Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
PLAN 'B' Dijalankan


__ADS_3

Kapal Boat yang di kendarai Aryan, Dion dan Rain telah mencapai tepian Dermaga. Dengan gerakan pelan mereka mulai menuruni kapal memasuki Pulau Mark.


Di pulau itu terdapat beberapa bangunan berada tepat di tengah pulau. Yang di kelilingi hamparan Pasir putih dan di itari semak belukar seperti perkebunan yang terdapat beberapa pohon dan pohon kelapa yang mendominasi.


Bangunan utama terlihat Mewah dengan penjagaan paling ketat. Tempat itu menjadi target utama.


Beberapa penjaga anak buah Mark dari Klan Kamora nampak berdiri di berbagai titik tempat. Lengkap dengan persenjataan.


Rain mengintruksikan pada anggotanya untuk menggunakan senjata jenis Revolver terlebih dulu sebagai awal penyerangan. Senjata api yang jika di tembakkan tanpa mengeluarkan suara.


Dion mengarahkan sebagian anggota Rain Cosa Menyelinap masuk lewat jalur samping yang pernah ia gunakan untuk kabur menyelamatkan gadis-gadis kecil waktu itu.


Dan sebagian lagi menyerang secara terang-terangan dari arah depan untuk memancing lebih banyak anggota dari Klan Kamora keluar. Sehingga memudahkan Mereka yang menyelinap untuk menyergap Mark.


Rain mulai membidik musuh dan dengan sekali tembakan musuh-musuh berjatuhan. Mereka dapat menyelinap ke dalam Bangunan utama lebih mudah.


Beda halnya dengan situasi yang terjadi di depan. Tembakan demi tembakan dari dua kubu mulai terdengar jelas dan memancing keributan.


Dion, Rain, dan Aryan serta beberapa anggota memasuki sebuah ruangan. Seperti ruang tamu pada umumnya.


Nampak beberapa orang bersenjata siap siaga disana setelah mendengar keributan dan tembak menembak.


Seorang pria bertubuh besar dengan tatto kalajengking di wajahnya yang sangar memegang dua senjata api di kedua tangannya. Dia adalah Mark.


Rain, Aryan, Dion dan anggota lainnya memposisikan diri di belakang benda-benda apa saja yang bisa di gunakan sebagai perlindungan.


Rain memulai tembakan. Satu pengawal Mark telah tumbang. Darah segar mengalir di bawah tubuhnya yang tengkurap.


Mark panik dan memberikan tembakan perlawanan. jadilah tembak menembak di antara mereka.


Anggota Rain Cosa yang ikut menyergap di dalam telah habis karna kewalahan. Mereka kalah jumlah.


Tapi mereka dari kubu Klan Kamora juga nampak kehabisan peluru. Sama halnya dengan Rain dan Dion.


Rain langsung menyerang menggunakan keahlian bela dirinya. Titik utama melumpuhkan musuh adalah dengan mematahkan leher nya sehingga memutus semua syaraf dari otak dan mati seketika.


Dion pun melakukan hal yang sama. Dion berkelahi dengan banyak anggota Klan Kamora 1 lawan 5. Keahliannya di bidang bela diri tidak di ragukan lagi. satu per satu mereka lumpuh.


Tapi Dion dan Rain masih harus berusaha keras karna Anggota Klan Kamora jumlahnya yang terlalu banyak.


Rain hanya bertiga bersama Dion dan Aryan yang awam di bidang ini. Sedang dari kubu Klan Kamora, selain Mark masih ada sekitar 20 an orang.


Dengan kekuatan penuh Rain dan Dion menyerang berusaha mengalahkan mereka satu persatu.


Mark melihat Aryan yang jatuh karna kalah dengan lawan mainnya. Melihat kesempatan itu, Mark ingin melakukan serangan.


Ia masih mempunyai 2 sisa peluruh di senjata api nya.


Mark mengarahkan Senjata itu membidik Aryan. Tapi sepertinya Mark tidak pandai dalam menggunakan benda itu, ia meleset, pelurunya mengenai dinding.


Aryan kaget dan akhirnya ia sadar telah menjadi target Mark. Ia mengambil senjata yang diberikan Rain tadi padanya dari saku celana belakang, senjata yang masih full dengan peluru.


Tapi tangan Aryan sama sekali tak mampu Ter angkat. Ia tak bisa melakukannya.

__ADS_1


Karna tembakan itu, Dion dan Rain secara bersamaan melihat ke arah Aryan.


Sekali lagi, Mark membidik Aryan dan dengan cepat menarik pelatuknya.


...*DORRRR*...


...****************...


..."Mas Aryaaan!"...


Ayla terbangun dari tidurnya yang tengah berada dalam kapal menuju Pulau Tuan Rain. Ia tertidur karena fisiknya yang selalu terjaga setiap malam.


..."Mamah!"...


..."Ayla?"...


..."Mamah kenapa? Mamah mimpi?"...


..."Ay, kamu mimpi apa?"...


Arend memberikan Ayla segelas air putih. Ayla menerima dan meminumnya. Ia mulai mengatur nafasnya yang tersengal karna panik.


..."Hanya mimpi, bukan apa-apa"...


..."Mama mimpi apa?."...


..."Mama mimpi Papah sedang bermain bersama kita, dia yang tidak bisa naik sepeda belajar menaiki benda itu karna tidak mau kalah dari Arend. Dan dia terjatuh menabrak dinding rumah. Bukan apa-apa. Hanya mimpi biasa. Mungkin karna aku terlalu merindukannya."...


Ineke memberikan pelukan mencoba memberikan ketenangan untuk sahabatnya.


Cen datang memberi tahu jika mereka telah sampai dan akan segera turun.


Arend berlari ke arah jendela, nampak sebuah pulau yang sangat indah. Ada dua rumah mewah disana. Namun Arend belum bisa melihat dengan jelas.


Arend kembali mendekati mamahnya.


..."Apa mamah sekarang sudah merasa lebih baik?"...


Ayla tersenyum dan mengangguk.


Ayla, Arend, Ineke dan Zico mengikuti langkah Cen. Banyak Orang-orang dengan visual yang sama kemiripannya dengan saat pertama kali mereka akan menaiki kapal.


Pria-pria ber setelan celana hitam dan jas hitam. Lengkap dengan senjata api dan berdiri dengan gagah di beberapa titik.


Cen yang menggendong Zico mengarahkan mereka masuk ke salah satu rumah disana. Rumah yang sangat indah dengan pemandangan pantai, pasir putih yang bersih, udara yang segar, serta pohon-pohon yang berada lumayan jauh dari sana. Namun tak gagal untuk menyejukkan mata.


Saat Cen ingin menunjukkan kamar mereka satu per satu. Ayla menolak. Mereka ingin tinggal dalam satu kamar saja selama disini. Dan Cen hanya bisa pasrah menyetujui.


..."Cen, tunggu, bisa kita bicara berdua?"...


Arend menghentikan Cen yang akan meninggalkan mereka setelah berada di kamar.


..."Ikut aku."...

__ADS_1


Arend mengikuti langkah Cen. Mereka kini tengah berada di balkon ruangan paling atas. Ruangan Pribadi Tuan Rain. Tapi Cen sebagai orang kepercayaan mempunyai akses penuh untuk memasuki ruangan ini.


Cen berdiri memandang hamparan laut yang luas. Udara semakin kencang saat disini. Arend pun ikut menikmati pemandangan yang belum pernah ia rasakan.


..."Apa yang kau ingin tanyakan.?"...


..."Ceritakan padaku semuanya. Sedetail mungkin. Aku harus tahu semuanya."...


Cen tersenyum sinis.


..."Kau terlihat seperti anak remaja yang baru ABG, tapi tingkah yang kau tunjukkan tidak jauh berbeda dengan ku."...


Cen mengeluarkan rokok, memantik api dan mulai menyesap benda berasap itu.


..."Mau?"...


Cen menawari Arend. Arend menggeleng sebagai penolakan.


..."Dengar!"...


Cen menceritakan semua kisah dari awal. Arend terlihat begitu memperhatikan. Hingga suara deru ombak yang berkejaran terhempas angin itu mengiringi kebersamaan mereka.


...****************...


...*DORRRRR*...


Dion berada tepat di depan Aryan, dari mulutnya keluar darah segar yang mengalir dari sela bibirnya sebelah kiri.


Aryan menangkap tubuhnya yang tumbang kebelakang.


..."DIOOOONN!"...


Rain dengan cepat menyelesaikan musuhnya. Ia menjatuhkan dirinya dengan tumpuan kedua lututnya lalu menggerakkan cepat tubuhnya dengan gerakan 'Sledding lutut' Mengarah ke Aryan dan Dion berada.


Rain meraih senjata yang barusan Aryan jatuhkan.


..."Dooorrr"...


Satu peluru yang melesat tepat mengenai lutut Mark.


..."Dooorrr"...


Satu lagi tembakan ia lepaskan mengenai pergelangan tangan Mark yang memegang pistol.


Rain mulai menggunakan senjata itu, menghabisi tiga anggota Klan Kamora yang tersisa.


..."Dioonn!, tidak, tidak, tidak, Dion, Dion, kau mendengarku? Dion?"...


Nafas Dion tersengal-sengal, ia melihat ke arah Aryan yang menangis di hadapannya.


Rain segera mendekat ke tubuh Dion. Mencoba memeriksa keadaanya.


..."Kita harus cepat, masih ada kemungkinan."...

__ADS_1


Aryan menggendong tubuh Dion di punggungnya. Rain menyeret Mark keluar dengan kasar. Menghentikan semua pertarungan sengit yang terjadi diluar.


Bos mereka telah di lumpuhkan. Anggota Klan Kamora yang masih tersisa mulai menjatuhkan senjata, mengangkat kedua tangan menandakan telah menyerah dan kalah.


__ADS_2