
Dafa menyesap batang rokoknya di balkon kamarnya sambil menatap pemandangan di malam hari . Pria itu sudah kecanduan merokok sejak dia sekolah SMA dulu, mungkin dia terlihat pendiam tapi dulu Dafa merupakan pria yang nakal dan sudah sering bolos saat pelajaran matematika, pria itu tidak suka dengan pelajaran tersebut yang menurutnya saat menguras otak untuk berpikir keras. Apalagi jawabannya yang tiba-tiba bisa beranak seperti itu.
Dafa tersenyum mengingat awal-awal dia mengenal Fira.
Flashback
Brakk
Seorang gadis dengan berjalan terburu-buru tidak sengaja menabrak Dafa, membuat minuman yang di pegang gadis tersebut jatuh mengenai baju seragam pria tersebut.
Fira menutup mulutnya karna tidak sengaja menabrak kakak kelasnya itu. Apalagi baju Dafa yang putih kini menjadi warna merah karna tumpahan sirup yang di pegang Fira. Perlahanan gadis itu mengangkat kepalanya menatap pria yang dia tabrak tadi. Fira terdiam sejenak menatap wajah tampan Dafa yang terlihat datar namun menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Maaf kak, aku gak sengaja " ujar Fira dengan raut wajah yang bersalah dan juga ketakutan.Dafa menatap datar Fira dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"Tanggung jawab " ujar Dafa dengan nada dinginnya.Fira menatap bingung pada Dafa dia kurang mendengar pria ini berbicara apa.
"Itu neng, kata Dafa kamu harus tanggungjawab " ujar Arya menerjemahkan bahasa sahabatnya itu yang kurang di mengerti oleh Fira.
"Aku harus tanggung jawab apa ya? " tanya Fira dengan polosnya. Dafa melepaskan seragam sekolahnya dan meleparkannya tepat di wajah Fira yang nampak kaget mendapat lemparan baju seragam pria tersebut.
"Cuci bajunya samai bersih,besok harus sudah selesai" ujar Dafa yang hanya memakai pakaian dalam.
"Ah, iya kak " jawab Fira yang masih dengan mimik muka yang masih ketakutan.
"Ayo kita pergi " ajak Dafa pada dua sahabatnya.
"Sabar ya cantik, Dafa memang kaya gitu, padahal dia baik banget aslinya " ujar Ucup yang menatap genit pada Fira . Gadis itu tersenyum kikuk menanggapi ucapan Ucup .
Setelah kepergian Dafa. Atensi semua orang siswa yang ada di kantin menatap kearah Fira dengan tatapan iri, marah dan juga biasa saja. Meisya mengepalkan tangannya kuat, dia tidak rela bila harus bersaing dengan Fira, siswa baru di sekolah yang baru pindah tiga bulan yang lalu.
__ADS_1
"Wah kamu hebat Dafa, bisa buat anak baru itu langsung ketakutan melihat kamu. Tapi kenapa tidak langsung tembak aja supaya langsung jadian aja, gitu " ujar Ucup dengan heboh.
"Dekat dulu baru jadian" sahut Dafa.
"Betul juga sih, nanti kalau langsung di tembak takutnya dia langsung nolak karna belum kenal dengan Dafa " ujar Arya yang di langsung angguki Dafa .
"Tapi apa sih menariknya sih Fira, padahal dia gak cantik-cantik amet " celetuk Ucup.
"Ada sesuatu pada diri Fira yang membuat aku suka . Dia memiliki daya tarik tersendiri, polos, baik dan lugu "jawab Dafa tersenyum mengingat kejadian tadi. Ucup menyenggol lengan Arya yang tengah asyik memainkan gamenya.
" Lihat Dafa senyum-senyum sendiri, mungkin baru merasakan jatuh cinta "bisik Ucup pada Arya yang hanya manggut-manggut.
Dafa membuang putung rokoknya di bak sampah yang berada di sana .Tapi sebuah tangan mungil melingkar di perut Dafa . Pria itu langsung berbalik melihat siapa yang memeluknya. Fira tersenyum manis menatap Dafa, yang juga tersenyum menatap wanita tersebut.
" Kenapa belum tidur? Sudah larut malam "ujar Dafa hendak mencium bibir ranum Fira. Tapi dengan cepat wanita itu menghindari ciuman dari suaminya.
" Kamu ngeroko ya? "tanya Fira menutupi hidung dengan tangan kanannya.
" Iya, sekarang kamu cepat ganti baju terus gosok gigi . Aku gak suka mencium aroma rokok "ujar Fira menjauh dari Dafa tapi pria itu dengan cepat menarik tangan istrinya hingga membentur dada bidangnya.
" Cium dulu "ujar Dafa menundukkan kepalanya berusaha mencium wajah istrinya.
" Iih, aku gak mau kamu baru rokok "ujar Fira kesal,menjauh dari Dafa dan masuk ke kamar. Dafa tertawa melihat raut wajah kesal istrinya padahal dia hanya ingin bercanda .
" Fira, Fira "Dafa menggelengkan kepalanya dan menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.
*******
Dafa mengusap kepala istrinya lembut. Fira sudah tertidur nyenyak . Tangan Dafa sebagai bantalan untuk kepala Fira. Dia mencium kening, pipi dan bibir Fira, pria itu mendekap tubuh mungil istrinya dengan erat.
__ADS_1
" Selamat tidur sayang "ujar Dafa yang mulai menutup matanya menyusul Fira ke alam mimpi.
*******
" Lihat baguskan gelang aku "ujar Albian memperlihatkan gelang yang melingkar di lengannya pada Elang .
" Iya bagus, kamu beli di mana ? "tanya Elang.
" Ini aku dapat di rumah oma kalau kamu mau minta aja sama oma "jawab Albian sambil menyuap potongan kue ke mulutnya. Elang mendengar itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari kamar Albian. Untuk meminta gelang seperti Albian.
Sedangkan di lantai bawah semua orang tengah berkumpul, membahas selamatan untuk tujuh bulan kehamilan Devia. Walau acaranya masih dua bulan lagi tapi Dinda ingin berunding terlebih dulu dengan Devia, Skala dan juga dengan besannya agar tidak kerepotan bila sudah hari H nya.
" Kalau kalian berdua maunya di rumah siapa selamatannya? "Sakha yang merupakan ayah Skala.
" Aku terserah mau di rumah siapa aja. Tapi lebih baik di rumah aku aja "jawab Skala.
" Kalau mama tuh terserah saja "sahut Dinda.
Sedangkan di dapur Fira membantu Devia membuat teh dan menyiapkan cemilan untuk orang-orang yang ada di luar. Pembantu yang bekerja di rumah Devia tengah izin pulang kampung.
" Devia kamu lebih baik duduk aja, biar aku yang menyiapkan ini. Perut kamu juga sudah besar banget padahal baru lima bulan "ujar Fira.
" Kan aku hamilnya kembar kak Fira "jawab Devia. Fira menutup mulutnya karna kaget.
" Beruntung banget, tapi aku tidak melahirkan kembar padahal Dafa punya kembaran "ujar Fira.
" Sabar kak mungkin kehamilan yang kedua kakak bakal hamil kembar kaya aku juga "ujar Devia tersenyum hangat pada kakak iparnya tersebut.
" Aamiin "sahut Fira.
__ADS_1
Bersambung....