Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
CHAPTER 87


__ADS_3

Jika kau percaya kepada Tuhan, lantas kenapa engkau menggerutu ketika menerima ujian, Teman? Bukankah hujan badai pun akan reda pada saatnya. Dan pelangi akan hadir menampilkan alam yang lebih indah sebagai Bonusnya. Itu adalah kuasa Tuhan yang nyata.


Ah, sialnya Manusia. Yang tak mau bersabar karna kerikil-kerikil kecil yang menerjang di jalanan. Sedangkan di antara mereka ada saudara-saudaranya yang tetap sabar dikala pecahan kaca menjadi jalur utamanya.


...****************...


Arend tengah berkirim pesan dengan Cen. Ia duduk di kursi meja belajar. Menghadap laptop yang memperlihatkan pesan-pesan kiriman maupun balasan. Arend dan Cen semakin dekat.


Zico bermain ponsel. Lagi-lagi tak ada suara game dari benda pipih yang melekat pada tangannya itu. Zico mengenakan earphone. Entah sejak kapan ia suka meredam suara ponselnya.


Arend sempat memperhatikan saudaranya itu. Ia semakin jarang mengajaknya mengobrol ketika berdua di kamar. Berbeda jauh dengan saat-saat yang lalu.


...'Apa aku terlalu dingin padanya?.'...


Arend menutup laptopnya, ia beranjak mendekati Zico. Ingin sekedar berbasa-basi dengan sang saudara. Arend merindukan Keramaian Zico yang mendongeng kepadanya.


Zico melihat Arend yang mendekat. Dengan panik ia menekan tombol kunci hingga layar ponselnya menggelap. Ia melepas earphonnya. Tersenyum yang jelas terlihat seperti terpaksa.


Arend sempat berpikir ada yang aneh. Pasti Zico menyembunyikan sesuatu disana.


..."Kau sudah selesai, Arend?"...


Bahkan suara Zico terdengar bergetar. Ia seperti pencuri yang takut tertangkap basah.


..."Sudah. Kau sedang apa?"...


..."Cu cuma main game."...


..."Boleh aku pinjam ponselmu sebentar, Zico?"...


..."Itu, baterainya lowbat, Arend. Besok saja yah? Lagian ini sudah malam. Kita tidur saja. Selamat malam."...


Zico cepat-cepat membaringkan tubuhnya. Menarik selimut. Ponselnya ia taruh di dekatnya. Dan di tindih telapak tangan kanannya.


..."Tidur lah."...


Arend membantu membenarkan selimut Zico. Ia berjalan ke arah balkon. Arend tahu Zico hanya berpura-pura tidur. 'Biarlah, biarkan sampai lelap benar-benar menyapanya.'


Arend melihat bintang-bintang di langit, Bulan bersinar terang. Ia mengingat Dion. Merindukan Ineke. Dan kasihan pada mamanya Ayla yang masih belum ceria dengan lepas.


Dalam hatinya Ayla merasa dia telah bersalah pada sahabatnya Ineke. Membuat Ayla tidak terlihat seharmonis biasanya dengan Aryan. Tawa ataupun teriakan amarahnya di pagi hari tak lagi di dengar. Ayla lebih sering bergerak dengan diam.


Arend memikirkan begitu banyak hal. Dan itu tadi. Zico tengah menyembunyikan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


...****************...


Ayla berada di depan cermin meja riasnya. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Ayla mengenakan baju tidur setelan celana dan baju berbahan kaos.


...'Maafkan aku, Ke.'...


Meski Ineke sudah menjelaskan padanya jika semuanya telah baik-baik saja. Ayla tak bisa lepas untuk menghilangkan rasa bersalahnya.


Aryan keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan Celana pendek Bokser dan kaos polos warna putih.


Ayla melihatnya berjalan mendekat dari pantulan cermin. Aryan sudah berada di dekatnya. Bahkan Aryan berniat memeluk dan menciumnya. Namun Ayla seperti menghindar meski tidak dengan cara terang-terangan.


Ayla segera berbalik melangkah dan naik ke ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di sisi kiri. Menarik selimut dan menghadap ke arah kiri. Seakan ingin membelakangi suaminya.


Aryan menghembuskan nafasnya pelan. Ia tahu jika Ayla masih belum melupakan kalimatnya yang menyalahkannya waktu itu.


'Oh, wanita, bisakah kalian jika marah tidak membuat pusing kaum pria? Katakan lah sesuatu Nona. Sehingga sang Tuan akan lebih mudah memahami yang kalian inginkan.'


Aryan tak berani untuk bersuara. Tapi ia membaringkan tubuhnya di samping Ayla. menarik selimut yang sama yang digunakan Ayla. Lalu Aryan memeluk tubuh Ayla dari belakang.


Ayla meneteskan air mata.


Pasal 1. wanita selalu benar. Pasal 2. Jika wanita salah maka pria lebih salah. Dan kembali ke pasal 1. Dari quotes yang sudah familiar itu, jangan pernah menyalahkan wanita. Atau justru kau sendiri yang merasa jadi tersangkanya.


Aryan berbisik di telinga Ayla. Ayla hanya diam. Hatinya dongkol. Tapi apa salah suaminya? Apa karna dia berupa makhluk wanita sehingga ia bersikap demikian?


Aryan menciumi leher Ayla dari belakang, memeluk sang istri dengan erat. Dan membiarkan tubuhnya terlelap dalam istirahat.


...****************...


Kekacauan di pulau Rain mulai berangsur di bersihkan. Satu gudang hancur rata dengan tanah karna Bom.


Beberapa anak buah yang terluka di terbangkan ke Rumah sakit kota.


Matahari bersinar cerah. Tapi tak menceriakan suasana. Sisa-sisa ketegangan kemarin jelas terasa.


Ineke berdiri di balkon melihat dengan tatapan gamang, mereka yang lalu lalang membersihkan sisa-sisa reruntuhan. Rain mendekat.


..."Kau baik-baik saja?"...


Ineke menghembuskan nafas kasar. Ia masih marah dengan Rain.


..."Tidak akan ada yang baik-baik saja dengan kehidupan yang tidak baik."...

__ADS_1


Ineke menjawab pertanyaan Rain dengan ketus. Rain mengerti apa yang di katakan Ineke. Ia menghadap ke hamparan laut lepas yang luas. Deru ombak berkejaran di sana. Suaranya menenangkan jiwa.


..."Aku tak memilih jalan hidupku seperti ini."...


Rain bersuara dengan pelan namun tegas.


..."Kau memang tidak memilihnya. Tapi kau masih mempunyai pilihan yang lain."...


Ineke masih fokus melihat orang-orang yang ada di bawah sana. Terlihat Cen yang juga tengah mengangkat serpihan-serpihan benda-benda yang hancur.


Rain mengeluarkan sebatang rokok. Memantiknya, lalu menghisap gas ber-Nikotin itu.


..."Habitat ikan berada di air, dan mereka tidak tenggelam. Mereka justru akan mati jika naik ke daratan."...


Rain menimpali dengan peng-ibaratan yang masuk akal.


..."Itu ikan. Dan kau manusia. Kau bisa meninggalkan dunia hitam ini jika kau mau."...


Ineke menjawab kesal. Ia melihat Rain yang terlihat cuek padanya. Bahkan dengan santai menyesap menikmati rokoknya.


..."Aku benci cinta ini. Bahkan apa yang tidak ku suka sebelumnya telah menjadi candu untuk ku ."...


Ineke melangkah kesal setelah mengatakannya. Ia memang tidak menyukai bau rokok sebelumnya, namun itu justru jadi candu baginya sekarang.


Ineke turun ke bawah untuk membantu atau sekedar melihat-lihat.


Rain masih diam di tempat semula. Entah apa yang di pikirannya sekarang. Dari kalimat yang Ineke utarakan. Bukankah itu sudah jelas jika ia meminta Rain untuk meninggalkan dunia per-mafia an ini?


Ineke telah sampai di bawah. Rain memperhatikannya. Bahkan istrinya itu tetap terlihat cantik meski dari jarak sejauh ini.


..."Cen, biar ku bantu."...


Ineke menghampiri Cen, Cen membawa beberapa senjata yang sudah rusak di tangannya. Ia akan memuatnya kedalam kapal Boat, yang entah akan dibawa kemana.


..."Tidak perlu, Ke. biar aku saja."...


Cen dan Ineke saling melempar senyum.


Rain cemburu melihatnya. Ia membuang rokoknya kelantai, menginjaknya dengan seksi.


..."Apa-apa an ini?"...


Rain lekas pergi dengan emosi. Ia benci melihat Ineke yang akrab dengan Cen sejak kejadian kemarin.

__ADS_1


__ADS_2