
Fira perlahan membuka pintu kamar mandi,dia menatap kearah Dafa yang tengah bersandar di bahu ranjang dengan memejamkan matanya. Mungkin pria itu kelelahan setelah pesta pernikahan tadi. Wanita itu berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Dia memperhatikan Dafa yang entah tertidur atau hanya menutup matanya dengan tangan yang di lipat di atas dada.
Pria itu perlahan membuka matanya karna merasakan pergerakan di sebelahnya. Dia menatap kearah Fira yang tengah mengatur posisi rebahannya.
"Kamu mau tidur gak mau makan dulu? Aku sudah pesan makanan " ujar Dafa. Fira tersentak kaget dan menoleh menatap Dafa yang juga menatap dirinya.
"Makan dulu, pasti kamu lapar " ajak Dafa bangkit dari kasur dan duduk di sofa . Pria itu begitu banyak memesan makanan untuk mereka berdua.
Fira dengan terpaksa turun dari ranjang dan berjalan mendekati Dafa dengan kimono yang pendeknya di atas lutut. Dia duduk di sebelah Dafa dengan tangan yang menutupi pahanya. Dafa sekilas melirik Fira yang duduk di sebelahnya, terlihat oleh ekor matanya wanita itu agak risih dan tak nyaman dengan kimono yang dia pakai. Dafa mengambil bantal yang ada di sebelahnya dan memberikannya pada Fira.
"Pakai ini untuk menutupi paha kamu" ujar Dafa memberikan bantal pada Fira, dengan ragu-ragu dan merasa tak enak dengan Dafa, dia mengambil bantal tersebut dan menutupi pahanya.
"Makan, aaa" Dafa menyuapi Fira dengan terpaksa wanita itu menerima suapan dari pria yang beberapa jam lalu sudah sah menjadi suaminya.
"Aku bisa sendiri, kamu makan aja aku takut ngerepotin kamu bila menyuapi aku makan " ujar Fira mengambil makanan yang seperti Dafa makan . Wanita itu mulai menyuap makanan ke mulutnya sendiri . Tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua yang fokus makan hanya terdengar sendok dan garpu yang adu hingga ucapan Dafa membuat Fira tersedak.
"Kamu tidak usah malu memakai pakaian yang terbuka di depan aku, mau kamu telanjang bulat pun di depan aku kalau kamu tidak malu di sentuh, aku tidak akan melakukannya " ujar Dafa mengacak rambut Fira pelan.
Uhukkk uhukk
__ADS_1
Wanita itu tersedak setelah mendengar ucapan suaminya yang seakan tau isi pikirannya saat ini. Dia tau bila Dafa sedang menyindirnya mungkin ucapan pria itu terdengar lembut tapi menusuk ke hati. Wanita itu hanya menampilkan senyuman kikuk.
"Tadi katanya mau baju ya, kalau begitu aku keluar dulu carikan kamu baju " ujar Dafa yang hendak bangkit dari sofa tapi pergelangan tangannya di tahan Fira sambil menggelengkan kepalanya pelan .
"Gak usah, pasti kamu capek, biar aja aku pakai kimono ini, besok kita juga pulang " ujar Fira.
"Ya sudah kalau kamu mau nya begitu " ujar Dafa tersenyum manis pada Fira.
********
Ara terus merengek pada Azka agar di perbolehkan menginap di rumah pria tersebut. Dia takut mendapatkan amukan dari Mamahnya karna telah membuat Irfan harus di rawat di rumah sakit. Syukur-syukur bila Irfan cuma amnesia bila geger otak bisa bahaya urusannya.
"Please lah, kita juga tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Bila melakukan hal yang tidak-tidak itu karna khilaf " ujar Ara mengucapkan itu tanpa merasa berdosa. Azka membelalakan matanya mendengar ucapan Ara .
"Kamu itu kecil-kecil tapi sudah berani ngomong kaya gitu , kalau beneran aku apa-apain kamu nanti nangis , hampir di perkosa Irfan aja kamu nangis. Nanti kalau kamu hamil gimana? Terpaksa aku harus nikahin kamu " ujar Azka dengan tegas.
"Ide bagus, kamu hamilin aku aja supaya kita cepat nikah . Mamah kan gak restuin hubungan kita mungkin dengan aku hamil anak kamu kita bisa menikah dan hubungan kita di restuin" ujar Ara dengan mata berbinar-binar dan wajah yang berseri-seri seakan baru mendapatkan harta karun.
"Astaghfirullah, kamu kenapa jadi bodoh seperti ini sih, Ara. Wanita itu harusnya jual mahal, lah kamu nyuruh aku tidurin kamu " ujar Azka mengacak-acak rambutnya frustasi. Ara memainkan jarinya menatap kearah Azka.
__ADS_1
"Kamu aku pesankan kamar di hotel, tidak usah menginap di rumah aku, nanti di kira orang-orang kita kumpul kebo" ujar Azka yang mulai menjalankan mobilnya.
"Kita kan bukan kebo tapi manusia, kenapa harus di bilang kumpul kebo?" tanya Ara yang semakin merancau tak jelas . Azka memilih fokus menyetir dari pada mendengarkan ucapan Ara, untung dia cinta bila tidak sudah dia putuskan gadis ini.
**********
Fira membaringkan tubuhnya di sebelah Dafa dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya menegang ketika Dafa melingkarkan tangan di perutnya. Deru napas Dafa di lehernya seakan menggelitik dan juga membuat dia merinding.
"Tidur " ujar Dafa dengan mata yang sudah terpejam. Fira memejamkan matanya tapi tidak bisa , seakan matanya tidak bisa di pejamkan .
Tangan wanita itu menyentuh tangan besar Dafa yang melingkar di perutnya. Senyuman terbit di bibir tipis Fira, dia seakan bermimpi telah menjadi pasangan suami -istri dengan Dafa. Walau dulu harus banyak masalah dan penderitaan yang dia lalui tapi tidak menyangka bila Dafa akan menjadi suaminya. Dia juga pernah berpikir untuk kabur keluar kota saat Elang baru dia lahirkan karna takut Dafa merebut anaknya.
Perlahan Fira memejamkan matanya ketika rasa kantuk mulai mendera . Dafa perlahan membuka matanya setelah tidak ada pergerakan lagi di sebelahnya. Pria itu mengubah posisi tidur Fira agar menghadap dirinya.
"Mimpi indah, sayang " ujar Dafa mengecup bibir ranum Fira mesra dan membawa istrinya dalam pelukannya.
Bersambung...
Ok kita lanjut cerita ini sampai kalian bosan bacanya.
__ADS_1