
..."Kau akan mematahkan leher istrimu, Tuan Rain.!"...
Aryan yang sampai disana membuka suara. Bianca mendelik melihat orang yang di taksirnya berdiri hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Rain baru menyadari jika yang berada di bawah cengkeramannya saat ini adala istrinya, Ineke. Rain melepas tangannya, Ineke menarik nafas lega. Lalu ia bergegas berdiri dari pangkuan Rain.
Ineke menoleh ke arah Rain yang juga melihat dirinya dengan tatapan, panik, bersalah. Dan, mungkin takut.
..."Kau mau membunuhku?"...
Rain membulatkan mata mendengar pertanyaan Ineke.
Aryan meminta Ayla untuk meninggalkan mereka. Ia mengangguk dan masuk kamar. Aryan kembali ke kamar mandi.
..."Aku hanya ingin menyelimutimu. Tahu begini ku biarkan saja kau mati kedinginan."...
Ineke berteriak penuh emosi. Rain menggeleng seperti anak kecil yang tengah di marahi ibu nya.
Ineke melihat jam di dinding sudah jam 5 lebih. Waktu subuh akan segera berlalu. Ia pergi meninggalkan Rain yang tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan.
Ineke ke Padasan (Sebuah tempat seperti kendi besar "Genuk" yang terdapat lubang) untuk wudhu. Dan segera menunaikan shalat di kamar bergantian dengan Ayla.
Bian kembali dan Bianca kembali ke alam masing-masing.
Aryan kembali masuk setelah menyelesaikan ritual mandinya. Ayla memberinya sarung, Bako koko dan sajadah. Aryan menunaikan shalat subuh.
Rain melihatnya lekat. Perasaannya tiba-yiba tidak enak.
'Kenapa Ineke tidak melakukan hal yang sama padaku seperti yang Ayla lakukan pada Aryan?'
Ayla dan Ineke menuju dapur. Mereka harus segera menyiapkan makanan. Akak pagi-pagi sekali sudah membawakan bahan-bahan dari pasar. seperti yang di minta Ayla. Bahkan Akak juga ikut membantu.
Rain beranjak menemui Ineke yang berada di dapur.
..."Aku mau shalat."...
Ucap Rain cepat dengan suara ragu. Ayla, Ineke dan bahkan Akak pun ikut menoleh ke arahnya. Ineke dan Ayla saling memandang. Lalu Ayla tersenyum lalu menggerakkan kepalanya sekali seakan memberi intruksi pada ineke. 'Ayolah'.
Dengan kesal Ineke menaruh kembali pisau yang di pegangnya di atas meja. Terlihat jelas dari ekspresinya ia sedang kesal.
__ADS_1
Ineke mengambilkan sarung, baju Koko (Milik Aryan). Lalu menunjukkan Rain kamar mandi, setelah itu tempat wudlu.
Ineke hendak melangkah pergi saat Rain sudah akan berwudhu setelah mandi. Tapi ia terhenti, Rain memintanya untuk menemaninya, dan melihat cara wudhunya sudah benar atau belum.
Ineke menghela nafas kasar. Bahkan matahari sudah nampak. waktu subuh sudah habis. Tapi dia pasrah.
..."Besok lagi kalau mau shalat subuh jangan kesiangan."...
Mereka melangkah masuk rumah bersamaan.
...****************...
Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Melakukan sarapan pagi bersama. Bersilaturahim ke rumah Pak Kiyai Umar yang jaraknya sangat dekat. Lantas melanjutkan aktifitas mereka menuju Tempat Pemakaman Umum yang agak jauh. Tapi cukup dengan berjalan kaki yang mungkin memakan waktu 15/20 menit untuk sampai.
Matahari lumayan terik. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Rombongan Ayla menarik perhatian warga. Apalagi mereka yang di kawal oleh beberapa Bodyguard.
Hampir sepanjang jalan semua orang yang berpapasan atau bahkan melihat mereka dari kejauhan menyapa.
'*N*ing Ayla dan Ning Ineke apa kabar?'
'*Arend kok tambah ganteng aja.'
'Kapan datang*?'. Dan pertanyaan-pertanyaan lainya.
Bu Maryam adalah istri pertama Pak Kiyai Umar yang tak bisa memberikan keturunan. Orangnya baik dan tulus. Bahkan ia juga selalu bersikap baik pada madunya yang begitu jarang menampakkan diri keluar rumah.
Dan kini beliau telah berpulang di usianya yang tak lagi muda. Semoga tenang di alam sana.
Setelah selesai. Ayla dan Rombongan kembali pulang.
Ayla dan Ineke berjalan bergandengan tangan. Mereka ngobrol dan bercanda banyak hal sepanjang jalan. Keceriaan lama itu nampak kembali hadir menghiasai wajah mereka.
Arend dan Zico juga sudah berbaikan. Hanya Ayla yang masih belum berbicara pada Arend.
Bian berjalan sendirian di belakang Rain dan Aryan yang beriringan. Karna Bianca selalu mencoba untuk dekat dengan Aryan. Namun Aryan tidak bodoh. Sejak Bianca memeluknya di Motor Boat waktu itu. Aryan mencoba menjaga jarak. Malas rasanya berurusan dengan wanita yang menggatal. (Kasihan. Percuma dong ikutan. Gak ada kesempatan.)
..."Aaaahh."...
Aryan menyandarkan tubuhnya di sofa panjang. Ayla mengambilkan air minum untuk suaminya.
__ADS_1
Rain duduk bersama Bian di anak tangga depan rumah, menghadap halaman yang berumput. Sedangkan Bianca kembali ke kamar. Ia merasa kesal dan lelah karna Aryan yang sulit di dekati.
..."Ambilin minum gih."...
Ayla meminta Ineke untuk melayani suaminya.
..."Nggak ah Ay. Entar kalo haus juga biar ngambil sendiri."...
Ayla merasa bingung dengan sikap sahabatnya. 'Ada apa? Apa mereka perang dingin.?'
Arend terus berusaha meminta maaf pada Ayla. Untunglah ada Ineke. Dengan jurus kecerewetannya Ineke membela habis-habisan memaksa Ayla untuk segera memaafkan kesalahan keponakannya apapun itu.
..."Kamu tidak tahu, Ke. Apa yang sudah di lakukan Arend?"...
..."Ok, nanti aku akan tanya sendiri sama dia. Tapi yang terpenting sekarang kamu maafin dia. Kalau nggak. Kita juga akan musuhan!"....
..."Ineke.?"...
..."Ayla.?"...
Mereka berdua bersitegang. Sama-sama mau menang. Bianca merasa sangat kesal mendengarnya dari kamar. Ia akan meminta Rain untuk kembali saja. Percuma mengekor sama orang yang udah gak mempan di goda.
Ayla akhirnya mengangguk. Meski bibirnya masih cemberut. Tapi itu terlihat sangat lucu. Aryan yang melihatnya saja merasa sangat gemas. Rasanya ingin segera menyeretnya kedalam kamar.
Arend tersenyum senang dan memeluk mamahnya dengan manja. Bahkan ia mencium pipi Ayla membuat Ayla membulatkan mata saking kagetnya. Anak yang tak pernah mau untuk di cium dengan nakalnya mencium pipi sang mama tiba-tiba.
Bianca menyatakan keinginannya pada Rain untuk kembali. Ia bilang jika ada urusan yang mendadak. Rain mengizinkan. Dan Bian pun di perintahkan Rain untuk menemani Bianca. Lega sudah rasanya rumah sederhana ini dengan kepergian para nyamuk itu.
...****************...
Pukul 3 sore. Ayla dan Aryan membantu di rumah Pak Kiyai Umar, menyiapkan masakan untuk pengajian atau Aryan yang sekedar ngobrol bersama Pak Kiyai Umar.
Pak Kiyai Umar menanyakan kabar Dion. Yang membuat Aryan kembali merasakan kesedihan.
..."Jangan di sesali. Semua yang hidup akan mati. Tidak apa-apa jika menangis. Tapi jangan di sesali. Itu justru adalah tujuan utama dari perjalanan hidup. Yaitu kembali padanya. Maka selagi kita masih di beri kesempatan. Perbanyak beribadah kepada yang maha kuasa."...
Pak Kiyai Umar memberi nasehat-nasehat pada Aryan.
Arend dan Zico membantu Ineke memangkas rumput halaman. Akak kembali datang membawa bahan masakan. Toko di tutup lebih awal. Rain hanya memperhatikan aktifitas mereka dari anak tangga depan rumah. Ingin rasanya ia menarik Ineke saat ini juga dan memperbaiki semuanya. Tapi ia merasa kaku dan bingung bagaimana memulainya.
__ADS_1
...'Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus cari cara. Haruskah aku menculikmu dulu, Ke?'...
...****************...