Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
CHAPTER 88


__ADS_3

Arend dan Zico masih belum masuk sekolah. Aryan baru akan keluar rumah untuk meeting nanti siang. Ia ingin beristirahat setelah pusing karna situasi yang penuh tekanan kemarin.


Arend melihat Zico yang masih terlelap. Seusai subuh Zico kembali tidur. Arend penasaran dengan sesuatu yang di rahasiakan Zico di dalam ponselnya. Ingin sekali rasanya ia membuka ponsel Zico yang tergeletak di samping bantalnya. Tapi ia ragu karna itu tidak sopan.


...'Ah, sudahlah.'...


Namun rasa penasarannya lebih tinggi dari pada norma kebaikannya.


Arend meraih benda pipih itu. Zico masih terlelap. Arend membuka sandi kunci. Ia mulai melihat dari applikasi sosmed. Chat. Galery, kontak. Namun ia tak menemukan apa pun yang tidak baik disana.


Arend lantas menaruh kembali ponsel Zico.


...'Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Zico?'...


Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar, Itu suara Aryan dan Ayla yang tengah berdebat.


..."Kenapa sih Ay, kamu ngebangkang terus?"...


..."Bukan begitu, Mas. Tapi Pak Kiyai Umar dan Bu Maryam itu sudah seperti keluarga bagi Ayla."...


Arend mendekati mereka yang tengah berdebat sambil berjalan. Aryan akan pergi, ia sudah terlihat rapi. Dan Ayla sepertinya tengah meminta sesuatu yang tidak di bolehkan oleh Aryan.


..."Ada apa? Zico tengah tidur, dia akan terganggu dengan keributan kalian."...


'Haah' Aryan berlalu dan tidak menjawab. Ia menghembuskan nafas kasar.


..."Mas, tunggu."...


Lagi-lagi Ayla menghentikan langkah Aryan. Aryan menatap depan dengan perasaan kesal.


..."Mas, Bu Maryam adalah orang pertama yang menemui Ayla setelah Ayla melahirkan Arend. Dan Pak Kiyai Umar lah yang mengadzani Arend, Mas. Dan bahkan setelah itu pun. Mereka selalu baik kepada kami. Ayla mohon Mas, izinkan Ayla untuk datang, Mas."...


Aryan mulai luluh mendengar kata-kata Ayla. Itu jelas membuktikan jika Pak Kiyai Umar dengan Ayla sudah seperti ikatan sebuah keluarga.


..."Ada apa Mah?"...


Arend kembali bertanya. Ayla mulai terisak. Ia sedih saat memikirkannya.


..."Bu Maryam telah berpulang Arend. Dia meninggal."...


..."Innaalillahi wa innaailaihi rooji'un. Kapan mah?"...


..."Barusan, tadi pagi Mamah dapat kabar dari Akak."...


Aryan berbalik menghadap Ayla. Ia merengkuh tubuh Ayla kedalam pelukannya.


..."Ay, bukannya aku gak ngebolehin kamu kesana. Kita baru saja melewati masa-masa yang rumit dan sulit. Aku sangat takut jika sampai terjadi sesuatu lagi."...


Ayla membalas pelukannya Aryan.


..."Mas, Ayla mohon.!?"...

__ADS_1


..."Arend juga ingin Pergi pah, Bu Maryam itu sudah seperti seorang nenek bagi Arend."...


Aryan melemah. Bahkan Putranya pun menginginkan hal yang sama.


..."Haaaaahhh, baiklah, kita pergi nanti sore. Aku akan meminta batuan pengawalan untuk perjalanan kita."...


Ayla tersenyum. Ia mendongak menatap wajah Aryan.


..."Terimakasih, Mas."...


Aryan menatap lekat manik Ayla, Ia lantas mengangguk pelan, mengusap air mata Ayla dari ujung matanya.


..."Cium, Ay. Kau mendiamkan ku kemarin. Aku sangat merindu kelembutan bibirmu. Itu adalah candu ku."...


Ayla mendelik mendengar ucapan suaminya. Ia lantas menoleh ke arah Arend.


..."Kalian lanjutkan saja. Aku akan mengabari Aunty."...


Arend berlalu. Cukup jengah dengan tingkah orang tuanya yang sebentar ribut, sebentar lagi seperti ABG pacaran.


...****************...


Rain telah sampai di bawah. Ia begitu marah melihat Ineke yang justru tertawa lepas dengan Cen.


Rain menarik tangan Ineke dengan cepat. Merengkuh tubuhnya. Lalu menautkan bibirnya pada bibir Ineke di depan Cen dan yang lainya.


Ineke membulatkan mata mendapat Serangan tiba-tiba. Rain dengan kasar melakukannya. Ia ingin menunjukkan kuasanya atas diri Ineke.


Ineke dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rain. Setelah terlepas Ia pun berteriak karna kesal diperlakukan seperti itu.


Rain malah tersenyum penuh kemenangan. Ia mengusap ujung bibirnya yang terasa basah. Terlihat sangat seksi. Tatapannya seperti seorang yang telah puas memainkan permainannya.


..."Kau pasti mabuk."...


Ineke hendak berlalu karna kesal dengan ulah Rain.


..."Aku memang sedang mabuk, Ke."...


Ineke menghentikan langkahnya. Ia mendengar apa yang di ucapkan suaminya.


..."Aku mabuk cukup dengan tatapan matamu, Bahkan aku tak perlu lagi meminum Vodka, karna cukup hanya dengan senyummu sudah mampu memabukkan ku."...


Iiiiissshhh, Sejak kapan Bos mafia ini jadi perayu yang handal?


..."Kau sinting, Tuan!"...


Ineke menimpali dengan menggebu.


..."Hei Nona, Peluklah aku, agar aku tidak sinting sendirian."...


Cen berusaha menahan tawanya yang terasa ingin meledak. Ineke hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi kesalnya. Lantas lekas pergi dari sana. Sedangkan Rain malah semakin melebarkan senyumnya.

__ADS_1


Rain melihat ke arah Cen yang tersenyum menunduk.


..."Hei Bung, Jatuh cintalah. Kau akan tahu rasanya Menjadi sedikit gila itu terkadang menyenangkan."...


Cen mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia mengepalkan tangan kearah Rain sebagai persetujuan. Dan Rain membalas kepalan tangan itu.


Ineke merebahkan diri di atas ranjang setelah sampai di kamar. Ia menyentuh lembut bibirnya, masih terasa manisnya rasa nikotin dari bibir suaminya itu. Ia tersenyum sendiri. Namun tak lama senyumnya kembali sirna.


..."Cassandra juga merasakan nikmatnya sama seperti yang kurasakan."...


Dada Ineke nyeri tiba-tiba. Bagaimana cara melupakan hal menyakitkan itu?


..."Bibir mana yang membuat Rain merasa lebih nikmat? Bibirku? Atau Cassandra?"...


Wanita memang Makhluk aneh. Sangat suka menyakiti batinnya sendiri. Kenapa wanita kembali ke pelukan lelaki yang sudah bersalah jika masih terus mengungkitnya?


..."Bodoh, Breng_*sek, Bad_*jingan. Keledai. Monyet. Sama saja. Tidak Aryan, tidak Rain. Laki-laki memang Kurang ajar."...


Segala macam umpatan Ineke lontarkan. Ia begitu kesal saat kembali ter ingat pengkhianatan yang dilakukan para suami.


Drrtt drrrttt drrrttt


Ponsel Ineke yang terletak di atas nakas bergetar.


...Ayla...


...Calling,,,,,...


Ineke menggeser panel hijau antusias. Ia tengkurap di atas ranjang.


"Assalaamu'alaikum Ay?"


^^^"Wa'alaikum salam, Ke."^^^


Mereka basa-basi sebentar. Menanyakan kabar, sedang apa, udah makan apa belum. Hingga Ayla mengutarakan tujuan utamanya menghubungi sahabatnya.


^^^"Bu Maryam telah berpulang, Ke. Aku mendapat kabar dari Akak. Tadi dia dan Arend juga sudah berusaha menghubungimu. Tapi tak ada jawaban."^^^


"Innaalillaahi wa inaailaihi Roji'un."


Ineke terlihat kaget, wanita paruh baya itu sudah seperti keluarga waktu di desa dulu. Mereka banyak membantu Ayla dan Ineke. Bahkan terkadang membantu menjaga Arend saat masih kecil.


Ayla mengatakan rencananya bersama keluarga untuk pergi takziyah kesana. Dan akan berangkat sore hari nanti, sekalian bisa kembali mengunjungi kampung yang menyimpan begitu banyak sejarah.


Ineke dengan antusias mengatakan akan ikut. Tapi Ayla mengingatkan agar Ineke terlebih dulu meminta izin pada suaminya. Di tambah jarak Ineke yang jauh membutuhkan waktu yang lebih lama pastinya.


^^^"Baik Ke, aku harus mengemas barang sekarang. Kau baik-baik disana ya? Love you. Assalaamu'alaikum."^^^


"Love you too Ay, wa'alaikum salam."


Ineke menaruh ponselnya. Ia membalikkan badan yang tengkurap sejak tadi. Betapa kagetnya ia saat terlentang karna Rain ternyata sudah berdiri di sana entah sejak kapan.

__ADS_1


..."Aaaaahhh?"...


Teriakannya menggema. Kenapa wanita sangat suka berteriak? Apa itu tidak menyakiti tenggorokannya? Bahkan telinga yang mendengarnya saja merasa nyeri.


__ADS_2