Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
CHAPTER 85


__ADS_3

"Jangan menyalahkan kebodohan wanita, Karna Allah hanya membekalinya dengan 1 akal. Dan jangan menuntut kesetiaan dari pria. Karna Allah tak mewajibkannya.


"Orang menghujatnya karna kebodohannya dalam mempertahankan ikatan yang jelas-jelas menyakitkan, Mungkin ia tidak tahu bagaimana sakitnya melepaskan dan kehilangan.


"Dan hanya kepada Tuhanmu-lah engkau berharap. (Q.S AL-INSYIRAH:8*)"


...****************...


Ineke membenamkan tautan bibirnya pada Cen semakin dalam. Sakit hati yang ia rasakan membuatnya tak dapat berpikir dengan waras. Ia menggila.


Laki-laki adalah makhluk yang sangat mudah dirangsang. Cen menikmati dan memejamkan matanya merasakan kelembutan yang di berikan Ineke. Untuk sesaat ia lupa dengan situasi yang terjadi saat ini.


Dengan kasar Rain menarik tangan Ineke hingga tubuh Ineke tersentak mundur. Rain melayangkan pukulan telak di muka Cen.


..."Buuggh"...


..."Aakh!"...


Cen tersungkur jatuh ke lantai. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Ia kembali sadar ke dunia yang nyata.


..."Rain?"...


Ineke memegang tangan Rain yang kembali ingin ia layangkan kepada Cen. Mata Rain merah, rahangnya tegas. Giginya beradu, Nafasnya memburu. Hatinya terasa sakit, Ineke dengan berani menautkan bibir pada pria lain di depannya.


..."Sakit, Rain?" ucap Ineke penuh penekanan....


..."Itu yang aku rasakan. It's pain, so hurt."...


Ineke melepas tangannya yang menggenggam tangan Rain. Cen bangun dari lantai.Ia memegangi pipinya yang terasa kaku karna tinju Rain. Ia melihat darah yang menempel pada jari jempolnya.


Rain melihat ke arah luar, Sang fajar segera menyapa. Ia lalu melihat jam di tangannya. Sudah pukul 5.


..."Bawa Ineke pergi, Cen."...


Ineke menatap mata Rain semakin dalam. Ia merasa seperti tengah di usir oleh suaminya sendiri.


..."Aku tidak pandai dalam mengungkapkan rasa, Ke. Tapi aku jelas merasakannya. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Kita berpisah hanya untuk sementara waktu, setelah semuanya selesai. Aku akan menjemputmu."...


Ineke tersenyum sinis. Rasanya Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Suami yang sudah berkhianat. Memintanya pergi. Akan datang kembali?


..."Apa kau bercanda, Tuan Rain"...


Kalimat yang di ucapkan Ineke terdengar sinis, Rain hanya bisa terus menatap Ineke dengan tatapan sendu.


..."Kau mengkhianatiku, kau mengusirku, lalu kau akan kembali datang? Apa hati hanyalah lelucon bagimu?"...


Ineke berteriak. Rain hanya diam. Cen melangkah.


..."Kita pergi sekarang, Nona Ineke."...


Ineke masih diam tak bergeming. Langkahnya begitu berat. Sampai terdengar keributan dari luar. Beberapa kali suara tembakan mulai terdengar.


Rain dan Cen secara bersamaan lari ke arah jendela. Mereka saling pandang membulatkan mata.


..."Kenapa secepat ini? Bukankah Paman Nostra masih di penjara?"...


..."Aku tidak tahu, Tuan Rain."...


Rain dan Cen terlihat sama-sama panik. Mereka berdua melihat ke arah Ineke. Ineke semakin bingung.

__ADS_1


..."Bawa Ineke keluar dari terowongan bawah tanah. Keselamatannya adalah tanggung jawabmu sekarang Cen."...


..."Tuan Rain. Anda?"...


..."Tidak ada waktu, cepatlah. Kita kalah jumlah. Persenjataan mereka juga lebih canggih."...


..."BOOOOMMM"...


Terdengar ledakan bom diluar, bahkan tanah yang di pijak sampai terasa bergetar. Ineke yakin sesuatu yang buruk telah terjadi.


..."Cen, Cepat."...


Cen berlari ke arah Ineke. Rain masuk ke sebuah ruang. Ia mengambil senjatanya.


..."Cen, ada apa?"...


..."Kita pergi, aku akan menceritakan padamu di jalan."...


Cen menarik tangan Ineke untuk melangkah mengikutinya. Ineke sempat melihat ke arah Rain yang dengan gerakan cepat mempersiapkan senjata api. Dan mengisinya dengan peluruh.


Cen dan Ineke masuk ke sebuah ruang, berhenti menghadap dinding yang ada lemari besarnya. Cen memutar patung kuda yang ada di samping lemari besar, dan lemari besar itu memutar bergeser. Tampak sebuah ruang gelap di baliknya.


Cen kembali menarik tangan Ineke. Ia masuk keruangan itu. Gelap sekali. Lalu Cen menekan sebuah tombol di dinding. Lampu menyala. Ini adalah sebuah ruang rahasia. Begitu banyak senjata dan benda-benda antik yang terlihat menyeramkan.


Cen membuka satu ubin besar. Mereka akan masuk ke bawah. Ada sebuah tangga untuk melewatinya. Ini adalah jalan terowongan bawah tanah rahasia. Yang hanya di ketahui Cen dan Rain. Bahkan Bian pun tidak tahu.


Mereka berdua sudah memasukinya. Tidak terdengar suara apa pun lagi dari sini. Ini tempat yang sangat pengap. Gelap. Dan dingin. Cen kembali menekan tombol dari dinding. Cahaya lampu yang remang-remang menyala.


..."Tunggu Cen. Ceritakan padaku semuanya."...


..."Tidak ada waktu, Ke. Kita harus segera keluar dari tempat ini."...


Cen seketika membulatkan mata mendengar ucapan Ineke. Itu seperti sebuah tamparan. Ineke meragukan kesetiaannya pada Rain.


..."Bagi Tuan Rain, Nyawamu lebih berharga, Ke. Itu sebabnya aku ada disini dan meninggalkannya disana."...


..."Aku tidak akan pergi kemana-mana jika kau tidak menceritakannya."...


Ineke sudah pada keputusan final. Ia bahkan duduk di tangga yang menuju lantai atas tadi.


Cen pun terpaksa menceritakan semuanya sekarang.


...----------------...


RANGKUMAN CERITA CEN


"*Cassandra adalah kekasih lama Tuan Rain, keluarga Cosa Dan Nostra bersahabat awalnya, hingga terjadi salah faham. Yang membuat Rain dan Cassandra terpisah.


Cassandra masih sangat mencintai Rain. Ia membujuk ayahnya untuk kembali berdamai dengan keluarga Cosa. Dengan syarat Rain dan Cassandra menikah.


Tapi Tuan Rain menolak. Ia sangat mencintaimu, Ke. Peperangan pasti terjadi. Itu sebabnya Tuan Rain akan mengirimmu ke rumah Tuan Aryan. Demi keselamatanmu. Tapi tidak terpikir jika Klan Nostra akan datang secepat ini.


Dan Tentang apa yang di lakukan Tuan Rain dengan Cassandra. Aku tidak yakin, tapi mungkin saja. Rasa lama masih ada yang tertinggal*."


...----------------...


..."Rain pasti akan mendapat balasannya karna mengkhianati ku. Tapi tidak untuk meninggalkannya saat ini. Aku harus kembali."...


Ineke bangkit dari duduknya. Ia berlari menaiki tangga kembali menuju lantai atas. Cen mengejarnya, meneriaki namanya. Tapi Ineke tidak peduli, rasa sakit dari kehilangan orang yang kita cintai untuk selamanya itu tidak ada duanya.

__ADS_1


Pasangan bisa saja melakukan kesalahan. Meski sulit untuk dimaafkan. Dan tak bisa di lupakan. Tapi jika rasa cinta lebih besar dari kecewa. Pasti akan bisa memaafkannya.


Bodoh memang. Dan bagaimana orang yang sedang jatuh cinta disuruh menggunakan akal? Sedangkan mencintai itu dari hati, bukan dengan otak. Karna cinta itu tak berlogika.


Ineke keluar melewati Dinding lemari besar dengan melakukan gerakan-gerakan yang sama dengan yang di lakukan Cen tadi. Ia terus berlari.


..."Jika Cassandra menginginkan Rain kembali. Aku akan melepasnya demi keselamatannya. Rain, tunggu aku."...


Ineke terus berlari. Cen mengejarnya di belakang.


Mereka tiba di ruang tamu yang tadi. Begitu banyak orang disana. Semuanya mengangkat senjata. Ada juga yang sudah terluka parah duduk berselonjor. Darah segar terlihat mengalir dari pahanya. Itu anak buah Rain.


Anak buah Rain kalah dalam pertarungan ini. Untunglah tidak ada korban jiwa. Hanya mereka yang bersimpuh dan ditodongkan senjata oleh Anggota Klan Nostra.


Ineke membulatkan mata melihat orang yang di cintai nya berdiri berhadapan dengan seorang pria yang sudah terlihat tua namun masih gagah.


Seorang pria yang rambutnya sudah memutih, memiliki janggut dan kumis tebal yang juga sudah memutih.


Pria tua itu mengarahkan senjatanya tepat di kepala Rain. Cassandra juga berdiri disana. Kedua tangannya di pegang oleh dua orang laki-laki dengan tubuh yang besar. Ia terus berteriak.


..."Pah, jangan! Aku dan Rain sudah menyelesaikan semuanya. Dia hanya jatuh cinta Pah. Aku yang salah masih berharap padanya. Dia tidak salah pah. lepaskan dia pah."...


Cassandra menangis lirih. Ia takut jika Papahnya akan membunuh Rain saat ini juga. Cassandra sangat mencintai Rain. Ia bisa bertukar nyawa untuk menyelamatkan Nyawa Rain.


..."Jika Papah sampai melukainya, Aku pastikan papah juga akan kehilangan aku untuk selamanya."...


Pria tua itu menoleh pada Cassandra. Menurunkan pelan senjatanya dan dengan gerakan cepat kembali mengarahkannya ke titik kening Rain. Ia terlihat begitu marah.


..."Pah?"...


..."Rain?"...


Ineke berlari memeluk Rain. 'Tidak, jangan ada kematian.'


Semua mata tertuju pada mereka. Cen yang baru tiba langsung mendapat sambutan yang sama. Senjata yang mengarah pada dirinya. Cen menghentikan langkahnya. Percuma mengejar. Ineke sudah dalam pelukan Rain saat ini.


..."Apa yang kau lakukan disini? Cepatlah pergi. Cen?"...


Rain melihat Cen. Dan Cen hanya menggeleng pelan.


..."Ooouwh, kau tidak menerima perdamaian yang ditawarkan putri ku demi wanita ini?"...


Papah Cassandra membuka suara. Ingin sekali rasanya ia menghabisi kedua nyawa itu secara bersamaan sekarang juga.


Sakit hatinya pada Klan Cosa yang dianggap berkhianat pada Klan Nostra kembali membuncah. Meski itu lama reda karna Kematian Tuan Cosa.


...'Tunggu, suara itu?'...


Ineke melepaskan diri dari pelukan Rain. Ia berbalik. Melihat ke arah pria Tua, Papahnya Cassandra.


Mata Ineke membulat, air matanya tumpah. Tersungging sebuah senyum dari bibirnya.


Ia bahkan jalan secara pelan mendekat ke arah Papahnya Cassandra.


Rain dan Cen mengerutkan kening. 'Ada apa?'


Ineke berdiri tepat di depan papahnya Cassandra. Ia tersenyum tapi juga menangis. Papah Cassandra mulai menatap Ineke dengan intens.


Ada satu wajah yang tidak asing baginya. Papah Cassandra menurunkan tangan yang memegang senjata dengan gagah.

__ADS_1


..."Kau?" Lirih papah Cassandra....


__ADS_2