Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
TANTANGAN AREND UNTUK ARYAN


__ADS_3

Ineke melakukan perjalanan ke desa dengan Dion. Ayla sibuk berbicara lewat ponsel menerima panggilan para tetangga di desa yang bergantian menghubunginya, termasuk istri pak Kiyai Umar, Ibu Maryam. Juga ibu-ibu yang anak-anaknya belajar les bahasa Inggris di tempat Ayla.


Para tetangga di desa menanyakan kabar Arend yang sempat tersesat di gunung, kabar yang mereka terima adalah Arend yang mengalami cidera, Ayla meluruskan kabar-kabar yang beredar.


Ayla juga meminta maaf pada ibu-ibu dan anak-anak karna dalam waktu yang mungkin cukup lama tidak bisa mengajari les bahasa Inggris untuk anak-anak. Dan mereka memahami itu.


Aryan tidak ke kantor hari ini. Ia ingin berada di samping orang-orang yang di cintai nya untuk beberapa waktu, ini adalah hal yang lama sudah di nantikan. Bahagia bersama keluarga.


Aryan juga masih ada satu misi lagi, yakni meyakinkan Arend dan Ayla untuk tinggal menetap di rumahnya, Aryan ingin agar Arend dan Zico melanjutkan pendidikannya di sekolah internasional di kota ini.


...****************...


Aryan, Ayla, Arend dan Zico tengah berada di kamar Zico saat ini. Aryan sedang mengajari Zico bermain laptop, mereka duduk di tengah ranjang.


Ayla masih sibuk bertelepon, Arend memainkan gitar yang ada di sana.


Setelah Ayla selesai dengan ponselnya, ia mendekati Arend.


..."Nada nya yang benar bukan begitu sayang!"...


Arend mengerutkan kening.


..."Mama bisa main gitar?"...


Zico berseru dengan antusias. Ia memang belum mengetahui bakat Ayla yang satu ini, pandai bernyanyi dan bermain gitar.


Aryan ikut melihat ke arah Ayla yang kini duduk di samping Arend di atas sofa. Arend memberikan gitar itu pada Ayla.


..."Tunjukkan!"...


Arend menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, (gayanya sangat mirip dengan Aryan).


Ayla mulai memetik senar gitar itu sambil menyanyikan lagu yang coba di mainkan Arend tadi.


Zico sangat senang melihatnya. Begitu pula Aryan yang sangat terpesona dengan istrinya yang kini belum bisa ia taklukkan sebagai Partner Ranjangnya.


Setelah Ayla menyelesaikan lagunya. Zico dan Aryan memberikan tepuk tangan meriah mereka. Arend hanya tersenyum ke arah ayla dengan tatapan yang bisa bikin meleleh. (Cetakan kulkas bisa senyum juga).


..."Ayla, Bagaimana dengan sekolah anak-anak?"...


Aryan membuka obrolan yang tiba-tiba topiknya mengarah ke pendidikan Arend dan Zico.


..."Kita kan sudah mendaftar sekolah di desa pah.?."...


..."Iya Zico, tapi pembelajaran sudah di mulai, dan, jika kembali ke desa menunggu kakimu sembuh, kalian akan ketinggalan pelajaran terlalu lama kan?"...


..."Iya benar."...


..."Bagaimana kalau kalian papah daftarkan di sekolah sini? Dan meskipun kaki mu masih di gips. kamu bisa mengikuti pelajaran privat di rumah dulu Zico? Bagaimana Ayla? Anak-anak?"...

__ADS_1


Ayla terlihat berfikir. Sedangkan Zico hanya terdiam.


..."Itu bukan rencana awal kita."...


Arend mengatakannya sambil berdiri. Sebenarnya Arend sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres sejak Dion mengatakan bahwa Zico tidak bisa kembali ke desa hingga kakinya sembuh total di rumah sakit waktu itu.


..." Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakanlah dengan terbuka, kau pikir aku ini bodoh? Yang akan terus mengikuti alur permainanmu?"...


..."Arend.! Yang sopan kalau bicara sama Papah!"...


Ayla mencoba menasehati, ia menaruh gitar dan berdiri menyebelahi Arend. Arend hanya memberikan tatapan yang membuat Ayla merinding.


..."Maksud mama, sopanlah ketika berbicara pada yang lebih tua."...


Ayla melembutkan suaranya.


Aryan ikut bangkit dari duduknya. Ia turun dari ranjang. Berjalan ke arah Arend.


..."Apa yang harus papah lakukan? Agar kamu bisa memaafkan papah?"...


Arend memalingkan pandangannya.


..."Arend, kau membuatku takut."...


Arend melihat ke arah Zico yang kini matanya mulai berkaca-kaca.


Kini Arend berpindah menatap Aryan seakan ingin menghabisinya.


..."Apa maksudmu?"...


..."Seorang lelaki sejati akan mengatakan secara terus terang apa yang di inginkan dari wanitanya."...


Ayla, Aryan dan Zico terlihat bingung dengan apa yang di katakan Arend.


..."Uufffhh!"...


Arend mengusap wajahnya kasar.


..."Jika kau ingin mama tetap tinggal di rumah mu ini, kau seharusnya mengatakan itu secara terus terang dan jelas. Ungkapkan semua itu dengan ketulusan dan kejujuran!. Ini kesempatanmu, jika mama bersedia untuk tinggal disini, maka aku akan membiarkan mama tinggal disini."...


..."Membiarkan mama tinggal disini? Maksudmu, kamu? Mama mu tidak akan setuju dia tinggal di rumah ini jika kau pergi dari sini Arend."...


..."Itu urusan yang berbeda, Tuan Aryan."...


Hati Aryan serasa terbakar ketika putranya sendiri darah dagingnya memanggil nya dengan sebutan Tuan Aryan.


..."Selesaikan dulu urusanmu yang pertama. Ini adalah kesempatan terakhirmu. Tapi, jika mama menolak, detik ini juga aku akan membawa mama pulang ke desa.!"...


..."Arend?"...

__ADS_1


Zico sudah menangis di atas ranjang, dalam hatinya saat ini, Zico benar-benar merasa takut.


Ayla juga menangis melihat putra dan pria yang di cintai nya berdebat hebat. Ia juga sedih melihat Zico yang menangis tidak berdaya. Ayla pun angkat bicara.


..."Mama tidak mungkin bisa tinggal di rumah ini tanpa dirimu sayang."...


Ayla mencoba melunakkan hati Arend. Ia membelai lembut wajah Arend, air matanya terus lolos tanpa di bimbing.


..."Apa mama ingin tinggal disini jika Arend juga disini?"...


Ayla menatap manik Arend. Ia lalu menunduk, dan mengangguk.


Arend dengan cepat memalingkan wajahnya. Tapi ada kelegaan disana. Paling tidak ia tahu jika mamanya memang benar masih mencintai pria di hadapannya.


..."Kita keluar!"...


Arend berbicara dengan nada yang sangat tegas ke arah Aryan. Aryan mengikutinya, sebelumnya Aryan menggendong Zico.


Arend berada di halaman belakang yang terdapat rumput hias. Aryan mendudukkan Zico di kursi rodanya.


Bu Nana, dan beberapa assistant lain juga berada di sana.


..."Nyonya, ada apa ini Nyonya?"...


Ayla hanya menggeleng.


Saat ini ekspresi wajah Arend benar-benar dalam mode emosi. Ia berdiri dengan gagah di atas rerumputan. meski usianya baru menginjak remaja, tapi Arend tumbuh lebih cepat dari teman sebayanya. Meski tak setinggi dan sebesar badan Aryan.


..."Jika kau bisa mengalahkan ku dalam 10 menit, aku akan tinggal di rumah ini, aku akan bersekolah di tempat kau menginginkannya. Dan aku? Aku akan memanggilmu Papah."...


Kebahagiaan dan kesedihan datang beriringan. Ada harapan Arend menerima Aryan sebagai Ayahnya dan bersedia tinggal bersama.


Tapi juga kesedihan yang menyelimuti, bagaimana Aryan bisa berduel dengan putranya sendiri? bagaimana Aryan akan mampu melukai anaknya sendiri? Darah dagingnya?


..."Arend?!"...


Ayla berlari ke arah putra nya, kini Ayla benar-benar telah tumpah dalam tangisnya. ia mencengkram kerah baju anaknya. Lalu memeluknya.


..."Arend jangan lakukan ini sayang? Mama mohon!"...


..."Kalau begitu, ayo kita pulang ke desa sekarang ma!"...


Ayla melepas pelukannya, melihat ke arah putranya yang kini setinggi dirinya.


..."Menyingkirlah ma. Ini kesempatan terakhir baginya. Untuk menunjukkan apakah dia memang pantas untuk menjadi keluarga kita. Apakah dia pantas untuk menjaga kita. Biarkan dia membuktikannya."...


Arend menuntun Ayla kembali ke sisi Zico. Ia kini membuka kemejanya, meninggalkan kaos dalam berupa singlet berwarna putih, menunjukkan otot-otot lengannya yang masih kecil. Dan dada yang mulai terbentuk bidang.


Sorot matanya yang tajam tidak lepas dari Aryan, Ayah kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2