
Skala menuang bubur di mangkok dan berjalan menuju brankar tempat istrinya bersandar.Pria itu tersenyum memperhatikan istrinya yang terus menciumi Alvi.
Alvi tertawa merasakan kecupan di pipinya sedangkan Devia terkekeh melihat putranya tertawa.
"Makan bubur dulu ya, Mamah " ujar Skala tersenyum pada istrinya.
"Kok di panggil Mamah, aku maunya di panggil kaya biasanya aja " ujar Devia mengerucut bibirnya.
"Ya sudah di panggil sayang aja, gitu? " ujar Skala yang langsung di angguki Devia cepat.
Skala menyuapi Devia dengan telaten. Sesekali dia mengusap sudut bibir istrinya yang blepotan.
"Mas, abang Dafa kemana sih? Kok belum muncul-muncul juga. Aku jadi khawatir lho " ujar Devia menatap Skala. Azka yang baru keluar dari kamar mandi mendekati kedua orang itu dan menatap mangkok yang ada di tangan Skala.
"Enaknya makan bubur, punya aku mana bang? " tanya Azka tidak tau malu. Sedangkan Devia hanya memutar bola matanya malas melihat sikap adik iparnya itu.
"Tuh di meja " jawab Skala.
__ADS_1
"Asyik, di beliin abang Skala " ujar Azka yang langsung membuka bungkusan bubur tersebut dan menuangkannya di mangkok. Azka terdiam sejenak kemudian dia langsung mendekati Skala dan Devia.
"Kalian tau tidak " ujar Azka.
"Gak tau " sahut Devia.
"Dengerin dulu, aku juga belum cerita. Tadi ya aku ketemu di koridor rumah sakit sama perempuan yang masih muda sekitar dua puluh tahunan lebih ,dia gendong anaknya yang lagi sakit. Tapi yang bikin aku heran kenapa wajahnya mirip bukan mirip lagi tapi persis seperti Dafa, saudara kembar kak Devia" ujar Azka yang mulai aktif dengan gosipannya .
Uhukk uhukk
Devia langsung tersedak mendengar ucapan Azka. Skala langsung memberikan segelas air putih pada istrinya dan mengusap bahu Devia lembut.
"Apa jangan-jangan memang anak abang Dafa, kemaren aku lihat kak Fira gendong bayi laki-laki yang wajahnya mirip dengan abang Dafa. Tapi gak mungkin abang aku hamilin kak Fira atau menikah diam-diam dengan kak Fira" ujar Devia. Azka juga mengangguki ucapan kakak iparnya.
"Sudah jangan dipikirkan hal yang seperti itu. Mungkin cuma mirip " ujar Skala yang kembali menyuapi Devia.
"Abang gak lihat sih, semirip dan sesama apa rupa mereka berdua. Pasti abang juga akan menduga bayi itu anak Dafa " ujar Azka yang di angguki Devia.
"Kita jangan langsung mengambil kesimpulan, mungkin hanya mirip. Di dunia ini kita memiliki tujuh orang yang rupa yang sama seperti kita. Dan kamu Azka jangan terus menggosip, abang sudah tau kelakuan buruk kamu itu dari satpam depan komplek ,yang sering ngumpul dengan tukang penjual sayur dan Ibu-ibu komplek. Kamu itu laki-laki kenapa malah suka menggosip. Kamu sama aja ikut campur dengan masalah kehidupan orang lain. Apalagi gosip yang kamu sampaikan itu salah , itu sama aja kamu memfitnah orang " jelas Skala dengan tegas. Devia menganggukkan kepalanya , membenarkan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Kak Devia bela aku atau abang Skala sih. Dari tadi ngangguk mulu " gerutu Azka.
"Aku memang membenarkan ucapan kamu tapi setelah mendengar penjelasan mas Skala , memang benar kita harus mencari kebenarannya dulu dan juga banyak orang-orang yang memiliki rupa yang sama dengan kita " ujar Devia.Skala tersenyum dan mengusap kepala istrinya lembut.
"Pintar banget istri aku " ujar Skala memuji Devia, membuat senyuman gadis itu makin mengembang.
"penter benget estre eke" ejek Azka mengikuti ucapan abangnya. Skala tak menggubris ucapan Azka, dia tau pasti adiknya itu ngambek.Sedangkan Devia hanya tertawa melihat adik iparnya. Azka duduk di sofa dan langsung menyuapkan bubur dengan kasar ke mulutnya.
Suara pintu terbuka membuat ketiga orang itu menatap kearah asal suara.Dafa masuk ke dalam ruang rawat Devia dengan mata yang memerah dan penampilan yang kacau .
"Dek abang pulang dulu . Ada urusan mendadak" ujar Dafa mencium kening Devia.
"Bang aku pulang dulu " ujar Dafa mencium tangan Skala.
"Kamu kenapa? " tanya Skala melihat menampilan Dafa yang tidak bisa di katakan baik-baik saja.Dafa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku gak pa-pa. Aku pulang dulu ya. Titip Devia ya bang " ujar Dafa yang langsung keluar dari ruangan tersebut setelah berpamitan dengan Devia dan Skala.
"Lah kenapa sama aku gak pamitan si Dafa , dikira makhluk halus yang tidak terlihat, apa" gerutu Azka.
__ADS_1
Bersambung....