
Pantai itu selalu indah, Dikala pagi, sore, maupun malam. Angin yang berhembus terasa hangat. Memberi kenyamanan pada apa yang berada di dekatnya.
Malam ini sangat cerah, Bulan bersinar terang, Bintang-bintang pun berkerlipan menghias langit yang hitam.
Deru ombak terdengar menenangkan.
..."Ini seperti surga.!"...
Arend tengah berbaring di pasir bersama Cen, mereka berdua melihat ke arah langit yang terasa tak terlalu tinggi.
..."Kadang terasa seperti Neraka."...
Cen menimpali ucapan Arend.
..."Bagaimana aunty disini?"...
..."Kau bisa melihatnya!"...
..."Dia terlihat bahagia."...
..."Sesuatu yang buruk telah berlalu."...
Arend melihat ke arah Cen yang berbaring di sebelahnya.
..."Apa itu sangat buruk?"...
..."Hampir."...
..."Aunty menyelesaikannya?"...
..."Iya, dia wanita yang hebat."...
..."Dia memang begitu, selalu merasa lemah dan tidak sanggup, tapi nyatanya, dialah yang paling kuat di antara kami. Dia tidak menyadari itu."...
..."Kau pasti menyayanginya."...
..."Sangat!."...
Mereka berdua membicarakan banyak hal. Arend merasa bertemu dengan orang yang tepat.
..."Apa ada seseorang yang kau sayang?"...
..."Tidak, mereka hanya menemani sesaat sebagai Partner Ranjang."...
Arend kembali melihat ke arah Cen, kali ini ia mengerutkan kening. Seakan meminta penjelasan.
..."Lupakan. Bukan hal yang baik."...
..."Tapi itu pasti menyenangkan.!"...
..."Hey?"...
Mereka tertawa bersama.
..."Arend?"...
Zico terlihat berlari ke arah Arend dan Cen.
..."Diamlah, jangan membicarakan yang bukan-bukan."...
Zico sampai disana. Duduk di dekat Arend. Nafasnya terputus-putus Karna kelelahan.
..."Huuhh, huuhh, huuhh.!"...
..."Kenapa keluar? Ini sudah malam. Cepatlah tidur."...
..."Kau disini, aku tidak bisa tidur sendirian di kamar."...
__ADS_1
Zico akhirnya ikut membaringkan badannya di pasir, di dekat Arend.
..."Pasirnya dingin, udaranya hangat, tapi segar.!"...
Arend tersenyum mendengar saudaranya bicara dengan nada bahagia.
..."Ini mengingatkanku saat kita tersesat di gunung. Kita juga melihat langit malam yang indah seperti ini kan? Tapi udaranya sangat dingin disana. Dan waktu itu kakiku juga sangat sakit."...
..."Lupakan itu."...
..."Jangan!. Itu luar biasa.! Aku fikir, aku akan mati disana waktu itu, dan aku selalu takut kau akan meninggalkanku."...
..."Tidak akan.!"...
..."Iya, aku tahu, kau tidak akan meninggalkanku."...
Senyum Zico sangat lebar. Cen ikut tersenyum. Ia teringat, jika saat itu dia juga tengah berada di sekitaran desa mengincar Dion. Sama halnya dengan anak buah Mark, tapi tidak ada yang bisa bergerak karna banyaknya Tentara dan Polisi.
Mereka banyak membicarakan hal. Sampai Zico tertidur dengan pulas disana.
Saat malam sudah larut, Cen menggendong Zico untuk masuk kedalam menuju kamar. Arend membawakan sandal Zico yang terlepas dari kakinya. Melangkah di belakang Cen.
...****************...
Aryan berbaring di sisi sebelah kiri ranjang, Rain di sisi sebelah kanan, para istri di tengah. Ayla di samping Aryan dan Ineke di samping Rain.
Ayla dan Ineke berbaring berhadapan. Membelakangi para suami. Mereka bercerita A B C D tentang banyak hal. Sesekali canda tawa mereka pecah.
Para suami hanya bisa jengkel memandang langit-langit kamar, Rain dan Aryan yang hendak melihat kearah istrinya malah pandangan mereka berdua yang beradu. Sontak Rain dan Aryan membalikkan badan dengan muka masam. Membelakangi para istri. Namun berbalik lagi menghadap istrinya yang membelakangi mereka.
Tangan Aryan merengkuh pinggang Ayla dari belakang sampai perut depannya. Hal yang sama juga di lakukan Rain pada Ineke.
Secara tidak sengaja Tangan Aryan dan Rain bersentuhan. Mereka berdua membulatkan mata.
..."Aaaahhh"...
..."Aaaahhh"...
..."Kau mau cari masalah?"...
..."Kau mau cari mati?"...
Aryan dan Rain mulai berdebat adu mulut. Ayla dan Ineke kaget karna suami mereka yang tiba-tiba ribut.
..."Kenapa?"...
..."Ada apa?"...
Aryan dan Rain tidak menjawab, mereka hanya saling menatap lawan dengan pandangan jengkel, tidak suka.
..."Mas Aryan ada Apa?"...
..."Kenapa Rain?"...
..."Bisakah kita hanya tidur berdua?"...
..."Bisakah kita hanya tidur berdua?"...
Aryan dan Rain menjawab bersamaan. Terjawab sudah kegelisahan mereka karna hanya ingin tidur bersama istri tercinta tanpa gangguan tetangga.
Ayla terlihat cemberut, ia memalingkan pandangannya tanpa titik yang jelas. Ineke menggeleng pada Rain.
..."Aaahhhhhh"...
..."Uuuffhhh!"...
Aryan dan Rain menjatuhkan tubuh mereka lagi dengan kasar keranjang, menutup diri dengan selimut.
__ADS_1
Ayla dan Ineke hanya saling pandang mengendikkan bahu. Mereka meneruskan obrolan mereka sambil duduk. Berada tepat di tengah-tengah di antara para suaminya yang berbaring.
Tangan Aryan merangkul pinggang Ayla sampai perut yang tengah duduk. Rain pun melakukan hal yang sama.
Sampai terdengar dengkur halus dari Rain. Dan tangan Aryan yang sudah terasa lemas. Menandakan jika para suami mereka telah tertidur pulas.
Ayla memberi kode pada Ineke untuk turun dari ranjang. Mereka berdua secara bergantian pelan-pelan turun dari tempat nyaman itu. Meninggalkan para suami yang tidur berdua.
Ayla menutup mulut menahan tawa. Ia dan Ineke melangkah menuju Balkon kamar. Tempat favorit Ineke saat galau kemarin.
Mereka melanjutkan obrolan mereka disana.
..."Allah begitu sangat baik, Ke. Menghantarkan hidup kita sampai di titik ini."...
..."Aku malu Ay, sempat melupakannya saat urusan duniawi mengujiku."...
..."Apa ada masalah?"...
Ineke tersenyum kecut, lalu menggeleng.
..."Kau tahu Ay? Dulu aku fikir, hidupku sudah berakhir, saat Dion meninggalkanku untuk selamanya. Tapi Allah sangat baik padaku. Dia memberiku kebahagian di jalan yang lain. Tanpa aku harus melupakan jalan yang pernah aku lalui."...
..."Cinta itu kekuatan jiwa, Ke. Aku mencintai Aryan dengan hatiku, bukan dengan ragaku. meski dulu aku tidak melihatnya, dia selalu ada dalam pandanganku."...
..."Apa itu artinya cintaku pada Dion tidak tulus, Ay?"...
Ayla tersenyum. Lalu menggeleng.
..."Bukan begitu, Ke. Selain menjadi kekuatan, Cinta juga bisa menjadi kelemahan. Ketika kekasih telah pergi untuk selamanya, kita akan hancur dalam diam. Jadi jangan tutup hatimu, biarkan cinta itu ada, meski bukan dengan orang yang sama. Karna orang memang datang dan pergi, tapi biarkan cinta itu tetap ada."...
Mereka berdua mengarahkan pandangan ke hamparan laut lepas.
..."Apa kalian sudah melakukannya?"...
..."Hmmmm?"...
Ayla tersenyum nakal ke arah Ineke. Ineke hanya bisa berekspresi geli.
..."Kau, dan dia? Em? Em?"...
..."Apa? Kau ini?"...
..."Sudah kan? Ayo ngaku? Sudah kan?"...
Ayla mulai bertingkah jahil, ia menggelitik perut dan bagian sensitif Ineke yang sukses membuat mereka melepas gelak tawa di tengah malam yang sunyi.
..."Ayla, hentikan? Ayla sudah! Aku tidak tahan?"...
Mereka berdua saling bercanda. Sampai tidak menyadari jika kedua pasang mata suami mereka telah terbangun dan melihat aksi konyol mereka.
..."Mas Aryan?"...
..."Rain?"...
Mereka berhenti ketika melihat suami mereka yang sudah berdiri bersandar pada pintu kaca.
Rain menggerakkan kepala memberi kode pada Ineke untuk segera mendekat dan kembali ke ranjang.
Aryan mengulurkan tangan kanannya pada Ayla penuh cinta dan di sambut oleh Ayla dengan kasih dan sayang.
Mereka akhirnya kembali ke ranjang, membaringkan badan dan mulai tidur.
Kini para suami yang berada di tengah. Dua sahabat ini harus di pisahkan. Jika tidak mereka tidak akan bisa beristirahat dengan tenang sepanjang malam.
Aryan dan Rain saling membelakangi, merangkul istri masing-masing mencari kehangatan.
...GOOD NIGHT. NICE *****....
__ADS_1