
Dafa masuk ke dalam kamarnya. Pria itu menanggalkan pakaian kerjanya dan memasukkan ke dalam tumpukan baju kotor yang lainnya di ranjang. Dafa menyalahkan shower , dia memejamkan matanya merasakan air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya. Dafa mengambil shampoo favoritnya , bau harum shampoo itu menyeruak memenuhi ruang kamar mandi tersebut.
Pria itu meraih handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dafa tidak terlalu lama untuk mandi cukup lima belas menit. Sebelum keluar dari kamar mandi ada sesuatu yang menarik perhatiannya . Matanya menatap benda pipi panjang berukuran kecil di bak sampah di samping pintu keluar. Tangan Dafa terulur mengambil alat tes kehamilan tersebut .
Matanya terbelalak melihat dua garis merah di alat uji kehamilan itu. Senyuman merekah di bibir Dafa. Pria itu segera mencuci testpack itu dengan air mengalir dan segera keluar dari kamar mandi untuk menemui istrinya. Kenapa Fira tidak mengatakan padanya bila sedang hamil? Entahlah tapi saat ini Dafa begitu bahagia dengan ini semua.Dafa berlari menuruni anak tangga dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Fira yang tengah memotong-motong sayur tersentak kaget, sebuah tangan besar melingkar di perutnya. Wanita itu berbalik kebelakang menatap sang pelaku yang tersenyum agak berbeda dari biasanya. Dafa langsung menangkup wajah Fira dan menghujami ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya. Fira mendorong suaminya agar menghentikan aksinya, dia mengkerutkan dahinya melihat sikap berbeda Dafa.
"Kamu kenapa? Kenapa ke dapur cuma pakai handuk? " ujar Fira memperhatikan Dafa dari atas sampai bawah , dia hanya takut tiba-tiba ada yang masuk dan melihat suaminya dengan penampilan seperti ini.
"Kamu kenapa menyembunyikan ini semua, sayang? Apa kamu ingin memberikan kejutan dengan ku, hmm" ujar Dafa mencium pipi Fira gemas. Wanita kebingungan dengan ucapan suaminya
"Maksud mas apa? Aku tidak paham apa yang mas bicarakan" ujar Fira dengan raut wajah kebingungan. Dafa menghela napas pelan, istrinya ternyata tidak mau mengaku juga. Pria itu menarik tangan Fira dan membawanya ke sofa untuk duduk.
Dafa memperlihatkan testpack yang dia temukan pada Fira "Lihat, apa kamu masih mau menyembunyikan ini hmm".
Fira mengambil testpack tersebut . Dia membelalakan matanya seraya menutup mulutnya tak percaya dengan garis merah yang nampak jelas di sana.Fira menatap kearah Dafa dengan mata berair .
" Aku hamil?Bagaimana bisa, tadi saat aku melakukan tes dengan alat ini , garis merahnya cuma satu "ujar Fira heran.
" Untuk mengetahui lebih jelas lagi, kamu hamil atau tidak, kita periksakan ke dokter kandungan "ujar Dafa mencium kening istrinya lembut. Fira menganggukkan kepalanya setuju.
********
Reni memeriksa Fira yang tengah berbaring di brankar . Fira sekarang berada di rumah sakit,Dafa langsung membawanya ke rumah sakit karna tidak sabar mengetahui bahwa dia hamil atau tidak.Dokter wanita itu tersenyum dan Fira mengkerutkan dahinya.Dafa mendekati istrinya dan mengenggam tangan Fira menunggu hasilnya. Reni menatap kearah Dafa dengan senyuman merekah.
" Selamat ya Dafa istri kamu hamil "ujar Reni. Dafa terdiam sesaat, sedetik kemudian dia tersenyum lebar.Fira juga tidak bisa menyembunyikan raut ke bahagianya setelah mendengar itu semua.
" Alhamdulillah, kamu hamil sayang "ujar Dafa memeluk dan memberikan ciuman di kening sang istri. Reni juga ikut bahagia melihat kebahagiaan suami istri itu.
" Aku seneng mas, akhirnya aku hamil "ujar Fira membalas pelukkan suaminya. Dafa menguraikan pelukannya dan menatap kearah dokter Reni.
" Mbak kalau boleh tau berapa usia kandungan istri saya? "tanya Dafa.
" Kandungan istri kamu sudah memasuki usia tujuh minggu, dan jangan lupa makan-makanan yang sehat supaya janin yang ada di kandungan Fira sehat "jelas dokter Reni tersenyum. Dafa menganggukkan kepalanya. ********
Dafa tak henti-hentinya tersenyum sambil fokus menyetir karna kabar kehamilan Fira.Fira menyenderkan kepalanya di bahu sang suami, ia tertidur pulas di bahu Dafa. Tangan pria itu terulur mengusap kepala Fira lembut.
__ADS_1
Mobil yang di kendaraai Dafa sudah sampai di pekarangan rumah. Dia memindahkan kepala Fira dari bahunya dan menyandarkan di jok mobil dengan pelan agar tidak membangunkan sang istri. Dafa keluar dari mobil dan mengelilingi mobil dan membuka pintu mobil satunya.
Pria itu menggendong Fira dan membawanya masuk kedalam rumah . Asisten rumah tangga membuka pintu rumah untuk sang majikan.
" Bi Elang sudah tidur? "tanya Dafa dengan suara pelan.
" Sudah pak "sahut bi Ela. Dafa menganggukkan kepalanya dan berjalan menaiki tangga membawa Fira masuk ke dalam kamar.
Dengan hati-hati dan pelan Dafa merebahkan Fira di kasur. Dia tidak mau mengusik tidur Fira yang terlihat kelelahan. Dafa masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat taubat, entah mengapa dia ingin melaksanakan sholat taubat yang jarang dia lakukan.
******
Dafa melipat sajadahnya setelah melaksanakan sholat. Pria itu berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Dafa mengusap kepala Fira dan mencium keningnya.
" Cantiknya istri ku "puji Dafa membelai pipi Fira dengan mesra dan mengecup bibir ranum Fira.
Dafa memposisikan dirinya untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Dia tidur menghadap Fira dan perlahan menutup matanya.
******
Fira perlahan membuka matanya . Dia menatap kearah Dafa yang tertidur . Wanita itu menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 05:30 pagi. Fira merasa heran pada Dafa yang belum bangun biasanya suaminya ini akan bangun sebelum pukul lima untuk melaksanakan sholat qobliyah shubuh.
" Mas bangun, mas Dafa bangun! "Fira menggoyang tubuh suaminya tapi tidak ada respon sama sekali.
" Ini gak mungkin, mas Dafa tidak mungkin meninggalkan aku. Mas Dafa bangun! "Fira kembali berusaha membangunkan Dafa dari tidurnya tapi sayang pria itu sudah tertidur untuk selamanya.
"Mas Dafa jangan tinggalkan aku hiks... mas Dafa jangan bercanda hiks.. " Fira memukul-mukul dada bidang Dafa agar bangun dari tidurnya. Fira menjauh dari Dafa dan mengambil ponselnya untuk menelpon kedua orang tuanya.
"Bunda, ayah cepat kesini " ujar Fira setelah itu mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
Fira kembali mendekati Dafa dan memeluk suaminya. "Mas Dafa bangun jangan tinggalkan aku hiks... " tangis Fira histeris.
********
Semua orang berkumpul menatap Dafa yang sudah tak bernyawa lagi terbaring di kasur . Devia menangis histeris dalam pelukan Skala yang juga tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes . Devan maupun Dinda hanya diam membisu. Mereka sebenarnya sudah tau bahwa Dafa akan pergi meninggalkan mereka cepat atau lambat . Penyakit kanker Dafa tidak bisa di sembuhkan, karna sudah memasuki stadium empat. Selama empat tahun Dafa mengurung dirinya di kamar, dia depresi, stres dan sering mengamuk karna kanker yang ada di tubuhnya tidak bisa di sembuhkan. Devan dan Dinda sudah menyembunyikan kebenaran ini dari Fira.
Dafa menikahi Fira untuk memberikan kenangan terindah untuk wanita yang dia cintai dan putranya sebelum dia pergi untuk selama-lamanya. Dia ingin menghembuskan napas terakhirnya di samping Fira dan itu akhir terkabul.
__ADS_1
"Bunda kenapa ayah belum bangun-bangun, bunda? " Elang menarik-narik ujung piyama Fira tapi wanita itu hanya diam dengan tatapan kosong.
Arya menggendong Elang dan membawa menjauh dari Fira yang terlihat sangat terpukul atas kepergian Dafa.
"Kakek kenapa ayah belum bangun-bangun dali tidulnya? " tanya Elang. Arya yang mendengar pertanyaan itu tidak sanggup menahan tangisnya dadanya begitu sesak seakan paru-parunya di remas begitu kuat.
"Elang yang sabar ya nak. Ayah pergi untuk selama-lamanya karna Allah lebih sayang dengan ayah Elang" ujar Arya mencoba perlahan memberikan pengertian pada Elang.
"Ayah meninggal maksud kakek, tapi kenapa Allah ambil ayah Elang hiks... kan Elang gak nakal, Elang juga selalu nurut sama ayah kenapa Allah ambil ayah Elang, kek? Hiks... " Elang menangis dengan kencang hingga tak mengeluarkan suara lagi.
"Ayah hiks.... Ayah hiks.... " Elang turun dari gendongan Arya dan berlari kearah Dafa yang sudah terbujur kaku.
"Ayah kenapa tinggalin Elang hiks.... katanya ayah janji mau jagain Elang sama bunda hiks.. ayah jahat " tangis Elang, ia terduduk di lantai . Skala mendekati Elang dan menggendong keponakannya tersebut.
"Papah Skala, ayah Dafa jahat tinggalin Elang " adu Elang pada Skala. Pria itu memeluk dan mengusap bahu Elang lembut.
Fira berjalan mendekati Dafa dengan sempoyongan Arum langsung memegangi bahu Fira agar tidak terjatuh.
Fira mengusap rambut tebal suaminya dan tersenyum getir. Fira mencium kening Dafa untuk terakhir kalinya.
"Tidur yang tenang, sayang. Aku akan menjaga anak-anak kita dengan baik. Aku ikhlas atas kepergian kamu. Terimakasih untuk segalanya dan terimakasih kamu telah memberikan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan"ujar Fira dengan suara bergetar menahan tangis.
Devia hampir ambruk bila Devan tidak sigap menangkap tubuh putrinya. Skala langsung mendekati Devia dan memberikan Elang pada Arya.
" Devia bangun sayang "ujar Skala menepuk pipi istrinya.
" Skala cepat bawa Devia ke rumah sakit, lihat darah keluar dari bawah kaki Devia "ujar Dinda panik. Skala membulatkan matanya melihat darah segar mengalir dari bawah kaki istrinya dan segera membawa Devia ke rumah sakit.
🌺SELESAI🌺
**🍀Untuk para pembaca
Terimakasih sudah membaca cerita ini sampai end.Tanpa kalian aku tidak akan sampai di titik ini. Dan selamat jalan untuk Dafa, semoga ini yang terbaik untuk kamu agar tidak menahan sakit lagi.Istirahat yang tenang sayang 💕
Kalian silahkan mampir ke cerita JODOHKU TEMAN MASA KECILKU lanjutan dari kisah Fira, Elang dan ketiga anak kembar Fira.
Elang juga menjadi sosok ayah bagi ketiga adik kembarnya yaitu Elmeera, Alma dan si tampan Dafi.
__ADS_1
Dan jangan lupa mampir ke cerita aku ya SUAMI KU BIG BABY (BAYI 🍼 BESAR). Kalian akan di buat tertawa oleh tingkah laku Adrian dan juga Lalisa , wanita yang pernah menaruh hati pada Skala.