Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
ONE DAY


__ADS_3

Ayla terlihat sibuk sejak pagi, ia di bantu Sila dan Bu Nana berkemas. Sebelum nanti sore berangkat ke pulau Rain, selama satu hari penuh ia juga masih akan disibukkan dengan kegiatannya yang sudah terencana.


Ia bersama seluruh anggota keluarganya akan berziarah ke makam Ayah dan Papah, lalu akan ke panti.


Ini adalah pengalaman pertama Zico dan Arend. Zico sangat senang bermain di panti ini, bahkan ia meminta Ayla untuk mengajaknya jika Ayla kembali lagi kesini. Zico bermain sepak bola bersama anak-anak lain.


Beda halnya dengan Arend yang hanya menatap dalam penuh arti pada setiap anak yang tumbuh disini.


Seorang gadis kecil menarik perhatian Arend. gadis itu mungkin seusia dengannya, ia duduk sendirian di bangku bawah pohon mangga. Arend mendekatinya, gadis seusianya itu terlihat menangis, ia bahkan tidak ikut serta memperebutkan barang-barang yang di bawa Bodyguard Aryan tadi.


Tanpa permisi Arend duduk di sampingnya dengan santai. Gadis manis itu menatap Arend. Arend bersikap jutek dengan menatap lurus kedepan. Gadis itu lalu kembali menunduk.


Arend mengeluarkan sapu tangannya, memberikannya pada gadis itu. Gadis itu dengan ragu menerimanya.


..."Arend, kamu?"...


..."Meira"...


..."Kenapa menangis?"...


..."Aku tidak suka tempat ini, aku tidak suka tinggal disini. Aku merindukan rumahku."...


Suara Meira terdengar sangat lembut dan santun.


..."Kau, baru datang?"...


Meira mengangguk.


..."Kau punya rumah?"...


Meira mengangguk lalu menggeleng.


..."Kau mau cerita?"...


..."Aku hanya bercerita pada seorang teman.!"...


..."Aku temanmu.!"...


Arend memberikan cincin hitam yang biasa ia pakai di kelingkingnya. Lalu ia pasangkan pada jari manis Meira. Pas.


Meira memperhatikannya. Air matanya yang membasahi pipi sudah mulai mengering.


..."Ayah ku membunuh ibuku, dia di penjara sekarang, rumah ku di jual, Bibi ku membawa ku ke tempat ini."...


Meira kembali menangis. Tidak terdengar suaranya, hanya sesenggukan yang menjelaskan sesak di dadanya.


Seorang Bodyguard menghampiri Arend. Ia membungkukkan badan.


..."Tuan Muda, saatnya pergi."...


Tatapan Arend dan Meira beradu sendu. Arend bangkit dari duduknya. Tatapannya tidak lepas dari manik Meira yang juga terus menatapnya.

__ADS_1


Mereka berpisah dalam waktu pertemuan yang singkat.


...****************...


Ineke mulai bangun dari tidurnya, panasnya sudah turun, ia mengerjapkan mata, mendapati tubuhnya yang berada di atas ranjang. Ia mengedarkan pandangan. Sosok yang dicarinya ada di sana. Tertidur di atas sofa.


Ineke mendekat. Diperhatikannya wajah tampan yang dulu pernah ia tidak sukai itu. Ineke tersenyum melihat Rain yang terlihat lebih tampan saat tidur.


Ineke melihat Rain yang masih memakai sepatu. Ia lalu dengan pelan melepaskan benda itu dari kaki suaminya. Mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Rain. Rain masih bisa merasakannya. Hingga akhirnya ia benar-benar terlelap dalam tidurnya, karna semalaman ia terjaga membaca Diary Ineke.


Ineke membersihkan diri di kamar mandi, lalu memakai kaos dan celana jeans. Ineke menyisir rambutnya lalu menggulungnya ke atas.


Ineke melangkahkan kaki keluar kamar menuju dapur, ini adalah pertama kalinya Ineke menginjakkan kakinya di tempat ini.


Semua orang yang melihat Ineke membungkukkan badan sebagai penghormatan. Ineke membalas dengan melempar senyum dan juga mengangguk canggung.


Cen datang.


..."Kau sudah sehat?"...


..."Cen? Eehhmm.!"...


Cen tersenyum sinis.


..."Apa cinta bisa menyembuhkan orang dari sakit begitu cepat?"...


Ineke memandang Cen dengan tatapan konyol.


..."Iya, aku ingin membuatkan sesuatu untuk Rain, apa kau tahu apa makanan kesukaannya?"...


..."Ia menyukai apa pun ketika tidak sedang marah.!"...


..."Iisshh"...


Ineke kurang suka dengan jawaban Cen.


..."Selamat pagi Cen, Selamat pagi, Kakak Ipar!"...


Bian tiba-tiba datang.


Cen hanya diam tidak menanggapi. Dari tatapan matanya, sepertinya Cen juga tidak menyukai orang ini. Apalagi Ineke ia terlihat kesal mengingat kata-kata Bian yang merendahkannya semalam.


..."Kau terlihat sangat berbeda semalam Kakak Ipar? Benarkan Cen?"...


Ineke menahan kesal, ia memalingkan muka. Dadanya terlihat naik turun karna desakan emosi.


..."Jika sudah selesai, sebaiknya kau segera kembali ke kamar Nona, mungkin Tuan Rain sudah bangun sekarang. Biar seseorang yang mengantar makanan kalian kekamar nanti."...


Cen membuka suara, sepertinya ia memahami situasi ini. Ineke melangkah dengan kesal meninggalkan tempat itu. Pandangan Bian tak pernah lepas mengikuti gerak Ineke.


..."Kau harus berhati-hati Bian, Kau bisa kehilangan bola matamu jika melihatnya dengan tatapan seperti itu."...

__ADS_1


..."Tutup mulutmu Cen, kau hanyalah bawahan, kau bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Kau harus tahu diri."...


Cen tidak menanggapi dan memilih berlalu.


Ineke sampai di kamar, kekesalannya berangsur menghilang kala melihat suaminya yang masih terlelap di atas sofa. Ia melihat jam.


..."Sudah pukul 10, dan dia masih belum bangun?"...


Bahkan Rain terdengar mendengkur halus. Ineke lagi-lagi tersenyum melihat muka tampan Rain. Ia juga kembali terbayang dengan malam pertama mereka. Ineke serasa gila di buatnya. Mungkin sebenarnya ia ingin kembali merasakannya. Ineke menahan tawanya.


..."Dasar bodoh, otak ku seperti nya harus di cuci. Pemikiran yang kotor."...


Ineke memukul sendiri kepalanya dengan pelan. Namun hatinya merasa sangat senang.


Jam menunjukkan pukul 2 sore hari. Ineke yang hanya menonton Drakor di atas ranjang sejak tadi akhirnya bosan juga.


Rain suaminya masih begitu tenang dalam lelapnya.


..."Ya Tuhan? Ini sudah seharian. Dan dia masih tidur? Apa dia begitu suka tidur?"...


Ineke merasa bingung dengan Rain yang hanya tidur seharian. Biasanya. Ia akan melihat Rain yang sudah bersiap sejak pagi di halaman bawah. Lalu beraktifitas dan pergi. Tapi hari ini. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan damai dalam lelapnya.


Ineke mendekatinya. Duduk di lantai bawah dengan bertumpu kedua lututnya. Ia yakin jika ia memang telah jatuh cinta pada suaminya ini, setiap kali melihat wajah Rain, Ineke selalu senyum-senyum sendiri.


Ia melihat wajah Rain dengan tatapan penuh cinta. Ineke hanya diam memandang, tak ingin mengganggu apalagi membangunkan. Mungkin Rain kurang istirahat beberapa hari belakangan ini.


Tiba-tiba Rain membuka mata. Ineke membulatkan mata kaget, dan senyumnya berganti dengan ekspresi panik. Ia hendak berdiri namun dengan gerakan cepat Rain menariknya sehingga tubuh Ineke jatuh menimpa tubuh Rain tepat di atasnya.


Rain tersenyum licik. Ineke meronta berusaha melepaskan diri. Tapi Rain justru mempererat pelukan itu.


..."Sssuuuttt, diam..!"...


Ineke berhenti membuat gerakan. Matanya yang membulat hanya mengerjap-ngerjap. Lalu tangan Rain mendorong kepala Ineke dari belakang untuk jatuh kedalam dada bidangnya.


..."Aaaahhh, nyaman sekali.!"...


Rain memejamkan mata sambil tersenyum, Ineke masih diam, kaget tidak percaya. Posisi macam apa ini?


Tiba-tiba sesuatu yang aneh terasa kuat disana. Ada sesuatu yang sangat kerah terasa di antara paha Ineke. Ineke semakin membulatkan mata, menelan salivanya kasar.


Rain mulai bergerak gelisah. Ia mulai mengecup leher Ineke. Memberikan sensasi geli pada tubuh Ineke.


..."Rain?"...


..."Eeehhmmm?"...


Rain tak mengindahkannya, ia masih meneruskan aksi nakalnya. Ineke semakin panik. Tapi ia pun merasakan gelanyar aneh menyerang tubuhnya.


..."Rain?"...


..."Eeehhmmmm?"...

__ADS_1


Rain masih terus menyesap leher Ineke. meninggalkan tanda kepemilikan disana. Menyapu lembut leher Ineke, membawa Ineke dalam perasaan melayang.


__ADS_2