
Devia meremas tangan Skala dengan kuat, merasakan kontraksi perutnya yang begitu sakit dan nyeri. Peluh membasahi wajah gadis tersebut, Skala mengusap keringat yang membasahi wajah istrinya.
"Mas sakit hiks... Sakit hiks... " tangisan yang di tahan Devia akhirnya pecah. Air mata mengucur deras membasahi baju Skala.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai ke rumah sakit, terus istighfar" ujar Skala mengusap punggung istrinya. Devia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan suaminya dengar isakan tangisan yang terus terdengar.
Azka semakin kencang melajukan mobilnya agar cepat sampai ke rumah sakit. Pria itu bahkan masih dengan baju tidurnya karna Skala menggedor pintu rumahnya dengan keras meminta tolong untuk mengendarai mobil , karna Devia mau melahirkan.Devia meremas bajunya dengan kuat. Sakit, nyeri dan pinggang yang seakan patah begitu menyiksanya . Bahkan rasa sakit dan nyeri di perutnya makin menjadi -jadi . Skala tak henti-hentinya membisikkan dan melantunkan sholawat di telinga istrinya dan mengusap punggung Devia lembut.Tangan sebelahnya mengenggam tangan Devia yang meremas tangannya dengan kuat, Skala bisa merasakan apa yang istrinya rasakan.
Mobil sudah sampai di depan rumah sakit . Skala turun dari mobil dan menggendong istrinya dengan sekuat tenaga. Dua suster sudah menunggu ke datangan mereka dan menyiapkan brankar untuk Devia. Karna Skala sudah menelpon dokter Reni bahwa Devia akan melahirkan. Pria tersebut meletakkan istrinya di brankar. Dua suster tersebut mendorong brankar tersebut menuju ruang persalinan. Skala terus mengenggam tangan Devia tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
Dinda ,Devan dan Dafa sudah sampai di rumah sakit dan menuju ruang persalinan. Dan tak lama Sakha dan Lea sampai di rumah sakit setelah Azka menelpon Lea bahwa Devia akan melahirkan.
"Devia dimana? " tanya Dinda pada Azka yang tengah bersandar di tembok.
"Devia dan abang Skala ada di ruang persalinan" jawab Azka. Devan mengusap punggung istrinya yang begitu khawatir dengan putri mereka. Dafa juga ikut menenangkan Mamahnya, yang menangis dan takut terjadi apa-apa dengan Devia apalagi putrinya mengandung bayi kembar.
Dafa sudah pulang dari London dua hari yang lalu setelah satu bulan menjalani mengobatan di negara yang terkenal dengan menara Eiffel itu ,di temani Meisya yang selalu berada di sampingnya. Satu bulan lagi Dafa juga akan menikah dengan Meisya, karna mereka berdua juga merasa cocok dan menerima perjodohan ini.Azka terus memperhatikan wajah Dafa yang tak asing baginya seperti mirip dengan seseorang . Dia merasa perna melihat wajah orang yang mirip dengan Dafa, tapi di mana? Azka mengidikan bahunya, tidak penting memikirkan hal yang tak penting baginya, mungkin cuma kebetulan dia melihat wajah seseorang yang mirip dengan Dafa.
"Azka , Devia di mana, nak? " tanya Lea yang baru datang dengan Sakha.
"Di ruang persalinan, bunda sama abang Skala " jawab Azka. Lea memeluk suaminya dan berdo'a semoga menantunya itu di perlancar melahirkan.
Devia meremas tangan Skala dengan kuat, keringat membanjari wajahnya. Air matanya semakin deras keluar tanpa terdengar isakan suara lagi di bibir Devia,karna sakit luar biasa yang dia rasakan.
"Ayo Devia, sedikit lagi " ujar dokter Reni.
"Sakit mbak, aku gak kuat lagi hiks... " lirih Devia.
"Sayang pasti kamu bisa, jangan menyerah " ujar Skala mencium kening Devia. Pria itu mengusap peluh yang membasahi wajah Devia. Suara lantunan dari Skala sholawat terus menggema di telinga Devia . Bibir gadis itu terus beristighfar walau terputus-putus.
__ADS_1
"Aaaaaaaa" Devia mengedan dengan kuat dan semakin kuat juga mengenggam tangan Skala.
Ueeeeekkkk
Tangisan bayi laki-laki menggema di seluruh ruang persalinan. Bayi yang terlihat gemuk dengan kulit putih bersih menangis dengan kencang sampai tubuhnya bergetar. Tubuhnya di lumuri darah, Reni memberikan pada suster untuk langsung di bersihkan. Skala mencium kening istrinya, antara bahagia dan terharu melihat anaknya yang di lahirkan Devia.
Semua orang yang menunggu di luar terlihat bahagia setelah terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan.
"Pah, Devia sudah melahirkan bayi pertama " ujar Dinda memeluk suaminya. Devan terlihat bahagia mendengar suara tangisan cucu pertamanya, tinggal menunggu cucu keduanya yang belum keluar. Sakha dan Lea pun juga sangat bahagia, seperti Dinda dan Devan.Suster memberikan bayi yang sudah di bersihkan dan di lampini kepada Skala. Pria itu menatap tak percaya bahwa bayi yang dalam gendongannya adalah darah dagingnya, seperti mimpi.
Bayi laki-laki yang begitu mirip dengan Devia dari mata dan hidung . Sedangkan alis dan rupanya mirip dengan Skala, air mata pria itu jatuh menetes ,antara bahagia dan juga terharu.
"Satu lagi Devia" ujar dokter Reni. Devia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa.
Ueeeeekkkk
"Dokter istri saya kenapa? " tanya Skala panik melihat Devia memejamkan matanya.
"Devia pingsan mungkin karena tenaganya yang cukup terkuras saat melahirkan, dan beberapa menit dia akan sadar " ujar Reni.
Skala meletakkan putranya di inkubator setelah mengazani kedua putranya. Pria itu mendekati istrinya yang belum sadar, dia mengenggam tangan Devia dan mencium punggung istrinya lembut.
"Terima kasih sudah memberikan dua jagoan untuk aku, sayang . Aku sangat mencintai mu dan keluarga kecil kita semakin lengkap dengan adanya dua putra kembar kita " ujar Skala mencium kening istrinya begitu lama dan menatap lekat wajah Devia yang terlihat memucat.
Semua orang masuk kedalam ruangan persalinan . Dinda memperhatikan dua bayi kembar identik tengah tertidur lelap, Lea dan juga Sakha memperhatikan bayi tersebut. Wajahnya campuran dari Skala dan Devia. Lea mengusap pipi tembem putra pertama anaknya, dia jadi gemas sendiri melihatnya. Devan mendekati brankar tempat Devia berbaring tak sadarkan diri.
"Devia kenapa Skala? " tanya Devan.
__ADS_1
"Devia cuma pingsan, nanti dia akan sadar pah, karna tenaganya terkuras habis setelah melahirkan bayi kedua " jawab Skala.
Azka mencubit pipi bayi itu tapi tangannya langsung di pukul Lea dengan kencang.
"Bunda apaan sih, kenapa tangan aku dipukul? Sakit tau " gerutu Azka mengusap tangannya.
"Kamu juga pakai cubit pipi anak abang kamu, nanti kalau dia bangun terus nangis gimana? " omel Lea pada putra keduanya. Dafa menatap bayi tersebut dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.Tapi seketika ingatan Fira yang mengatakan tengah mengandung anaknya muncul di kepalanya.
Flashback
"Dafa aku hamil anak kamu hiks... " lirih Fira dengan air mata yang mengucur deras.
"Itu tidak mungkin, aku tidak pernah menyentuh kamu atau melakukan hubungan suami istri dengan kamu,Fira !! " bantah Dafa dengan suara meninggi.
"Aku tidak berbohong , aku hanya melakukan dengan kamu!!! Kamu waktu itu mabuk Dafa dan memaksa aku melakukan itu hiks.... Aku tidak berbohong hiks... Tolong nikahi aku hiks...Aku tidak mau anak yang aku kandung tanpa sosok seorang ayah hiks.. " lirih Fira dengan suara parau.Dafa menujukkan foto di ponselnya pada Fira. Mata gadis itu membulat sempurna melihat dia dalam foto tersebut tidur satu kasur dengan seorang pria yang wajahnya blur tidak bisa Fira lihat dengan jelas wajah pria itu,dan dia juga tanpa busana hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya .
"Kamu melakukannya dengan pria lain, dan meminta pertanggungjawaban dengan ku atas ke hamilan kamu . Ternyata kamu wanita murahan, Fira .Terlihat baik dan polos tapi ternyata kamu wanita ular!!! " teriak Dafa.
"Dimana kamu mendapat foto itu? Dan aku juga tidak pernah melakukannya dengan pria lain, aku hanya melakukannya dengan kamu " lirih Fira .
"Pergi dari ruangan aku, dan mulai saat ini kita tidak ada hubungan lagi dan pertunangan kita minggu depan, aku batalkan!!" teriak Dafa.
*****
"Dafa kamu kenapa? " tanya Dinda melihat putranya hanya melamun.
"Aku gak pa-pa , Mah" jawab Dafa kembali menatap anak Devia.
B**ersambung**
__ADS_1