Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
BERMAIN


__ADS_3

Kebanyakan orang merasa senang dengan pertemuan. Tapi mereka tidak mempersiapkan diri untuk perpisahan.


Mereka lebih fokus pada hasil yang indah. Tanpa memperdulikan bagaimana perjuangannya.


...****************...


Ayla membuka matanya pelan. Tidak ada tangan Aryan suaminya yang memeluknya. Ia lantas bangun dan terduduk. Menoleh ke arah samping.


Ayla menutup mulutnya dengan kedua tangan karna hampir saja berteriak. Suaminya tengah tidur sambil berpelukan mesra dengan Rain. Sedangkan Ineke memeluk Rain dari belakang.


Sontak Ayla menahan tawa. Ia lalu dengan gerakan pelan bangkit. Menggoyang tubuh Ineke pelan berusaha membangunkan sahabatnya.


Ineke menoleh dengan mata yang menyipit khas bangun tidur.


..."Sssuutt!"...


Ayla menutup mulut, memberi kode pada Ineke agar tidak berisik. Ayla menunjukkan jarinya ke arah para suami untuk memberi tahu Ineke.


Ineke membulatkan mata dan hampir tertawa.


..."Sssuutt!"...


Para istri itu akhirnya bangun terlebih dulu. Di luar masih gelap. Jam menunjukkan pukul 4 waktu subuh.


Dengan jail para istri itu mengambil gambar dengan ponsel mereka. Tawa cekikikan mereka mulai tidak terkontrol dan Aryan bergeliat.


Semenjak Ayla hadir di hidupnya. Aryan juga jadi lebih sering bangun pagi saat Ayla bangun. Awalnya Aryan pikir jika yang di peluknya adalah Ayla sang istri. Ia merangkul lebih erat, membawa muka Rain pada dada bidangnya.


..."Kenapa rambutmu kaku, Ay? Pendek? Potong rambut?"...


Aryan berbicara samar dengan matanya yang masih terpejam.


Rain mulai merasa tidak nyaman. Posisi macam apa ini. Ia merasa seperti dalam tekanan. Rain membuka mata cepat. Instingnya sebagai seorang Mafia memang lebih tajam.


Dengan kekuatan penuh Rain mendorong tubuh Aryan hingga ke tepi ranjang. Hampir saja jatuh.


..."Aaaahh?"...


Sontak mereka ber 4 sama-sama kaget. Aryan masih belum sepenuhnya sadar. Ia memicingkan mata menerima penglihatan.


..."Mas, Aryan!"...


..."Rain!"...


..."Hhiiiihhh"...


Rain bergidik ngeri. Ia menyadari jika ia tertidur sambil berpelukan dengan Aryan. Sedangkan Aryan masih tidak mengerti.


..."Ada apa?"...


Suara baritonnya yang khas orang baru bangun tidur membuat Ayla tersenyum lucu.

__ADS_1


..."Tidak, Ayo Mas, kita ke kamar kita. Sudah subuh."...


Ayla mengajak Aryan pindah. Rain hanya diam menatap ke arah lantai tanpa titik pasti. Ayla dan Aryan sudah keluar.


Ineke mendekati suaminya.


..."Rain?"...


Ineke memanggil nama suaminya hati-hati, sebenarnya, dalam hati Ineke ia selalu memiliki rasa takut pada suaminya itu, biar bagaimanapun, Rain adalah seorang Bos mafia. Darah dan nyawa bukanlah hal yang istimewa. Dia bisa berbuat kasar dan jahat pada siapa saja. Rain bahkan dengan kasar mencekik Ineke waktu itu. Itu adalah ingatan-ingatan Ineke dalam benaknya tentang Rain.


Rain tidak menjawab, namun dengan gerakan cepat ia merengkuh tubuh Ineke yang berdiri di samping ranjang. Dengan kasar Rain membanting tubuh Ineke.


..."Aaahh"...


Ranjang itu sampai bergoyang, dan bedcover yang sangat empuk itu memantul seirama dengan tubuh Ineke yang terbanting.


Ineke berada di bawah Kungkungan Rain dengan sempurna.


Manik Rain sudah terlihat berbeda. Ia mulai m3nemp3lkan bibirnya pada leh3r Ineke. Ineke memejamkan mata menahan libidonya yang mulai datang menyapa.


Sapuan lembut bibir Rain mampu membuta Ineke membuncah dengan cepat.


..."Aaaahhh"...


Rain mengeskplore bagian atas Ineke hingga ke bagian d@d*nya. Rain terus menjelajah, tangan kanannya bergerilya. Sedangkan yang kiri memegang kedua tangan Ineke ke atas kepalanya.


Ineke terlihat pasrah. Baju atasnya sudah hampir terbuka sempurna. Saat Rain hendak menautkan bibirnya pada bibir sang istri. Tiba-tiba pintu di buka.


..."Aaaahh"...


Ineke gelagapan. Terduduk dan kembali membenahi bajunya.


..."Sshh****"...


Sedangkan Rain berdecah kesal.


..."Sorry sorry sorry. Aku gak sengaja. Ponsel ku ketinggalan."...


Ineke tertawa canggung.


..."Ha ha ha, iya, gak pa pa kok Ay.!"...


Ineke turun dari ranjang. Mengambil ponsel Ayla di nakas lalu memberikannya pada sahabatnya itu. Lalu Ayla berhambur dan Ineke menutup pintu lalu menguncinya.


Rain duduk di tepian ranjang dengan kedua kakinya menjuntai ke lantai terbuka lebar. Sangat gagah. Matanya menatap tajam penuh amarah.


Ineke bisa menangkap kilat emosi yang terpendam itu, ia mengumpulkan keberanian. Mencoba melakukan hal yang pernah di lihatnya dalam adegan sebuah film 365 Dn1.


Ineke mendekat, ia berada tepat di depan suaminya. Ineke menekuk kedua lututnya ke lantai menghadap tepat di depan Rain yang duduk gagah di tepian ranjang. Ia menggulung rambutnya asal ke atas.


Rain sangat mengerti gerakan itu. Raut mukanya berubah cepat.

__ADS_1


...'Apa dia yang akan mengambil alih permainan?"...


Ineke menelan saliv*nya kasar, gerakannya sangat lambat, ia bahkan terlihat kaku saat mendekat. Jantungnya seperti memompa lebih cepat dari biasanya.


Ineke mulai meraih dan membuka resl_3ting kain penutup itu. Rain menggerakkan badannya memudahkan Ineke beraksi.


Terlihat itu telah pada posisi siap. Dada Ineke naik turun karna nafasnya yang sudah tak beraturan.


Ineke menatap manik Rain yang sudah terlihat sayu. Rain hanya membuka dan mengg19it bibir bawahnya. Lalu ia mengangguk ke arah Ineke.


Ineke mulai mendekatkan kepalanya dan membungkukkan badannya. Rain hanya bisa memejamkan mata merasakan kelembutan itu.


..."Aaaaaaaahhhh"...


Ineke melakukannya dengan gerakan lembut dan pelan. Ia baru pertama kali melakukan ini. Masih terlihat jelas sangat kaku.


Rain berkali-kali menelan saliv*nya sendiri. Menerima pelayanan terbaik istrinya. Meski ia sudah berkali-kali merasakan ini, jelas berbeda ketika melakukanya dengan orang yang di cintai.


Rambut Ineke lepas dari gulungannya. Rain menangkup rambut panjang itu, menggenggamnya dalam satu genggaman tangan. Menggerakkannya seperti kunciran kuda.


Rain terus mend3$_@h. Ia memejamkan mata dan berdesis.


..."Aaaaaaaahhhh, Sssssshhh."...


Setelah Rain merasa sudah hampir. Ia mengangkat wajah Ineke. Menautkan bibirnya pada bibir Ineke. Rain mengangkat bahu Ineke. Membawanya ke atas ranjang.


Melakukannya dengan gerakan lembut dan pelan. Rain memulai pergerakan inti. Ineke mengernyitkan dahi, menahan rasa yang di terima. Dua rasa berbeda yang datang secara bersama-sama. Menghantarkannya pada surg* dunia.


Badannya seperti jutaan kupu-kupu terbang di taman yang indah. Sang Surya mulai menampakkan diri mengiringi olahraga pagi mereka.


Rain berolahraga dengan tempo lebih cepat, mengayuh lebih kuat. Maju dan mundur. Bunyi-bunyian dari alat musik benda sensitip dan suara-suara vocal itu memenuhi seluruh ruang kamar. Hingga menghantarkan mereka pada pelepasan.


..."Aaaahhhhh"...


..."Raiiinn??!"...


..."Hah, hah, hah."...


Nafas mereka beradu tersengal-sengal. Rain menjatuhkan diri di atas istrinya. Lalu mendongakkan kepala, menatap istrinya yang terpejam. Rain tersenyum dan mengecup kening Ineke mesra.


...****************...


Sore nanti Ayla dan keluarga akan kembali pulang. Satu hari terakhir di pulau Rain akan mereka lakukan dengan kegiatan kegiatan menyenangkan yang tak kan terlupakan.


Cen sudah menyiapkan beberapa Sky Boat. Arend dan terlebih Zico terlihat sangat senang.


..."Waaaahh! Keren!"...


Bian dan Bianca juga ada disana. Ayla dan Aryan berdiri sambil berpelukan mesra sejak tadi. Bianca masih terus mencuri pandang pada suami orang.


Mereka semua sudah bersiap di tepi pantai. Tinggal menunggu sang Tuan & Nyonya rumah yang belum juga nampak batang hidungnya.

__ADS_1


...'Wooeeyyyy cepetan woooeeyyy. Pada mau main Sky Boat Nih.!'...


...****************...


__ADS_2