Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
ARYAN VS AREND


__ADS_3

Siang ini sang Surya menampakkan diri sedikit lebih terik dari biasanya. Dion dan Ineke yang tengah melakukan perjalanan ke desa mampir ke sebuah kios kecil pinggir jalan.


Seorang Bapak-bapak yang usianya sudah tua, menjual es kelapa muda disana. Dion menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan.


..."Pak, dua ya!"...


..."Iya Neng!"...


..."Matahari lagi panas, ini juga tengah hari, tapi hawa disini tetap terasa sejuk ya ke?"...


..."Iya, itu juga yang membuat kami begitu betah tinggal di desa Dion, setelah merasakan hiruk pikuk dan kepadatan kota."...


..."Sepertinya sore hari Kita sudah bisa sampai desa ke."...


..."Heem, makannya tadi aku ajak kamu berangkatnya pagi."...


..."Ini Neng."...


..."Terimakasih Pak.!"...


...****************...


Aryan berdiri tak bergeming di hadapan Arend yang sudah siap melakukan aksinya. Mereka berdua saling memberikan tatapan yang terlihat berbeda.


..."Arend, haruskah kita melakukan ini?"...


..."Bersiaplah."...


Tanpa aba-aba Arend mulai penyerangannya memberikan pukulan keras ke arah pipi Aryan sebelah kanan.


Aryan tersungkur ke samping kiri, ia hampir jatuh ke tanah.


Arend masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Aryan bangkit dengan tangannya memegang pipi nya yang terasa sakit dan kaku.


Satu pukulan telak lagi-lagi mendarat di pipi kanan Aryan.


Arend kembali mencoba memberikan serangan pada Aryan, tapi kali ini Aryan menghindar, Ia mencoba mempertahankan diri.


Aryan bisa saja membalas serangan Arend kepadanya, tapi ia tidak bisa melakukannya, ia tidak tega jika sampai melukai anak kandungnya sendiri.


..." Mas Aryan. Awaaas!"...


Teriakan Ayla mencoba memperingati Aryan, namun terlambat. Satu tendangan Arend tepat mengenai perut Aryan.


Aryan tersungkur mundur kebelakang. Untuk sesaat mereka berhenti, deru nafas Arend terdengar jelas. Anak itu menggunakan seluruh kekuatannya dan dia sudah terlihat lelah.


..."Mas Aryan.! Kau akan kalah! Arend akan membawaku kembali ke desa!"...


Teriakan Ayla yang di iringi derai air matanya membuat Aryan kembali bangkit dan semangat.


Kini Aryan maju lebih dulu siap melakukan serangan pada putranya.


Kepalan tangan itu sudah berjarak begitu dekat, sebelum akhirnya Ayla kembali berteriak.


..."Maaaass! Jangaann!"...


Aryan menghentikan serangannya menoleh ke arah wanita yang sangat di cintai nya itu.


..."Bodoh!"...


Arend menarik tangan Aryan yang mengepal lalu dengan gerakan cepat menyerang wajah Aryan dengan sikut kirinya.

__ADS_1


Kembali Aryan gelagapan tersungkur dan jatuh ke tanah.


Keadaan mereka saat ini sudah sangat kacau. Di tambah terik matahari yang sangat panas.


..."Papah harus bagaimana Mah? Papah diam saja, Mama teriak dia akan kalah, Papah menyerang, Mamah teriak jangan!"...


..."Mama tidak tahu Zico.!"...


..."Uuuuhhhh."...


Zico mengeluh, tiba-tiba satu ide terlintas di benak Zico.


..."Papah! Kalahkan Arend tanpa harus menyakitinya Pah!"...


..."Hah!"...


Aryan yang kefokusannya terbagi ke arah Ayla dan Zico hampir kembali terkena serangan dari Arend.


Untung Aryan dengan cepat menangkis kaki Arend dengan pertahanan lengannya. Meski setelah itu Aryan juga meringis kesakitan.


...'Berfikir Aryan, berfikir, cepat berfikir?! Kemana otakmu.?"...


Kini Arend menyerang dengan kakinya yang men 'Sledding' kaki Aryan, hingga Aryan jatuh terjerembab ke belakang.


Aryan memegang perutnya. (Lha, yang jatuh bagian punggung, ngapa yang di pegang perut pak?)


Kini Aryan bangun dengan lebih PD. Arend berlari ke arah Aryan dengan kepalan tangannya siap menyerang.


Tapi Aryan menarik tangan Arend yang mengepal, dan di tangkapnya. Lalu tangan Arend yang satunya lagi Aryan 'bangkik' kedua tangan Arend ke arah belakang.


Aryan memegang kedua tangan putranya itu dengan sangat kuat menggunakan tangan kirinya. Dan dengan gerakan cepat tangan kanan Aryan menarik gesper nya. (Oh, tadi pas pegang perut ngebuka gesper).


Dengan gesper itu ia mengikat, mengunci kedua tangan Arend di balik punggungnya.


Deru nafas Aryan dan Arend terdengar sama-sama berat.


..."Yeeaaayyy!! Papah menang!"...


Zico bersorak gembira. Ayla langsung berhambur lari ke arah Aryan dan tanpa sadar memeluknya, pelukan yang begitu erat.


Melihat itu semua Arend merasa kesal.


..."Aah"...


Arend bergerak mencoba melepaskan ikatan gesper Aryan pada tangannya.


..."Kau melupakanku Ma!"...


Ayla melepas pelukannya pada Aryan. Kini ia merasa kikuk karna malu, dan langsung menghampiri Arend yang sudah berdiri.


Ayla melepas ikatan pada pergelangan tangan Arend. Arend menyentuh pergelangan tangannya yang terasa sakit. Tatapannya tak pernah lepas dari Aryan.


..."Katakan untuk yang pertama kalinya. Aku sudah tidak sabar jika harus menunggu lagi."...


Aryan berbicara sambil tersenyum penuh kemenangan dengan nada sombongnya.


..."Cih"...


Arend berdecih dan hendak pergi meninggalkan tempat, tapi langkahnya terhenti mendengar teriakan Aryan.


..."Kau laki-laki sejati bukan?"...

__ADS_1


Aryan mengulangi kalimat yang pernah Arend ucapkan padanya. Bagi Arend. Itu adalah harga dirinya.


Tanpa menoleh, Arend membuka suara.


..."Aku mengaku kalah. Papah!"...


Aryan begitu senang mendengarnya.


Arend masuk ke dalam menaiki tangga menuju kamar.


Aryan tersenyum begitu senang. Bibirnya benar-benar seperti di beri backing powder. Mengembang dan melengkung sempurna.


Ayla kini dengan kesadaran penuh kembali menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Aryan. Zico masih bertepuk tangan antusias di temani Bu Nana dan assistant lainnya.


..."Kau berhasil!"...


..."Aku mengalahkannya tanpa harus menyakitinya."...


Aryan mengelus pipi Ayla yang basah karna air mata. Ayla tampak begitu cantik di mata Aryan. di tambah dengan senyum manis yang berkembang.


..."Teruslah tersenyum, dan aku akan melakukan apapun agar kau selalu tersenyum seperti ini."...


Aryan mendekatkan bibirnya hendak menautkannya pada bibir Ayla.


..."Papah!"...


..."Ooohhh ****."...


..."Jangan disini. Dilihat orang."...


Ayla melangkah lebih dulu meninggalkan Aryan menghampiri Zico. Perasaan senang dan malu bercampur aduk terlihat jelas dalam bingkai wajahnya.


Arend dan Aryan sudah selesai membersihkan diri.


Arend yang merasa sangat lelah memutuskan untuk tidur. Zico pun ikut tertidur di samping Arend.


Ayla mengobati luka Aryan, terutama di bagian wajahnya yang terlihat ada luka lebam. Terlihat Bibir Aryan yang seperti luka sobek tapi sangat kecil, mungkin karna benturan yang terjadi dengan giginya saat di pukul Arend.


Ayla mengobati area itu dengan lebih hati-hati.


..."Aaahhh"...


Aryan meringis sakit.


..."Maaf, apa sangat sakit?"...


Aryan mengangguk, lalu menggeleng.


..."Bukan, tapi kau salah memberikan obat Ayla.!"...


..."Hah? Obat ini sudah benar, ini antiseptik membunuh kuman dan mencegah infeksi."...


Ayla terlihat serius membaca obat cair yang di pegangnya.


..."Obat yang benar ini Ay!"...


Tangan kanan Aryan berada di pipi kiri Ayla. Ke empat jari nya berada di pipi, dan jari jempolnya mengusap bibir Ayla dengan lembut dan pelan. Benda itu benar-benar terlihat menggoda saat ini di mata Aryan.


Aryan mendekatkan kepalanya, Ayla memejamkan mata. Hingga dengan gerakan pelan kedua Bibir itu saling bertemu melepas rindu.


Aryan mulai menautkannya dengan sempurna. Ia begitu merindukan manisnya benda ranum itu.

__ADS_1


Arya menautkan bibirnya ke bibir Ayla lebih dalam. Membelit, menyesap. Dan mengeksplor bagian dalam begitu menggebu.


Aryan dan Ayla melakukan permainan itu seakan mereka kini tengah menikmati permen gulali yang sangat manis.


__ADS_2