
Skala mengangkat tubuh Devia dan membawanya ke dalam kamar. Dia tau istrinya itu kesusahan berjalan karna perutnya yang semakin membuncit membatasi aktivitas Devia. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Skala. Azka mencebikkan bibirnya melihat kemesraan abangnya.
"Dasar tidak tau tempat bermesraan, gak kasihan sama aku. Sudah kaki pincang terus jomblo. Ya Allah kenapa engkau memberi hamba ujian seberat ini, hamba mau kaya abang Skala mesra-mesraan tapi gak ada yang mau sama hamba , apa ini azab bagi hamba suka gosipin si ucup , security penjaga komplek di depan yang perjaka tua itu. Huwaaaaaa!! " ujar Azka melemparkan bantal ke lantai meluapkan kekesalannya.
Skala masuk kedalam kamar dan meletakkan istrinya di kasur dengan hati-hati. Devia melepaskan tangannya yang mengalung di leher Skala.
"Aku mau mandi dulu, kamu disini aja ya" ujar Skala melepaskan satu persatu kancing kemejanya dan memasukkan kemejanya ke tempat pakaian kotor. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu namun sedikit di buka agar bisa mengawasi istrinya. Devia mengambil ponsel Skala yang terletak di meja. Dia mengkerutkan dahinya , kenapa Skala tidak mengunci layar ponselnya? Bisa saja ada seseorang yang iseng membuka ponselnya. Devia mencari Instagram, Facebook ,dan Twitter tapi tidak ada. Tapi hanya ada YouTube , Whatsapp (WA) dan game, Devia meletakkan kembali ponsel suaminya. Percuma minjam ponsel Skala bila tidak ada Instagram buat scroll video ataupun foto.
Sekitar lima belas menitan Skala selesai dengan ritual mandinya. Dia menggerikan rambunya dengan handuk kecil dan handuk yang melilit di pinggangnya. Skala berjalan ke arah Devia yang memainkan ujung bajunya.
"Kenapa hmm" ujar Skala mencolek dagu istrinya.
"Laper, mau makan " jawab Devia menatap Skala yang juga menatapnya. Gadis itu mendekati suaminya dan mengendus aroma tubuh Skala.
"Badan mas, wangi banget " ujar Devia terus menciumi aroma tubuh suaminya.
"Kan baru mandi pastilah wangi " sahut Skala.Devia menjauh dari tubuh suaminya.
"Tapi aku mandi gak seharum ini, pakai sabun mandi apa sih? " tanya Devia.
"Pakai sabun yang biasa kamu pakai buat mandi, sayang " ujar Skala. Devia mencium aroma tubuhnya sendiri bukannya bau harum tapi bau keringat karna belum mandi .
"Tapi badan aku bau, mungkin karna belum mandi " ujar Devia.
"Coba aku cium , masa bau badan kamu " ujar Skala.
__ADS_1
Cup
Skala mencium sekilas bibir ranum istrinya membuat Devia mematung sebentar dan langsung menggelengkan kepalanya cepat menyadarkan dari keterkejutannya.
Plak
"Mas Skala , modus masa bibir aku yang di cium seharusnya badan aku " ujar Devia merengut kesal.
"Maaf, soalnya bibir kamu goda banget " ujar Skala dengan terkekeh pelan.
"Preet, kamunya aja yang gampang tergoda , atau kamu juga tergoda sama perempuan lain" tuding Devia menunjuk Skala. Pria itu menurunkan tangan istrinya dan menggeser tubuhnya mendekati Devia.
"Bagaimana bisa aku tergoda dengan perempuan lain sedangkan aku sudah memiliki kamu yang mampu membuat aku tidak bisa berpaling sedetik pun dari kamu " ujar Skala.Devia memalingkan wajahnya dari Skala karna tersipu mau dan mungkin pipinya sudah sangat merah.
"Dasar buaya " celetuk Devia menjauh dari Skala.
"Mau tambah suami lagi ,boleh " ujar Devia memancing Skala.
Raut wajah Skala berubah menjadi datar dan dingin mendengar ucapan istrinya.
"Coba ngomong sekali lagi " ujar Skala berjalan mendekati Devia namun gadis itu memundurkan tubuhnya. Dia jadi takut melihat wajah Skala yang datar namun mampu membuat dia ketakutan.
"Emm, mau nikah lagi " ujar Devia yang masih terus mengerjai suaminya walau kakinya sudah bergetar ketakutan. Skala dengan cepat mengangkat tubuh Devia dan menjatuhkan di kasur.
"K-kamu mau apa" ujar Devia menatap takut pada Skala yang berada di atas kungkungannya
__ADS_1
"Kenapa mau cari suami lagi ?Kamu kepincut sama pria yang mana hah!! Biar aku hajar dia . Aku ini sudah tampan, kaya, dan juga perkasa kurang apa lagi " ujar Skala dengan wajah yang terlihat serius.Devia tidak bisa menahan tawanya melihat suaminya yang begitu cemburu.
"Kenapa ketawa heh? " ujar Skala mencubit pipi Devia.
"Mas, bangun dulu, aku mau duduk " ujar Devia. Skala menjauh dari atas tubuh Devia. Gadis itu bangun dari tempat tidurnya dan langsung berlari pelan menjauh dari Skala.
"Soalnya mas tua " ujar Devia sambil tertawa keras. Skala bangkit dari kasur dan mengejar Devia.
"Tua-tua gini juga bisa buat kamu nyaman. Ayo sayang sini sama om "ujar Skala merentang kedua tangannya hendak memeluk Devia.
" Gak mau "ujar Devia menggelengkan kepalanya. Skala kembali mengejar Devia yang terus menghindarinya.
" Mas, stop jangan di kejar lagi aku-nya, nanti ada setan lewat lho "ujar Devia. Skala mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Devia.
" Kalau ada setan lewat memang kenapa? "tanya Skala.
" Nanti kita jadi enak hahahahah......"ujar Devia tertawa. Skala langsung memeluk istrinya membuat gadis itu menggerakkan tubuhnya di dalam pelukan suaminya.
"Ayo kita enak-enakan aku juga sudah kegoda sama kamu , walau setannya belum lewat " ujar Skala mengedip matanya genit pada Devia.
"Iih genit banget sih, pak Skala " ujar Devia mendorong pipi suaminya pelan.
"Gak pa-pa yang penting genitnya cuma sama kamu " ujar Skala mencium pipi istrinya gemas.
Bunyi perut Devia yang keroncongan membuat Skala tertawa, sedangkan Devia menahan malu, kenapa perutnya ini tidak bisa di ajak kompromi?
__ADS_1
Bersambung...