
Satu malam di Rumah Sakit telah berlalu, menjelang siang Dokter masuk keruang rawat Arend dan Zico di ikuti beberapa Suster untuk mengecek keadaan.
Terlihat Arend tengah duduk bersandar di bagian kepala ranjangnya. Ia tengah membaca buku Komik Detektif yang baru di belikan aunty Ineke tadi pagi.
Zico baru sadar beberapa menit yang lalu, ia kini tengah makan di suapi Ayla. Ia sempat menangis saat terbangun tadi, karena takut melihat kakinya yang di gips.
Sedangkan aunty Ineke keluar mencari angin segar.
..."Bagaimana jagoan? Apa masih sakit?"...
Dokter lebih dulu menemui Zico yang terluka lebih parah.
..."Masih Dok, apa kaki ku akan baik-baik saja Dok? Apa aku masih bisa berjalan."...
..." Tentu saja, kaki mu hanya butuh istirahat total, dan nanti akan kembali sembuh dan bisa berjalan....
..."Dan Kamu? Anak tampan?"...
Kini Dokter berpindah untuk bertanya pada Arend.
..."Hmmmmm!"...
Mendapat tanggapan itu Dokter malah tertawa.
Arend lalu menutup dan menaruh bukunya.
..."Apa benda ini bisa segera di lepas? Ini sangat mengganggu!"...
Arend menunjukkan tangannya yang terpasang selang infus.
..."Iya, tentu saja. Suster tolong segera lepas infusnya, dia memang anak yang kuat."...
...****************...
Aryan berada di kantor bersama Dion. Dion sibuk memainkan ponselnya ketika Aryan berdiri di hadapannya pun Dion tidak menyadarinya.
..."E hhem"...
..."Bos"...
..."Kita ke rumah sakit sekarang."...
..."Iya Bos."...
Dengan sigap Dion mengikuti langkah Kaki Aryan.
Saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Dion memberanikan diri untuk membuka suara.
..."Bos, apa hukuman saya tidak bisa di ganti? Itu mustahil Bos?"...
Aryan tidak menanggapi, ia terlihat memejamkan mata, bersedekap, bersandar pada punggung Jok.
Dion tahu jika itu artinya tidak ada lagi negosiasi.
...****************...
Zico sudah selesai dengan makannya, Ayla mengupas jeruk untuk Arend dan Zico, menyuapi mereka berdua satu persatu.
..."Tante, bolehkah saya meminta sesuatu?"...
..."Apa Zico?"...
..."Bolehkah saya memanggil Tante dengan sebutan mama?"...
__ADS_1
Mata Zico berbinar penuh harap. Ayla sempat kaget, Ayla menoleh kearah Arend, tidak ada reaksi disana, Arend hanya membaca komik dan memakan jeruk yang disuapkan Ayla padanya, bahkan Arend terlihat seperti tidak peduli dengan obrolan mamanya dengan Zico.
..."Tante? Boleh?"...
Ayla mengangguk dan tersenyum tulus.
..."Boleh."...
Zico langsung memeluk Ayla.
..."Mama!"...
Perasaan Ayla menghangat, tanpa sadar bulir bening menetes mengiringi keharuan diantara mereka berdua.
..."Aku bosan disini."...
Ayla dan Zico serentak menoleh ke arah Arend.
..."Apa kita bisa segera pulang?"...
..."Dokter bilang, kaki Tuan Muda Zico tidak boleh terlalu mengalami pergerakan, juga tidak boleh mengalami kecapean. Dengan artian Tuan Muda Zico tidak bisa kembali ke desa sebelum kakinya sembuh total."...
Entah sejak kapan tiba-tiba Aryan dan Dion sudah berada disana. Dan Dion menjelaskan pada mereka tentang apa yang di katakan Dokter.
..."Jadi, aku harus tetap di Rumah Sakit ini sampai sembuh? Oh NO!"...
..."Tidak Tuan Muda Zico, anda sudah boleh pulang, dan rawat jalan. Tapi anda tidak bisa melakukan perjalanan jauh terlebih dulu. Kita akan pulang ke rumah Papah."...
Aryan tersenyum. Dan Arend melihatnya dengan tajam, hingga Aryan menyadari tatapan anaknya ia menghentikan senyumnya, kembali dengan ekspresi berwibawa.
..."Mama, Mama tidak akan meninggalkan Zico disini sendirian kan?"...
...'Mama?'...
Kini Zico sudah menangis, dalam hati dan pikirannya ia sangat takut jika Ayla dan Arend akan kembali ke desa dan meninggalkan dirinya di kota.
..."Arend?"...
Zico masih terus memanggil Arend sambil menangis.
Arend menatap tajam kearah Dion, terlihat ekspresi muka Dion yang grogi. Lalu Arend berpindah menatap Aryan dengan tatapan intimidasi.
Aryan pura-pura tidak melihatnya, ia memalingkan wajahnya melihat ke arah langit-langit ruangan.
..."Arend? Apa kau akan pergi tanpa diriku?"...
Tangis Zico semakin pecah, Ayla memeluknya.
..."Diamlah, kau itu anak laki-laki apa bukan? Iya, aku akan menunggumu sampai sembuh."...
..."Benarkah?. Yeeaayyy!"...
Kini Ayla yang merasa bingung, ada kecemasan dalam hatinya.
...'Kembali ke rumah itu?'...
...****************...
Dion yang di temani Ineke tengah menyelesaikan urusan registrasi Rumah Sakit.
..."Kamu? Akan ikut tinggal kan?"...
Dion bertanya pada Ineke yang tengah menandatangi beberapa berkas dari rumah sakit.
__ADS_1
..."Terimakasih.!"...
Setelah selesai, Ineke kembali memberikan berkas-berkas itu pada petugas di Kasir.
Ineke menatap menyelidik ke dalam mata Dion.
Dion semakin merasa tidak enak.
..."Ini semua rencana kamu kan? Aku sudah tanya langsung sama Dokter, dan tidak masalah jika Zico melakukan perjalanan ke Desa. Apa lagi Tuan Aryan mempunyai mobil-mobil mewah yang pastinya sangat nyaman di gunakan Zico."...
Dion mengangguk lesu.
..."Iya, Maaf. Tapi aku terpaksa melakukannya. Hanya dengan cara ini kesalahanku bisa di maafkan oleh Tuan Aryan."...
Ineke membuang nafas kasar. Ia merasa sangat kesal. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Aryan benar-benar sangat menakutkan ketika mode marah. Dan dia juga merasa kasihan pada Dion yang menjadi bulan-bulanan kemarahannya Aryan.
..."Hanya untuk beberapa saat. Nanti jika kalian ingin kembali, aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan ini. Tugasku untuk membawa pulang Nyonya Ayla dan Tuan Muda Arend telah selesai."...
..."Huuufffhh"...
Kembali Ineke membuang nafas kasar.
..."Nona Ineke?"...
Ineke menoleh. Kini mereka berdua tengah duduk di sebuah bangku panjang di Rumah Sakit itu.
..."Apa? Aku boleh bertanya sesuatu?"...
..."Apa?"...
..."Apa? Apa kamu sudah mempunyai pacar?"...
Ineke paham kemana arah pembicaraan ini. Ia hanya diam, bingung bagaimana harus menanggapi.
..."Apa kamu tidak mempunyai rasa tertarik sedikitpun padaku?"...
..."Apa begitu caranya menyatakan cinta pada seorang wanita?"...
Tiba-tiba Arend sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok.
..."Arend?"...
..."Tuan muda?"...
Sontak saja Dion berdiri kaget, begitupun dengan Ineke.
..."Langsung saja katakan kalau kau mencintainya, kalau dia menerima cintamu, segera menikah."...
Arend menarik tangan Dion dan menautkannya pada tangan Ineke.
... "kalau dia menolak mu, pergi dan tinggalkan."...
Lalu kedua tangan Ineke dan Dion yang sudah saling berpegangan tadi kembali di hempaskan, dan dengan langkah santai Arend pergi meninggalkan Dion dan Ineke dalam situasi yang canggung.
Dion menyentuh tengkuknya merasa tidak enak pada Ineke. begitu pula Ineke yang menunduk kikuk.
...****************...
Ayla tengah membantu Zico untuk duduk di tepi ranjang. Aryan masuk bersama dengan suster yang akan melepas selang infus Zico. Zico sudah terlihat sangat segar, tapi dia harus menggunakan kursi roda sekarang.
Setelah selang infus selesai di lepas. Aryan menggendong Zico pelan-pelan duduk di kursi rodanya.
Ineke dan Dion juga sudah datang, setelah menyelesaikan registrasi dan menebus obat. Mereka bersiap untuk pulang meninggalkan Rumah Sakit.
__ADS_1
..."Arend mana?"...