaran. Meninggalkan pengantin baru di kamar seorang diri. Tidak takut di embat orang?"...
Ineke tersedak. Ia kaget mendengar pertanyaan dan penyataan Ayla.
..."Eeeh, hati-hati."...
Ayla panik.
Rain memberikan Ineke segelas air putih.
..."Makasih."...
__ADS_1
..."Ke? Kamu baik-baik saja?"...
Ayla mulai menyelidik. Raut muka Rain terlihat datar, tapi Bian terlihat antusias mendengar obrolan mereka. Ia terus menatap Ineke yang terlihat gugup.
..."Aku baik kok Ay, ha ha ha, aku bahagia disini. Sungguh."...
Suara Ineke terdengar kaku. Ayla menganggukkan kepala.
..."Bagaimana pipimu, Nona Bianca?"...
Bianca yang hanya diam memandang Aryan kaget gelagapan Karna orang yang di lihatnya sedari tadi tiba-tiba bertanya.
..."Ah, sudah membaik. Tuan Aryan.!"...
..."Maaf, sungguh aku tidak sengaja.!"...
..."Iya, saya tahu, tidak apa-apa."...
Ayla tersenyum ke arah Bianca. Dan Bianca melakukan hal yang sama.
..."Apa malam ini, aku dan Ineke boleh tidur bersama, Mas Aryan? Tuan Rain?"...
..."Iya, aku juga merindukan itu. Bolehkah aku tidur sekamar degan Ayla, Rain?"...
..."Tidak boleh"...
..."Tidak boleh"...
Rain dan Aryan menjawab secara bersamaan.
..."Kenapa?"...
..."Kenapa?"...
Ayla dan Ineke pun bertanya secara bersamaan.
..."Kalau kamu tidur sama Ineke? Aku tidur sama siapa?"...
..."Ya,,, tidur saja sama Tuan Rain.!"...
..."Ogah."...
..."Ogah."...
Lagi-lagi Aryan dan Rain menjawab bersamaan.
Ayla dan Ineke tergelak melihat tingkah suami mereka.
..."Begini saja, Kita semua tidur satu ranjang?"...
..."Hah?"...
__ADS_1
Rain mengeluarkan ide gila.
Aryan, Ayla, dan Ineke saling memandang tidak percaya. Bian dan Bianca hanya seperti nyamuk disana.