
Keributan antara Papah dan anak itu mulai reda, ketika Papah mengucapkan kalimat pengusiran terhadap mas Aryan,
..."Keluar, kamu tidak seharusnya ada disini, ini bukan lah rumah mu."...
Papah mencoba duduk dengan tertatih di sofa dekat meja yang sudah remuk.
..."Papah mengusirku,? Baik, aku akan keluar dari rumah ini"...
Sebenarnya dalam hati Aryan berkata, ini lebih baik, dari pada jika papah mengancam untuk bunuh diri lagi.
..."Jangan memanggilku papah Aryan, kamu tahu, aku bukan lah papah mu!"...
Sambil menangis Papan .engeluarkan kalimat menyakitkan itu, yang seketika membuat langkah mas Aryan yang hendak pergi terhenti.
..."Papah,"...
Bu Nana tiba-tiba lari berhambur ketengah pertikaian anak dan papah itu.
..."Tidak tuan besar, tolong jangan katakan itu, nyonya disana pasti akan sangat sedih mendengarnya.!"...
Bu Nana menangis histeris dan bersimpuh di dekat Papah.
Kini tangis mas Aryan pecah, air mata yang sedari tadi berdesakan ingin keluar akhirnya tumpah juga, terlihat nafasnya yang mulai berat, beberapa kali mulutnya terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi itu terasa tertahan, tercekat di tenggorokan.
Sudah bisa di pastikan betapa hancur perasaanya saat ini, saat Papah mengatakan bahwa dia bukanlah anak nya.
Aryan mulai melangkahkan kakinya hendak keluar dari rumah, tapi ayah menghentikannya.
..."Tunggu Aryan,!...
..."Kamu meninggalkan sesuatu, Bik, tolong panggilkan Ayla."...
..."Ayla disini pah."...
Terlihat Ayla menuruni anak tangga satu persatu secara pelan, dengan air mata yang mengalir meski tangisnya tanpa suara.
..."Sini sayang, Ya Allah, kenapa ini harus terjadi pada putri ku ini?"...
Papah menangis memeluk Ayla.
__ADS_1
..."Badan mu sangat kurus sayang. Maafkan papah."...
Papah terisak masih dengan Ayla dalam pelukannya.
..."Dia adalah tanggung-jawabmu Aryan, jika kamu ingin meninggalkannya, maka jatuhkan talak terlebih dahulu untuknya, dengan begitu, Papah bisa segera menguruskan perceraian kalian di pengadilan."...
Sontak Aryan menoleh ke arah Papah karena kaget, tidak menyangka papahnya akan mengatakan hal itu.
..."Aku akan melepaskan nya jika itu Ayla yang meminta nya pah!"...
Aryan menatap ke arah Ayla yang juga sedang menatapnya dalam dan sendu.
Aryan tahu, selama ini, dia sudah begitu menyakiti Ayla. Tapi entah kenapa ia pun seakan tak rela jika harus melepasnya, egois memang.
..."Bagaimana keputusanmu sayang?"...
Papah bertanya pada Ayla yang pandanganya terus tertuju pada Aryan.
..."Tidak pah, Ayla tidak akan pernah meminta cerai dari Mas Aryan, perceraian adalah hal yang di bolehkan dalam Agama, namun Allah sangat membencinya, dan Iblis akan berpesta pora atasnya, aku tidak mau itu terjadi....
..."Mas Aryan tidak bersalah jika dia berpoligami pah, dalam Islam, suami yang ingin berpoligami juga tidak di haruskan untuk meminta izin dulu kepada istrinya....
..."Hanya saja, harapan Ayla yang terlalu tinggi pah, mengira dan berharap Mas Aryan akan mencintai Ayla dan menjadikan istri satu-satunya, bukan nomor satu, ataupun salah satu....
Ayla berbicara dengan matanya menatap kosong kearah lain.
..."Lihatlah Aryan, wanita seperti apa yang sudah kamu lukai hatinya ini, bersyukurlah karna Ayla begitu memahami agama."...
..."Baiklah. kamu bisa ikut pergi bersama suami mu, jika dia membuang mu, kamu bisa kembali ke rumah ini, papah akan selalu menerima kehadiranmu"...
Papah meninggalkan mereka menuju lantai atas, dengan tubuhnya yang sempoyongan dan kakinya yang tertatih.
Akhirnya Ayla keluar dari rumah mengikuti Aryan. Semua fasilitas yang Aryan gunakan harus di serahkan kembali pada papah, bahkan perusahaan yang berdiri atas dedikasi Aryan sendiri pun papah beku kan. Jika Aryan mau, Aryan bisa saja melawan, karna ada kekuatan hukum, tapi Aryan memang tidak berniat melawan papahnya terlebih jauh lagi, sudah cukup ia menyakiti perasaan papahnya, meski perasaanya sendiri pun hancur.
Keributan itu terjadi cukup lama, sampai hari menunjukkan waktu pagi.
Ayla meminta Aryan mengendarai motor miliknya, mereka pergi menuju rumah lama Ayla yang dulu di tinggali bersama ayah, rumah sederhana dengan bangunan yang terbuat dari kayu.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara percakapan apa pun antara mereka. Hingga tiba di rumah lama Ayla, dan para tetangga menyapa, barulah Ayla dan Aryan menunjuk kan senyum mereka untuk membalas dan sekedar basi basi dengan tetangga yang lewat atau memang rumahnya bersebelahan dengan mereka.
__ADS_1
Ayla dan Aryan tiba di rumah lama sekitar jam 11 siang. Ayla sempat beres- beres membersihkan rumah, karna lama tidak di huni jadi banyak debu.
Pertama Ayla membersihkan 2 kamar, satu kamar ayahnya dan satu lagi kamar miliknya, dan selebihnya akan di bereskan nanti sore. selepas Dzuhur Ayla mulai memasak, sedangkan mas Aryan terlihat hanya berdiri mematung bersandar pada tiang rumah yang terbuat dari kayu itu, tangannya bersedekap dengan pandangan matanya mengarah ke pekarangan belakang, yang mulai di tumbuhi rumput yang meninggi.
..."Mas, mandilah dulu, bersihkan dirimu, aku sudah memasak untuk kita makan, baju gantimu juga sudah ku siapkan di atas ranjang, malam ini, mas bisa tidur di kamar ayah, Ayla akan tidur di kamar Ayla sendiri"...
Aryan menoleh ke arah Ayla.
..."Kenapa kamu masih bersikap baik padaku Ayla? aku sudah terlalu dalam menyakitimu."...
..."Mandilah dulu, setelah itu akan aku obati luka di wajahmu"...
Setelah Aryan mandi, Ayla mengobati luka di wajah Aryan dan mereka makan siang bersama.
Selama beberapa hari mereka tinggal di rumah lama peninggalan ayah, mengulang hal hal bersama, meski itu suatu yang bias, sarapan, makan siang bersama, jamaah bersama, justru hal kecil seperti ini yang mampu menghangatkan hati Ayla.
Untuk sesaat mereka lupa akan sosok bernama Nesa, hingga ponsel Aryan berdering.
...*Bie...
...Memanggil,,,,,,...
Aryan mengangkat telfon Nesa, dan menjauh dari Ayla. setelah selesai menerima telfon, Aryan kembali duduk, dan berkata pada Ayla.
..."Aku tidak tidur di rumah malam ini" ...
Ayla tak bergeming, ia tak tahu harus menjawab apa, dalam hati Ayla bisa menebak kemana Aryan akan pergi.
..."Aku tidak bisa menceritakan apa yang ku alami pada Nesa, dia bisa merasa bersalah jika tahu aku ribut dengan ayah,."...
..."Aku ingin kamu bersikap adil mas,"...
..."Tapi aku harus pergi sekarang ay, ini adalah hari ulang tahun Nesa, dan aku sudah berjanji akan ada di samping nya,"...
..."Kalau begitu, ajak aku bertemu dengan dia mas, bukankah kamu bilang, dia bisa menerimaku,? Bagaimana aku bisa percaya jika aku tak melihatnya sendiri."...
Aryan terlihat sedang berfikir, pengorbanan yang di lakukan Ayla sangatlah besar, bahkan ia pun mengikuti langkah nya keluar dari rumah, bagaimana bisa dia meninggalkan nya malam ini?
..."Tunggu sebentar, aku akan mengabari Nesa jika kita akan datang bersama"...
__ADS_1
Aryan yang kemudian memainkan ponselnya, mengirim pesan singkat via WA.
..."Tapi, sebelum pergi, aku ingin mendengar cerita darimu mas, tentang hubungan mu dengan papah, maaf, bukan nya lancang, tapi aku akan terlihat seperti boneka bodoh yang tidak tahu apa-apa jika kamu tidak menceritakan yang sebenarnya padaku."...