
Jalanan kota ramai lancar, berbagai jenis kendaraan berlalu lalang ke tempat tujuan.
Ayla bersama keluarga menaiki mobil mewah jenis Chrysler 300 Limousine berwarna hitam, mobil super mewah yang muat penumpang mencapai 12 orang, di sertai dengan kecanggihan kaca anti peluruh, fasilitas sangat mewah dan fitur yang sangat canggih.
..."Kemana kita akan pergi?"...
Arend mulai bertanya pada salah seorang pengawal yang terlihat paling dominan dibanding lainnya.
Pria yang berwajah beringas dengan bekas luka seperti sayatan pisau di pipi kanannya itu hanya melirik Arend lalu memalingkan wajah. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan Arend.
..."Jika kau tidak mengatakannya akan aku adukan kau pada Rain!"...
Nama yang pernah Arend dengar saat mendapat telepon dari Aryan itu di yakini pasti adalah Bos mereka.
Pria tadi kembali menatap Arend.
..."Namaku Cen. Kita akan ke pulau Tuan Rain."...
..."Apa Papah ku ada disana?"...
..."Tidak, Tuan Aryan pergi ke tempat lain. Kalian akan menunggu Tuan Aryan di Pulau Tuan Rain sampai Tuan Aryan kembali."...
Arend menoleh kebelakang dimana Ayla, Zico dan Ineke duduk di bangku belakang. Zico berada di pelukan ayla. Ia tak berani bertanya, mengikuti perintah Arend jika dia harus menurut saat ini. Meski dalam pikirannya Zico sangat penasaran.
...'Ada apa?'...
Arend duduk bersebelahan dengan Cen di Jok belakang Chauffeur (Kemudi).
Arend teringat saat Aryan dan dirinya melakukan panggilan video tadi pagi. Aryan terlihat seperti tengah sedang menaiki kapal dengan pemandangan belakangnya hamparan lautan, meski hanya terlihat sekilas-sekilas.
..."Perjalanan kita akan sangat jauh, Kau bisa tidur jika kau mau."...
Kali ini giliran Arend yang ingin membalas kesombongan Cen dengan tidak menanggapi ocehannya.
...****************...
Aryan tengah berada di sebuah kapal Speed Boat. Ia berada di ruang Pilot Room bersama Dion dan Rain, juga Kapten yang memegang steering.
Terdapat Engine Equipment yang lengkap All panel unit di sana. Navigation Equipment di lengkapi dengan GPS maps, Radio, dan Kompas. Dion mengarahkan seluruh konsentrasinya pada alat itu untuk menemukan jalur yang benar, menuju pulau terpencil milik Mark.
Para anak buah Rain Cosa berada di ruang Passenger Room. Mereka semua sudah siap dengan alat persenjataan. Senjata api Seperti MG-42. Glock. Dan Wessen Revolver.
Beberapa juga nampak di View Out Door. Mereka berjaga di luar di lengkapi dengan senjata jenis M2HB "Ma Deuce" BMG. Yang bisa melihat musuh dari jarak sangat jauh. Dan kedahsyatan kekuatan tembakannya yang bisa menghancurkan sebuah kapal.
..."Sebentar lagi, kita akan sampai."...
Suara Dion sangat halus hampir berbisik. Namun masih bisa di dengar Aryan dan Rain.
..."Tuan Aryan, apa kau pernah memegang senjata?"...
Aryan menggeleng menanggapi pertanyaan Rain.
__ADS_1
..."Gunakan ini. Ini senjata paling mudah dan ringan untuk kau pakai."...
..."Apa aku harus membunuh orang?"...
..."Jika tidak, maka kau yang akan dibunuh."...
..."Tidak, aku tidak mau membunuh siapapun, dan aku juga tidak mau terbunuh mati konyol disini."...
Dion melihat ke arah Aryan dan Rain yang tengah berdebat.
..."Paling tidak pegang ini untuk berjaga-jaga."...
Rain memberikan paksa Sebuah Guns berjenis Glock. Barang yang terlihat kecil itu ternyata sangat berat di tangan Aryan. Ini adalah pertama kalinya Aryan memegang senjata api.
...'Ayla, bagaimana ini? Dia bilang ini ringan?'...
..."Tuan Aryan, kau harus selalu berada di dekat Rain. Dia akan melindungi mu."...
Aryan masih belum bisa menerima sepenuh hati dengan apa yang akan dilakukannya kali ini.
Rain melangkah keluar meninggalkan mereka. Ia berada di Out Door sekarang, menggunakan teropong jarak jauh untuk melihat mengamati sekitar. Benar saja, sebuah pulau kecil mulai terlihat dan Kapal Boat yang mereka tumpangi mendekat.
Secara jumlah Anak buah Rain kalah di banding orang-orang yang berjaga di pulau Mark, tapi secara skill. Mereka lebih dari segala aspek.
..."Kita putar arah mulai sekarang kapten, gunakan jalur Barat Laut, lebih kecil kemungkinan kita tertangkap sinar infra dari mercusuar."...
Dion mengintruksikan pada kapten. Agar mereka bisa memasuki pulau yang ketat penjagaan itu dengan lebih aman.
...****************...
Namun disana hanya nampak orang-orang berjaga lengkap dengan senjata dan beberapa kapal boat.
..."Dimana kita sekarang?"...
..."Ini adalah tempat rahasia milik Tuan Rain. Cepatlah."...
Cen menggendong Zico. Para pengawal lain membawakan koper dan tas yang mereka bawa.
Cen membimbing mereka untuk segera naik ke sebuah kapal Boat.
Ada perasaan takut di hati Zico saat ini, tapi dia juga merasa jika semua ini adalah keren.
Arend berjalan bersebelahan dengan Cen yang tengah menggendong Zico. Zico sudah tidak dapat menahan lagi, ia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
..."Arend, apakah mereka ini orang-orang papah?"...
..."Iya."...
Arend menjawab santai.
..."Waaaaahh, ini hebat sekali Arend, mereka terlihat sangat luar biasa."...
__ADS_1
Arend tak bergeming.
..."Arend, apa senjata yang mereka pegang adalah sungguhan?"...
..."Iya"...
..."Waaahhh, sejak kapan Papah mempunyai orang-orang yang bersenjata api? Aku tidak pernah tahu."...
..."Kau harus berjanji Zico."...
..."Apa Arend?"...
..."Kau tidak akan pernah menceritakan semua ini pada siapapun seumur hidupmu. Ini adalah Rahasia Papah, dan sekarang menjadi Rahasia kita. Kau anak laki-laki sepertiku bukan?"...
Zico mengangguk antusias, Arend menyebut dirinya seperti Arend. Dia sangat senang.
..."Anak laki-laki sejati bisa menepati janji, tidak berkhianat. Dan bisa menjaga rahasia."...
Cen melihat ke arah Arend. Terlihat sebuah senyum yang tersungging di bibirnya. Sepertinya Cen mulai menyukai anak ini.
...'Dia berani, tegas, genius.:...
Saat mulai memasuki kapal, Zico tak henti-hentinya merasakan kagum, ia mengatakannya penuh semangat dan nampak jelas pada ekspresi wajahnya.
Hilang sudah rasa takut dan bingung yang tadi sempat memenuhi isi hatinya. Kini yang ada Zico merasa sangat senang, sangat keren, dan luar biasa.
..."Ini liburanku yang paling luar biasa Mama"...
Melihat Zico yang antusias, Ayla mulai tersenyum teduh.
..."Iya sayang!"...
Sedangkan Ineke masih terlihat jelas raut mukanya yang sedih dan cemas.
Cen mengarahkan mereka, masuk ke sebuah ruang. Ada sebuah meja makan di lengkapi kursi. Dengan hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja.
..."Kalian makan dulu, perjalanan kita masih jauh."...
Cen mendudukkan Zico pada salah satu kursi. Zico menatap Cen yang tadinya sangat ia takuti karna wajah beringas dan bekas luka sayatan di pipinya.
Mereka mulai makan bersama. Setelah makan, Ayla memberikan Zico obatnya.
..."Cepat sembuh sayang!"...
Ayla mengecup kening Zico. Yang sulit bisa ia lakukan pada Arens.
..."Terimakasih mah."...
Setelah membersihkan badan dan siap. Mereka semua menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Cen hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Meski Cen tidak tahu pasti jika itu namanya shalat, tapi beberapa kali ia pernah melihat orang melakukannya.
__ADS_1
...****************...
Kapal Boat yang di kendarai Aryan, Dion dan Rain telah mencapai tepian Dermaga. Dengan gerakan pelan mereka mulai menuruni kapal memasuki Pulau Mark.