Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
JUST ONCE FOR THE LAST


__ADS_3

...****************...


..."Kau tidak boleh pergi Nona Ineke."...


Cen menghentikan langkah Ineke yang hendak mengikuti Langkah Bian.


..."Kau bisa menemaniku, Cen."...


Bian melangkah dengan sombong terlebih dulu keluar kamar, Ineke mengikuti. Dengan kesal Cen terpaksa mengekor di belakang mereka.


...'Bukan ini rencananya, Tuan Rain pasti ada disana. Apa yang sedang di rencanakan Bian?'...


Bian membawa Ineke dan Cen masuk kedalam Rumah sebelah. Ia lantas melangkah ke lantai atas yang berada di ruang paling Utara. Dari atas sana bisa melihat ke ruang bawah.


Bian, Ineke dan Cen telah sampai.


..."Lihatlah sendiri Kakak Ipar."...


Ineke melangkah mendekat ke sebelah Bian. Ia melihat ke arah bawah sana dari atas. Dengan penglihatan jelas Ineke melihat Rain Suaminya berci_*um*n dengan Cassandra.


Ineke menganga tak percaya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, hampir terjatuh. Cen menopangnya. Ineke melihat ke arah bawah sana dengan tatapan nanar.


..."Rain.!"...


Lirihnya sangat pelan. Hatinya sangat nyeri. Itu seperti Tusukan pisau sembilu yang mengiris menyayat hati. Menghujamkan berkali-kali, sakit sekali. Derai air mata Ineke mulai lolos membasahi pipi. Nafasnya terasa berat menyesakkan dada.


Ineke menyaksikan secara langsung Suaminya yang bertautan bibir dengan wanita lain.


Cen menutup mata Ineke dengan telapak tangannya, berusaha melindungi Ineke dari pandangan yang sangat menyakitkan itu. Ineke memejamkan mata, derai air matanya lolos begitu saja.


Ineke membuka matanya pelan, melihat ke arah Cen. Bahkan mata Cen terlihat berair. Ineke meraih tangan Cen yang menutupi matanya. Ia menepisnya dengan pelan.


Ineke terus melihat ke arah Rain yang tengah menautkan bibirnya mesra pada bibir Cassandra di bawah sana.


Cen melihat manik Ineke dengan tatapan nanar. Air mata Cen lolos dengan sendirinya.


...'Apa yang kau lakukan Tuan Rain? Kau menggali kuburan mu sendiri.'...


Bian tersenyum penuh kemenangan melihat kekacauan ini. Ini bahkan lebih sempurna dari yang telah direncanakannya bersama Cassandra tadi siang.


Cen menggenggam tangan Ineke, menarik Ineke untuk segera mengikutinya pergi dari tempat ini.


Ineke tak mampu berkata, tapi air matanya menjelaskan semua. Kaki Ineke terseok-seok.


..."Cen? Rain?"...


Ineke berusaha berteriak. Namun tenaganya sepertinya telah sirna. Cen berhasil membawanya menjauh dari sana.


..."Lepaskan Cen.!"...


Ineke menepis kasar tangan Cen yang menggenggam tangannya. Tubuh Ineke sempoyongan bersandar di dinding. Ia menekan dadanya yang terasa begitu sesak.

__ADS_1


Ia menangis dengan pilu. Cen melihatnya nanar. Ineke merasakan sakit yang teramat sangat memenuhi hatinya. Cen kembali mengulurkan tangan. Ineke melihat ke arah Cen.


..."Kau hanya melihatnya, Ke. Kau tidak mendengar apa yang mereka bicarakan."...


..."Apa itu perlu Cen?"...


..."Terkadang mata kita mengelabuhi kita, Ke. Ikutlah dengan ku. Kau mencintai Tuan Aryan bukan? Kau harus mempercayainya ke."...


Ineke mencoba mendengarkan apa yang dikatakan Cen. Lagi pula. Tidak ada gunanya jika dia berdiam diri ditempat ini sekarang.


Ineke menyambut uluran tangan Cen, mengikuti langkahnya kembali ke Rumah Utama.


Ineke telah sampai di kamar. Cen selalu ada di dekatnya.


..."Kemaslah barang-mu yang mungkin akan kau butuhkan. Akan aku antarkan kau ke rumah Tuan Aryan pagi ini. Heli akan tiba jam 4 pagi."...


..."Kau mengusirku?"...


..."Jangan salah paham Ineke. Menurutlah. Situasinya tidak semudah yang kau kira. Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."...


..."Aku tidak akan kemana-mana Cen. Aku akan menunggu Rain. Dia harus menjelaskannya padaku. Kau bilang penglihatan kita terkadang bisa mengelabuhi bukan?"...


Cen membuka Ponselnya. Ia menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian. Panggilannya mendapat jawaban.


..."Situasinya memburuk. Kau harus membujuknya untuk kembali pulang."...


Cen berbicara pada seseorang di telepon. Tak lama kemudian Cen memberikan Ponselnya pada Ineke.


Ineke mengernyitkan dahi, ia seakan bertanya kenapa ponselnya di berikan padanya? Tapi Ineke akhirnya menerimanya.


..."Arend?"...


..."Menurutlah dengan apa yang di katakan Cen. Jika Cen memintamu kemari, pulanglah. Atau, haruskah aku yang datang menjemputmu sekarang aunty?"...


..."Arend?"...


..."Semua akan baik-baik saja."...


Panggilan di akhiri. Ineke memberikan kembali ponselnya Cen.


..."Aku tidak perlu mengemas apa pun."...


Wajah Ineke terlihat sangat sembab. Ia terlalu banyak menangis. Pikirannya berkecamuk. Rain telah mengkhianatinya. Rain telah melanggar janjinya. Ia telah menyentuh wanita lain. Ineke masih menangis dalam diam.


Mereka tidak melakukan apa pun saat ini. Ineke duduk di ranjang dan Cen berdiri di balkon kamar. Mereka hanya menunggu heli yang akan datang.


...*FLASH BACK ON...


Rain meninggalkan Mini Bar menuju rumah sebelah. Ia harus lekas menyelesaikan permasalahannya dengan Cassandra. Jangan sampai orang-orang Cassandra datang menyerang dan akan kembali terjadi pertumpahan darah.


Rain melangkah menuju ruang paling Utara. Cassandra menunggunya di ruang tengah lantai bawah.

__ADS_1


Terlihat Cassandra berdiri disana. Mengenakan dress panjang tanpa lengan yang mewah. Belahan dadanya sangat rendah. Ia terlihat sangat cantik dan Seksi.


..."Kau datang, Rain."...


Rain hanya diam tak bergeming. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Cassandra hanyalah masa lalunya.


..."Pulanglah, Cassy. Anggaplah diantara kita telah tercapai perdamaian."...


..."Apa aku sebodoh itu, Rain?."...


Cassandra berteriak dan mendekat. Sorot matanya penuh amarah.


..."Pikirkanlah sekali lagi Rain. Aku adalah cinta pertamamu. Kita begitu saling mencintai dulu."...


Cassandra membelai wajah Rain lembut, Rain terpejam menelan salivanya kasar.


..."Kau memiliki masa laluku, Cassy. Tapi Ineke adalah masa depan ku."...


..."Omong kosong.!"...


Cassandra mencengkeram kerah baju Rain.


..."Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau menolakku, Rain. Aku sudah membujuk Ayahku untuk berdamai. Jika kau kembali padaku. Dan dia setuju Rain. Tapi aku malah mendengar kabar pernikahanmu.? Tidak. Ini belum terlambat, kita masih bisa memperbaiki ini semua sebelum ayahku tahu. Ia akan keluar beberapa hari lagi. Dan keluarga kita akan kembali bersatu."...


..."Aku rasa kita sudah mencapai kesepakatan. Aku tidak bisa kembali padamu Cassy."...


Rain berbalik arah.


..."Tunggu Rain. Baiklah. Kau tak bisa lagi ku gapai. Aku akan membiarkanmu pergi meninggalkanku. Tapi kau tahu, aku tidak mungkin bisa menghentikan Klan Nostra. Kau menolakku, sama halnya dengan kau menghina mereka. Mereka pasti akan datang Rain."...


..."Aku akan menyambut kedatangan mereka."...


Rain melangkah. Tapi dengan cepat Cassandra meraih tangan Rain. Ia memeluk tubuh Rain dari belakang.


..."Beri aku sedikit waktu, hanya sebentar. Kau akan pergi selamanya dariku, aku tidak akan memiliki kesempatan lagi. Kumohon. Biarkan aku memelukmu, Ini yang terakhir."...


Rain memejamkan matanya, air matanya menetes. Terdengar ketulusan dari suara Cassandra. Rain merasa jika dirinya adalah orang yang paling jahat saat ini. Apa pun keputusan yang Rain ambil. Ia sama-sama menyakiti hati seorang wanita yang dengan tulus mencintainya.


Rain berbalik. Ia mengelus wajah Cassandra yang menangis. Menghapus air mata yang membasahi pipi Cassandra. Biar bagaimanapun, Rain pernah begitu sangat mencintai wanita di depannya ini.


Cassandra pernah menjadi wanita terindah dalam hidupnya. Ia melepas keperjaka *annya pada Cassandra, begitu halnya Cassandra yang melepas Virginity nya pada Rain.


Cassandra mendongak melihat wajah Rain. Wajahnya sembab, matanya sayu. Rain menyayangkan hal ini terjadi.


Jari jemari Cassandra membelai halus bibir Rain. Ia menatap ke titik itu penuh damba.


..."Just Once, For the Last.!" Lirih Cassandra....


Cassandra berjinjit, ia mendekatkan kepalanya pada wajah Rain. Lalu menautkan bibirnya pada bibir Rain dengan pelan dan lembut.


Mata Rain terpejam. Bayangan wajah Ineke kembali datang, bahkan gelak tawanya seakan terdengar di telinga. Tapi Rain mengabaikannya.

__ADS_1


...'Maafkan aku, Ke. Ini yang terakhir kali.'...


Rain membiarkan Cassandra meneruskan aksinya. Melakukan satu hal. For The Last.


__ADS_2