
"Ketika seorang anak melakukan kesalahan. Jarang ada orang tua yang merasa itu mungkin karna ia yang kurang mendidik dan membimbing anaknya.
Kebanyakan di antara mereka menghardik dan menghakimi sang anak tanpa mencoba memahami dan masuk kedalam dunia mereka.
Anak bukanlah malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka adalah titipan terindah yang harus mendapat bimbingan dan kasih sayang dari orang tuanya.
Jika anak yang bersalah berasal dari orang tua yang nakal. Mereka bilang itu TURUNAN. Jika anak yang bersalah berasal dari orang tua yang alim. Mereka bilang itu COBAAN.
Kenapa harus ada perbedaan dan kesenjangan? Tanpa melihat kepribadian dan menilai Seseorang?
Anak yang nakal atau bersalah bisa berasal dari lingkungan. Bisa juga dari ajakan teman. Atau karna ia yang tak tahu arah.
Tapi, apapun itu. Lihatlah mereka dengan hati yang penuh kasih dan ketulusan. Genggam tangannya, dan rangkul tubuhnya. Mungkin saja ada sesuatu yang ia sembunyikan didalam."
...****************...
3 Mobil melaju membelah keramaian kota. Ayla dan keluarga yang di temani para pengawal melakukan perjalanan menuju desa. Kemungkinan mereka akan sampai di sana pukul 10 malam.
Ayla tadi sudah sempat meminta bantuan Akak untuk membersihkan rumah. Bahkan rumah sebelah yang pernah di sewa Aryan pun di bersihkan juga.
Wajah Ayla terlihat sangat sembab. Ia terlalu banyak menangis. Hatinya sangat terluka. Ia kecewa. Ayla masih mendiamkan Arend. Dan Arend pun ikut diam.
Zico yang merasa bersalah merasa tidak enak. Benar-benar tidak enak. Aryan merasa semrawut memenuhi kepalanya melihat keluarganya yang biasanya ceria kini diam dalam keheningan .
'Akan lebih baik jika Ayla mengomel. Atau Zico yang banyak omong dengan cerita-ceritanya yang terkadang membosankan. Oh, Arend? Apa yang sudah kau lakukan? Ini sama tegangnya seperti di Medan perang.'
..."Huufftt."...
Aryan menyandarkan tubuhnya di punggung Jok mobil. Ia berharap semua ini cepat berlalu.
..."Mah?"...
Arend membuka suara. Sontak Aryan kembali bangun. Ia ingin mendengarkan apa yang ingin di katakan putranya itu. Ayla melihat ke arah Arend yang ada di bangku depan. Matanya yang sembab kembali menangis.
Zico menatap Arend yang disampingnya dengan perasaan was-was. 'Apakah Arend akan mengatakan yang sebenarnya?'
..."Maaf."...
Lirih Arend. Ayla menangis sesenggukan. Aryan mengelus bahunya. Ayla tidak menjawab, ia masih enggan untuk memaafkan putranya, kembali Ayla memalingkan wajah.
Mendapat tanggapan itu, Arend Kembali menghadap depan. Ia enggan membalas tatapan Zico. Jelas Arend masih marah padanya.
Jangan tanya bagaimana perasaan Zico sekarang, Malu yang dominan. Merasa bersalah. Dan yang terpenting. Dia menyesal.
...****************...
Rencana keberangkatan juga di lakukan Ineke. Ia sudah siap. Ineke akan berangkat dengan Rain. Cen tidak di izinkan ikut. Alasannya tidak ada yang menjaga pulau. Padahal cicak di dinding juga tahu sebenarnya kenapa.
__ADS_1
..."Kalian bisa menggunakan heli sampai di kota ********, Disana ada lapangan luas yang bisa di gunakan untuk landasan mendarat. Jarak tempuh akan menjadi dekat. Setelah itu sudah ada mobil yang akan menjemput kalian. Aku sudah mengatur semuanya."...
Cen melaksanakan tugasnya dengan baik. Ineke tersenyum manis ke arah Cen. Itu hanyalah senyuman keakraban seorang teman. Tapi Rain tidak suka melihatnya.
Tiba-tiba Bian dan Bianca datang.
...'Ufffhh, Please. Jangan mereka lagi.'...
Ineke sangat tidak suka dengan kedatangan mereka.
..."Kakak akan pergi?"...
Bianca bergelayut manja di lengan Rain. Ineke memalingkan muka. Bian terus melihat ke arahnya.
..."Iya."...
..."Kemana?"...
..."Suatu tempat. Kerabatnya Ineke ada yang meninggal. Kakak akan menemaninya untuk datang."...
..."Hanya berdua?"...
..."Ada Tuan Aryan juga dengan keluarganya. Mereka sekarang mungkin sudah berangkat."...
Raut muka Bianca berubah mendengar nama Aryan.
Rengek Bianca. Ineke sontak membulatkan matanya. Ia bahkan berusaha menggeleng. Tapi ya sudahlah. Bianca terus merajuk saat Rain berusaha melarangnya.
Akhirnya Bian dan Bianca akan ikut serta. 2 Heli siap lepas landas.
Cen melihat ke arah Ineke dalam. Ia seakan menyiratkan 'Hati-hati.'
Ingin rasanya Cen menceritakan yang sesungguhnya tentang Bian pada Rain. Tapi bicara tanpa bukti bagaimana bisa di percaya?
Perjalanan panjang pun dimulai. Setelah hampir satu jam menunggu Bian dan Bianca berkemas. Mereka akhirnya lepas landas.
Saat di penerbangan. Tak banyak obrolan. Hanya sesekali Terdengar Rain yang mengobrol dengan Kapten. Tapi Ineke menikmati perjalanan via udara ini. Menyenangkan. Melihat sekitaran dari ketinggian. Ineke memang menyukainya. Bahkan ia masih ingin naik ke mercusuar. Tapi belum kesampaian.
Mereka tiba di kota ******* Setelah hampir 2 jam penerbangan. Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan menggunakan mobil.
Hari sudah gelap. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Mobil yang mereka naiki baru memasuki jalan utama yang sangat panjang dengan hamparan persawahan kanan kirinya. Ini terlihat sangat indah jika di lewati saat siang. Tapi saat malam begini memang terasa menyeramkan.
Mungkin mereka akan sampai di rumah sekitar 2 jam lagi.
Semua orang tertidur. Hanya Ineke yang tetap terjaga. Ia bahkan sesekali berkomunikasi dengan Driver.
__ADS_1
Mobil melewati jalanan yang mempertemukan Ineke dengan Dion untuk Pertama kalinya. Ineke tiba-tiba senyum mengingat momen itu.
'Jika aku saja sangat sulit untuk benar-benar melupakannya. Bagaimana Rain yang masih menyimpan rasa pada Cassandra.? Jelas dia sendiri telah sudah berperang dengan hatinya.'
..."Kita melewati jalanan yang lumayan parah ya Non?"...
Pak Driver kembali membuka suara.
..."Iya pak. Jalanan di area ini memang yang paling rusak. Untunglah tidak habis hujan. Jika kita melewatinya saat hujan. Kita bahkan bisa terjebak lumpur."...
Ineke kembali tersenyum. Pak Driver menganggukkan kepala.
..."Nggak pa-pa Pak. Pelan-pelan saja."...
Ineke melihat ponselnya. Ayla memberi kabar, jika mereka sudah sampai di desa.
Di rumah Pak Kiyai Umar terlihat sangat ramai orang. Mereka baru saja menyelesaikan ngaji bersama. Sedangkan jenazah sudah di kuburkan sejak siang tadi. Mereka akan melepas lelah dulu beristirahat di rumah. Rencananya besok pagi mereka akan ke rumah Pak Kiyai Umar. Lalu siangnya ziarah ke kubur Bu Maryam.
..."Daaackkk"...
..."Aaaahhh"...
..."Ahh?"...
Ban mobil sepertinya melewati lubang yang cukup besar. Rain, Bian dan Bianca yang tertidur sampai terbangun. Karna guncangan yang cukup kencang.
"Kenapa?" Rain bertanya pada Pak Driver.
"Ada apa kak?" Bianca pun ikut bertanya. Sedangkan Bian menyipitkan mata.
..."Maaf, Tuan. Sepertinya tadi Ban nya sempat melewati jalan berlubang."...
Pak Driver merasa takut, jika ia sampai kena marah.
..."Nggak pa-pa Pak. Emang jalanannya yang udah rusak."...
Ineke yang menjawab. Rain melihat Ineke. Ineke memalingkan pandangan ke arah luar kaca.
Lampu-lampu dari rumah penduduk desa sudah mulai terlihat. Ineke tersenyum lebar. Semua penumpang juga dalam keadaan terjaga.
..."Pakai jaket kalian. Udara di luar nanti akan sangat dingin."...
Ineke memperingati.
"INELA" Lirih Ineke ketika melewati warung nya. Rain yang mendengarnya melihat raut muka Ineke.
..."Apa itu, Ke?"...
__ADS_1
Ineke hanya tersenyum. Matanya jelas nampak berbinar. Tapi Ineke tak berniat menjawab pertanyaan suaminya.