Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
Sorry, Please?


__ADS_3

Ineke akan menunggu Rain di kamarnya, setelah meminta dan memohon pada salah seorang penjaga untuk membukakannya pintu kamar Rain, dan membiarkannya masuk ke dalam.


Awalnya Penjaga itu jelas menolak. Sama saja dengan ia bermain-main dengan nyawanya, tapi Ineke terus memohon. Ineke terus membujuk dan merayu hingga Penjaga itu bersedia membukakan pintu, membiarkan Ineke masuk ke dalam.


..."Bagaimana jika Tuan Rain membunuh saya, Nona?"...


..."Tidak akan Pak, jika dia sampai melakukan itu, maka, maka?"...


Untuk sesaat Ineke terlihat berpikir, dan Penjaga itu semakin berkerut keningnya menanti jawaban Ineke.


...""M m maka kita akan mati bersama!"...


Ineke asal bicara, ia tidak tahu lagi bagaimana bisa meyakinkan Penjaga itu.


Penjaga itu membuang nafas kasar dan akhirnya menuruti permintaan Ineke.


..."Makasih.!"...


Ineke melebarkan senyumnya. Ia melangkah memasuki kamar Rain.


..."Aku akan menunggu mu datang, Suamiku."...


Kini Ineke mulai memperhatikan seisi kamar ini, sebuah kamar yang sangat luas, dominan dengan warna hitam dan abu-abu, barang-barang mewah. Dan, ada sebuah foto dengan ukuran begitu besar yang terpasang di dinding. Itu fotonya sendiri.


..."Aku tahu, kau sangat mencintaiku kan?"...


Ineke melebarkan senyum mendapati fotonya sendiri terpasang disana.


Ineke membersihkan diri di kamar mandi, lalu mengambil baju ganti yang di bawanya di handbag tadi.


Ia merias sedikit wajahnya dengan polesan yang natural, namun kecantikannya semakin memancar.


Ineke mengenakan dress merah yang terlihat berkilau jika terkena cahaya. Dress panjang tanpa lengan, hanya ada tali transparan sebagai penyanggah, dengan belahan dada rendah yang semakin menunjukkan kepadatan isinya. Dress itu memiliki belahan di samping kiri yang panjang hingga ke bagian paha atasnya, Ineke terlihat sangat cantik dan seksi.


Ineke lantas memakai Highheels dengan warna senada. Ia mencepol rambutnya ke atas, beberapa bagian rambut depannya terlihat menjuntai berantakan, tapi itu malah terlihat semakin seksi.


Ineke menyentuh kalung mainan yang pernah di berikan Rain yang menghiasi leher jenjangnya. Ia berharap semua usahanya ini akan bisa meluluhkan suaminya.


..."Jika aku memang bersalah, kau harus memaafkan ku, atau aku akan menyerah.!"...


Ineke menunggu di kamar dengan penuh kecemasan. Ia memadamkan lampu kamar.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ineke semakin cemas. Karna belum ada tanda-tanda Rain akan datang.


Tiba-tiba pintu kamar di buka. Seorang pria melangkah kedalam, menuju nakas. Tanpa menyalakan lampu, Ineke langsung memeluk tubuh pria itu dari belakang.


..."I Miss You!"...


Lirih Ineke lembut di ceruk leher si pria. Pria itu menyentuh tangan Ineke yang menyentuh dadanya. Mengelusnya lembut. Ineke merasa ada yang salah.

__ADS_1


Dia bukan Rain, ini bukan bau parfum Rain, ini juga bukan tangan Rain. Sontak Ineke melepas tangannya, mundur, lalu menyalakan saklar.


..."Bian?"...


Bian tersenyum nakal mendapat sambutan hangat dari Ineke. Kini ia melihat Ineke dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Dia terlihat menggigit bibir bawahnya dengan tatapannya yang membuat Ineke bergidik ngeri.


..."Cantik!"...


Bian mengucapkan satu kata yang membuat Ineke merasa sangat malu, ada rasa jengkel dan ingin marah di hatinya.


..."Kenapa kau masuk kemari? Dimana Rain?"...


..."Rain? Hah,! Aku kesini di minta Rain untuk mengambil ini."...


Bian mengangkat sebuah berkas.


..."Dia sedang bersenang-senang sekarang.!"...


..."Apa maksudmu?"...


Bian tidak menjawab, ia hanya tersenyum sinis.


..."Apa dia sudah bosan menggunakanmu?"...


Ineke kesal mendengarnya, dan dia diam tidak menjawab.


..."Kau sangat berbeda dengan yang pertama kulihat, kau ternyata sangat liar."...


Ineke merasa harga dirinya di permalukan. Ia membalikkan badan hendak pergi.


..."Tunggu cantik!"...


Ineke terhenti.


..."Aku akan memuaskan mu jika dia sudah selesai denganmu."...


Ineke begitu kesal mendengarnya. Ia marah, sedih, malu, kecewa. Lalu Ineke melangkah keluar. Beberapa pasang mata yang melihatnya dengan tampilan seperti itu membulatkan mata karna kaget. Dia yang biasanya hanya mengenakan kaos dan jeans, atau sweater tiba-tiba memakai dress dengan riasan yang menggoda.


Air mata Ineke mulai menetes. Ia merasa di permalukan oleh Bian, hatinya sakit. Ia terus melangkah keluar, tanpa tujuan, emosi merasukinya, Ineke menuruni anak tangga hingga sampai di lantai bawah.


Ia berhenti ketika mendapati begitu banyak orang disana.


Rain tengah mengadakan pertemuan dengan para Bos dan Anggota Mafia yang bersekutu dengannya.


Semua orang yang ada di sana melihat Ineke dengan tatapan yang sulit di artikan. Semuanya menjadi hening.


Rain yang berdiri bersama beberapa orang pun sama kagetnya. Ia membulatkan mata. Istrinya berubah, bertranformasi seperti orang yang berbeda.


Ineke tak melihat adanya Rain disana. Ia mengedarkan pandangan yang tak jelas. Rasa malu, takut, marah, bercampur aduk di hatinya. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, penglihatannya menggelap. Dan,

__ADS_1


......"Bruugg!"......


Ineke jatuh pingsan. Rain lekas berlari menghampiri Ineke yang sudah tak sadarkan diri di lantai.


..."Ke?"...


Badan Ineke terasa panas. Dengan panik Rain membawa Ineke ke lantai atas. Menuju kamar Ineke.


Cen mengikuti.


..."Cen, Panggil Heli, aku akan membawa Ineke ke rumah sakit."...


..."Baik."...


Cen lekas pergi melaksanakan tugas yang di berikan.


..."Ke, kamu kenapa? Tubuhmu demam."...


Rain membaringkan tubuh Ineke di atas ranjang. Rain merasa bersalah, wajah Ineke terlihat sembab, jelas itu karna Ineke yang selalu menangis.


Rain mengompres kening Ineke dengan plester penurun demam yang ada di kotak kesehatan. Mengoleskan minyak angin di telapak kakinya. Mencoba memberi rangsangan agar Ineke segera sadar.


Ineke perlahan membuka matanya. Ia melihat Rain yang mengelus telapak kakinya. Terasa geli.


Ineke melakukan pergerakan, ia hendak duduk.


..."Ke?"...


Rain membiarkan ineke yang bangun dan duduk. Ineke menyentuh keningnya, terdapat plester penurun panas. Ia melepasnya.


..."Tubuhmu panas, kau demam."...


Ineke hanya diam. Sebenarnya ada rasa takut di hatinya, jika ia salah bicara dan memancing emosi Rain, dia takut Rain akan bertindak kasar seperti mencekiknya seperti waktu kemarin.


Mereka hanya saling memandang, Rain tiba-tiba bangun hendak pergi.


..."Maaf!"...


Ineke berucap lirih. Rain memang sakit hati, tapi ia juga tidak tega dengan keadaan Ineke saat ini.


..."Demi Tuhan aku tidak menyadari jika aku menyebut nama Dion.!"...


Kepala Rain mendongak, matanya membulat, kembali dada itu terasa nyeri yang Ter amat sangat.


..."Aku tidak membayangkannya sama sekali, sungguh aku menyadari sepenuhnya jika saat itu aku menyerahkan diriku padamu Rain, tidak ada Dion di kepalaku, aku benar-benar hanya menikmati setiap perlakuan lembutmu, aku merasakannya, menikmatinya, maaf kan aku jika aku melakukan kesalahan.!"...


Rain tidak menjawab, ia kembali melangkah hendak meninggalkan Ineke.


..."Jika kau terus mendiamkanku?"...

__ADS_1


Rain mendengarkan dengan seksama. Ia menunggu dengan perasaan gamang apa yang akan di ucapakan istrinya.


..."Jika kau terus mendiamkanku, aku tidak yakin akan dapat bertahan. Aku bukan wanita sekuat itu Rain.?"...


__ADS_2