Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Ineke dan Dion melanjutkan perjalanannya menuju desa. Kini mereka sampai di jalan utama yang kiri kanan jalan terbentang hamparan sawah yang terlihat sangat indah.


Dion dan Ineke bertukar cerita yang di bumbui tawa. Mereka ingat bagaimana pertemuan mereka pertama kali di tempat ini.


..." Ke, kamu belum cerita, bagaimana kamu bisa mengenal Ayla. Dan?"...


Dion berhenti bicara, ia nampak ragu mengatakannya.


..."Dan apa Dion?"...


..."Dan, bagaimana kisah mu setelah malam itu? Em, maaf, kalau kamu tidak ingin cerita, tidak masalah. Maafkan aku."...


..."Tidak apa-apa Dion, dengan kamu mau menerima ku, bukankah tidak ada lagi yang harus di sembunyikan?"...


Dion melempar senyum tipis ke arah Ineke yang melihatnya. Ineke menarik nafas dalam. Menatap ke arah depan. Mengingat kembali masa kecilnya.


..."Sepanjang jalan pulang, Ayah tiri ku terlihat sangat senang. Aku hanya diam saja waktu itu, aku tidak tahu pasti, sebenarnya apa yang saat itu sedang ku alami. Ingin menangis pun tidak bisa."...


Ineke tersenyum namun terlihat jelas raut mukanya yang bersedih, matanya pun sudah berkaca-kaca.


..."Setelah sampai rumah. Aku langsung menemui Ibu, dengan bangga dan bahagia aku berlari ke kamarnya, meneriakinya jika kita akan membawanya ke rumah sakit."...


Kini air mata Ineke sudah tidak mampu di bendung lagi, buliran bening itu lolos satu per satu.


...****************...


...*FLASH BACK ON...


..."Ibu, ibu. Bangun Bu! Ayo kita kerumah sakit Bu. Ibu. Ayo Bu, bangun!"...


Ineke kecil terus menggoyang tubuh ibunya yang sudah kaku. Badan ibunya juga sudah terasa dingin. Untuk sejenak Ineke kecil berfikir, apakah ibunya telah sembuh?


..."Ibu, ibu, ibu apa kau sudah sembuh? Ibu, bangun, buka matamu Bu?"...


Karna tidak ada reaksi dari ibunya, Ineke kecil berlari keluar menemui Ayah tirinya yang tengah dengan bahagia menghitung lembaran-lembaran kertas hasil kerja Ineke di lantai ruang tamu.


..."Ayah, ibu diam saja, dia tidak mau bangun, ayo yah, kita bawa ibu ke rumah sakit."...


Lalu Ayah tiri Ineke dengan malas bangkit menemui Ibu Ineke yang telah terbujur kaku.


..."Sabila, Sabila, bangun!"...


Ayah tiri Ineke juga berusaha membangunkannya. Tetap tidak ada reaksi. Dan dia mencoba memeriksa nafas Ibu Ineke yang telah berhenti berhembus.


..."Ibu?"...


...*FLASH BACK OFF...


...****************...

__ADS_1


..."Setelah ibu di makamkan. Aku menemui Bibi ku, adik dari ibuku. Dia juga sama miskinnya dengan kami. Aku mengatakan padanya jika aku tidak mau tinggal dan hidup dengan Ayah tiri ku. Tapi dia sendiri begitu miskin, jika aku masuk kedalam anggota keluarganya, dia akan semakin menjerit memenuhi kebutuhan hidupnya....


..."Lalu aku di masukkan ke sebuah lembaga panti asuhan. Dan pria yang waktu itu menerima jasa kerjaku datang menemui ku di panti. Ia mendengar kabar tentang ibuku yang telah meninggal. Dan aku yang masuk ke panti asuhan....


..."Dia meminta maaf padaku, dia menyesal atas perbuatannya. Dia tidak bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Tapi dia berniat memperbaiki nya untuk masa depan....


..."Pria itu menjamin pendidikan ku sampai aku lulus kuliah. Dan di kampus yang sama, aku bertemu dan berteman baik dengan Ayla."...


...****************...


Aryan melepaskan tautan bibirnya pada bibir Ayla. Ayla membuka matanya pelan.


Kembali Aryan mendekat, menjelajah leher Ayla. Tangan Aryan bergerilya bebas menyentuh apa saja disana. yang membuat Ayla kehilangan akal sehatnya.


Aryan mulai melepas kancing kemejanya satu persatu. Lalu membaringkan Ayla.


Secara pelan dan lembut mereka mulai penyatuan. Hanya ada erang*n kenikm*t*n yang terdengar disana.


Aryan terus menggerakkan tubuhnya ber-irama.


Seperti note lagu yang menghasilkan karya yang indah. Pelan di saat yang tepat, dan Cepat di intonasi yang tepat pula.


Kedua insan itu mencoba memuaskan kerinduan yang telah bersarang di tahun-tahun puasa.


Menikmati menu buka yang sangat menggugah selera. Hingga pelepasan itu tiba. menyisakan buliran keringat yang menjadi saksi pembuktian cinta.


..."Aku mencintaimu Ayla, Aku mencintaimu, sangat, sangat, sangat."...


Ia terus memeluk tubuh Ayla yang juga memeluk menghadap dirinya.


...****************...


Bu Nana mengintruksikan pada para Assistant untuk cepat menyelesaikan pekerjaan. Menyajikan makan malam.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tapi belum ada yang datang turun ke meja makan.


...'Apa aku harus mengetuk pintu ya? Atau menunggu saja sampai mereka datang?!'...


*Di kamar Zico.


..."Papah kok belum jemput kita sih, aku kan sudah lapar!"...


..."Aku bawakan makanannya kesini saja ya?"...


..."Tidak, kita makan bersama saja di bawah. Kamu tolong panggilin papa ya Arend.?"...


Arend kurang suka dengan ide itu, tapi tidak ada cara lain. Kaki Zico masih sakit.


Arend akhirnya melangkah menuju kamar Aryan. Ia mulai mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


..."Ma! Ayo kita makan! Zico sudah lapar?"...


Ayla dan Aryan tengah siap-siap, mereka selesai mandi bersama tadi.


Mendengar Arend memanggil dari luar, Ayla hendak teriak menjawab, namun dengan buru-buru Aryan menutup mulut Ayla dengan tangannya.


..."Sssstttt!"...


Ayla melakukan gerakan kepala seakan memberikan pertanyaan.


..."Diam, aku ingin mendengar dia memanggilku Papah."...


Aryan berseringai licik. Dan Ayla menahan tawa merasa lucu.


..."Mah.! Apa kau bisa mendengar ku?"...


Sekali lagi tidak ada jawaban, dengan emosi Arend mulai mengetuk pintu itu keras. Bahkan ia tampak ingin menendang pintu itu, tapi ia berhenti menyadari jika itu hal yang tidak sopan.


'Pasti ini ulah Pria itu!. Baiklah. Aku menyerah.'


..."Pah, Zico sudah lapar, bisakah kita segera turun?...


..."Baik kalau tidak ada jawaban. Kami tidak usah makan.!"...


Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar ketika Arend hendak meninggalkan tempat.


..."Iya Arend. Kita, baru saja selesai siap-siap. Ayo kita makan."...


Ayla mengekor di belakang suaminya. Arend menatapnya dengan muka datar.


Aryan menggendong Zico turun ke bawah. Mereka memulai makan malam bersama dengan canda tawa. Arend menghabiskan santapannya dengan tenang.


Drrrtttt drrtttt


Ponsel Aryan bergetar, panggilan dari Dion. Bersamaan dengan ponsel Ayla, panggilan dari Ineke. Mereka mengobrol lewat telepon.


Ineke dan Aryan sama-sama menjelaskan jika mereka memutuskan untuk tinggal di kota.


Ayla meminta Ineke untuk menyampaikan segala maaf dan terima kasihnya kepada seluruh warga. Lewat kepala desa dan Pak Kiyai Umar.


Aryan menutup panggilan dari Dion. Kini ponselnya kembali bergetar. Panggilan dari office kantor.


..."Tidak bisa di tunda lagi Pak Aryan .Tuan David menunggu anda di kantor sekarang."...


Dengan terpaksa Aryan meminta izin pada seluruh anggota keluarganya untuk ke kantor.


..."Ini kan sudah malam! Apa tidak bisa jika menunggu besok."...


..."Aku sendiri tidak tahu Ayla. Tapi Tuan David memaksa untuk segera bertemu sekarang. Tidak apa-apa. Kau dan anak-anak tidurlah. Jangan menungguku. Aku pergi dulu."...

__ADS_1


..."Mas Aryan!"...


Ayla memeluk erat Aryan. Ia seakan tak merelakan kepergian Aryan yang hanya ingin ke kantor menemui Tuan David.


__ADS_2