
Malam mereka lalui dengan kesedihan yang menyelimuti hati. Aryan dan Ayla sama-sama tidak tidur. Sedangkan Ineke tertidur di sofa yang di siapkan Ayla semalam untuk Aryan.
Hingga waktu subuh tiba. Ayla berdiri dari duduknya di samping Zico, ia masuk ke kamar mengambil baju ganti, di rumah sederhana ini hanya ada satu kamar mandi yang letaknya di belakang dekat dapur.
Seusai membersihkan diri Ayla membangunkan Ineke agar segera membersihkan diri juga. Begitupun dengan putra nya Arend. Untuk Tuan Dion, Ayla tidak berani.
Pandangan Aryan selalu mengikuti kemana pun langkah Ayla berjalan.
Ayla menunaikan ibadah shalat subuh di kamar, begitupun Ineke. Arend pergi ke mushala terdekat.
Saat Ayla keluar dari kamar, ia melihat Aryan yang tengah melaksanakan kewajiban seorang muslim itu dengan pakaian yang semalam ia pakai. Tanpa sajadah, batin nya perih melihat itu.
Jika dulu ia bisa menyiapkan semua kebutuhan Aryan tanpa beban, berbeda halnya dengan sekarang, ia lebih hati-hati, tidak mau jika tersakiti lebih dalam lagi.
Arend pulang dari mushala, ia menghampiri Zico, di sentuhnya kening Zico. Demamnya sudah hilang. Bahkan terdengar dengkuran halus dari nya.
Aryan mendekat. Arend masih menatap Aryan dengan tatapan yang sama. Tatapan tak bersahabat.
pukul 7. pagi, Zico bangun.
..."Papah."...
..."Zico"...
..."Bagaimana Zico? Kamu baik-baik saja?"...
Ayla, Ineke, Arend dan Dion ikut mendekat mendengar Zico telah bangun.
Zico melihat sekeliling dengan tatapan sedikit bingung.
..."Sakit pah."...
..."Apanya yang sakit Zico"...
Kini Arend yang nampak khawatir.
..."Perutku Arend. Aku lapar."...
Ineke dan Dion menahan tawa, Aryan berekspresi seperti orang bodoh. Sedangkan Arend jengah dengan sikap dramatis Zico.
Ayla tersenyum, mengelus pipi Zico.
..."Ayo, kita sarapan sekarang, Tante dan Aunty Ineke sudah menyiapkan makanan untuk kita sarapan bersama."...
..."Wah, Asyik., tapi, apa Aunty Ineke sudah tidak marah lagi sama Zico?"...
..."Maaf ya sayang, Aunty tidak bermaksud seperti itu. Aunty tidak marah kok sama kamu, tapi, aunty masih merasa sebel sama yang di sebelah mu."...
Mendengar penuturan Ineke Zico malah tersenyum senang.
Ini adalah sarapan pertama seperti sekumpulan keluarga yang hangat dan bahagia, meski dengan suasana yang kikuk dan canggung.
Hanya saja sekarang Arend sudah kembali dengan tatapan biasanya. Datar dan berkarakter dingin.
__ADS_1
Hanya Ineke, Zico dan Dion yang selalu ramai dengan senda gurau. Bahkan Ayla yang biasanya ribut juga berisik di pagi hari kini ber mode silent.
Aryan merasa kan sesak melihat tingkah Dion yang terlihat begitu akrab dan bahagia dengan Ineke juga putranya Zico.
Sedangkan dia sendiri hanya membatu dengan Ayla yang tampak begitu tenang juga putranya Arend yang terlihat dingin.
..."Aaaahhh, bisakah kau hentikan itu!"...
Teriak Aryan pada Dion yang menarik perhatian semua orang.
..."Aku? Apa salahku Bos?"...
..."Kau? Kau tidak tahu etika saat makan huh? Kau berisik di meja makan, apa itu bagus, huh?"...
..."Tuan Aryan, anda ini kenapa? Ini adalah hal yang wajar terjadi pada keluarga saat berkumpul."...
Ineke kesal dengan teriakan Aryan.
Arend merasa jika ini hanyalah drama yang akan di buat papanya untuk mencari perhatian mamanya Ayla, jadi dengan ekspresi tidak peduli Arend kembali makan dengan tenang.
Ayla masih bengong, Dion terlihat takut.
..."Papah kenapa? Apa nya yang salah? Kami kan hanya sedang membicarakan Ikan yang matanya copot ini"...
Zico ikut berkomentar sambil mengangkat ikan yang jadi bahan bercandaan mereka tadi.
Dion tidak lagi bisa menahan tawanya. Ia tergelak karna sisa-sisa kelucuan tadi, begitupun Ineke.
Aryan terlihat menahan amarahnya. Matanya membulat dengan rahangnya yang menegas.
Ayla angkat bicara mengarah ke Ineke dan Dion.
Ineke yang tengah minum pun akhirnya menyemburkan minumannya ke meja dan membubarkan semua orang.
Arend pergi dengan kesal, di ikuti Zico yang terus memanggil dan membuntutinya.
Dengan terpaksa Ineke membereskan meja itu sendiri.
Ayla bersiap ke kios, hari ini dia yang akan menjaga kios, dan meminta Ineke yang mengajar anak-anak les nanti sore.
..."Biar aku antar Ay.!"...
..."Tidak perlu Mas, aku terbiasa pergi sendiri."...
..."Ay,"...
..."Dan, aku harap kamu bisa mengerti kondisi kita saat ini, aku tidak tahu bagaimana ikatan kita saat ini, tapi hatiku masih belum bisa untuk menerima mu sepenuhnya Mas, Aku harap, saat aku pulang nanti, kamu sudah keluar dari rumahku."...
Ayla melajukan motornya meninggalkan rumah.
Ineke melihatnya dengan ekspresi yang sulit di artikan, tapi ada rasa bahagia di hatinya.
..."Anda harus berusaha lebih keras Tuan."...
__ADS_1
Dion menghampiri Aryan, melaporkan tentang urusan kantor yang baru saja ia terima kabarnya lewat telpon.
Arend tidak ke sekolah karna libur panjang setelah UN, sebentar lagi masuk SMP.
Aryan mengajak Zico pulang, tapi Zico bersikeras untuk tetap disini, ia merasa senang disini, tidak seperti di rumah mewah itu, yang selalu merasa sendiri dan kesepian.
Dengan terpaksa Aryan menitipkan Zico pada Ineke, karna ia harus segera kembali, menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.
...****************...
Ayla pulang dari kios, rumah nampak sepi, Ineke belum pulang dari mengajar.
Ada perasaan sedikit takut di hati Ayla.
..."Apa dia sudah pergi?"...
..."Assalamu'alaikum"...
Arend dan Zico pulang, Mereka habis mancing, dan dapat lumayan banyak belut.
(Bukan memancing ikan ya, disana tidak ada Empang, tapi memancing belut di persawahan.)
..."wa'alaikum salam"...
Arend nyelonong masuk, ingin mengambil handuk di kamar dan lekas mandi. Zico masih mengekor. Ia benar-benar enggan jika sampai terpisah dari Arend.
Langkahnya terhenti ketika mama nya Ayla mengajaknya bicara.
..."Arend, aunty belum pulang sayang?"...
Arend melihat ke sekeliling, tidak ada orang lain selain mereka.
Tanpa putranya menjawab pun Ayla sudah tahu jawabannya. (Benar-benar cetakan kulkas).
..."Ouh, iya."...
Ayla nyengir, ia selalu mati kutu di buat oleh Arend.
..."Kalau aunty masih mengajar anak-anak les Tante, tapi kalo Tante mencari papah, papah sudah pulang sama Dion dan semuanya."...
Seketika ekspresi Ayla berubah, Arend bisa menebak itu. Tapi dengan sifat cueknya ia hanya berlalu pergi meninggalkan mamanya, dan masuk ke kamar.
..."Arend tunggu, ini di taruh dimana?"...
Zico mengangkat beberapa belut yang sudah di ikat menjadi satu di bagian kepala.
..."Tante, tolong pegang ini."...
Zico ngibrit.
...'Dia pergi? Apa dia sudah menyerah? Kenapa harus semudah itu? Apa dia tidak mau mencoba memperjuangkan ku? Tidak, Zico masih disini, dia pasti akan kembali.'...
...****************...
__ADS_1
Mereka makan malam dengan lauk belut oseng bumbu pedas. Hasil penangkapan Arend dan Zico hari ini,
(Yang sebenarnya, Arend yang menangkap dan mendapatkan semua belut itu, Zico hanya ikut teriak-teriak tidak jelas, apalagi itu adalah hal pertama baginya, ada rasa geli juga untuk pertama kali, tapi setelah berapa lama ia merasa sangat seru, tidak pernah ia dapatkan sebelumnya keseruan dan kebahagiaan seperti ini.)