
Devia di dorong oleh suster dengan brankar menuju ruang UGD. Gadis itu sudah tak sadarkan diri apalagi darah terus keluar dari kepalanya . Devia langsung di masukan ke ruang UGD dokter spesialis kandungan juga masuk ke dalam ruangan tersebut karna setelah di periksa pasien tersebut tengah mengandung.
"Suster apa masih ada persediaan darah golongan B pasien banyak kehilangan darah " ujar dokter Ardi.
"Ada dokter " jawab suster tersebut.
"Cepat siapkan dan bersihkan luka di kepala pasien dan ganti bajunya " titah dokter Ardi.
Para suster membersihkan luka di wajah dan kepala Devia , mereka mengganti baju gadis itu dengan pakaian pasien rumah sakit .
Reni masuk kedalam ruangan UGD setelah mendapat laporan dari suster bahwa ada pasien yang kecelakaan namun tengah mengandung. Mata wanita itu langsung membelalak melihat pasien yang di tangani adalah Devia.
"Devia, kenapa kamu jadi begini? " lirih Reni, dia sudah menganggap Devia seperti adiknya dan apapun yang terjadi pada Devia akan menjadi tanggung jawabnya.Reni harus berusaha menyelamatkan Devia dan janin ada yang di kandung gadis tersebut.
"Suster cepat persiapkan peralatan saya!! " teriak Reni. Dia harus bisa menyelamatkan kedua-duanya semampu dirinya, namun tetap yang maha Kuasa yang mengatur.
********
Skala menggedor pintu apartemen dengan kencang membuat Azka yang tengah berleha-leha di sofa terlonjak kaget. Pria itu berlari ke pintu dan mengintip di lobang bulatan tengah pintu. Matanya membulat sempurna melihat Skala sudah datang dan berdiri di depan pintu dan terus menggedor-gedor pintu. Azka mengambil ponselnya di meja dia kaget melihat banyaknya panggilan dari abangnya , dia lupa telah Mensailen ponselnya.
Azka menghubungi Devia namun tidak di angkat-angkat juga sambungan telponnya. Sedangkan Skala di luar pintu sudah berteriak memanggil Azka minta di bukakan pintu.Azka menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu, dia berdoa semoga abangnya tidak marah bila dia membiarkan Devia pergi dari apartemen.
Ceklek
Azka membuka pintu dan Skala langsung masuk kedalam apartemen memanggil-manggil Devia, bahkan pria itu mencari ke kamar namun tidak menemukan istrinya. Skala kembali lagi ke ruang tamu dan menghampiri Azka.
"Dimana Devia?Abang cari di kamar tidak ada biasanya dia diruang tamu atau di kamar? " tanya Skala pada Azka.
__ADS_1
Wajah Azka sudah memucat bila dia mengatakan Devia keluar apartemen pasti Skala akan marah atau bahkan memukulnya.
"Kak D-devia keluar a-apartemen " jawab Azka menundukkan kepalanya.Skala yang mendengar jawaban dari adiknya itu langsung menarik kasar kerah baju Azka. Matanya menatap tajam pada Azka dengan tatapan mata yang terlihat emosi.
"Kenapa kamu biarkan dia keluar? Aku sudah mengatakan padamu jangan biarkan Devia keluar dari apartemen ini ,dia sedangkan mengandung anakku , bodoh!! " teriak Skala mendorong kasar Azka hingga mundur beberapa langkah karna dorongan abangnya.
"Arrrggghhh, bagaimana terjadi sesuatu dengan Devia " Skala mengacak rambutnya frustasi.
Drrrrrt drrrrrt
Suara dering ponsel di saku celana Skala , membuat pria itu dengan cepat mengangkat sambungan telpon tersebut tanpa melihat siapa peneleponnya.
"Hallo " ucap Skala.
"............................ "
Tubuh Skala seketika membeku mendengar informasi dari rumah sakit bahwa Devia kecelakaan dan dalam penanganan. Pria itu menjatuhkan ponselnya , kakinya seketika melemas kristal bening menetes membasahi pipinya.
"Abang kenapa ? Siapa yang nelpon bang ?" tanya Azka melihat Skala terdiam mematung.
"Devia kecelakaan" jawab lirih Skala. Tubuh Azka langsung menegang mendengar itu , dia merasa bersalah telah memperbolehkan Devia keluar dari apartemen. Andai waktu bisa di putar dia pasti akan melarang kakak iparnya itu keluar dari apartemen, tapi semua sudah terlambat nasi sudah jadi bubur tidak bisa di kembalikan lagi.
"Aku harus ke rumah sakit "ujar Skala dengan mata yang masih berkaca-kaca. Dalam pikirannya saat ini bagaimana keadaan janin yang di kandung Devia, dia tidak ingin kehilangan anak pertamanya dan dia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada Devia.
" Abang biar aku yang nyetir mobil"ujar Azka, karna bisa saja Skala hilang konsentrasi saat menyetir karna memikirkan istri dan anaknya. Skala menganggukkan kepalanya dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit di ikuti oleh Azka, adiknya.
*******
__ADS_1
Devia membuka matanya perlahan dia memegangi kepalanya yang di balut oleh perban. Gadis itu menatap ruangan yang asing baginya dan bau obat-obatan dan dia tau di mana sekarang berada.
"H-haus" ucap Devia. Reni yang memang sudah lama menunggu Devia siuman, dia langsung memberikan segelas air putih dan membantu Devia bangun untuk minum. Reni kembali membaringkan Devia ke brankar.
"Mbak Reni aku di mana? " tanya Devia.
"Kamu ada di rumah sakit karna mengalami kecelakaan" jawab Reni. Devia memegangi perutnya dan menatap Reni seakan bertanya keadaan janin dalam kandungannya.Reni yang paham tersenyum lembut .
"Janin dalam kandungan kamu baik-baik saja dia bisa di Selamatkan walau keadaan janin di dalam kandungan kamu lemah . Beruntung janin dalam kandungan kamu kuat coba enggak mungkin sudah keguguran " ujar Reni. Devia bisa bernapas lega kalau sampai keguguran dia tidak tau Skala akan membencinya atau bahkan menceraikannya .
"Mbak Reni gak kasih tau mas Skala kan kalau aku kecelakaan, aku takut di marahin" ujar Devia.
"Terlambat pihak rumah sakit sudah menelpon suami kamu " jawab Reni. Devia langsung gelisah dan panik apa dia pura-pura amnesia saja supaya tidak di marahi Skala.
"Maaf ya Allah hamba harus lakuin ini demi keselamatan hamba agar tidak di marahin suami , aamiin" batin Devia.
"Semoga bohongi suami karna kepepet gak dosa " gumam Devia.
"Kamu bicara apa Devia? " tanya Reni ketika melihat mulut Devia komat-kamit.
Devia menggelengkan kepalanya cepat.
"Awws sakit kepala aku mbak " ringis Devia memegangi kepalanya.
"Kamu jangan banyak pikiran nanti kepalanya makin sakit " ujar Reni memperingati.
Bersambung...
__ADS_1