Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
FIRST DAY IN SEOUL


__ADS_3

Aryan tidak bisa mengikuti perjalanan mereka untuk liburan ke korea. Beberapa masalah kerjaan yang sangat berbelit membuatnya tak bisa meninggalkan kantor. Sekretaris barunya juga masih belum bisa di andalkan sepenuhnya, masih butuh banyak bimbingan.


Ayla dengan terpaksa menerima keputusan itu. Ia terlihat cemberut sekarang.


Mereka semua dalam perjalanan menuju bandara, Aryan sudah menyewa Pesawat Jet pribadi untuk akomodasi perjalanan liburan keluarganya.


..."Nanti Papah nyusul kan?"...


..."Papah usahakan Zico, tapi papah gak janji ya?"...


Ayla memasang muka yang cemberut. Ia bahkan sama sekali tak melirik Aryan sejak keluar dari rumah tadi.


..."Ay, kamu baik-baik ya? Disana sekarang lagi musim dingin. Jaga kesehatan ya?"...


Ayla hanya ber hemmm ria menanggapi, karna kalau diam saja takut Allah murka padanya, tapi kalau mau bersikap ramah seperti biasanya, hatinya juga lagi dongkol sama suaminya.


..."Kalian juga. Semuanya harus selalu memakai baju tebal agar tetap hangat. Jangan lupa vitaminnya."...


Aryan sudah menyewa pemandu wisata profesional untuk menemani perjalanan keluarganya menikmati keindahan negara Oppa-Oppa itu. Seorang wanita yang menguasai bahasa Korea dengan fasih. Dan juga mengenal negara itu dengan baik.


Pramugari menyambut kedatangan Ayla sekeluarga yang mulai memasuki Pesawat satu persatu.


Sebuah Pesawat Jet Pribadi Yang mewah nan canggih. Memanjakan penumpangnya agar bisa merasa senyaman mungkin.


Meski begitu, tak mengurangi rasa takut dan cemas yang Ineke rasakan.


Ini adalah penerbangan mereka untuk yang pertama kalinya. Rasanya mereka semua terkena Tremor. Tapi Ineke menjadi korban yang paling parah.


Ia berteriak ketika merasakan pergerakan pesawat pertama kalinya.


..."Aunty, kau baik-baik saja"...


Ineke hanya berani mengangguk. Ia selalu berdoa agar penerbangan pertamanya ini selamat sampai tujuan.


Ayla sudah mulai terbiasa. Ia bahkan mulai menikmati pemandangan dari balik jendela pesawat.


Zico tertidur. Dan Arend membaca buku.


Setelah melakukan penerbangan selama 7 jam, Pesawat yang mereka tumpangi landing di bandara Seoul Incheon International.


..."Waaaaahhh, Korea.!"...


Mereka berjalan menuju halaman parkir mobil, sudah ada sebuah mobil Limousine sewaan yang menunggu mereka disana. Aryan berusaha memberikan yang terbaik pada keluarganya.


Tempat pertama yang mereka tuju adalah Hotel Marriout Seoul, sebuah hotel mewah bintang lima. Yang menyuguhkan kemewahan dan pemandangan keindahan kota Seoul dari jendela-jendela kamarnya.


Ayla satu kamar dengan Ineke, dan Arend sekamar dengan Zico.


Seluruh petugas hotel menguasai bahasa Inggris. Itu memudahkan Ayla dan keluarga jika membutuhkan sesuatu atau sekedar ingin bertanya. Tanpa harus memanggil Elis Nona sang Pemandu Wisata. Yang tidur di kamar lainnya.


Hari pertama di Korea mereka semua di anjurkan untuk beristirahat. Karna cuaca yang sangat dingin di musim dingin. Mereka harus menjaga tubuh mereka agar tetap Fit dan sehat, salah satu nya istirahat yang cukup.

__ADS_1


*Malam pertama di Hotel Marriout Seoul.


Ayla, Ineke, Arend dan Zico di hantarkan pada meja makan malam yang sangat mewah di restauran hotel.


Ineke sesekali mulai terdengar tawanya saat melihat keributan kedua keponakannya yang begitu heboh dengan perjalanannya ini. (Lebih tepatnya sih Zico)


Sedangkan Ayla sedikit uring-uringan saat melihat ponselnya karna Aryan belum memberi kabar, bahkan pesan-pesan yang Ayla kirim padanya belum mendapat balasan.


Tiba-tiba meja mereka di hampiri seorang pria tampan yang tak asing bagi mereka.


..."Tuan Rain?"...


Ayla membulatkan mata kaget.


..."Hai Tuan Rain, anda juga disini?"...


Zico mengepalkan tangan memberi salam pada orang yang di anggap sebagai teman papahnya itu.


..."Iya, perjalanan bisnis."...


Rain membalas kepalan tangan Zico memberikannya tinju pelan.


..."Cen?"...


Arend masih ingat pengawal yang berwajah sangar itu.


..."Dia disana!"...


..."Aku ingin menemuinya."...


Arend bangkit dari duduknya mendekat ke arah Cen berada. Sepertinya mereka saling menyukai satu sama lain.


..."Tuan Aryan?"...


..."Aaaahh,, dia sangat sibuk. Dia tidak bisa ikut kami liburan."...


Rain menganggukkan kepala. Pandangan tak pernah lepas dari Ineke yang hanya menundukkan kepala.


Ineke ingat jika ia pernah meraih kemeja pria itu dengan kasar, bahkan meneriakinya dengan tidak sopan. Membuat nya sekarang merasa sungkan.


..."Boleh saya duduk?"...


Rain meminta izin untuk bergabung. Sebenarnya Ayla merasa kurang yakin, suaminya tidak sedang bersama mereka sekarang. Ayla melihat ke arah Bodyguardnya yang duduk di kursi lainnya. Dan Pria berbadan tegap itu menganggukkan kepala.


..."Duduk saja Tuan Rain, kau adalah teman Papah ku kan? Itu artinya kau juga kerabat kami."...


Zico menyambut dengan ramah. Yang ia tahu Rain adalah salah satu teman dekat papahnya, Aryan.


..."Nona Ineke? Apa kabar?"...


Ayla melihat manik Rain, ia baru sadar jika Rain tak melepas pandangannya dari Ineke sejak tadi. Dan bahkan Ineke terlihat seperti tidak biasa. Entahlah.

__ADS_1


..."Baik."...


..."Kau hanya menanyakan kabar Ineke tuan Rain?"...


Ayla mulai menggoda.


..."Oh, iya, apa kabar Nyonya Ayla? Dan bagaimana dengan kabar Tuan Aryan?"...


Drrrttt drrrtttt drrtttt


Ponsel Ayla bergetar, panggilan masuk.


...Aryan...


...Calling,,,,,...


..."Semoga Allah memberinya umur panjang dan selalu di berikan kerahmatan."...


Ayla bangkit dari duduknya. Menunjukkan layar ponselnya yang mendapat panggilan dari sang suami yang di rasa menyebalkan hari ini.


Ayla menjauh, keluar dari restauran menuju halaman kecil berupa taman di samping, langkahnya selalu di ikuti oleh salah seorang pengawal. Dan dia mulai berbicara dengan suaminya. (Lagi ngomel kali).


..."Tuan, apa kau juga akan liburan menyambut tahun baru disini?"...


Zico memulai obrolan.


..."Aku tidak tahu, itu belum ada dalam agenda."...


..."Kau ini sama seperti Papah. Hanya kerja kerja kerja dan kerja. Lihat mama sampai bad mood seharian karna Papah gak bisa ikut."...


Ineke merasa kurang nyaman, ia merasa jika sejak tadi Tuan Rain terus memperhatikannya. Bahkan menanggapi Zico yang mengajaknya bicara hanya sekenanya saja.


..."Zico, aunty sudah selesai. Boleh aunty balik ke kamar duluan?"...


..."Sebentar aunty, mama belum kembali, arend juga malah asyik ngobrol sama Cen. Temani Zico sebentar lagi."...


Ineke memberanikan diri menatap ke arah Rain. Ia lekas dengan cepat kembali memalingkan pandangannya karna Rain yang terus menatapnya.


..."Tuan Rain, bisakah kau hentikan itu? Saya merasa tidak nyaman."...


Ineke mengungkapkan isi hatinya dengan jelas dan gamblang.


Rain kelabakan, ia sendiri bahkan tidak sadar dengan apa yang telah di lakukan.


Sejak pergi dari rumah Aryan waktu itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Ineke. Meski ia mempunyai rasa tertarik saat pertama kali melihatnya di rumah sakit, ia tak yakin jika itu adalah cinta.


...'Mungkin, itu hanyalah sebuah rasa kagum, tidak lebih.'...


Rain meyakinkan hatinya sendiri soal itu. Apalagi kehidupan gelapnya yang di kelilingi oleh wanita-wanita cantik dan seksi. Yang hanya dengan sekali tarikan bisa ia naiki untuk dinikmati di bawah Kungkungan nya.


Rain akhirnya selalu menepis jika cinta itu ada.

__ADS_1


__ADS_2