Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
DION part II


__ADS_3

..."Apa yang terjadi pada Dion?"...


Ayla bertanya pada Rain.


..."Dia tertembak."...


Sontak Ineke membulatkan matanya dengan tatapan nanar ke arah Rain. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya menutup kedua mulutnya yang ingin teriak namun tercekat.


Tiba-tiba, para Dokter menggunakan alat bantu pompa jantung. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak ada reaksi.


Lalu Dokter menggunakan kedua tangannya menekan kembali dada Dion. Tetap tidak ada reaksi. Alat yang mendeteksi detak jantung itu kini garisnya telah lurus. mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga. Menghancurkan seluruh kekuatan jiwa dan raga yang mendengarnya.


Dokter di dalam ruangan menggelengkan kepalanya pada Partner Dokter lainnya.


..."Dion, Dion, Dion.!"...


Ineke terus memanggil namanya. Ayla hanya bisa menangis menutup mulutnya. Arend kini mulai menangis meski tanpa suara.


..."Hei, hei, kenapa kalian diam saja? Hah? Dokter kenapa kalian diam saja? Apa yang terjadi? Dokter! Lakukan sesuatu. Ayla? kenapa mereka diam saja? Ayla, Ayla, katakan pada mereka untuk melakukan sesuatu. Dion? Dion?"...


Ineke mulai teriak dan meracau. Tanpa sadar Ineke meraih kerah kemeja Rain.


..."Apa yang kau lakukan padanya?"...


Rain menatap lekat mata Ineke dengan tatapannya yang nanar, ada perasaan aneh di hatinya ketika Ineke menatap dan meneriakinya dengan ekspresi seperti itu.


Jantung Rain berdetak cepat melihat seorang wanita menangisi seorang Dion yang dianggapnya bukanlah siapa-siapa. Tapi nyatanya ada seorang wanita yang dengan begitu tulus mencintainya.


..."Aaaaaaaahhhh, aaaaaahhhh"...


Ineke melepaskan tangannya memegang kepalanya sendiri yang mau pecah. Kembali melihat Dion dari jendela.


..."Dion kau harus selamat. Dion kita akan menikah. Kau tidak boleh meninggalkanku Dion? Dion bangun, bangun."...


Ineke merasakan sakit yang Teramat sangat memenuhi relung hatinya.


..."Allaaaaaaaaahhhhhhhh"...


Tubuh Ineke merosot kelantai. Ia berteriak keras memanggil satu-satunya nama yang bisa menyelamatkan cintanya dari kematian.


..."Laailaahaillallaaaaaaahhh"...


Teriakan Ineke begitu menyakitkan. Itu seperti tusukan di dada semua orang. Ayla memegangi tubuh Ineke yang telah bersimpuh di lantai. Tidak ada satupun diantara mereka yang tidak menangis sekarang, bahkan mata Rain terlihat merah berkaca-kaca.


Aryan hampir tumbang, Cen segera menopangnya. Ia telah kehilangan kekuatannya, kakinya serasa lumpuh tak berdaya. Air matanya deras mengalir. Cen mendudukkan Aryan di bangku dekat Zico.


..."Kenapa dengan Dion?"...


Zico mencoba bertanya meski tak ada yang mampu menjawabnya.


Aryan hanya bisa menangis menjerit tanpa suara. Zico mulai ikut menangis melihat situasi ini. Dan Aryan membawa Zico ke dalam pelukannya.


Arend hanya berdiri mematung menatap Dion yang tak bergerak. Hatinya terasa seperti tertimpa beban yang sangat berat. Sangat sesak.

__ADS_1


..."Dion, Dion.?"...


Ineke bangkit dari simpuhnya. Ia berlari membuka pintu memasuki ruang itu dengan paksa. Ia meneriaki para Dokter agar melakukan sesuatu, menyelamatkan Dion. Ayla mengikutinya.


..."Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian diam saja?. Lakukan sesuatu, Dokter. Selamatkan dia.!"...


..."Semoga dia pergi dalam damai."...


..."Tidak, Dion. Dion. Dion. Bangun Dion. Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Bangun Dion. Buka matamu.!"...


Ineke menggoyang tubuh Dion. Berharap cintanya itu kembali membuka mata.


..."Allah ya kariiiiiiim"...


Ineke memeluk tubuh Dion menenggelamkan kepalanya pada dada Dion yang tak berdetak.


Ayla hanya bisa menangis memegangi tubuh sahabatnya yang terguncang dahsyat.


..."DIOOOONN?"...


...****************...


...*Langit yang cerah,...


...Tak mampu menceriakan hati yang di Landa duka....


...Sakit karna kehilangan itu,...


...Hanya air mata yang mampu berbicara,...


...menjelaskan semuanya*....


...****************...


Hari telah berganti. Dion telah menaiki kereta nya, menjadi seorang pengantin yang di tandu menuju dunianya yang baru.


Aryan berada di depan sisi sebelah kiri, memegang tandu keranda berwarna hijau itu, air matanya terus mengalir, wajahnya yang sendu dan hatinya yang sedih.


Arend berada di depan membawa foto Dion yang sangat tampan. Ekspresinya datar namun air mata nya tak bisa ia tahan agar tidak keluar.


Zico di temani Bu Nana dan Sila hanya bisa menangis pasrah di kursi roda di depan pintu utama rumahnya.


Ayla menemani Ineke yang menangis bersimpuh di atas balkon memandangi kepergian cintanya dari lantai atas.


Mereka mulai berjalan melangkahkan kaki mengantarkan sang pengantin ke liang lahatnya.


Sampai Keranda itu keluar melewati gerbang utama.


..."Tidak, tidak, tidak, jangan bawa dia. Jangan bawa dia.!"...


Ineke bangkit dan berlari menuju bawah. Ia tidak bisa kehilangan orang yang sangat di cintai nya.


..."Ke?"...

__ADS_1


Ayla meneriaki nama sahabatnya mencoba menghentikannya. Ineke sampai di pintu utama yang ada Bu Nana dan Zico yang menangis disana.


..."Tidak Tidak Dion? Tidak, jangan bawa dia. Dion? Jangan tinggalkan aku! Dion?"...


Ineke berlari tanpa alas kaki dengan menangis berteriak mengejar kekasihnya.


..."Dion!"...


Seorang Pria yang baru datang menangkap tubuh Ineke yang meronta ketika hampir sampai di gerbang utama.


..."Dion!"...


Ineke terus meronta. Rain yang menangkapnya mencoba mengendalikan Ineke yang berontak. Rain terus menatap wajah Ineke yang parau.


Tiba-tiba tubuh Ineke lunglai. Ia jatuh pingsan. Rain menggendongnya ke dalam rumah. Ayla, Bu Nana, dan Zico yang kursi rodanya di dorong Sila mengikuti.


Ayla meminta Rain untuk membaringkan tubuh Ineke di dalam kamar yang di pakai Zico di bawah.


Ayla terlihat panik. Ia meminta Bu Nana untuk segera menelfon Dokter.


...****************...


Ayla terus menemani Ineke di dalam kamar, Dokter sudah selesai memeriksanya. Dia meresepkan beberapa obat. Sila segera pergi ke apotek untuk menebusnya.


Rain berada di ruang tamu bersama Zico yang masih terlihat kesedihannya. Meski kini tangisnya telah terhenti.


Aryan memasuki rumah bersama Arend. Menghampiri Rain yang ada disana. Rain berdiri.


..."Maaf, saya terlambat datang. Saya harus membereskannya terlebih dulu."...


Aryan mengangguk menanggapi. Mereka berdua berbicara di ruang kerja Aryan.


Zico dan Arend masuk ke kamar melihat kondisi Aunty nya yang tengah di Landa duka.


...****************...


Hari-hari telah berlalu, Gips yang di pasang di kaki Zico telah di lepas. Zico dan Arend juga sudah masuk ke sekolah yang baru.


Kini Aryan menempatkan pengawalan ketat dan professional terhadap mereka. Dirinya sendiri dan seluruh keluarganya.


Mobil-mobil yang mereka gunakan sekarang semua mobil mewah nan canggih dengan kaca anti peluru. Sudah cukup pelajaran Aryan yang ia terima kemarin.


Ayla, Zico dan Arend berperan penting untuk bisa menghapus kesedihan mengembalikan keceriaan keluarga dan rumah ini karna kepergian Dion.


Ineke masih larut dalam dukanya karna kehilangan. Ia lebih suka menyendiri di kamar, atau di halaman belakang yang biasa dia gunakan ngobrol saat bersama Dion.


Ayla juga bekerja keras untuk memulihkan mental suaminya yang selalu merasa jika Dion meninggal karna dirinya.


...'Seandainya aku menggunakan senjata itu menembak Mark, Mark tidak akan punya kesempatan untuk menggunakan senjatanya, atau seandainya Dion tidak menghadang peluru itu, pasti aku yang tiada.'...


Ayla selalu meyakinkan pada Aryan suaminya jika ini semua adalah kehendaknya. Kita tidak mempunyai kekuatan apapun untuk dapat melawannya.


...'Dion adalah orang yang baik. Semoga Allah memberikannya tempat yang terindah dan masuk syurga.'...

__ADS_1


__ADS_2