Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Rencana


__ADS_3

Elang dan Alvian berlarian di halaman depan rumah di sertai gelak tawa dua anak tersebut. Albian duduk di teras memperhatikan sepupu dan kakaknya bermain lari-larian. Bocah gendut itu memilih duduk sambil memakan kue ulang tahunnya yang sudah di potongkan Devia dan di letakkan di piring kecil.


"Kamu gak ikut main? " tanya Adam duduk di sebelah Albian. Bocah itu mendongak menatap kearah Adam dan kembali memakan kuenya. Albian menggeser tubuhnya menjauh dari Adam , karna dia takut kuenya di minta. Kue ulang tahun yang di bawa Dafa sudah habis di makan semua orang dan yang di makan Albian sekarang hanya tinggal sisa sedikit .


"Om cana, Bian gak suka belbagi makanan" ujar Bian bangkit dari tempat duduknya dan berlari kearah Skala yang tengah berbincang dengan Devan dan Arya pembahasan mereka tidak jauh-jauh yaitu tentang perusahaan.


"Kecil-kecil sudah pelit bin medit soal makanan" celetuk Adam sambil terkekeh dengan tingkah Albian. Dia tidak bisa membayangkan bila bocah itu sudah dewasa dan bertengkar dengan istrinya hanya memperebutkan makanan.


Albian duduk di sebelah Skala sambil memakan kuenya. Tangan Skala mengelus kepala putranya lembut dan mengusap mulut Albian yang belepotan dengan tissue.


"Abang mana dek? " tanya Skala pada Albian.


"Abang main sama abang Elang" jawab Albian.


"Kamu kenapa tidak ikut main? " tanya Skala.


"Buang-buang tenaga, lebih baik makan, Bian kan lagi tahap peltumbuhan jadi halus banyak makan supaya cepat besal kaya Papah " celoteh Albian.


"Tapi tidak baik makan berlebihan seperti itu" ujar Skala lembut.


"Belalti Bian ndak boleh makan lagi? " tanya Bian dengan mata yang berkaca-kaca. Skala langsung panik melihat anaknya sudah hendak menangis bisa berbahaya bila ketahuan Devia.


"Huwaaaaa, Mamah , Papah ndak bolehin Bian makan " tangis bocah itu pecah, dia agak sensitif bila soal makanan. Semua orang menatap kearah Skala termasuk Devia yang tengah asik mengobrol dengan Dinda dan Arum.


"Kamu apain Bian ,Skala? " tanya Devan dengan nada bercanda . Dia tau bila Bian sudah menangis , itu tidak jauh-jauh dari namanya makanan.Wanita itu berjalan mendekati suaminya dan duduk di sebelah Skala.


"Kenapa Bian sayang ?" tanya Devia. Albian menunjuk Skala yang menampilkan wajah datar pada putranya itu.


"Kamu apain si gendut? " tanya Devia.


"Aku tidak melakukan apapun pada si Bian, sayang. Cuma bilang jangan makan banyak-banyak" jelas Skala mencium pipi istrinya.

__ADS_1


"Gak pa-pa makan banyak-banyak supaya cepat besar, nanti ngurusin badannya gampang tinggal cekokin obat pelangsing" ujar Devia. Skala menepuk dahinya pelan, kenapa istrinya jadi kurang pintar seperti ini?


"Gak boleh! Kalau mau ngurusin badan harus dengan olah raga dan jaga pola makan , bukan minum obat pelangsing badan " ujar Skala tegas.


"Sudah ,sudah ,lebih baik kita berunding, untuk tentuin tanggal pernikahan Dafa dan Fira . Tapi mereka berdua kemana? " tanya Devan melihat Dafa dan Fira sudah tidak ada di ruangan ini.


*******


Dafa dan Fira duduk di bangku taman. Dua orang itu saling terdiam membisu, bingung harus mulai pembicaraan dari mana. Fira merasa gugup dan jantungnya yang terus berdetak tak karuan . Pria itu menatap lurus kedepan dan melirik kearah Fira yang hanya diam.


"Ekmm" dehem Dafa untuk menghilangkan kegugupannya. Mereka berdua seperti dua orang yang baru merasakan cinta saling malu-malu dan juga gugup.


"Kamu apa kabar? " tanya Dafa cepat dengan gugup.


"Hah? " beo Fira dengan pertanyaan Dafa. Pria itu memalingkan wajahnya yang memerah karna menahan malu. Kenapa dia harus menanyakan itu? Mungkin efek sudah lama tidak bertemu.


"Tidak pa-pa" ujar Dafa. Fira hanya tersenyum kikuk .


"Apa kamu masih marah dengan ku? " tanya Dafa menoleh menatap Fira yang juga menatapnya.


"Marah, saat aku merenggut semuannya dari kamu " jawab Dafa.


"Aku sudah tidak marah lagi. Itu sudah menjadi masalalu, kalau aku terus terjebak dengan masalalu itu mungkin aku tidak akan bisa memaafkan kamu dan melupakan kejadian buruk itu" tutur Fira . Dafa tersenyum mendengar itu , tangannya menyentuh dan mengenggam tangan Fira dengan lembut.


"Terimakasih, maaf dulu aku begitu menyakitimu sampai menyuruh kamu menggugurkan darah daging aku sendiri.Aku sangat menyesal sampai sekarang rasa bersalah itu masih aku rasakan " ujar Dafa mengenggam tangan Fira dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Kalau begitu tebuslah kesalahan mu di masalalu dengan membahagiakan aku dan Elang " ujar Fira mengusap pipi Dafa. Pria itu mengenggam tangan Fira yang mengusap pipinya dan mencium telapak wanita itu dengan lembut.


"Itu pasti, sayang " sahut Dafa. Fira menundukkan kepalanya dengan tersenyum malu-malu dan pipi yang memerah seperti kepiting rebus karna panggilan sayang dari Dafa.


Di sisi lain Irfan memperhatikan Fira dan Dafa dari kejauhan. Pria itu memukul pohon tempat dia bersembunyi dengan kencang hingga tangan Irfan memerah dan lecet. Dia melampiaskan rasa sakit di hatinya karna melihat Fira bersama dengan Dafa. Dia pikir pria itu sudah mati ternyata masih hidup.

__ADS_1


"Bagus Fira, aku yang selalu ada untuk kamu saat Dafa tidak ada. Menjadi orang yang begitu bodoh karna membuang-buang waktu untuk mengejar cinta kamu dan berusaha menjadi orang yang paling memahami kamu. Tapi kamu memilih menunggu Dafa dan sekarang pria itu dengan mudahnya mendapatkan kamu " lirih Irfan memperhatikan Fira yang tertawa bahagia saat Dafa menyematkan cincin di jari manis wanita itu.


Irfan mengeluarkan kontak merah berukuran kecil dari kantong celananya dan membuka kotak tersebut yang berisi cincin berlian yang kemaren akan dia berikan pada Fira, bila wanita itu menerima lamarannya.Tapi sekarang cincin ini tidak berarti lagi baginya. Dia sudah mati rasa setelah penolakan dari Fira dan keluarganya. Mungkin dia tidak akan menikah lagi karna sudah cukup merasakan patah hati.


Pria itu mengangkat tangannya ke udara untuk membuang cincin tersebut tapi seseorang menahan tangannya. Dia menoleh menatap. Ara mantan adik iparnya.


"Kalau gak suka cincinnya buat aku aja gak usah di buang, di pikir beli cincin berlian gak pakai uang " gerutu Ara. Irfan memberikan kontak cincin itu secara kasar pada Ara. Pria itu langsung meninggalkan gadis tersebut yang menatap kepergiannya.


"Iih, sayang aku cariin juga " ujar Azka memeluk Ara dari belakang membuat gadis itu tersentak kaget.Dia berbalik dan menyembunyikan kotak cincin tersebut dari Azka.


"Aku tadi cari toilet tapi gak ketemu " ujar Ara bohong.


"ooh, ya sudah kamu numpang pipisnya di rumah kak Fira. Ayo, sekarang kita harus cepat kesana keburu makanannya habis " ujar Azka tertawa pelan.


"Iih gak sabaran banget sih, ayang " ujar Ara dengan nada manja dan mencubit pipi Azka yang merupakan bos tempat dia bekerja dan juga kekasihnya.


******


"Jadi bagaimana Dafa, kapan kamu akan menikahi Fira atau mau tunangan dulu baru nikah ? " tanya Arya. Dafa menatap Fira yang tersenyum kearahnya.


"InsyaAllah, besok" jawab Dafa. Semua orang menatap kaget terutama Fira yang membulatkan matanya sempurna.


Uhukkk uhukkk


Azka tersedak dengan ludahnya sendiri dengan ucapan Dafa.


"Ayang kamu gak pa-pakan, ini minum dulu " ujar Ara memberikan segelas air putih pada kekasihnya itu. Devia memutar bola matanya malas melihat ke lebayan Ara . Yang seperti ini mau di jadikan istri oleh Azka, yang satunya bandar gosip dan satunya polosnya na'uzubillahiminzalik.


"Tidak bisa Dafa, butuh satu minggu untuk mendekorasi pesta pernikahan tersebut" ujar Dinda. Dafa menghela napas kasar dengan wajah yang nampak kecewa.


__ADS_1


Visual Fira saat muda.


Bersambung...


__ADS_2