
Acara masak memasak pelas jagung pun di mulai. Mereka memasak di halaman. Setelah tadi Aryan, Rain dan Aaron bekerja sama mempersiapkan semua alat yang di butuhkan. Meja, kompor, lampu sebagai penerangan. Dll.
Sedangkan Ayla dan Ineke menyiapkan bahan duduk di karpet. Putri Aaron yang bernama Mikaila yang bahkan biasa di panggil dengan sebutan yang sama dengan Aila ikut menemani mereka.
Kini, Aryan, Rain dan Aaron ikut menemani Arend yang membakar jagung bersama Zico.
Dia, Aila Putri cantik Aaron yang sangat manis dan lembut. Ia memilih keyakinannya sendiri. Beragama Islam.
"Nama kita sama, Tante." Mikaila berseru.
Ayla tersunyum mendengarnya. 'Mungkinkah Aaron menamainya dengan nama itu untuk mengenang dirinya? Ahh.:
Sedangkan Ineke menatapnya dengan perasaan. "Ah. Mungkin iya."
Saat Maghrib tadi semua orang di buat kaget karna Mikaila yang melaksanakan shalat Maghrib, sedangkan ayahnya saja beragama Kristen.
"Mikaila, boleh Tante tanya sesuatu?"
Ayla mencoba mencari tahu, pelan-pelan ia bertanya pada Mikaila. Aryan mendengarkan dari sebelah. Ia menjauh dari mereka yang tengah membakar jagung, tidak tahan asapnya.
"Apa, Tante?"
"Mikaila ber-Agama Islam?" Ineke ikut mendengarkan dengan seksama jawaban Mikaila.
"Iya, Mikaila sendiri yang minta. Saat kecil Papah sama Mamah sering ajak Mikaila ke gereja, Mikaila juga senang. Tapi mikaila sering dengerin suara temen papah di ponsel papah sedang mengaji, Mikaila jadi tertarik dan penasaran, Mikaila selalu merasa tenang mendengarnya. Mikaila mencari tahu sendiri di internet, Lalu Mikaila meminta Untuk memeluk agama yang Mikaila yakini."
Gadis kecil yang cantik itu menjelaskan. Aryan merasa sedikit cemburu mendengarnya. 'Mungkinkah itu suara Ayla istrinya mengaji yang sering di putar Aaron di ponselnya?'
Ayla dan Ineke saling diam. Aaron mendekat membawakan sepiring jagung bakar yang sudah matang.
"Jagung bakar datang?." Aaron datang dengan senyum yang lebar.
Aryan dengan gerakan cepat duduk di sebelah istrinya. Lalu merengkuh pinggang Ayla seakan kesayangannya itu takut di rebut orang lain.
"Khem." Aryan berdehem menghilangkan ketegangan. Aaron menahan tawa melihat tingkah Aryan.
Ayla Sampai kaget dan mendelik melihat Aryan, Aryan malah dengan sembarangan mengecup kilat bibir Ayla. Lalu Aryan tersenyum sangat manis.
Ineke pun sama halnya, ia mencoba keras untuk bisa menahan tawanya. Aaron duduk di sebelah Ineke. Rain yang melihatnya dari kejauhan pun merasa kesal. Ia bahkan meletakkan kasar kipas bambu yang ada di tangannya.
"Lho, Tuan Rain kenapa?" Zico kaget dan merasa bingung dengan sikap Rain yang berlalu dengan raut muka kesal.
"Biarkan saja. Mereka tidak ada habisnya bertengkar."
"Siapa yang bertengkar Arend?"
"Sssuuuttt" Arend mengisyaratkan untuk diam. Arend masih membakar jagung karna akan di antarkan juga ke rumah Pak Kiyai Umar sebagai suguhan untuk orang-orang yang mengaji disana.
"Kak Aaron, kau belum menceritakan apa pun tentang dirimu. Tadi Aila?"
__ADS_1
Ineke menghentikan ucapannya saat menyebut nama Putri kecil Aaron dengan nama yang sama dengan sahabatnya lalu melihat ke arah Aryan yang sudah mendelik.
"Em M maksudku? Tadi Mikaila sudah menceritakan tentang keputusannya untuk memeluk keyakinannya sendiri. Bagaimana dengan istrimu? Kenapa kak Aaron liburan cuma berdua saja?"
Aaron tersenyum tipis. Lalu ia saling menatap dalam dengan Mikaila putrinya. Mikaila menjatuhkan dirinya bersandar pada Aaron.
"Kami bercerai. Mikaila melihat ibunya dengan pria lain. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya."
Ayla dan Ineke membulatkan mata mendengar jawaban Aaron. Melihat ke arah Mikaila. gadis sekecil itu, kasihan dia. Aryan pun sama kagetnya. Kini Aryan dan Ayla saling pandang.
Aryan ingat jelas dulu dia datang ke pernikahan Aaron dengan istrinya karna istri Aaron adalah sahabat Nesa.
"Mereka sama saja." Gumam Aryan yang di dengar jelas Ayla.
"Sudah lah, tidak perlu dipikirkan. Hidupku berjalan normal, Tuhan begitu baik menghadiahkan Aila dalam hidupku. Kami sangat bahagia."
Aaron mengelus lembut pucuk kepala Mikaila. Pasangan Anak dan Bapak itu saling melempar senyum hangat.
Sedangkan Aryan kembali tersulut emosi mendengar untaian kata Aaron jika Tuhan menghadiahkan Aila dalam hidupnya. Ia merasa seakan itu adalah nama istrinya yang di sebut.
"Mi-ka-i-la, Aaron. Mi-ka-i-la." Aryan dengan sangat jelas mengeja nama Putri Aaron. Agar tidak salah dengan nama Ayla istrinya.
Ayla dan Ineke tak lagi dapat menahan tawa. Bahkan Mikaila dan Aaron pun sama halnya mereka tertawa lepas. Ayla memeluk tubuh Aryan yang terlihat tengah cemburu berat. Bahkan mata Ayla sampai berair karna tawanya yang tak bisa di tahan.
Rain tiba-tiba datang. Ia menjatuhkan tubuhnya kesal. Duduk di ujung karpet. Karna sudah tidak ada tempat. Ia menghadap Arend dan Zico yang ada disana.
Jelas terlihat ia tengah kesal. Namun ia tak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan menoleh pun tidak.
"Tunggu, tuan Rain. Jika bisa. Mohon sedikit menjauh, Putri saya Aila bermasalah dengan paru-parunya. Atau kalau tidak. Biar saya bawa mikaila dulu menjauh."
Aaron dan Mikaila hendak berdiri. Namun Ineke menghentikan langkah mereka.
"Aaahh, tidak perlu, Kak Aaron dan Mikaila duduk saja disini. Biar Rain. Ikut bersama ku. Ayo.!"
Ineke menggandeng tangan Rain. Rain mengikuti dengan malas. Ia mengajak Rain ke halaman belakang rumah. Melewati dapur lalu duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon mangga.
Rain hanya diam saja. Raut mukanya terlihat jelas ia sedang kesal. Cemburu dan lelah yang berat karna sikap acuh Ineke. Ia bahkan membuang rokoknya yang belum sempat di sulut ke sembarang arah. Kebiasaan buruk.
"Kenapa malah di buang? Bukannya tadi mau merokok?"
Untuk sesaat Rain diam tak menjawab. Ia tengah mencoba mengontrol emosinya yang sedang naik.
"Sama halnya dengan rokok itu, sesuatu yang sudah terlambat untuk aku nikmati, akan segera aku buang."
Jawab Rain menggebu dengan sorot matanya tajam yang seperti pedang menghunus dada Ineke. Kalimat itu terdengar begitu menyakitkan untuk Ineke.
Mata Ineke sudah berkaca-kaca. Deru nafasnya terdengar memburu. Dada nya naik turun karna emosinya yang naik tiba-tiba.
"Oooohh,? Jadi kau berniat membuang ku sekarang? Lakukan.! Lakukan Rain.? Lakukan?."
__ADS_1
Ineke yang tengah emosi berteriak sambil mencengkeram kerah baju Rain. Rain tetaplah Rain. Dia adalah seorang Bos Mafia yang terbiasa dengan kekerasan.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Ineke, Rain meraih kedua tangan Ineke dengan tangannya, lalu membangkiknya ke belakang badan Ineke.
"Aaaahhh.!" Ineke berteriak keras karna merasakan sakit di tangannya.
Rain lantas dengan kasar mendorong tubuh Ineke Sampai bersandar pada pohon mangga. Derai mata Ineke sudah membanjir. Lagi, Rain bersikap kasar padanya.
Mata Rain memerah sempurna. Air matanya terlihat menetes satu kali. Rahangnya mengeras. Gigi-giginya beradu. Ia memegang kedua tangan Ineke dibelakang tubuhnya hanya dengan satu tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya kini mencengkeram kedua pipi Ineke.
"Apa yang kau mau, Ke? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apa karna kesalahanku kemarin dengan Cassandra? Kau bahkan sudah membalas ku dengan mencium Cen di hadapanku?"
Rain berteriak kesal. Ineke hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia takut, sakit, dan juga sakit hati dengan perlakuan Rain.
"Aku sakit karna menahan rasa cemburu padamu, Ke.? Aku bisa menerima kedekatanmu dengan Cen, Karna kau hanya ingin membalasku, Tapi dengan Aaron? Aku ingat sekarang, Ke. Kau bahkan mengabadikan namanya di buku Diary mu. Kau mencintainya dulu."
Teriakan Rain sungguh keras. Tanpa mereka sadari jika Ayla, Aryan, Aaron, dan bahkan Arend sudah berada di sana dan mendengar kalimat terakhir Rain. Jika Ineke mencintai Aaron dulu? Sedangkan Mikaila dan Zico di minta tetap di halaman depan.
Arend tidak bisa menerima perlakuan Rain yang kasar seperti itu terhadap Aunty nya. Ia dengan gerakan cepat mengambil sebuah kayu balok lalu berlari menggunakan benda itu memukul punggung Rain.
"Aaahhh" Teriak Rain saat benda itu dengan keras membentur tubuhnya. Seketika Rain melepaskan cengkraman kedua tangannya pada tangan dan pipi Ineke.
"Menjauh dari Aunty.? Kau MONSTER. Kau bukan manusia."
Arend terlihat sangat kesal dan marah. Ia bahkan masih siap dengan kuda-kudanya siap menghajar Rain kembali.
"Arend. Berhenti."
Aryan berlari mendekat. Ayla memeluk Ineke yang menangis hebat. Aaron hanya bisa diam mendekat ke arah mereka, sepasang suami istri yang bertengkar hebat dan menyebut namanya di akhir perdebatan mereka.
Rain melihat kemereka satu persatu secara tajam. Kini ia merasa jika dirinya bukanlah siapa-siapa di keluarga ini. Dia hanyalah pria yang jatuh cinta dan mengikuti langkah wanita yang di cintai nya.
Lalu Rain melihat ke arah Ineke yang terlihat jelas ketakutan di raut wajahnya. Terbersit penyesalan di hatinya. Rain bahkan sudah menangis sekarang.
"Kau benar, Aku memang Monster, Dan aku tidak akan pernah bisa hidup dengan lingkungan manusia seperti kalian."
Rain berbicara pelan namun sangat tegas, Dan melangkah cepat keluar rumah meninggalkan mereka. Hatinya hancur. Pikirannya kacau. Semuanya telah selesai.
Rain melajukan mobil keluar halaman. Menancap gas dengan kecepatan penuh. Tangis Rain menjelaskan bagaimana hancur hatinya kini.
Ineke mendengar suara mobil itu, dan dia baru menyadari jika Rain akan meninggalkannya.
"Tidak,?."
Ineke tidak akan sanggup jauh dan hidup tanpa Rain.
Ineke melepas pelukan Ayla dari tubuhnya. Seperti orang gila ia berlari keluar hendak mengejar Rain yang sudah menjauh.
..."Raiiinn.... Raaiiiiinnn... Rain.?"...
__ADS_1
...[SIAPA YANG SALAH?]...