Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Tak tergantikan


__ADS_3

Dinda terus berdiri di depan ruang UGD, menunggu dokter yang menangani Dafa keluar. Devan mengusap bahu istrinya yang begitu khawatir dan sangat gelisah dengan air mata yang terus mengalir.


"Pah, aku takut terjadi apa-apa dengan Dafa hiks... " lirik Dinda mendongakkan Kepalanya menatap suaminya. Devan mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya lembut.


"Pasti Dafa baik-baik saja, kita do'a kan semoga tidak terjadi pa-pa dengan putra kita " ujar Devan memeluk istrinya . Devia dan Skala berjalan menuju kearah Dinda dan Devan yang berdiri di depan ruang UGD. Devia mendapatkan kabar dari Mamahnya bahwa kembarannya masuk rumah sakit akibat Adam , kakak dari Fira secara mambabi buta memukul Dafa. Karna Adam sudah tau bahwa Fira hamil karna perbuatan Dafa .


"Mah, gimana kondisi abang? " tanya Devia dengan mata yang berkaca-kaca dan raut wajah yang panik. Dinda hanya bisa menangis , apalagi mengingat Dafa yang sudah babak belur di pukul oleh Adam, andai dia tidak tepat waktu datang ,mungkin putranya itu sudah mati.Devan mengusap pucuk kepala putrinya , membuat Devia menoleh menatap sang Papah.


"Dafa masih di tangani dokter, semoga abang kamu baik-baik saja " ujar Devan memeluk Devia yang tidak bisa menahan tangisnya. Skala menatap istri dan mertuanya itu, dia begitu prihatin yang menimpa kembaran istrinya itu. Selang beberapa menit dokter keluar dari ruangan tempat penanganan Dafa.


Dinda, Devan, Skala dan Devia langsung mendekati dokter tersebut, untuk menanyakan keadaan Dafa.


"Bagaimana keadaan anak saya ? " tanya Devan. Dokter itu menghela napas pelan, dia menundukkan kepalanya sejenak dan menatap keluarga pasien yang begitu menunggu jawabannya.


"Begini, tumor yang di idap saudara Dafa kini berubah menjadi kanker karna jarangnya mengonsumsi obat -obatan dan juga tidak pernah memeriksakan tumor yang bersarang di tubuhnya yang kini sudah berkembang biak menjadi kanker . Dan lebih mengejutkan lagi kanker yang di idap saudara Dafa sudah memasuki stadium tiga. Dan hanya 74 persen pasien bisa di sembuhkan tapi rata-rata pasien yang mengidap penyakit kanker stadium tiga tidak lama bertahan hidup . Andai saudara Dafa memeriksakan dirinya saat kankernya masih stadium dua, mungkin bisa segera di tangani dan di sembuhkan sebelum semakin menjalar keseluruhan tubuh " jelas Dokter pria tersebut. Dinda memundurkan tubuhnya, kakinya seakan melemas tak bertenaga untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Sedangkan Devia langsung pingsan setelah mendengar penjelasan dokter tersebut , dengan sigap Skala menangkap tubuh istrinya yang hampir jatuh ke lantai .


"Pasti dokter bohong!Anak saya sehat -sehat saja, dia tidak mungkin memiliki menyakiti apapun !! "bantah Dinda dengan volume suara yang keras . Sedangkan Devan menatap lurus dengan sorot mata kosong, dia mengira penyakit Dafa sudah sembuh setelah di obati di luar negeri tapi malah sebaliknya.


" Tapi itu memang benar "ujar Dokter tersebut. Dinda terduduk di lantai menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil menangis terisak-isak, dadanya begitu sesak mendengar penyakit yang di derita Dafa sedangkan dia ,orang tua nya sendiri tidak mengetahui hal tersebut.


" Kenapa kamu memiliki penyakit seperti itu hiks... Mamah tidak ingin kehilangan kamu. "ujar Dinda dengan air mata yang bercucuran. Devan berjongkok dan membantu Dinda bangkit dari lantai. Wanita itu langsung memeluk suaminya erat melampiaskan kesedihannya. Hatinya begitu hancur dan juga remuk setelah mengetahui itu semua .


******


Fira dari tadi berusaha menenangkan Elang yang tiba-tiba menangis . Tangan mungilnya menunjuk foto Dafa yang terletak di meja.


Ueeeeeekkk


Tangis bayi itu semakin kencang, matanya terus menatap foto Dafa dan terus menunjuk foto sang ayah.


" Kamu kenapa nak? Kan sudah ketemu sama ayah, masa masih kangen "ujar Fira mengusap air mata yang membasahi wajah El. Fira merasakan perasaanmya tidak enak dan juga gelisah, pikirannya terus mengarah pada Dafa.


" Apa kamu baik-baik saja Dafa? "gumam Fira. Gadis itu berjalan keluar kamar untuk membawa anaknya keluar rumah mungkin El kepanasan karna terus berada di dalam kamar,apalagi rumah sedang mati listrik. Saat Fira membuka pintu Adam yang merupakan kakaknya tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Kak Adam "ujar Fira. Gadis itu langsung memeluk kakaknya erat dengan mata yang berkaca-kaca. Adam membalas pelukkan Fira dan menenggelamkan wajahnya di leher adiknya, tangis kerinduan di antara keduanya tiba bisa di sembunyikan lagi . Adam menguraikan pelukannya pada Fira dan menangkup pipi adiknya.


" Kakak kangen kamu, apa kamu baik-baik saja? Dan ini anak siapa ? "tanya Adam melihat El yang masih menangis dalam gendongan Fira.


" Dia anak aku, namanya Elang "ujar Fira dengan wajah yang begitu bahagia memperkenalkan anaknya pada Adam.


" Apa dia anak Dafa?"tanya Adam dengan datar.


"I-iya dia anak Dafa " jawab Fira dengan gugup dan juga takut kalau kakaknya marah .


"Berarti Dafa tidak betanggung jawab atas ke hamilan kamu , dan membiarkan kamu mengandung dan melahirkan sendiri begitu? Pria itu memang brengsek, semoga saja dia segera mati!! " celetuk Adam dengan penuh emosi.


"Maksud kakak mati apa? Kakak tidak melakukan apapun dengan Dafa 'kan? " tanya Fira dengan nada suara bergetar.


"Dia kakak beri pelajaran dan mendapatkan hal yang setimpal atas perbuatannya ,karna telah membuat kamu menderita, dan membiarkan kamu membesarkan anak kamu sendiri " ujar Adam. Fira menggelengkan kepalanya membantah ucapan Adam, air mata yang menggenang di matanya kini jatuh membasahi wajahnya.


"Dafa menghamili aku karna sebuah jebakan , dia dan aku di jebak oleh Meisya . Ini sepenuhnya bukan kesalahan Dafa, dia membenci aku dan menuduh aku hamil anak pria lain itu juga perbuatan Meisya . Dafa juga sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya, dia baru tau kebenaran yang sesungguhnya bahwa Meisya yang melakukan ini semua agar aku dan Dafa gagal bertunangan dan juga menikah . Jadi tidak sepenuhnya Dafa yang salah hiks.... Dia juga akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, minggu depan aku akan menikah dengan dia kak hiks... " Fira menunjuk dirinya dengan air mata yang bercucuran. tubuh Adam seketika mematung mendengar kebenaran yang sesungguhnya.


********


Dinda memeluk tubuh Dafa dengan erat sebelum di masukkan ke mobil ambulans. Pria itu mengusap punggung Mamahnya lembut.


"Mah, jangan nangis aku baik-baik saja " ujar Dafa dengan suara yang terdengar lemah dan pelan.Devia memeluk tubuh Skala melihat kearah Dafa yang akan di masukkan ke mobil ambulans. Mereka semua memutuskan mengobati penyakit kanker yang di idap Dafa di negara Amerika Serikat karna di sana lah yang paling mudah mendapatkan obat kanker dan tumor, sudah banyak orang-orang yang sembuh setelah berobat di sana walau biaya pengobatan sangatlah mahal tapi yang terpenting Dafa sembuh .


Dokter yang menangani Dafa tadi, juga ikut mengantarkan Dafa sampai ke Bandara. Devan dan Dinda yang akan menemani Dafa menjalani pengobatan di sana . Sebelum pria itu di masukkan ke ambulans, teriak seseorang yang memanggil nama Dafa mencuri perhatian semua orang di sana.


Fira berlari kearah Dafa dengan air mata yang berderai. Dia langsung memeluk tubuh pria yang dia cintai itu. Dafa membalas pelukan Fira walau tubuhnya masih lemah dan tak bertenaga.


"Kamu mau kemana hiks... jangan tinggalkan aku hiks.. " tangis Fira sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Dafa. Tangan pria terulur mengusap kepala Fira dengan lembut.Fira menguraikan pelukannya dan menatap wajah Dafa yang terlihat pucat.


"Bila aku tidak kembali lagi, menikahlah dengan pria lain yang bisa mencintai mu dengan tulus dan menyayangi anak kita dengan penuh kasih sayang. Aku tidak bisa janji untuk menikahi kamu dan aku juga tidak bisa janji akan tetap bisa bertahan hidup lebih lama lagi . Aku mencintai mu dan jaga El " ujar Dafa setelah mengucapkan itu para petugas memasukkan Dafa ke mobil ambulans. Dinda memeluk Fira yang menangis sesegukan.


"Maafin Dafa ya Fira. Dan maafin tante yang sudah menyakiti kamu dan menuduh kamu " ujar Dinda. Fira tidak menjawab ucapan Dinda,mata dan pikirnya terus fokus menatap mobil ambulans yang mengangkut Dafa . Dinda melepaskan pelukannya pada Fira dan masukkan kedalam mobil ambulans di ikutin oleh Devan.

__ADS_1


Devia terus menagis terisak-isak di pelukan Skala. Menatap mobil ambulans itu berjalan meninggalkan depan rumah sakit. Hatinya begitu sakit dan sesak, saudara kembarannya menyembunyikan hal sebesar ini darinya dan dari Mamahnya.


Tubuh Fira meluruh ke tanah dengan air mata yang semakin deras melihat mobil ambulans itu sudah mulai menghilang dari pandangan matanya. Adam mendekati adiknya, dia baru datang setelah memarkirkan mobilnya. Pria itu memeluk adiknya dengan satu tangannya menggendong Elang yang terus menangis. Fira menundukkan kepalanya dengan sorot mata kesedihan yang begitu mendalam, andai dia menuruti saran Dafa untuk menjelaskan kebenaran pada kedua orang tuanya dan Adam .Mungkin tidak akan terjadi kesalah pahaman seperti ini .


*******


4 tahun kemudian


Fira duduk di taman memperhatikan El yang tengah bermain dengan Naya.Putranya kini sudah berumur empat tahun enam bulan . Dan sudah empat tahun Dafa tidak pernah kembali lagi. Irfan datang mendekati Fira dan duduk di sebelah wanita itu.


"Sangat menyenangkan melihat anak-anak kita bermain seperti itu. Sangat cocok menjadi adik-kakak " ujar Irfan. Fira menoleh menatap Irfan yang tersenyum kearahnya.


"Apa kamu tidak mau menikah dengan aku Fira, percuma kamu menunggu Dafa yang tidak mungkin akan kembali lagi, apa kamu tidak memikirkan Elang yang membutuhkan sosok ayah " ujar Irfan menatap Fira yang memperhatikan El yang bermain kejar-kejaran dengan Naya.


"Aku yakin Dafa pasti akan kembali, bila dia tidak datang menemui kami atau dia sudah meninggal , aku tidak akan menikah dengan pria mana pun sebagai bukti cinta ku dan kesetiaan ku pada Dafa, aku sangat mencintai dia tidak ada yang bisa mengantikan dia di hati aku " ujar Fira langsung beranjak meninggalkan Irfan yang menatap kepergian wanita itu dengan sorot mata yang terlihat kecewa dan sedih mendapatkan penolakan lagi oleh Fira . Sudah empat tahun dia mendekati Fira untuk bisa mendapatkan hatinya, tapi sungguh sulit .


"El, kamu mau ayah gak? " tanya Irfan yang berjongkok di hadapan anak kecil itu yang tengah mengemuti permen kakinya.


"Ndak mau, El udah punya ayah, ayah El namanya Dafa . Kata unda ayah nanti pulang bawain mainan untuk El. Ayah lagi kelja makanya ndak pulang-pulang " ujar El menolak mentah-mentah.


"Ayah kamu sudah mati El, dia sudah tidak ada lagi " ujar Irfan .


"Om Ifan gak boleh ngomong gitu, ayah El masih idup!! " teriak El tak terima dengan ucapan Irfan.


"Kalau dia masih hidup kenapa tidak kembali hah!! " bentak Irfan membuat El mendorong Irfan walau tenaga anak kecil itu tidak ber efek apa-apa pada Irfan.


"Om Ifan jahat!! " teriak El dengan mata berkaca-kaca, dia berlari meninggalkan Irfan dengan air mata yang membasahi pipi gembulnya. Irfan memgacak rambutnya frustasi, kenapa dia bisa menahan dirinya dan sampai membentak El karna cintanya di tolak oleh Fira .


El berlari menaiki tangga dan tidak menghiraukan neneknya, arum memanggil. dirinya. Dia masuk kedalam kamar dan mengambil foto figuran Dafa.


"Ayah, om Ifan bilang ayah udah mati. El ndak mau ayah mati . Ayah kapan pulang El kangen " El mengusap foto Dafa dengan air mata yang menetes membasahi figura tersebut. Di samping itu Fira menangis mendengar curahan anaknya yang sangat merindukan Dafa. Dia memperhatikan El dari balik pintu yang terbuka sedikit ,putranya memeluk foto Dafa dan itu sangat menyakitkan bagi Fira melihat El yang sangat merindukan sang ayah.


Sampai habis tissue tulis part ini.

__ADS_1


__ADS_2