
Semua orang berkumpul di bandara. Hari ini Dafa akan berangkat ke Paris untuk menjalani pengobatan penyakit tumor yang bersarang di tubuhnya. Devia memeluk Dafa erat, pria itu mengusap kepala adiknya lembut dan mencium kening Devia lembut.
"Jangan nangis dek, nanti kalau sudah selesai kerjaan dan kuliah abang. Pasti akan balik lagi ke sini" ujar Dafa mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya. Skala memeluk Devia yang menangis sesegukan, pria itu mengusap punggung istrinya lembut.Dafa memeluk Dinda dan Devan secara bergantian. Dia mencium tangan kedua orang tuanya begitu lama.
Tak berapa lama datanglah seorang gadis dengan memakai kemeja sedikit longgar agar tidak menampakkan bentuk tubuhnya dan memakai bawahan rok hitam panjang. Dengan balutan hijab panjang sebatas dada . Semua orang menatap gadis cantik itu terutama Devia menatap bingung pada gadis berhijab tersebut.
"Maaf saya lama datangnya, soalnya macet " ujar Meisya dengan senyuman manis . Dinda dan Devan tersenyum menatap Meisya.
"Tidak pa-pa nak, kamu datang tepat waktu" ujar Dinda lembut pada Meisya.Dafa memperhatikan Meisya dan memalingkan wajahnya melihat gadis itu tampil berbeda , dia benar-benar mengikuti apa yang Dafa mau yaitu memakai hijab.
"Mama, dia siapa? " tanya Devia menatap kearah Meisya.
"Dia bakal jadi kakak ipar kamu, dia sekretaris Dafa dan kakak ipar kamu, nak. Dia anak dokter Adrian, yang dulu pernah Mama ceritakan, ayah Meisya pernah menyelematkan Mama yang dulu hampir tertabrak " ujar Dinda.
"Maksud Mama, abang Dafa dijodohin gitu. Bukannya abang sudah punya calon istri pilihan abang sendiri,kakak Fira. kenapa yang jadi calon istri abang Dafa, dia" ujar Devia menujuk pada Meisya yang menunduk.
"Sudah sayang, kenapa marah gini" ujar Skala mengusap punggung istrinya.
"Devia gak suka sama dia " ujar Devia menatap tak suka pada Meisya. Gadis berhijab itu hanya diam, memilin ujung hijabnya.
"Kenapa kamu tidak suka dengan Meisya bila dia jadi kakak ipar kamu, nak? " tanya Devan pada Devia.
"Coba Papa pikir, kakak Fira sudah berkorban memberikan ginjalnya sama aku. Mama ingatkan dia rela mendonorkan ginjalnya buat aku yang dulu sudah hendak sekarat karna sangat membutuhkan donor ginjal dan kakak Fira mau mendonorkan ginjalnya buat aku.Selain itu kakak Fira baik,lembut dan penyayang" ujar Devia dengan air mata yang membasahi pipinya.
Dafa mengepalkan tangannya, matanya berair. Dia juga tidak setuju dengan perjodohan ini tapi apalah daya, dia dan Meisya sudah terikat sejak kecil.Meisya tidak bisa bicara apapun, dia juga tidak tau Dafa memiliki kekasih. Gadis itu langsung berlari meninggalkan semua orang dengan air mata yang sudah berjatuhan membasahi hijab hitamnya.
__ADS_1
"Devia, kamu gak boleh kaya gitu. Abang juga sudah menerima perjodohan ini dan jangan pernah Mengungkit-ungkit tentang Fira. Kamu seharusnya belajar menghormati keputusan Mama dan Papa. Bukannya menolak dan berkata yang tak pantas dan membuat Meisya sakit hati. Jangan bersikap kekanak-kanakan selalu ingin dituruti kemauan kamu " ujar Dafa tegas dengan suara yang meninggi.
Devia menatap tak percaya pada abangnya yang marah padanya. Dia hanya ingin mengingtkan kebaikan Fira yang dulu mau mendonorkan ginjalnya untuk dirinya. Skala hanya diam, bukannya dia tidak mau membela istrinya tapi dia tidak mau ikut campur dengan masalah perjodohan Dafa dan Devia juga salah menurut Skala. Jujur dia marah pada Dafa yang meninggikan suaranya pada Devia. Skala memeluk Devia mengusap kepala istrinya lembut. Devia menangis dalam pelukan suaminya, pria itu bisa merasakan air mata Devia yang membasahi kemejanya.
Dafa pergi meninggalkan semua orang dan berlari menyusul Meisya yang entah kemana gadis itu pergi.Dia mencari di sekeliling bandara hingga matanya menangkap seorang gadis yang duduk di kursi tunggu penumpang dengan menelungkupkan kepalanya.
"Kenapa nangis? " tanya Dafa dengan suara yang terdengar dingin dan datar. Meisya mengangkat Kepalanya dan mendongak menatap Dafa dengan mata yang sudah banjir air mata.
"A-aku mau kita batalkan perjodohan ini. Biar aku bilang sama ayah agar membatalkan perjodohan kita. Aku gak mau jadi orang yang merusak hubungan kamu dengan kekasih kamu " ujar Meisya.
"Tapi aku tidak mau perjodohan ini batal. Perjodohan ini harus berlanjut sampai ke pernikahan" ujar Dafa tegas.
"Bangun " ujar Dafa. Meisya bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan Dafa.
"Ayo ikut aku" ujar Dafa hendak meraih tangan Meisya tapi dengan cepat gadis itu menjauhkan tangannya dari jangkauan calon suaminya itu.
"Kita belum ada ikatan dan kamu belum boleh menyentuh aku kecuali kamu sudah sah menjadi suami aku " ujar Meisya menunduk kepalanya, sesekali menatap Dafa.
"Ekhmm, ayo kita kembali ke orang tua aku , pasti mereka sudah menunggu" ujar Dafa berjalan lebih dulu di ikuti Meisya dari belakang. Dengan mendadak pria tersebut menghentikan langkah kakinya membuat Meisya menabrak punggung besar Dafa.
Dafa berbalik kebelakang menatap Meisya yang mengusap batang hidungnya.
"Kamu jangan berjalan di belakang aku, tapi kamu berjalan di samping aku. Nanti orang mengira kamu sekretaris aku " ujar Dafa.
"Bukannya aku sekretaris kamu " sahut Meisya.
__ADS_1
"Tapi lebih tepatnya calon istri" ujar Dafa . Meisya menundukkan kepalanya , dia benar-benar tersipu malu dengan ucapan Dafa, pipinya sudah memerah bak kepiting rebus. Sudut bibir Dafa terangkat melihat pipi gadis itu memerah dan dapat dia lihat walau Meisya menundukkan kepalanya.
******
Dafa dan Meisya datang beriringanan kembali ke tempat Dinda dan Devan menunggu.
"Kamu kemana aja Dafa, pesawat sudah mau berangkat " ujar Dinda.
"Maaf Mah " ujar Dafa.
"Sekarang ayo kalian berdua masuk pesawat, sebentar lagi sudah mau berangkat pesawatnya " ujar Devan.
"Mah ,Devia mana ? " tanya Dafa yang tidak melihat adik dan abang iparnya.
"Dia dibawa Skala pulang, gara-gara kamu dia nangis terus, seharusnya kamu yang lembut menasehati Devia, sudah tau adik kamu itu gak bisa di bentak " omel Dinda.
"Iya Mah, maafin Dafa " ujar Dafa merasa bersalah pada adiknya.
"Sudah jangan banyak bicara ayo kalian berdua masuk pesawat " ujar Devan.Mereka berdua berjalan menuju ke pesawat.
******
Devia menjilati es krimnya dengan mata yang membengkak karna terlalu lama menangis.
"Enak es krimnya? " tanya Skala pada Devia.Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.Skala mengikat rambut panjang istrinya yang terus menutupi wajah Devia karna tiupan angin.
__ADS_1
Devia menggeser tubuhnya dan bersandar di bahu suaminya. Skala merengkuh pinggang istrinya dan mencium kening Devia lembut Skala memperhatikan Devia hanya melamun sambil menjilati es krimnya. Mungkin istrinya masih kepikiran dengan ucapan Dafa.
Bersambung...