
Ineke terus menunjukkan arah-arah jalan pada Pak Driver. Karna rumah mereka yang masuk ke jalan-jalan dalam. Bukan jalan utama.
Mobil akhirnya sampai di halaman rumah yang berumput. Ineke keluar sangat antusias.
'Ya Allah..... Rumah kami?'
Mata Ineke berkaca-kaca. Ia merasa sangat bahagia dan terharu, Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. ' Masih sama.'
Rain selalu memperhatikannya. 'Dia terlihat sangat bahagia'.
Bian dam Bianca sudah keluar. Pak Driver memarkir mobil ke samping. Sudah ada 3 mobil lain disana.
Pintu tiba-tiba di buka. Ayla rupanya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Assalamualaikum"
..."Wa'alaikum salam"...
Mereka berpelukan.
Nampak Aryan, Arend dan Zico juga keluar. Para Bodyguard di minta Ayla untuk tidur di rumah sebelah. Rumah yang pernah di sewa Aryan waktu itu. Begitupun Pak Driver.
Mereka semua berpelukan dan saling bersalaman.
"Ada Bian, dan Bianca juga?" Ayla menyalami mereka. Bian dan Bianca tersenyum.
"Selamat datang." Ayla menyambut ramah.
..."Apa kabar, Tuan Aryan?"...
Bianca menyapa Aryan.
..."Baik, Nona Bianca."...
Mereka memasuki rumah. Karna kamar hanya ada tiga. Dan ranjang juga kecil. Akhirnya di putuskan. Arend dan Zico di kamar mereka semula. Bianca di kamar Ineke. Dan Ineke satu kamar dengan Ayla. Sedangkan Aryan, Rain, dan Bian tidur di ruang tengah depan tivi. Hanya ber alaskan karpet.
..."Ini sudah sangat malam. Kita istirahat dulu. Selamat malam semua."...
Mereka sudah berada di posisinya masing-masing.
Arend dan Zico masih belum tidur. Zico mendekat ke arah Arend yang melihat ketapelnya. Ia menarik-narik benda itu, sudah lama di tinggalkan. Apa masih bisa di gunakan.?
..."Arend, Maaf?"...
Arend melihat ke arah Zico. Suara Zico memang terdengar tulus.
__ADS_1
..."Kau tidak seharusnya minta maaf padaku, Zico. Mamah yang hatinya terluka."...
..."Aku takut Arend, untuk mengaku Sama mama."...
..."Bagaimana kamu bisa punya video itu? Dan itu siapa.?"...
..."Aku tidak mengenal kakak yang ada di video itu. Sumpah."...
..."Lalu dari mana kamu mendapatkan video itu?"...
Zico menyebut salah satu nama anak laki-laki. Nama yang di sebut adalah nama kakak kelas yang duduk di bangku kelas 9. Ia memang terkenal nakal dan Badung di sekolah.
Arend duduk di tepi ranjang. Menghela nafas dalam. Melihat tajam ke arah Zico.
..."Ceritakan dengan jelas."...
Zico mendekat. Ia duduk bersila di atas ranjang menghadap Arend.
..."Awalnya dia (Kakak kelas) meminta uang padaku, jika aku tidak memberikannya, dia akan menghajar ku, itu saat aku di toilet sendirian. Terus dia menunjukkan ku video Kakak SMA yang berci_-uman itu. Jika aku memberikan uang lebih. Dia akan terus memberikan Video-video kakak itu lagi. Aku tidak tahu kenapa? Tapi aku menyukainya." Polosnya Zico....
Video yang ketahuan Ayla saat itu adalah, seorang anak perempuan memakai seragam SMA yang berci_-uman dengan anak laki-laki yang juga memakai seragam SMA. Parahnya dalam video yang ketahuan Ayla, beberapa kancing bagian atas seragam anak perempuan itu sudah terbuka memperlihatkan isi dalamnya. Hati ibu mana yang tak luka mengetahui anak laki-lakinya mempunyai video seperti itu.
..."Akan lebih baik jika kau mengakuinya. Tapi jika kau tidak berani? Sudahlah. Jangan pernah di ulangi lagi. Nanti akan ada masanya kita menjadi anak dewasa, Zico. Dan itu semua dari hati. Jangan mengikuti jalan mereka yang nantinya akan membuat kamu menyesal. Jika terjadi sesuatu, ceritakan padaku. Apa gunanya pengawal yang selalu mengekor pada kita jika kau takut hanya dengan ancaman pukulan. Berhenti memberi uang pada mereka. Aku yang akan membereskannya."...
Ayla dan Ineke mengobrol sebentar. Merencanakan apa saja yang kira-kira akan mereka lakukan disini esok hari. Mereka bahkan berencana ingin tinggal lebih lama. Jika para suami pulang. Mereka ingin untuk di berikan waktu tambahan sedikit lagi menikmati keasrian desa ini.
Beda halnya dengan Para Tuan-Tuan yang tidur berjejer di ruang tengah. Aryan memunggungi Rain yang berbaring di posisi tengah. Bian di ujung dan dia sudah terlelap. Posisi Bian juga sama halnya dengan Aryan yang memunggungi Rain.
Rain gelisah. Ia tidak bisa meski sekedar memejamkan mata. 'Aaah? Posisi tidur macam apa ini.?'
Rain merasa kesal. Sebelah kanan dan kirinya memunggunginya.
..."Hei, Tuan Aryan. Apa kau sudah tidur?"...
Rain membuka percakapan.
..."Tidurlah, Tuan Rain. Kau harus menikmati penderitaan ini selama disini."...
Karna sebenarnya Aryan juga merasa tidak nyaman dengan posisi ini.
'Haaahh' Rain menghembuskan nafas kasar. Ia melihat ada sebuah kursi panjang seperti sofa meski tentunya itu tak se nyaman sofa di rumah. Rain beranjak. Ia membaringkan badan disana. Mencoba memejamkan mata. Untuk bisa tidur dan beristirahat.
..."Lihat ini, Ke. Aku bahkan rela bersakit-sakitan seperti ini hanya demi dirimu."...
Suara Rain berbisik yang masih bisa di dengar oleh Aryan.
__ADS_1
..."Cih"...
Aryan berdecih mendengar Rain yang dilema.
..."Itu belum seberapa Taun Rain. Bahkan aku sudah pernah tidak tidur dan hanya duduk sepanjang malam di rumah ini."...
Rain melihat ke arah Aryan yang menyahuti dirinya.
..."Apa kau pernah menderita juga disini?"...
..."Hah? Itu tergantung hati dan perasaan orangnya. Aku menikmati setiap momen di sini karna aku sangat mencintai Ayla. Hal yang pahit pun terasa manis. Ayla bahkan lebih indah dari edelweis."...
Rain tersenyum sinis mendengarnya. Ternyata cinta memang sebegitu dahsyatnya. Membuat para lelaki yang perkasa ini bisa melemah.
..."Selamat malam, Tuan Aryan."...
..."Selamat malam, Tuan Rain."...
Malam yang dingin membawa mereka terlelap dalam mimpi yang dalam. Setiap harapan diudarakan semoga kembali dengan kenyataan.
Pagi telah tiba.
Ayla bangun terlebih dulu. Ia membangunkan Ineke. lalu Aryan dan anak-anak, untuk melaksanakan shalat subuh.
..."Tuan Rain?"...
Ayla bertanya pada Ineke. Ineke menggeleng. Ia tidak berani. Rain tertidur di sofa seperti meringkuk. Jelas ia kedinginan. Ineke mengambilkan selimut. Ia menyelimuti tubuh Rain.
Insting Rain sebagai seorang Bos mafia yang tajam lekas membuka mata, bangun terduduk dan menarik tangan Ineke sehingga Ineke terduduk di pangkuannya. Tangannya sudah siap di posisi akan mematahkan leher Ineke.
..."Aaah?"...
..."Aaaahh?"...
Ayla dan Ineke panik dan kaget. Teriakan mereka mengundang yang lain untuk mendekat, bahkan Bian pun terbangun. Arend, Zico, dan Bianca juga keluar dari kamar.
..."Ada apa?"...
Tanya mereka semua bergantian. Zico melihat adegan itu membulatkan mata. Rain lekas menutup matanya dan menarik Zico kembali ke kamar. Bian dan Bianca memperhatikan. Ayla masih menutup mulutnya sendiri karna kaget.
Ineke hanya membulatkan mata tak berani bergerak. Cengkraman tangan Rain di lehernya terasa sangat kuat.
Aryan juga masuk dengan terburu-buru dari kamar mandi karna suara teriakan itu, ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Memperlihatkan bentuk tubuhnya yang, Ahhhh jangan di tanya. Dada bidang berotot. Otot lengan yang seksi. Wajah yang sangat tampan. Hampir sempurna.
..."Kau akan mematahkan leher istrimu, Tuan Rain.?"...
__ADS_1