
Ayla sampai di rumah pukul 20:15 menit, ia bersyukur karna Aryan masih belum pulang, meski ia juga sudah yakin paling cepat Aryan akan sampai rumah pukul 22:00, tapi tetap saja ia merasa resah sepanjang jalan tadi takut-takut jika Aryan pulang lebih awal.
Jam di ponsel sudah menunjuk kan pukul 23 lebih, tapi Aryan masih belum juga pulang, Ayla sebenarnya merasa kesepian, dia menginginkan kehadiran Aryan berada di satu kamar dengan nya malam ini, di luar hujan kembali turun dengan derasnya.
Hawa dingin menyeruak serasa menusuk kedalam tulang-tulang Ayla, Ayla sudah merasa sangat mengantuk, hingga ia memutuskan untuk menunggu Aryan dengan berbaring, tapi justru ia terlelap tidur.
Saat pagi tiba, Ayla terbangun lebih siang, ia hampir melewatkan waktu subuh nya, jadi ia segera beranjak dari ranjang masuk ke kamar mandi dan melanjutkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai shalat subuh, Ayla mengedarkan pandangannya, ia mulai mencari keberadaan mas Aryan yang tidak ada tanda-tanda bahwa dia pulang.
...'Apa Mas Aryan belum pulang?'...
Ayla sempat turun kelantai bawah untuk mencari Aryan, dan dari penuturan orang rumah, bahwa tuan mudanya itu belum juga pulang sejak semalam.
..."Mas Aryan, dimana kamu?"...
Ayla kembali ke atas. kamarnya, ia mencari ponselnya dan hendak menghubungi Aryan, sedingin apapun sikap Aryan selama ini, ia tidak pernah jika sampai tidak pulang kerumah. Ayla sempat berfikir apakah mas Aryan mengalami musibah? Apakah mas Aryan kecelakaan? Atau seseorang mencelakainya di jalan?
...'Ah, semoga yang ku pikirkan itu tidak terjadi' ...
...*Mas Aryan...
...Berdering,,,,,...
Lama,terus saja seperti itu, tanpa ada jawaban, hingga akhirnya panggilan itu di jawab, dengan suara khas orang yang baru bangun tidur, mas Aryan mengangkat telfon dari Ayla.
..."Iya,"...
..."Mas,,, kamu di mana? Kenapa tidak pulang semalam? Kamu baik baik saja kan?" ...
..."Ehhm, aku tidak apa-apa, aku, aku tidur di rumah teman."...
..."Aaaahh, bie, bisa tolong sebentar,!"...
__ADS_1
Suara seorang perempuan dari seberang telfon yang jelas dia sedang bersama dengan Aryan.
..."Mas, suara siapa itu?"...
Ayla bertanya dengan suara yang bergetar.
Belum mendapatkan jawaban dari Aryan, suara perempuan di seberang kembali terdengar.
..."Siapa bie,?"...
Suara perempuan di seberang terdengar lembut dan manja.
..."Ay, Aku ingin bicara denganmu, kita bertemu siang ini di rumah, aku segera pulang."...
Aryan menutup telfon dari Ayla.
Aryan segera menghampiri Nesa yang sedang susah payah mengangkat koper besar yang ingin di taruh nya di atas lemari kamar.
Aryan mengecup kening Nesa dan berlalu pergi.
...- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -...
Jelas saja Ayla merasa cemas. Hanya wanita bodoh yang tidak bisa mengerti apa yang barusan terjadi. Jika seorang suami tidak pulang, dan dari ponselnya terdengar suara wanita, di tambah dengan panggilan mesra mereka, Bie,
..."Ya Allah."...
Ayla terisak dalam tangisnya.
Baru saja ia merasa bahwa Aryan menghargainya, dan mungkin saja akan memulai hidup barunya dengan lebih baik. Namun, dengan hal yang di dengarnya tadi?
Mungkinkah ada wanita lain dalam rumah tangga nya yang baru seumur jagung, meskipun itu tanpa rasa cinta awalnya, tapi bukankah Aryan sudah menerimanya? Dengan malam itu, malam yang mereka lewati dengan penyatuan?.
__ADS_1
..."Ya Allah, kenapa hatiku terasa begitu sakit dan sesak? Aku tidak mungkin bisa menerima penghianatan ya Allah. Semoga apa yang aku fikir kan itu tidaklah benar"...
Ayla telungkup dengan mukanya menghempas pada bantal, dan air matanya benar-benar mengalir deras.
...- - - - - - - - - - - - - - - - -...
Ayla dan Aryan kini berada dalam kamar, di lihatnya wajah Ayla yang sudah jelas habis menangis tadi, matanya sembab, muka yang sendu, dan suaranya yang terdengar serak.
..."Maafkan aku Ayla, Aku tahu aku salah, Tapi, inilah aku yang sebenarnya. Namanya Nesa, wanita yang sangat aku cintai jauh sebelum aku mengenalmu, aku sangat mencintainya, dia juga mencintaiku, kami sudah menjalin hubungan sejak lama, awalnya, Papah merestui hubungan kami, sampai pada akhirnya, aku sendiri tidak tahu apa alasan Papah menentang hubungan kami, dia memintaku untuk mengakhiri hubungan ku dengan Nesa, dan menikahi mu malam itu."...
Ayla diam tak bergeming, tapi air matanya cukup menjelaskan betapa hancur hatinya saat ini, dia sangat kecewa, dan merasa sangat tersakiti.
Meski sempat ia berfikir, berhak kah ia untuk marah? Lalu, ia merasa bahwa ia tidak berhak untuk marah pada Aryan, tapi kecewa? Biarpun tanpa dasar cinta, pernikahan tetaplah pernikahan, dan sikapnya selama ini, memang Aryan dingin, tapi Ayla berfikir itu memang karakternya, karna nyatanya Aryan selalu bersikap baik pada Ayla.
Bahkan saat pemakaman ayah kala itu, ketika kak Aaron menggenggam tangannya secara tiba-tiba ,bukan kah sikap yang di tunjuk kan nya itu adalah sikap cemburu? Tapi, setelah penjelasanya hari ini???
...'Tuhan,'...
Ayla menangis terisak, hatinya tersayat.
..."Apa kau menginap di tempat nya semalam Mas? Apa yang telah kamu lakukan dengan nya Mas? Apa kau mengkhianati ku?"...
..."Aku sudah menikah dengannya Ayla, sehari setelah kita menikah, Nesa mencoba bunuh diri di apartment nya, aku benar-benar tidak sanggup melihat dia dalam keadaan seperti itu, dia tidak mau hidup lagi jika aku meninggalkannya, dan, ya, aku juga sangat mencintainya, kami berpisah karna terhalang restu Papah, Ini bukan salahmu Ayla, kamu tidak bersalah dalam hal ini, dan aku harap, kamu juga tidak menyalahkan Nesa, dia juga korban dalam hal ini, dia sudah merasakan keterpurukan ay, dia mau menerima mu, jadi, jika mungkin, bisakah kamu menerimanya? Tapi, jika kamu tidak mau, kamu bisa menggugat ku di pengadilan agama, aku tidak akan mempersulit mu, dan akan ku penuhi semua tanggung jawabku padamu. Maafkan aku dan Nesa."...
Aryan pergi keluar meninggalkan Ayla yang sedang menangis menjerit tanpa suara.
Kini ia bersimpuh di lantai karna kekuatan yang ia bangun sedari tadi untuk tetap terlihat tegar akhirnya runtuh juga.
Wanita bisa menyembunyikan cintanya, tapi tidak dengan cemburunya, wanita bisa menerima penyiksaan dari pria nya, tapi tidak dengan pengkhianatan nya.
Namun, dalam posisi ini, siapa yang merebut siapa? Jika di urut dari awal, 'Bukankah aku yang menjadi perebut?' Batin Ayla perih memikirkannya, 'Tapi, aku yang sah menjadi istrinya, dan dia datang kedalam pernikahan ku?'
__ADS_1
..."Apa yang harus aku lakukan ya Allah, aku takut tidak sanggup dengan ujian mu kali ini, aku tahu, suami sah berpoligami dalam ajaran mu, tapi kenapa rasanya harus sesakit ini ya Allah,? Tidak bisakah aku menjalani hidup seperti sayyidah Siti Khadijah saja ya Allah? Yang hanya menjadi satu-satunya wanita Rasulullah sampai akhir hayatnya?. Aku takut tidak akan sanggup jika dalam posisi sayyidah Aisyah yang harus berbagi suami meski ia sudah berusaha seadil-adilnya?"...