
Rain telah sampai di pulaunya. Semua terlihat normal. Tapi emosi Rain yang berada pada level tertinggi membuat dia meluapkan amarahnya pada semua anak buahnya. Cen pun tidak luput dari kemarahan Rain.
Rain berdiri seorang diri di balkon kamar, melewati waktu 24 jam tanpa Ineke dan ber pisah karna pertengkaran serasa ia tengah menjalani seribu tahun tanpa kebahagiaan.
Rain ingin sekali menghubungi Ineke. Tapi ego nya mencegah dia untuk melakukan itu. Bisa-bisa Ineke akan semakin berani dan tidak menurut padanya. Lagi, dia berpikir jika Ineke memang mencintainya. Maka Ineke pasti akan datang mencarinya.
...****************...
Setelah kejadian muntah Ineke di pagi waktu itu, Ayla langsung membawa Ineke untuk periksa ke Bu Bidan. Dan ya, benar saja. Kabar bahagia itu datang ke tengah mereka yang di Landa gundah gulana.
Sejak saat itu, Ayla begitu sangat memperhatikan asupan gizi Ineke. Arend begitu menjaganya dengan hati-hati. Dan Zico selalu memanjakan aunty nya itu.
Saat bersama dengan keluarga, Ineke sesaat bisa melupakan Rain yang tengah jauh darinya. Tapi saat sedang seorang diri di kamar, ia pasti akan menangis dan kembali merindukan suami yang telah meninggalkannya.
Satu Minggu telah berlalu, Arend bisa mengerti akan penderitaan aunty nya. Ia pun meminjam ponsel Ayla untuk menghubungi Cen. Awalnya Ayla menolak, karna Arend tidak izin terlebih dulu sama Ineke. Namun akhirnya Ayla luluh setelah Arend membujuknya.
"Aunty tidak perlu tahu ini. Ini rahasia kita, Mah."
Ayla mengangguk. Ia pun berharap semua nya membaik. Meski kini justru di dalam hati Ayla ia merasa tidak yakin untuk membiarkan Ineke balik lagi bersama Rain.
'Bagaimana nanti jika Rain masih sama dan tidak berubah? Dia bisa meluapkan emosinya kapan saja pada Ineke dan juga anaknya? Bukankah akan lebih baik jika mereka berpisah. Ada keluarga yang akan merawat Ineke dan juga bayinya.'
Tapi Arend tidak setuju dengan itu, sama halnya jika itu di lakukan. Maka mereka telah memisahkan aunty nya dengan orang yang dicintainya, Istri di pisahkan dari suami, dan anak dipisahkan dari sosok sang ayah. Arend pernah merasakan sakit di posisi itu. Jangan sampai sejarah terulang kembali.
Arend berada di halaman belakang, duduk seorang diri di bangku bawah pohon mangga. Ia memainkan ponsel Ayla.
^^^"Cen, Aku butuh bantuanmu."^^^
^^^✓✓^^^
Lama tidak ada balasan. Sampai Arend pun merasa jengah dan hendak melangkah. Tiba-tiba ponselnya berdering.
...Cen...
...Calling,,,...
"Arend?"
^^^"Untunglah kau membaca pesanku.'^^^
"Apa yang terjadi?"
Arend menceritakan singkat kejadian buruk Minggu lalu. Kini giliran Cen yang menceritakan keadaan Rain di pulau yang sangat kacau. Bahkan ia harus berkali-kali menjadi bulan-bulanan emosi Rain.
Arend belum sempat menceritakan tentang kehamilan aunty nya. Namun Cen sudah mengatakan rencana yang di susun Rain untuk segera ia laksanakan.
"Apa? Menceraikan Aunty?"
Sontak Arend berteriak kaget mendengar apa yang di sampaikan Cen.
Rain telah pada batas kesabarannya. Ineke tak kunjung mengabari meski hanya lewat telepon. Apalagi berniat datang. Rain akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Ineke.
"Cen? Jangan sampai itu terjadi. Karna?"
Belum sempat Arend menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ponselnya sudah di raih oleh Ineke. Kapan ia datang? Sedari tadi Arend hanya sendiri disana?
__ADS_1
"Apa Cen? Dia akan menceraikan ku?"
Air mata Ineke sudah mengalir.
"Oh, oke. Oke. Akan aku setujui permintaanya. Datang saja. Bawa surat-suratnya, dan aku akan langsung menandatanganinya."
Suara Ineke terdengar bergetar. Hatinya sangat sakit saat mengatakannya. Ego nya meninggi. Ineke langsung memutus panggilan itu.
Ia menangis dalam diam. Menatap Arend yang merasa bersalah.
"Aunty?"
"Kenapa Arend? Jika ia ingin mengakhiri hubungan dan meninggalkanku, maka, haruskah aku meminta, memohon dan berlutut di hadapannya agar dia tetap bersamaku? Apa itu yang harus aku lakukan?"
Ineke berteriak sangat keras sambil menangis. Mengundang Ayla datang menghampiri mereka.
"Tidak aunty, bukan begitu?, Tapi?"
"Jika dia memang mencintaiku, dia tidak akan pernah mengatakan kata perceraian, Arend.? Bahkan Aryan pun tak pernah melakukan itu pada Ayla."
Ineke menangis semakin keras. Ayla memeluk tubuhnya dari belakang.
"huusss.... Cukup. Cukup, Ke. Sudah jangan menangis. Tidak baik untuk bayimu jika kau terus menangis dan bersedih."
Ayla mengelus wajah dan rambut Ineke. Ia lantas mengajak Ineke masuk kedalam kamarnya, memintanya untuk tidur dan ber-istirahat. Arend masih berdiam diri di bawah pohon mangga.
Setelah hampir satu jam. Ayla kembali datang.
"Arend, dengar. Jangan pernah lagi melakukan apa pun tanpa seizin mamah atau aunty. Aunty sedang mengandung, Arend. Dia tidak boleh bersedih apa lagi tertekan. Itu akan berpengaruh pada bayinya. Dan 1 lagi. Emosi seorang wanita yang sedang mengandung itu akan mudah berubah, akan cepat marah ataupun tersinggung. Untuk sekarang, kita biarkan saja semuanya seperti ini. Jangan menambah masalah dan beban pikiran."
Sejak kejadian itu, Arend tidak pernah lagi berani menghubungi Cen. Bahkan Ineke telah memblokir dan menghapus kontak Cen dari ponselnya maupun ponsel Ayla.
Ineke merasa begitu terpukul mendengar penuturan Cen jika Rain akan menceraikannya. Dengan ke-Angkuhannya, Ineke akan membiarkan Rain melakukan itu.
Saat sendiri Ineke sering kali meratapi nasibnya yang menyedihkan. Ia membayangkan jika nasibnya akan lebih buruk dari hidup Ayla.
"Tidak, aku tidak boleh menyesali apa pun. Ayla bisa kuat dan bangkit saat masa terpuruknya dulu, aku juga harus bisa melakukan hal yang sama."
Ineke mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Kita akan melalui semua ini dengan kuat sayang"
Ineke mengelus perutnya yang masih rata. Air matanya terus menetes membasahi pipinya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Akan ada Mama, Mami Ay, Kak Arend, Kak Zico. Bahkan Tuan Aryan. Kita semua akan baik-baik saja."
Ineke terus menguatkan dirinya sendiri. Menyadari jika terus bersedih tidak akan baik untuk kandungannya.
Sedang Ayla meminta Arend, dan Zico untuk selalu bisa mengerti aunty nya. Yang kini emosinya tidak stabil. Mudah marah, cepat tersinggung. Atau sedih tiba-tiba.
Belum lagi kerewelan di minggu-minggu pertama.
Setiap pagi Ineke mual dan muntah. Hingga siang bahkan kadang sore ia tidak bisa memakan apapun dengan benar, bahkan air putih maupun susu ibu hamil yang ia konsumsi kembali lagi dimuntahkan.
Dan dimalam hari yang selalu lapar, terkadang ingin makan makanan yang aneh-aneh. Seperti malam ini. Ineke tiba-tiba ingin makan bekicot pedas yang biasa di jual kemasan di pasar saat pagi. Tapi ini sudah malam, siapa yang jual?
__ADS_1
Arend pun dengan sabar mencarikan aunty nya bekicot di sekitaran perumahan warga di temani oleh Zico.
"Bagaimana kita mencarinya?"
Zico yang mengikuti langkah Arend bertanya.
"Hewan itu biasanya berada di tempat lembab, kita cari di bawah pohon-pohon pisang."
"Ah, aunty ada-ada saja. Itu kan hewan yang menjijikkan. Bagaimana nanti dia bisa memakannya?"
"Zico__oo??"
"Aah, Iya, iya."
Arend dan Zico terus mencari, sampai pukul 10 malam. Suasana sudah sepi, Rumah-rumah warga sudah di tutup pintunya. Mereka mengumpulkan bekicot lumayan banyak.
"Kurasa ini cukup."
Arend dan Zico akhirnya pulang membawa bekicot yang di masukkan kedalam wadah ember hitam.
Saat mereka sampai di rumah. Mamahnya sudah menunggu di depan rumah duduk di anak tangga teras dengan muka ngantuk, atau malas. Entahlah.
"Assalaamualaikum.."
Arend dan Zico memberi salam. Ayla berdiri dan menjawab salam kedua putranya.
"Ini Mah."
Arend memberikan Bekicot tangkapannya pada Ayla.
"Lepaskan balik, Arend. Aunty sudah tidur. Tadi dia sudah makan nasi pecel lele beli di Mamang yang jualan di depan Gang."
"Hah? Kita kan udah capek-capek nyari nya, Mah. Masak di lepasin gitu aja?"
Zico protes dan ngedumel.
"Zico?"
Arend memarahinya. Arend menurut dan melepaskan hewan-hewan itu kembali ke habitatnya. Ia lepas di kebun warga terdekat yang ada di pekarangan belakang rumah tetangga. Tempat semula ia mengambil hewan-hewan itu.
"Arend? Apa wanita yang hamil itu selalu menyusahkan dan menyebalkan?"
Arend menatap Zico yang bertanya dengan perasaan kurang suka.
"Tidak juga, kata mama aku tidak pernah menyusahkannya."
"Itu pasti karna dia bayi nya Tuan Rain, mangkanya begitu menyusahkan orang. Iya kan?"
Arend jadi tertawa mendengar celetukan Zico. Yang mungkin ada benarnya juga.
"Seharusnya yang merasakan penderitaan dan penyiksaan ini Tuan Rain, Arend? Bukannya kita?. Entah besok apa lagi yang akan diminta sama aunty."
Arend hanya tersenyum dan tertawa melihat ekspresi Zico yang memelas. 'Kasihan dia harus mengurus ngidamnya orang hamil di usianya yang masih ABG.'
...****************...
__ADS_1