Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
LUKA HATI


__ADS_3

Rain menatap wajah Ineke dengan amarah, Mata Ineke mulai menangis deras. Ia hanya diam tanpa melakukan perlawanan. Ia kaget, gugup, takut, rasanya tercekat. Hingga nafasnya mulai berat dan sesak.


Rain melepas tangannya menyadari perbuatan kasarnya pada Ineke. Itu di luar kendalinya. Ineke terbatuk menahan rasa sakit pada tenggorokannya. Ia berjalan sempoyongan. lalu bersandar pada tepian meja.


Nafasnya tersengal, Ineke mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya.


Rain hanya berdiri membelakangi. Ia tak mampu melihat wanita yang begitu sangat di cintai tersakiti karna ulahnya sendiri.


..."Kenapa Rain? Apa salahku? Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini? Bicaralah Rain, sehingga aku bisa mengerti dirimu, sehingga aku memahami kesalahanku."...


Ineke kembali berbicara pada Rain, kali ini ia berbicara sambil menangis, dan suara yang pelan karna tenggorokannya yang masih terasa sangat sakit.


Ineke mendekat. Ia menghadap Rain tepat di depannya, mata Rain sudah banjir dengan air mata.


..."Apa kau kecewa padaku? Karna aku bukan lah seorang virgin Rain?"...


Sontak Rain membalas tatapan Ineke. Ia mencengkeram pipi Ineke dari arah bawah dengan tangan kanannya.


..."Apakah permainan Dion begitu menyenangkan ke? Apakah aku tidak cukup baik untuk memuaskan mu? Sampai kau harus menyebut namanya di malam pertama kita?"...


Ineke membulatkan mata mendengar penuturan Rain. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya itu.


Hati Rain sendiri terasa begitu sakit saat mengatakannya. Itu seperti tusukan yang dihujamkan ke hatinya berkali-kali, lagi dan lagi.


Rain melepas tangannya. Ia berbalik dan melangkah cepat hendak meninggalkan Ineke keluar kamar.


..."Tidak, Rain, aku tidak melakukan itu. Rain, tunggu, dengarkan aku."...


Ineke menyangkal, ia tidak merasa jika ia melakukannya. Ineke mencoba menghentikan langkah suaminya hingga keluar kamar, tapi dengan kasar Rain menepis tangan Ineke hingga tubuh Ineke menabrak dinding.


Rain melangkah cepat dengan air mata yang terus mengalir. Sebuah Guci besar di depannya ia raih kasar hingga jatuh dan pecah di lantai. Menghentikan langkah Ineke yang hendak mengejarnya.


..."Aaaahh"...


Ineke hanya dapat menangis tanpa mampu menjelaskan apa-apa. Ia bersimpuh di lantai melihat kepergian suaminya.


Terjawab sudah apa yang menjadi penyebab Rain Cosa suaminya itu berubah.


Rain menganggap jika Ineke tidak lagi virgin itu karna bersama Dion, dan satu lagi, menyebut Dion di malam pertamanya? Sumpah demi Tuhan Ineke tidak merasa melakukannya.


Sejak malam itu, Rain semakin dingin pada Ineke. Tak sedetik pun Rain menjumpai Ineke. Ia tidur memisahkan diri di kamar yang lain, tak mengizinkan Ineke memasuki kamarnya, apalagi menyiapkan keperluannya.


Dua Bodyguard yang berada di kamar Rain selalu berhasil membawa Ineke kembali ke kamarnya sendiri. Menghalangi ketika Ineke berusaha mendekat.


Ineke seperti telah diasingkan oleh suaminya, pria yang mampu menyembuhkan lukanya yang lama. Namun kini justru membuat luka baru yang lebih menyiksa.


Dan Rain. Seorang pria yang tidak percaya pada cinta, akhirnya jatuh cinta. Seorang pria yang bisa menangis karena wanita. Tidak bisa di ungkapkan betapa besar cintanya, dan betapa dalam lukanya.


Mereka sama-sama larut dalam lara dan kecewa. Tiada hari tanpa air mata.


Ineke hanya mampu bertahan dalam tangis sepinya. Tiada sesiapa di rumah ini, di tempat ini yang bisa menguatkannya, atau pun memahaminya.


Ia menjadi seorang istri yang tak di anggap. Namun ia tak mampu untuk melangkah pergi, ia kini telah jatuh cinta pada suaminya. Ia sangat mencintai suaminya.


Ineke tidak mungkin pergi jika bukan Rain yang memintanya. Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti Ayla sahabatnya, yang pergi meninggalkan cintanya. Hingga menjalani hidup yang hampa.

__ADS_1


..."Tapi, tetap bertahan dalam keadaan menyakitkan seperti ini? Bukan kah sama halnya juga sangat menyiksa?"...


Rain Cosa telah kembali menjadi dirinya yang lama. Kehidupan malam, Darah, wanita-wanita liar, dan minuman setiap malamnya.


Ineke tengah meratapi nasibnya di balkon kamarnya, ia hanya mampu melihat Rain suaminya dari jarak jauh, ia melihat Rain tengah berdiri di halaman bersiap akan pergi bersama orang-orangnya. Sesekali Rain melihat kearah Ineke. Tapi ia tetap pergi tanpa menyapa cintanya itu


Ineke tiba-tiba begitu merindukan sosok Ayla dan Arend saat ini. Rasanya ia ingin mencurahkan seluruh nasib malang nya pada sahabatnya itu.


..."Ayla, Arend, kalian sedang apa? Aku merindukan kalian."...


...****************...


*Di Rumah Aryan


..."Bagaimana Mas?"...


..."Belum ada jawaban, sepertinya, Rain tengah sibuk. Setiap kali aku hubungi, Cen yang menerima panggilan itu. Dan mereka selalu dalam perjalanan."...


..."Sesibuk itu kah?"...


..."Sudahlah, besok akan aku coba untuk hubungi lagi, sekarang sudah malam, ayo kita tidur, aku ingin segera ada bayi meramaikan rumah kita."...


Lagi-lagi Aryan bertingkah nakal. Ayla tertawa kegelian ketika tangan Aryan mulai berjelajah.


..."Mas Aryan?. Bentar dulu, Ayla mau ke kamar mandi."...


Ayla masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Aryan yang sudah dalam mode ON di atas ranjang.


Dering ponsel Ayla berbunyi. Aryan mengedarkan pandangan mencari asal sumber suara itu.


..."Iya Mas,! Tolong angkatin, Ayla lagi gosok gigi.!"...


Ayla berteriak menyahuti Aryan dari kamar mandi.


..."Dimana ponselnya Ay?"...


..."Di tas Mas!"...


Ayla belum mengeluarkan ponselnya dari tas sejak sepulang dari Panti Asuhan tadi.


Aryan mengambil tas Ayla yang ada di sofa, membukanya mencari benda pipih yang terus berbunyi itu. Itu adalah panggilan dari Ineke. Tapi Aryan tidak lagi menghiraukan dering ponsel itu ketika ia melihat ada satu lusin obat tablet di tas Ayla.


Aryan melihat dan membaca obat itu. Matanya membulat begitu terkejut membaca tulisan yang menerangkan fungsi obat itu. Hingga dering ponsel Ayla yang mendapat panggilan dari Ineke itu berhenti.


..."Siapa Mas?"...


Ayla keluar kamar mandi sambil merapikan baju tidurnya.


Aryan terlihat duduk di tepian ranjang dengan raut muka yang sudah berbeda. Ayla tidak menyadari tangan Aryan yang memegang obat yang di simpan Ayla selama ini.


..."Mas?."...


Karna tidak mendapat jawaban dan Aryan yang terlihat melamun, Ayla kembali memanggil Aryan.


Aryan melihat ke arah Ayla dengan tatapannya yang mulai sendu. Ayla bergidik ngeri melihatnya.

__ADS_1


..."Kau sakit Ay?"...


Aryan bertanya dengan suara yang sangat pelan dan terdengar bergetar.


..."Tidak Mas, Ayla sehat. Kenapa? Kok Mas nanyak nya gitu?"...


..."Kamu yakin Ay? Kamu tidak sedang sakit.?"...


..."Iya Mas! Ayla sehat.!"...


Ayla mendekat duduk di sebelah Aryan dan menyentuh pundak suaminya. Aryan bangkit dengan cepat. Ayla kaget di buatnya.


..."Kenapa kau mengonsumsi obat ini Ay? Apa kau tidak ingin mempunyai anak dariku?"...


Aryan melempar obat yang ia temukan tadi di tas Ayla ke ranjang sebelah Ayla duduk.


Ayla membulatkan mata melihat pil kontrasepsinya itu.


..."Jadi, karna itu kau tidak kunjung hamil Ay?"...


..."Mas?"...


..."Kenapa Ay? Kenapa kau melakukannya? Bukankah kau tahu aku begitu sangat menginginkan kehadiran bayi di tengah-tengah kita? Jawab Ay.!"...


..."Aku? Aku?"...


..."Kau tidak mencintaiku Ay? Kau tidak mau melahirkan anak untuk ku?"...


Aryan larut dalam tangisnya. Ia merasa seperti dikhianati, istrinya ternyata selama ini meminum pil KB.


..."Tidak Mas, bukan begitu. Aku sangat mencintaimu.!"...


..."Lantas kenapa kau melakukannya Ayla?"...


Aryan berteriak begitu keras. Ayla berdiri takut, tubuhnya gemetar. Ia memang salah.


..."Dengarkan aku mas, aku hanya takut jika suatu saat kau akan meninggalkanku lagi, aku takut jika sampai aku hamil dan kau tidak lagi mencintaiku. Aku?"...


..."Alasan apa itu Ayla? Kau tahu betapa besar rasa cinta ku untukmu. Aku hanya mencintaimu Ay!"...


..."Aku hanya merasa sangat takut Mas. Kenangan itu tidak mudah enyah dari pikiranku, saat kau membuat hubungan baru dengan wanita lain, dan aku harus mengandung tanpa seorang suami. Itu semua begitu berat Mas.!"...


..."Jadi kau masih belum memaafkan aku Ay?"...


Ayla menggeleng. Bukan itu maksudnya.


..."Kau masih mengingat itu Ay?"...


Aryan keluar dari kamar meninggalkan Ayla yang menangis. Ponselnya kembali berdering, tapi Ayla tidak menghiraukan itu. Ia tengah bersedih karna kembali ribut dengan Aryan. Dan itu jelas karna kesalahannya.


...****************...


..."Apa kau sudah tidur Ay?"...


Ineke melihat layar ponselnya. Yang ber wallpaper kan fotonya bertiga dengan Arend dan Ayla. waktu di desa dulu. Tiga kali panggilannya tak mendapat jawaban dari Ayla.

__ADS_1


__ADS_2