
...*"Kamu yang membuatku tertawa lepas, dan kamu juga yang membuatku menangis begitu keras. Kamu obat, sekaligus Luka."*...
...****************...
Arend beranjak dari ranjang, ia lekas keluar dari kamar. Menuju kamar orang tuanya.
...'*Semua akan baik-baik saja aunty.'...
"Tok tok tok.
..."Tok tok tok......
"Tok tok tookk*___
Cukup lama Arend mengetuk pintu kamar, sehingga Ayla yang masih menyipitkan mata membukakan pintu itu.
..."Arend? Ada apa? Ini masih belum subuh.!"...
Ayla mengeluh dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.
..."Aku ingin bicara sama papah, mah."...
..."Kenapa gak besok saja, sayang? Ini baru jam dua?"...
..."Ini mendesak Mah."...
..."Arend, apa ada masalah?"...
..."Apa mamah bisa tolong bangunkan Papah?"...
Ayla diam sejenak. Ia lantas mengangguk. Mempersilahkan Arend untuk masuk.
Ayla menggoyang pelan tubuh Aryan, memanggil namanya berkali-kali, berusaha membangunkan sang suami dari tidur lelapnya.
..."Ehmm? Apa Ay?"...
..."Arend mau bicara, Mas.!"...
..."Ehm?"...
Aryan mendongakkan kepala. Ia mulai membuka mata. Mengusap wajahnya kasar. Ia lantas duduk di tepian ranjang. Arend nampak berdiri di depan ranjang.
..."Pah?"...
..."Ada apa Arend?"...
Aryan melirik jam di atas nakas. Masih sepertiga malam. Jam 2.
..."Apakah Papah bisa mengirim pasukan? Ke pulau Tuan Rain?"...
__ADS_1
..."Ada apa, Arend?"...
..."Kurasa mereka akan membutuhkan bantuan Pah."...
..."Itu tidak mudah Arend. Data yang di miliki negara tentang Rain bercatatan hitam. Dia adalah jaringan paling di selidiki di tingkat Internasional."...
Arend terdiam, ia nampak berpikir.
..."Ada apa Arend?"...
..."Apa sama sekali tidak ada cara pah?"...
Ayla menyimak obrolan mereka dengan seksama. Ia kurang mengerti apa yang terjadi. Sehingga Arend meminta Aryan mengirim bantuan pasukan ke pulau Rain.
..."Apa kau sudah membicarakan ini pada Tuan Rain, Arend?"...
Arend menggeleng. ini ide nya sendiri. Ia merasa pasti akan ada sesuatu yang terjadi disana. Dan dia hanya ingin membantu Cen dan aunty nya. Tapi pemikirannya masih belum matang.
..."Tuan Rain juga tidak akan setuju jika Pulau rahasianya di temukan apalagi di datangi orang-orang yang tidak diinginkannya."...
..."Apa tidak ada cara lain Pah?"...
Usaha Arend untuk bisa mengirim bantuan ke pulau Rain Itu mustahil. Rain dari dunia gelap. Tak mungkin ada cahaya bisa masuk menelusup.
Arend lalu menjelaskan kepada Aryan dan Ayla tentang sepenggal cerita yang ia tahu. Jika Cen menghubunginya. Dan akan segera mengirim aunty nya Ineke kembali ke rumah ini. Untuk sementara waktu. Itu sudah cukup jelas jika pasti akan terjadi sesuatu di sana.
...****************...
..."Kita harus pergi sekarang."...
Cen yang sudah berada di depan Ineke membuka suara. Tapi Ineke hanya diam. Ia enggan untuk bergerak. Ia hanya menunduk membiarkan derai air matanya mengalir.
..."Ineke?"...
Cen kembali memanggil namanya. Ia lantas mendongak, berdiri dengan pelan. Raganya seakan tak bertenaga.
..."Kamu percayalah, semua akan baik-baik saja. Ini adalah permasalahan internal yang sudah lama. Tapi kami salah karna tidak menguburnya. Kami hanya meninggalkannya. Hingga kini masalah itu tanpa kami duga datang kembali."...
Ineke hanya diam mendengarkan Cen berbicara tanpa melihat ke arahnya.
..."Kamu harus percaya dengan Tuan Rain, Ke?. Setelah semua yang ada disini membaik. Dia akan segera menjemputmu?"...
Ineke membulatkan mata mendengar setiap kata yang di ucapkan Cen.
..."Tuan Rain hanya berusaha melindungi mu, Ke!"...
Cen mengulurkan tangan pada Ineke. Ineke melangkah tanpa menyambut uluran itu. Ia tidak begitu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Setiap kata yang di ucapkan Cen adalah teka-teki baginya.
Cen terus memintanya untuk tetap mempercayai Rain, bahkan Rain akan kembali menjemputnya nanti. Tapi bukankah apa yang di lihatnya adalah bukti yang nyata?
__ADS_1
Ineke dan Cen tiba di lantai bawah. Langkah mereka terhenti. Rain terlihat baru memasuki rumah.
Rambutnya tidak Serapi biasanya, jasnya di gantung di lengannya sebelah kiri. Tiga kancing kemeja hitamnya bagian atas terbuka, menampilkan dada bidangnya yang sempurna. Dengan hiasan tatto yang menambah ke-seksiannya. Kedua lengannya tergulung acak, terlihat asal-asalan.
Ineke melihatnya dengan tatapan Nanar. Dadanya serasa membara, terbakar api cemburu yang menghancurkan kepercayaannya. Kembali terlintas di benaknya bagaimana Rain suaminya bertautan pada wanita lain, Cassandra.
Rain melangkah ke arahnya.
..."Sayang?"...
Lirihnya mendekati Ineke. Tangannya hendak memeluk Ineke, sebelum akhirnya Ineke menepisnya kasar. Dan dengan gerakan cepat menampar pipi Rain dengan tangan kanannya sekuat tenaga. Itu adalah emosi kekesalannya. Air mata Ineke sudah membanjir. Tatapannya penuh kemarahan.
..."Ke?"...
Rain mengangkat wajahnya yang tertunduk karna tamparan Ineke. Ia tidak mengerti kenapa Ineke menamparnya. Ineke menatapnya penuh amarah.
Rain melihat ke arah Cen yang berdiri tidak jauh di belakang Ineke. Cen menganggukkan kepala.
...'Tidak, dia tidak mungkin melihatku yang tengah bersama Cassandra tadi? Tidak mungkin.'...
Ineke memejamkan mata. Tangisnya terdengar sesenggukan. Jelas dadanya begitu sesak saat ini.
..."Sorry, I hurt you."...
...(Maaf, Aku menyakitimu.)...
Rain mengucapkan kalimat itu dengan suara baritonnya yang terdengar lirih dan bergetar.
Ineke kembali menamparnya dengan keras. Rain hanya diam menerima kekesalan Ineke. Ineke tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan rasa sakit hatinya. Ia begitu kecewa pada Rain. Tapi cintanya ini baru di mulai. Rasa ini sedang sayang-sayangnya.
..."Kamu yang membuatku tertawa lepas, dan kamu juga yang membuatku menangis begitu keras. Kamu obat, sekaligus Luka."...
Ineke mengatakannya penuh rasa. Ia sungguh kecewa.
..."Ketika Dion pergi, Aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku bisa menemukan orang sepertinya lagi? Lalu Tuhan mempertemukan ku dengan mu, aku pikir kau adalah jawabannya. Aku tidak tahu jika kau adalah soal yang baru."...
Rain menangis mendengar setiap kata yang Ineke ucapkan. Itu seperti sayatan di hatinya. Ia telah melukai cintanya.
..."Kau menyakitiku, Rain. Sangat."...
Ineke melangkahkan kakinya yang terasa berat. Ia tak sanggup berpisah dengan suaminya. Tapi ia telah di khianati. Bahkan jika ia merasakan apa yang pernah dirasakan Ayla. Dia memilih untuk mati.
..."Comeback, please! I need you. Be Mine?"...
Ineke menghentikan langkahnya, Rain mengatakannya penuh rasa, dan air mata mengiringinya. Ineke memutar badan. Kembali melangkah kebelakang.
Ineke telah sampai di samping Rain yang berdiri berhadapan dengan Cen. Entah apa yah ada di dalam pikirannya. Ineke dengan gerakan cepat mendekatkan kepalanya ke muka Cen. Kedua tangannya meraih kepala Cen menyentuh halus rambut Cen. Ineke berjinjit untuk mengimbangi tinggi badannya dengan Cen. Lalu ia menautkan bibirnya sempurna dengan Bibir Cen. Tepat di depan Rain.
Cen membulatkan matanya tidak percaya. Rain apa lagi.? Ineke memejamkan mata saat melakukannya. Tapi air matanya yang mengalir membasahi pipi yang turut serta membasahi pipi Cen menjelaskan semua lara hatinya.
__ADS_1
Cen terpaku. Ia seperti tak bertenaga. Diam menerima serangan yang diberikan Ineke.