
Fira keluar dari rumah dengan mata yang sembab, dia mencari El yang tidak ada di dalam rumah. Wanita yang memakai dress biru muda polos itu berjalan menuju taman , karna El selalu berada di sana.
Brakk
Seorang pria dengan memakai baju hitam dan masker hitam menabrak Fira karna berjalan terburu-buru. Wanita itu mengusap dahinya yang menabrak dada bidang pria tersebut. Fira mendongakkan kepalanya , matanya menatap mata pria tersebut ,yang begitu familiar baginya tapi sayang Fira tidak bisa melihat wajah pria tersebut karna tertutup masker. Bahkan tangan pria itu terangkat mengusap sisa air mata yang membasahi wajah Fira.
"Jangan kurang ajar! " ketus Fira menepis kasar tangan pria asing yang tidak dia kenal. Sedangkan pria itu tersenyum dari balik maskernya melihat Fira yang begitu galak padanya.
Fira langsung pergi dari hadapan pria asing itu dengan hati dongkol dan juga kesal. Berani sekali pria tersebut menyentuh dirinya tanpa seizin nya kalau bukan kurang ajar namanya. Langkah kakinya terhenti, dia merasa tidak asing dari prawakan tubuh dan tatapan mata pria itu. Fira berbalik kebelakang melihat pria tersebut masih berdiri di tempat itu dan memperhatikan dirinya . Bahkan dia bisa melihat pria itu tersenyum dari balik maskernya karna matanya yang menyipit dan adanya kerutan di samping matanya.
"Kenapa aku melihat pria itu seperti Dafa ?Tapi kalau dia sudah pulang dari Amerika pasti dia sudah menemui kami berdua " gumam Fira memperhatikan pria tersebut yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku lupa, aku harus cari El" ujar Fira berbalik kearah yang dia tuju dan berjalan meninggalkan pria tersebut.
"Kau masih sama seperti dulu, Fira " gumam pria tersebut , setelah mengucapkan itu dia pergi dari taman itu.
Fira berjalan mendekati El yang duduk di bangku taman , mata anak itu fokus pada sesuatu. Fira mengikuti arahan mata El yang menatap seorang anak kecil yang dan perkiraan Fira seusia seperti putranya ,bermain bola dengan ayah dan ibunya. Hatinya merasa sakit melihat itu , apalagi Elang meneteskan air matanya.
"El,lagi apa disini? " tanya Fira berjalan mendekati putranya dan duduk di bangku di sebelah El. Anak kecil itu menoleh menatap Fira dengan mata yang berair.
"Bunda, El kapan kaya gitu bisa ketemu ayah dan main sama ayah " ujar Elang dengan air mata perlahan meleleh membasahi wajahnya. Tangan Fira terangkat dan mengusap surai rambut putranya lembut .
"Ayah lagi kerja sayang, pasti nanti bakal pulang kalau sudah selesai kerjanya dan El bisa main setiap hari dengan ayah " ujar Fira sedangkan hatinya menangis melihat anaknya yang sangat membutuhkan sosok Dafa, tapi dia harus kuat dan jangan menangis di depan El ,dia tidak boleh memperlihatkan kerapuhannya di hadapan anaknya.
"Kapan? Kapan El halus tunggu ayah telus,apa om Ifan benal kalau ayah udah mati " ucap El dengan melengkung bibirnya ke bawah. Fira menggelengkan kepala dengan air mata yang sudah tumpah.
"Enggak, om Irfan bohong, ayah masih hidup sayang, sabar ya El ,ayah pasti pulang dan temui kita berdua " ujar Fira mengusap air mata yang membasahi pipi anaknya.
"Unda bohong! Dali dulu unda selalu bilang ayah bakal pulang tapi ndak pulang-pulang . Kenapa unda ndak pelnah telpon ayah , kenapa unda?Ayah jahat ninggalin kita? " ujar El berlari meninggalkan Fira yang berteriak memanggilnya.
__ADS_1
******
Irfan dan kedua orang tuanya turun dari mobil sedan berwarna hitam yang berhenti di depan rumah Fira . Dia berniat melamar Fira walau sudah beberapa kali Fira menolak tapi dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan wanita itu.Irfan sengaja membawa kedua orang tuanya untuk meminang Fira menjadi istrinya.
"Apa kamu yakin dia bakal menerima lamaran kamu ,Irfan" tanya Adi yang merupakan ayah dari Irfan . Adi nampak tak yakin dengan ide anaknya ini, karna dia sudah beberapa kali melihat Fira selalu menolak cinta dan lamaran putra satu-satunya itu di rumah mereka saat Fira masih bekerja di rumah Irfan untuk menjaga Naya.
"Iya dad, aku yakin pasti kali ini dia akan menerima lamaran aku, bila kedua orang tuanya setuju maka Fira tidak akan bisa lagi menolak lamaran aku " ujar Irfan dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Mommy yakin Fira pasti nerima lamaran kamu, tinggal kita sebutkan uang mahar yang akan kita berikan pada kedua orang tuanya, Fira. Apalagi kabar bahwa perusahaan milik ayah Fira mau bangkrut, pasti orang tuanya sangat membutuhkan dana untuk perusahaannya agar tidak sampai bangkrut" ujar Emma yang mendukung penuh ke inginan Irfan untuk memperistri Fira.
Mereka bertiga berjalan menuju teras rumah dan mengetuk pintu beberapa kali. Arum membuka pintu dan menatap salah satu seseorang yang tidak asing baginya.
*****
Adi, Emma dan Irfan duduk di sofa ruang tamu setelah di perbolehkan masuk. Arya berjalan kearah sofa dan duduk di sebelah istrinya setelah bersalaman dengan kedua orang tua Irfan.
" Maaf,ada perlu apa kalian datang kesini ? "tanya Arya menatap ketiga orang itu.
" Maaf, saya tidak bisa menerima lamaran kamu karna..... Fira sudah saya jodohkan dengan pria lain "ujar Arya dengan tegas. Senyuman Irfan seketika memudar dan wajah pria itu langsung berubah muram dengan sorot mata yang sangat kecewa . Kedua orang tua Irfan juga terkejut mendapatkan penolakan dari Arya.
" Berapa pria itu membeli anak kamu sampai menolak lamaran anak saya?! "bentak Emma berdiri dari tempat duduknya karna tidak terima atas penolakan dari Arya. Adi menarik tangan istrinya agar duduk kembali, sedangkan Irfan menundukkan kepalanya dengan mata yang memerah dan berair.
" Jaga ucapan anda!Anak saya bukan barang, kalian fikir bila menukar dengan uang kami akan menerima lamaran anak kamu! Itu semua salah, dan ini sama saja kalian merendahkan Fira dan juga kami! "balas Arum tak terima dengan ucapan Emma.
" Cih, aku juga tidak sudi mempunyai menantu bekas di gauli pria lain ,kalau bukan permintaan anakku ,Irfan untuk menjadikan Fira istrinya ! Bahkan aku bisa menemukan wanita seperti putrimu itu di club malam, bukannya Fira sama seperti wanita club itu, yaitu be-kas"cibir Emma dengan pedas dan tatapan sinis kearah Arum.
"Mommy!! Jangan samakan Fira dengan wanita bekas! Dia hamil juga gara-gara Dafa!! " ujar Irfan dengan volume suara yang meninggi. Emma menatap tak percaya pada Irfan yang berani meninggikan suara pada dirinya hanya membela wanita itu.
"Cukup!! " ujar Arya dengan suara yang keras.
__ADS_1
"Sekarang kalian boleh pergi dari rumah saya , sebelum saya memanggil satpam untuk mengusir kalian secara paksa keluar dari rumah ini " ujar Arya tanpa menatap ketiga orang itu.
"Siapa juga mau berlama-lama di rumah yang sebentar lagi bakal di sita bank " ujar Emma dengan tersenyum mengejek. Arum menatap nyalang pada Emma.
"Sudah sayang , jangan bicara seperti itu, ayo kita pulang " ujar Adi menarik tangan istrinya.
"Iya ayo kita pulang, buat apa berlama-lama disini, dan aku pastikan suatu hari nanti kalian akan menyesal karna telah menolak lamaran anak aku " ujar Emma. Wanita paruh baya itu menarik tangan Irfan tapi pria itu tak mau pergi dari rumah Arya.
"Ayo Irfan kita pulang, kamu bisa mencari wanita yang lebih cantik untuk menjadi istri kamu dan tentunya masih perawan" sindir Emma .
"Kau... " belum sempat Arum membalas ucapan Emma, Arya menampilkan telapak tangannya agar istrinya tidak membalas ucapan Emma yang akan semakin memancing emosi mereka berdua.
"Siapa pria yang telah melamar Fira? Apa dia Dafa? " tanya Irfan dengan volume suara pelan .
"Kau tidak perlu tau siapa dia? Karna saya yakin dia pria yang tepat untuk putri saya " ujar Arya. Irfan menengadahkan kepalanya ke atas menghalau air mata yang akan jatuh.
Dunianya seakan hancur, hatinya remuk seakan tidak berbentuk lagi. Tidak bisa di ucapan kata-kata lagi sehancur apa Irfan sekarang,yang pasti wanita yang di perjuangkannya selama empat tahun itu,kini akan bersanding di pelaminan dengan pria lain, bukan dengan dirinya. Sangat malang nasib percintaannya, baru merasakan cinta tapi takdir seakan tidak merestui dirinya.
*******
Irfan hendak masuk ke mobilnya tapi saat melihat Fira yang berjalan mendekat , dia urungkan masuk ke mobil. Pria itu langsung mendekati Fira yang hendak masuk ke rumah.
"Fira" panggil Irfan. Wanita itu menoleh kebelakang, dia menatap Irfan yang mendekat kearahnya.Tanpa aba-aba pria itu memeluk Fira dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Fira . Wanita berusaha mendorong Irfan yang memeluk dirinya dengan erat.
"Lepasin, unda aku , om Ifan ndak boleh peluk unda aku " El mendorong kaki Irfan agar melepas pelukannya pada Fira tapi dorongan tangan mungil El tidak membuat pria itu melepaskan pelukannya.
"Aku mencintai kamu Fira, tidak bisa kah kamu menerima aku dan lupakan Dafa. Aku sangat mencintai kamu " Lirih Irfan makin mengeratkan pelukannya. Fira bisa merasakan air mata Irfan yang membasahi lehernya.
Emma menarik tangan Irfan dengan paksa membuat pria itu melepaskan pelukannya pada Fira. Wanita paruh baya itu menatap sinis pada Fira dan membawa masuk Irfan ke dalam mobil.Sedangkan Fira menatap sendu mobil yang berjalan meninggalkan depan rumahnya.
__ADS_1
Bersambung....