
Ineke masih terdiam di balkon kamarnya. Ia benar-benar terpuruk dalam kesedihan. Hanya angin malam dan deru ombak lautan yang menemani kesepiannya.
Ineke mengambil sebuah buku tulis dan pena, ia ingin mencurahkan isi hatinya yang terasa begitu sesak menyiksa dada.
...----------------...
Dear, Diary
*Kepedihan atas kepergiannya, kepedihan atas ketidak hadirannya, kepedihan atas ketidak peduliannya, lalu kepedihan atas merindukannya. Apa yang harus aku lakukan?
Mataku menantikannya, terjaga di setiap malam-malam yang panjang dan melelahkan, dan tetap tak ada kabar darinya. Haruskah aku menyerah?
Ingatan-ingatan masa lalu berulang kali datang, tapi kali ini, aku harapkan engkaulah yang datang.
Tatapan mu bagai tikaman, menyakitkan, sangat, meluluh lantakkan, sangat, apa yang harus aku lakukan?
Pasti akan ada jalan yang menuntun ku ke dalam hatimu, tunjukkan aku jalan itu?
Rain*?
...----------------...
Ineke menutup bukunya. Ia menangis sesenggukan. Buku itu ia peluk dalam di dadanya. Ia benar-benar merasa sendiri saat ini.
...'Kenapa hidupku harus sepedih ini ya Allah?'...
Tanpa sepengetahuan Ineke, setiap malam Rain pun melakukan hal yang serupa, Rain selalu datang di depan kamar Ineke, diam di balik pintu. Hanya diluar, meski ia sangat merindukan wanita yang dicintainya itu, ia tak berani melangkah kedalam.
Karna sakit itu masih nyata, dan ia harus menjauh dari Ineke agar tidak semakin terluka. Rain menyadari Ineke yang hanya mencintai Dion, dan itu jauh sebelum ia datang ke kehidupan Ineke. Bahkan mereka hampir saja menikah. Tapi, suara lirih itu?
..."Tidak, aku harus tetap menjauh darimu ke, aku harus, aku tidak tahan jika merasakan sakit itu lagi. Cukuplah aku melihatmu dari jauh, dan dekat denganmu dari balik pintu. Ini sudah cukup untuk ku."...
Terdengar dering ponsel Ineke yang di taruh di sampingnya.
..."Ayla?"...
Segera Ineke menggeser panel hijau.
"Assalaamualaikum ke?"
^^^"Wa'alaikum salam Ay?"^^^
Suara mereka berdua sama-sama terdengar antusias namun bergetar dan menahan tangis.
"Apa kabar sahabatku?"
^^^"Baik, bagaimana denganmu?"^^^
"Alhamdulillah, ke."
^^^"Ay, ini sudah larut, kamu belum tidur? Kenapa telfon di jam segini? Gak ganggu Aryan yang lagi tidur?"^^^
Bagaimana cara mengatakan pada Ineke jika saat ini dirinya dan Aryan habis bertengkar? Tidak, Ayla tidak akan mengatakannya, Ineke disana pasti tengah berbahagia dengan hidup barunya, menikmati bulan madu yang penuh cinta. Ayla tidak ingin jika Ineke sahabatnya kembali merasa sedih karena masalah-masalahnya.
"Aryan sudah terlelap ke, aku terbangun, lihat Ponsel ada missedcall dari kamu, dan kamu masih aktif beberapa menit yang lalu, jadi aku langsung telfon, aku sangat merindukanmu ke, aku sangat senang kamu hubungin aku. maaf ke, apa aku ganggu hubungi kamu di jam segini? Rain juga pasti sudah tidur kan?"
^^^"Tidak Ay, aku, aku tidur sendiri, Rain sedang ke luar negri, jadi aku susah tidur tanpa di temani dia di sampingku."^^^
Ineke pun berbohong sama halnya dengan Ayla, ia bahkan berusaha mengeluarkan suara tawa.
__ADS_1
"Apa dia begitu sibuk?"
^^^"Iya Ay, dia sangat sibuk."^^^
"Sama ke, Aryan juga selalu sibuk."
Kini giliran Ayla yang berusaha tertawa.
^^^"Apa kau bahagia Ay?"^^^
"Tentu saja ke, aku, aku sangat bahagia, aku hanya sedang merindukanmu ke, apa kau juga bahagia ke?"
^^^"Iya Ay, aku juga sangat bahagia. Sangat bahagia."^^^
Mereka berbicara satu sama lain sambil menahan tangis yang luar biasa. Berusaha mengeluarkan tawa untuk menutup luka menipu sahabat yang jauh di seberang sana.
^^^"Bagaimana kabar anak-anak Ay? Aku sangat merindukan Arend."^^^
"*Mereka semua baik ke, Arend juga sangat merindukanmu, dia meminta pada Aryan agar bisa datang berkunjung ke rumahmu."
...'Tidak, Ayla dan Arend tidak boleh kemari dengan keadaan yang sekarang*.'...
^^^"Sayang sekali Ay, sepertinya rencana itu harus terlebih dulu di tunda. Aku dan Rain merencanakan perjalanan bulan madu"^^^
"Iya ke, aku mengerti, aku akan menyampaikan pada Arend, selamat bersenang-senang ke."
...****************...
*Pagi Di Rumah Aryan
Ayla tidak menyiapkan sarapan. Ia terus mengekor pada suaminya. Saat Aryan ke kamar mandi, ia menunggu di dekat pintu, saat Aryan berganti pakaian, Ayla berusaha menyiapkan, namun Aryan mengambil yang lainnya.
Begitupun saat turun kebawah dan berada di meja makan. Ayla yang hendak melayani dengan mengambilkan makanan, justru Aryan dengan cepat meraih Sendok nasi untuk mengambil sendiri makanannya.
Arend dan Zico merasa heran. Kedua orang tuanya terlihat aneh hari ini.
Saat Ayla bertanya pada Aryan dan mencoba mengajak nya bicara, Aryan malah mengajak. bicara kedua putranya.
..."Papah sama mamah kenapa? Kalian berantem?"...
Zico tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya, beda halnya dengan Arend yang terlihat tidak peduli.
..."Tidak"...
..."Tidak."...
Mereka menjawab serentak. Pandangan Aryan dan Ayla beradu.
..."Mamah tidak mau punya Baby lagi."...
Aryan mencurahkan isi hatinya pada kedua anaknya.
..."Hah?"...
..."Hah?"...
Zico dan Ayla serentak mengeluarkan kata yang sama. Sedangkan Arend menikmati sarapannya dengan tenang.
..."Benar Mah?"...
__ADS_1
..."Tidak, itu tidak benar, Papah asal bicara Zico."...
Kini Ayla menatap Aryan dengan pandangan ingin cemberut namun malah terlihat menggemaskan.
Aryan bangkit, ia hendak berangkat duluan. Ia mencium pipi Arend dan Zico bergantian.
..."Mas?"...
Ayla mengejar.
..."Mas, maafin Ayla, Ayla gak betah kalo mas diemin terus. Ayla gak tahan Kalau mas marah terus. Nanti setan-setan pada seneng liatnya."...
Aryan hanya diam.
..."Mas, Ayla tahu Ayla salah, Ayla sudah membuang barang itu kok, tidak pakai lagi kalau tidak dengan izin Mas Aryan. Ayla janji."...
Aryan sebenarnya masih sangat malas untuk berbaikan dengan Ayla. Tapi melihat sikapnya yang terus menggemaskan seperti itu, Aryan tidak tahan juga. Ia menggigit pipi kanan Ayla sebagai balasan.
..."Aaauuw!"...
Ayla teriak kesakitan.
..."Sudah, impas.!"...
Lalu Aryan mengecup kening Ayla. Dan melesat dengan cepat ke arah mobil. Pak supir sudah menunggu disana dan membukakan pintu.
..."Mas Aryan!"...
Ayla teriak gemas karna pipinya yang terasa sakit di gigit suaminya barusan.
..."Kami berangkat mah.!"...
Zico memeluk Ayla lalu mengecup pipinya.
..."Pipi Mama kenapa?"...
..."Aaah, tidak Zico, tidak kenapa-kenapa"...
Ayla nyengir salah tingkah. Arend menyalami tangan Ayla.
..."Jangan berantem lagi."...
Arend bicara sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Ayla.
...'Hah? Ini anak ada Indra ke 6 apa gimana sih? Tau semuanya?'...
...****************...
*Pagi Di Mansion Rain.
Ineke tertidur di Balkon kamar sejak semalam. Hangatnya sinar sang Surya membangunkannya. Ia bangun siang karna menjelang pagi baru terlelap sambil duduk bersandar dinding balkon.
Ia melihat Rain yang tengah di bawah dengan orang-orang nya. Rain juga melihat ke arahnya, pandangan mereka bertemu.
Ineke hanya berani memandang suaminya dengan tatapan mendamba. Sedangkan Rain masih terus bicara dengan orang-orang disana. Lalu mereka pergi.
Hari ini, terlewati dengan perasaan yang hampa.
Sore menjelang malam. Tiba-tiba terpikirkan ide konyol di benak Ineke.
__ADS_1
..."Aku harus melakukannya, persetan dengan rasa malu. Rain harus kembali padaku."...
Ineke tengah bersiap merencanakan sesuatu.