Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Terpengaruh


__ADS_3

Semua tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia di sana. Dafa dan Fira duduk di pelaminan sambil memperhatikan para tamu yang sibuk mengambil makanan dan juga ada yang sibuk mencari tempat duduknya karna sudah di penuh para undangan yang lain.


"Kamu lapar? " tanya Dafa menatap Fira.


"Iya, aku laper tapi... boleh kita makan? "tanya Fira dengan polosnya. Dafa terkekeh mendengar pertanyaan Fira yang menurutnya sangat lucu .


" Tentu, aku yang membayar semua dekorasi pesta sampai ketring makanan, masa kamu istri aku tidak boleh makan "ujar Dafa yang tersenyum lebar. Fira menundukkan kepalanya persekian detik dan tersenyum melihat suaminya yang mulai menunjukkan sikapnya yang dulu saat awal mereka pacaran.


" Kamu mau makan apa? "tanya Dafa.


" Terserah aja, yang penting kenyang "jawab Fira.


" Tunggu sebentar ya "ujar Dafa bangkit dari tempat duduknya dan meninggal Fira untuk mengambil makanan untuk istrinya tersebut.


" Mau kemana kamu? "tanya Keysa menahan lengan Meisya yang hendak mendatangi Fira di pelaminan. Keysa hanya takut anaknya berbuat ulah lagi.


" Apaan sih bunda! Aku cuma ngucapin selamat buat Fira bukan mencari keributan "ujar Meisya melepaskan cekalan tangan bundanya dan meninggalkan wanita paruh baya itu yang menghela napas melihat tingkah Meisya.


Meisya berjalan menaiki tiga tangga menuju pelaminan tempat Fira yang tengah duduk di sofa berwarna putih.Gadis itu berdecih menatap Fira remeh yang menurutnya terlihat biasa saja tidak seperti dirinya yang terlihat cantik dengan balutan gaun yang memperlihatkan lengkuk tubuh indahnya.Meisya juga tidak memakai hijab lagi, dia memakai hijab hanya untuk menarik perhatian Dafa agar terkesan terlihat seperti wanita baik-baik saja dan menutupi kebusukannya tapi itu sia-sia akhinya ketahuan juga .


" Ekmm"dehem Meisya membuat Fira yang tengah menatap sekitar menoleh menatap seorang gadis yang telah membuat dia menderita dan membuat Dafa tidak mempercayainya.

__ADS_1


"Wow sekarang sudah sah jadi istri dari bapak Dafa Vincent Ardiansyah ya " ujar Meisya dengan senyuman miringnya. Fira menatap tak suka pada Meisya seakan gadis yang ada di depannya ini tengah mengejeknya.


"Buat apa kamu kesini? Bukannya kamu tidak di undang ke pernikahan aku? " tanya Fira dengan ketus, dia jadi mengingat kebaikan Meisya yang hanya untuk menutupi kebusukannya.


"Tapi Dafa yang mengundang aku kesini , ops keceplosan" ujar Meisya pura-pura menutup mulutnya seakan dia benar-benar tidak sengaja mengucapkan itu. Fira tertegun mendengar ucapan Meisya, dalam pikirannya saat ini kenapa Dafa mengundang Meisya yang nyata-nyata sudah membuat dia di usir, difitnah dan di cibir orang lain karna ulah gadis di depannya ini. Meisya menatap kearah Dafa yang akan berjalan kearah sini.


"Kamu benar-benar yakin Dafa mencintai kamu atau dia hanya kasihan dan terpaksa menikahi kamu.Aku tau Dafa mulai mendekati kamu lagi setelah tau Elang itu anaknya dan fixs dia menikahi kamu karna Elang bukan karna cinta " ujar Meisya dengan senyuman yang seakan puas melihat raut wajah Fira yang mulai berubah setelah mendengar ucapannya.


"Selamat ya atas pernikahannya " ujar Meisya menyalami Fira yang masih diam mematung . Dafa menatap Meisya dengan tatapan menyelidiki ketika gadis tiba-tiba langsung pergi setelah dirinya mendekat.


"Fira " panggil Dafa membuat wanita itu tersadar dengan pemikirannya yang entah kemana.


"I-iya ada apa? " tanya Fira menatap Dafa yang membawa makanan dan minuman untuk dirinya.


"Tidak pa-pa, Elang mana? " tanya Fira mengalihkan pembicaraan karna Dafa menatap dirinya dengan tatapan menelisik .


"Lagi main sama anak Devia " jawab Dafa. Fira hanya mengangguk -anggukan kepalanya.


******


Semua tamu undangan menatap keluar pintu gedung yang terdengar keributan termasuk Azka yang memiliki rasa penasaran yang tinggi. Pria itu berjalan menuju pintu keluar gedung, netra hitamnya menatap gadis yang membelakangi dirinya di tarik paksa oleh security yang membawa gadis tersebut keluar luar gerbang gedung tersebut karna tidak membawa undangan sebagai bukti bahwa di undangan dalam pesta pernikahan ini.

__ADS_1


"Tunggu!! " teriak Azka pada security tersebut membuat dua pria itu menoleh menatap Azka yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ara langsung melepaskan cekalan tangan dua security itu dan berlari ke arah Azka dan langsung menubruk tubuh besar pria tersebut dan memeluknya erat.


Suara isakan tangisan terdengar jelas dari indra pendengaran Azka. Dia melepaskan pelukan Ara dan menatap wajah kekasihnya yang tidak bisa di katakan baik-baik saja. Bibir Ara mengeluarkan darah segar dan tatapan gadis itu terlihat syok dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan cepolan rambut yang tertata rapi kini berantakan .Mata Azka menatap kebaya Ara yang terdapat noda darah bahkan tangan Ara juga terdapat darah yang sudah mengering.


"Ara kamu kenapa? " tanya Azka menatap kekasihnya.


"A-aku hampir di perkosa kak Irfan hiks.... aku takut " adu Ara kembali memeluk Azka . Tubuh pria itu membeku dan tangannya terkepal kuat dengan urat leher yang tercetak jelas menandakan pria itu sedang menahan emosinya.


"Sekarang dia di mana Ara? Bagian mana saja dia menyentuh kamu? " tanya Azka memegangi kedua bahu Ara . Nampak jelas sorot mata pria itu yang terlihat murka dengan tatapan yang mengerikan .


"Di rumah tapi.... " Ara menjeda ucapannya dengan tubuh gemetar.


"Tapi apa? " tanya Azka dengan suara yang meninggi.


"Aku takut masuk penjara, Azka. Aku gak mau masuk penjara " ujar Ara dengan rasa ketakutan yang menerpa dirinya.


"Azka ada apa? " tanya Lea yang tiba-tiba muncul dan menatap kearah gadis yang terlihat ketakutan karna nampak jelas dari sorot matanya.


"Tidak pa-pa bunda. Oh iya aku mau bawa Ara rumah sakit dulu " ujar Azka mengangkat tubuh mungil Ara dan berjalan meninggalkan Lea yang menatap kepergian putranya.


"Siapa gadis itu? " gumam Lea. Dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2