Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
CHAPTER 89


__ADS_3

Rain berjalan mengikuti langkah Ineke. Cen menatapnya dan tersenyum senang karna Bosnya yang sedang bahagia. Cen juga bersyukur masih hidup sampai sekarang setelah perbuatan gila Ineke yang dilakukan padanya kemarin.


Rain sampai di kamar, pintunya terbuka. Ineke lupa menutupnya. Rain menutup pintu itu pelan.


Rain memperhatikan Ineke yang tengah asyik mengobrol dengan seseorang via telpon. Ia terus menguping pembicaraan istrinya itu. Penasaran.


Ineke menaruh ponselnya. Rain tahu, setelah ini. Ineke pasti akan meminta untuk pergi ke desa. Tapi teriakan Ineke membuyarkan lamunan Rain.


..."Aaaahhh.!"...


..."Uugghhh.."...


Rain menutup kedua telinganya. Gendang telinga itu bisa remuk jika tak segera di lindungi.


..."Apa yang kau lakukan? Kau membuatku Takut."...


Ineke berteriak kesal. Ia juga pernah merasa kaget yang luar biasa saat malam itu Bian tiba-tiba sudah berada di kamarnya.


..."Apa salahku? Ini kamar ku? Dan wajar saja kalau aku ada disini."...


Rain menjawab tak mau kalah.


Ineke mengangguk dengan ekspresi kesalnya. Ia melempar bantal pada Rain. Rain menangkapnya. Lalu melempar itu ke ranjang dan ia menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Ineke.


..."Aaaahh!"...


Ineke kaget dan bangkit.


..."Hei, bisakah kau menghentikan teriakanmu itu? Seseorang akan berpikir hal yang buruk kulakukan padamu jika mendengarnya."...


..."Hal-hal buruk memang selalu terjadi meski kau tidak melakukan apa-apa, Tuan Rain."...


..."Cih."...


Rain bangun dan duduk bersila di atas ranjang.


..."Kau tahu Nona? Kau terlihat lebih menantang saat marah? Kau membangunkan gairah yang sudah ku coba untuk ku reda."...


Ineke membulatkan mata mendengar Ucapan Rain. Itu pujian? Atau? Entahlah. Mulut Ineke sampai menganga di buatnya.


..."Kau?"...


Ineke menunjuk pada muka Rain. Rain dengan cepat bangkit dan memegang tangan jemari Ineke yang menunjuk. Itu seperti sebuah remasan.


..."Jangan menantang ku, Ke. Atau aku akan menaklukkan mu saat ini juga di bawah kungkunganku."...


Suara Rain terdengar bergetar. Dia tengah menahan naf_*su nya yang membuncah. Rain berbicara tepat di telinga Ineke. Membuat tubuhnya menempel pada tubuh Ineke. Bahkan aroma leher Ineke seperti obat perang_ -sang yang memicu adrenalin jagoannya dibawah sana.


Ineke menarik paksa jari nya. Terasa sakit. Mata Ineke memerah karna tanpa sadar kalimat yang Rain ucapkan itu menyakiti hati Ineke.


..."Jika kau sampai melakukannya.?"...


Ineke hendak mengancam. Meski ia sendiri tidak yakin dengan kalimat apa ia bisa memberi ancaman pada Rain. Disini Rain lah yang berkuasa. Tapi Rain lekas bicara, sebelum Ineke selesai dengan kalimatnya.


..."Jika kau sampai melakukannya.?"...


..."Aku akan mengantarmu ke desa."...


Ineke terdiam. Deru nafasnya masih terasa menggebu karna emosinya yang datang dan berlalu.


..."Tidak Perlu. Ada Cen yang akan menemaniku."...

__ADS_1


Ineke menjawab asal dengan memalingkan muka.


..."Kau berani melakukannya? Akan aku bunuh Cen sekarang juga."...


Kalimat yang di ucapkan Ineke seperti lonceng bel yang berbunyi membangunkan singa dari tidurnya. Cari mati.


Rain dan Ineke saling menatap tajam. Keduanya diliputi oleh amarah. Dada Ineke naik turun karna deru nafasnya. Jantungnya tidak aman. Itu seperti mau melompat karna tekanan nya yang tinggi tiba-tiba.


..."Kau lihat? Kurang apa lagi aku sebagai suami? Aku bahkan bisa mengerti apa keinginan istriku tanpa dia harus mengutarakannya?"...


..."Hah? Cih."...


Ineke tersenyum sinis.


..."Itu karna kau menguping pembicaraan ku, Tuan Rain.?"...


..."Bukan salahku, jika aku memiliki pendengaran yang begitu tajam, Nona Ineke?"...


Rain berlalu. Dengan langkah nya yang mempesona. Meninggalkan Ineke, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


..."Iiiiihhhh"...


Ineke merasa kesal sendiri, ia selalu kalah kata jika berdebat dengan Rain.


...****************...


Ayla mengetuk kamar anak-anak. Zico kaget mendengarnya, Arend tengah berada di kamar mandi.


Zico segera melepas earphone yang terpasang di telinganya. Menaruh ponsel itu di atas ranjang, lalu membukakan pintu.


..."Ada apa Mah?"...


Zico terlihat sedikit panik.


Zico menggeleng.


..."Itu, kalian kan belum makan siang tadi. Makan dulu gih. Kita akan melakukan perjalanan sebentar lagi."...


Zico mengangguk patuh.


..."Iya Mah."...


..."Dimana Arend?"...


..."Dia di kamar mandi Mah."...


..."Udah selesai, Mah."...


Arend mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia baru selesai mandi. Ayla tersenyum melihat nya. Ia hendak kembali ke lantai bawah. Namun sorot matanya tak sengaja menatap layar ponsel Zico yang masih menyala di atas ranjang. Ayla menghentikan langkah. Senyumnya sirna. Ia membulatkan mata.


Zico panik. Ia tahu jika mamahnya telah melihat ke arah benda yang di tinggalkannya itu. Dan karna kaget lupa mematikannya.


Ayla dengan langkah cepat meraih ponsel Zico.


..."Siapa yang melihat Video ini?"...


Mata Ayla memerah. Zico terdiam dan terlihat sangat panik. Arend membulatkan mata seakan tak percaya saat melihat layar benda pipih yang di angkat Ayla itu.


'Zico? Ah, tidak mungkin. Saudaranya itu bahkan masih kecil. Maksudnya, dia selalu bertingkah ke kanak-kanakan bukan?'


..."Jawab Mamah."...

__ADS_1


Ayla berteriak. Air matanya mulai tumpah membasahi pipi.


..."Astaghfirullah..."...


Ayla menunduk. Duduk di tepi ranjang, ia menangis merasa kecewa pada anak-anaknya. Tubuhnya sampai bergetar.


Apakah dia belum menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik selama ini?


Ayla merasa gagal sebagai seorang ibu.


Arend menatap Zico dengan tatapan tajam penuh emosi. Terjawab sudah apa yang di sembunyikannya selama ini.


Mata Zico menangis. Ia sangat takut jika sampai nanti Papahnya Aryan akan mengetahui hal ini. Arend mengerti akan ketakutan saudaranya.


..."Itu punya Arend, Mah."...


Arend mengakui kesalahan yang bukan di perbuatnya. Demi melindungi sang saudara.


Ayla mendongakkan kepala. Ia begitu kecewa mendengar ucapan Arend. Tanpa sadar Ayla mendekat dan menampar wajah Arend dengan sangat keras.


..."Mah!"...


Zico berteriak melihatnya, Ia sangat takut sekarang.


Itu adalah tamparan Ayla pertama kalinya pada putra kesayangannya. Jika saat ini ada Ineke. Pasti aunty nya itu akan menjadi tameng perlindungan untuk sang keponakan.


Ayla menatap Arend yang menunduk dengan perasaan kecewa yang Ter amat. Air matanya terus menetes. Ayla membanting benda pipih itu.


..."Ada apa?"...


Aryan yang mendengar keributan dari kamarnya lekas keluar mengahmpiri arah suara .


Ayla hanya sesenggukan tanpa ingin menjawab apa pun. Ia lantas keluar dari kamar meninggalkan mereka.


Aryan merasa bingung. Arend hanya menunduk. Zico menangis. Sebuah ponsel sudah hancur di lantai sana.


Aryan bergegas mengejar Ayla yang menangis dan masuk ke kamar.


..."Ay, ada apa?"...


Aryan meraih tubuh istrinya yang duduk di tepian ranjang. Ayla memeluk Aryan dengan erat.


..."Aku telah gagal menjadi seorang ibu, Mas?"...


..."Apa maksudmu, Ay? Kau bicara apa? Kau adalah ibu yang terbaik di dunia."...


Ayla masih menangis, ia bingung bagaimana cara menceritakan itu pada suaminya. Setelah lumayan tenang. Ayla membuka suara. Ia menceritakan apa yang di lihatnya. Dan Aryan malah hanya menanggapinya dengan senyum yang tenang.


..."Sudahlah. Lupakan. Itu bukanlah hal yang begitu buruk?"...


..."Mas?"...


Ayla merengek.


..."Maksudku, Anak laki-laki terkadang melakukannya. Sudahlah sayang,,,, lagi pula kau sudah memberi kan hukumannya kan pada Arend? Dia tidak akan mengulanginya lagi."...


Aryan berusaha menenangkan Istrinya yang sedang kalut. Memeluk mesra dan mengelus punggung sang istri. Menghujani pucuk kepalanya dengan kecupan berkali-kali.


Arend menatap tajam ke arah Zico. Zico masih menangis dan terlihat takut.


..."Maaf!" Lirihnya....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2