
Hari-hari berlalu menyebalkan. Rain semakin gelisah, Ia merindukan sang pujaan hati, namun tak ingin merendahkan diri dengan berlutut dan menemui.
Berkali-kali Rain melihat ke layar ponselnya. Nomornya masih di blokir dari kontak Ineke maupun Ayla. Meski ia hanya ingin melihat sang cinta disana sedang onlin atau hanya kapan dilihat terakhir.
Terkadang juga sangat ingin menghubungi dan membuang ego untuk me-minta maaf. Tapi senyum Ineke yang mengembang di depan Aaron kembali menghujam dadanya, menepis benak nya yang ingin memperbaiki semuanya.
Cen datang.
"Tuan.?"
Rain menoleh melihat Cen, ia datang dengan membawa sebuah Map.
"Berkasnya sudah siap."
Cen datang membawa surat Divorce dirinya dengan Ineke. Rain hanya diam menatap lembaran kertas yang di buka Cen itu.
Cen meletakkannya di atas meja. Rain duduk di kursi menghadap benda yang akan menentukan nasib hubungannya dengan Ineke.
"Anda hanya tinggal menandatanganinya, Tuan. Setelah itu akan saya kirim secara langsung pada Nona Ineke."
Rain masih diam tak bergeming, matanya berkaca-kaca. Hatinya seperti kapal yang di terjang ombak badai dan angin ****** beliung. Semua hancur porak poranda.
'Haruskah aku melakukannya? Kenapa kau tidak kembali padaku, Ke?'
"Nona Ineke juga sudah menyetujuinya, Tuan.!"
Kalimat Ter akhir Cen menarik perhatian Rain, Ia membulatkan mata menatap kedua mata Cen. Jelas terlihat kilat emosi disana.
Tak ingin berpikir lagi. Jika Ineke saja menyetujuinya. Maka Rain pun akan melakukannya.
Rain meraih pena di samping map. Ia mencoretkan tinta hitam itu Diatas kertas yang menggores namanya sendiri. Rain lalu bangkit, berdiri dan lekas pergi meninggalkan Cen.
Cen melihatnya hanya diam dengan perasaan tidak tenang.
'Pasti akan ada kegilaan lain lagi yang akan dia lakukan setelah ini. Kau datang membawa mawar ke pulau ini, Nona Ineke. Tapi kau juga membawakan durinya.'
...****************...
Ayla tidak memasak, anak-anak disuruh makan di warung. Akak yang membawakan makanan untuk mereka di INELA.
Mual Ineke semakin menjadi. Ia tak bisa tahan mencium bau apa pun. Akan langsung merangsang indera penciumannya membuat dia mula dan muntah seketika.
Wajah Ineke sangat pucat, Ia tak memakan apapun. Keringat dingin kerap kali muncul di sekitaran dahinya. Badanya lemah tak bertenaga.
Ayla merasa sangat khawatir. Bu Bidan menyarankan agar Ineke di rawat di puskesmas kecamatan, Mungkin hanya butuh satu atau dua jam untuk sampai disana. Tapi Ineke menolak.
Bu Bidan sudah memperingatkan jika kondisi Ineke terus melemah, itu bisa saja membahayakan si janin. Bu bidan juga menasehati agar Ineke tidak terlalu banyak pikiran apalagi stres. Ineke mengiyakan semuanya. Namun nihil dalam prakteknya.
Ayla dan Arend membujuk Ineke agar di rawat di kota. Disana baik Dokter maupun peralatan lebih canggih. Tapi lagi-lagi Ineke menolak.
Hari sudah malam. Biasanya Ineke akan meminta makanan apa saja yang di inginkan. Tapi malam ini ia tak ingin makan apa pun.
"Bagaimana ini, Mah? Aunty bahkan belum makan apa pun sejak pagi."
Arend cemas. Zico berusaha membujuk aunty nya untuk mau memakan sesuatu.
__ADS_1
Tapi Ineke menolak. Kondisinya terlihat buruk.
"Aku akan menghubungi Cen, Mah. Tuan Rain harus di beri tahu."
"Arend?"
Ayla merasa kurang setuju. Arend menggeleng. Ia mengulurkan tangan meminta ponsel Ayla.
"Kondisi Aunty sangat buruk, Mah. Kita tidak bisa membiarkan Aunty seperti itu terus menerus dan kita hanya diam saja?"
Arend meraih ponsel yang di keluarkan Ayla dari saku dress muslimnya.
Arend beranjak. Ia akan menghubungi Cen di luar. Takut jika Ineke sampai mendengar dan mengetahuinya.
Arend di temani Zico duduk di tangga teras depan rumah. Ayla menemani Ineke yang terbaring lemah di kamar.
Saat Arend menggeser layar benda pipih yang menyala itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah datang, Memasuki halaman depan rumahnya.
Arend menghentikan aktifitasnya memainkan ponsel. Ia dan Zico fokus ke arah mobil yang baru datang.
"Cen?"
"Cen?"
Arend dan Zico berseru bersamaan. Arend bahkan langsung berdiri dan berlari menghampiri Cen.
"Syukur lah Kau datang, Cen. Aku baru saja akan menghubungimu."
Suara Arend terdengar antusias dan bahagia.
"Perintah? Apa?"
Zico bertanya tak sabar.
Ada sebuah berkas di tangan Cen. Arend meliriknya. Hatinya tak tenang.
"Apa aku bisa bertemu dengan Nona Ineke?"
Zico menatap Arend yang raut mukanya sudah berubah.
"Dia di dalam."
Arend membuka jalan untuk Cen. Dalam hatinya Arend sudah merasakan hal yang tidak baik.
' Jangan lakukan itu, atau semuanya akan benar-benar hancur.'
"Duduklah, aku akan membangunkan Mamah terlebih dulu."
Cen duduk di kursi kayu yang terdapat di ruang tamu. Zico menemaninya. Arend melangkah masuk rumah dengan perasaan gamang. Ia telah sampai di depan pintu kamar Ayla sekarang.
'*Bismillah, Tuhan, Kau lah yang mengatur segalanya di dunia. Tak ada satupun takdir mu yang tidak baik untuk makhluk yang engkau ciptakan.'
"Tok tok tok*,,,,"
Arend mengetuk pintu, tak berapa lama Ayla keluar dengan masih mengenakan mukena. Ia baru selesai shalat isya'.
__ADS_1
"Ada apa, Arend?"
"Apa aunty sudah tidur?"
Ineke menyusul. Ia juga sama halnya dengan Ayla. Masih mengenakan mukena putih, Mereka habis berjama'ah.
"Ada apa, sayang?"
"Aunty?"
Arend merasa gugup ingin mengatakannya. Takut jika aunty nya akan marah. Arend menarik nafas dalam, Ia dengan sangat pelan dan lembut mulai mengatakan pada Aunty nya jika Cen datang.
Ineke membulatkan mata. Ia sampai menutup mulut. Matanya berkaca-kaca. Dalam pikirnya kini jika Rain telah datang menemuinya. Ia tidak berpikir normal.
Ineke berlari keluar, dengan tubuh yang bergetar hebat karna kondisi tubuhnya yang lemah. Air matanya sudah menetes lewat sudut sudut cantik itu.
"Rain?"
Panggil Ineke pada satu nama yang sangat di rindukannya. Ia terhenti di ruang tamu tatkala mendapati Cen yang tengah duduk di sana di temani Zico.
Arend dan Ayla mengikuti cepat.
Ineke celingukan. Ia bahkan menuju pintu dan mencondongkan tubuhnya keluar rumah. Mungkin saja sosok yang di carinya masih berada di luar.
"Selamat malam, Ke."
Ineke menoleh ke arah Cen yang berdiri dengan tangannya menggenggam sebuah Map coklat.
"Rain?"
Suara Ineke terdengar bergetar menyiksa telinga saat menanyakan suaminya.
"Saya hanya datang sendiri, Ke. Tidak ada Tuan Rain."
Jawaban Cen membuat Ineke tumbang. Hilang sudah kekuatannya yang dipaksakan sejak tadi. Tubuhnya sempoyongan Menabrak pintu. Arend dan Cen dengan sigap menangkap tubuh Ineke yang lemah.
"Ineke?"
"Aunty?"
Arend dan Cen mendudukkan Tubuh Ineke di salah satu kursi. Ia masih sadar, tapi kehilangan daya tahan tubuhnya. Sehingga tak mampu menopang berat badannya sendiri.
"Kau kenapa, Ke? Kau terlihat sangat pucat, apa kau sakit?"
Cen bertanya cemas melihat kondisi Ineke. Kulitnya putih pucat, wajahnya apa lagi. Matanya jelas terlihat jika ia kurang atau bahkan tidak tidur. Dan badan Ineke juga lebih kurus.
'Oh, apakah cinta bisa se menyakitkan dan SE menyiksa itu? Kalau begitu, membawa wanita keatas ranjang untuk sekali permainan akan lebih baik.' Batin Cen.
"Apa tujuan mu datang kemari, Cen?"
Ineke bertanya dengan suara parau.
Ayla, Zico dan Arend semuanya memperhatikan Cen dalam.
Cen melihat ke arah Arend. Sepertinya Arend sudah bisa menebak apa yang akan di sampaikan Cen. Arend menggelengkan kepala pelan. Seakan mengisyaratkan pada Cen.
__ADS_1
...'Please.! Don't do that, Cen.!'...