
Elang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fira. Dafa sudah membujuk dan merayu putranya agar tidak marah lagi. Fira hanya diam, tangannya mengusap kepala Elang lembut. Dia tidak ingin ikut campur dengan masalah Elang dan Dafa. Ternyata suaminya itu tetap sama tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Sayang ,tolong bantu aku bujuk Elang supaya tidak marah lagi dengan aku" ujar Dafa dengan wajah yang memohon.Menghembuskan napas pelan.
"Mas, kamu sendiri yang harus berusaha minta maaf sama Elang. Masa aku harus ikut campur, salah kamu tadi tiba-tiba langsung marah-marah sama Elang" ujar Fira mendelik sebal dengan suaminya.
"Nak, maafin ayah ya. Ayah janji tidak akan marah lagi dengan Elang" ujar Dafa mengusap surai rambut Elang. Anak itu melepaskan pelukannya di leher Fira dan menatap dengan wajah merengut pada sang ayah.
Dafa tersenyum melihat Elang mau menatap dirinya. Sudah satu jam dia membujuk anaknya tapi Elang sangat sulit untuk memaafkan apalagi anak ini tipe yang sangat sulit memaafkan, karna sifat keras kepalanya dan juga mudah emosi sama persis seperti Dafa, sang ayah.
"Sayang maafin ayah. Maaf sudah membentak Elang " ujar Dafa mengenggam tangan putranya.
"Sehalusnya ayah jangan langsung malah-malah sama El. Hati El sakit saat ayah malahin El dan malah membela Bian yang jelas-jelas salah. Ayah gak ngelti bentapa pentingnya gelang ini . Dea udah ninggalin El jauh, dan cuma gelang ini yang sekalang yang El punya dan ini dali Dea" ujar Elang dengan nada suara yang bergetar, dia mengusap air matanya kasar. Dia tidak mau terlihat cengeng walau hatinya begitu bergemuruh ingin menangis dengan kencang seperti anak -anak yang lain.
Tapi itu Elang, semenjak Dafa pergi meninggalkannya untuk berobat selama empat tahun di Amerika Serikat. Membuat di umur Elang yang saat itu masih belum genap satu tahun dan sampai berumur empat tahun tanpa di dampingi sosok seorang ayah membuat anak ini lebih tegar dan menyembunyikan sesuatu yang menyakiti hatinya . Dia berpikir lebih dewasa sebelum umurnya karna kondisi dan keadaannya yang saat itu memaksanya menjadi lebih dewasa. Dan Elang sangat melindungi bundanya saat di hina orang-orang karna saat itu belum menikah dengan Dafa karna pria itu tengah berobat. Elang tidak peduli orang-orang menghinanya anak haram asalkan jangan menghina bundanya, Fira.
Jadi Elang sangat berbeda dengan Albian yang sudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Skala dari sejak lahir. Albian sangat cengeng tapi dia sangat penyayang pada semua orang yang dekat dengan dirinya. Sikapnya yang mirip dengan Devia namun akan bersikap seperti Skala saat marah lebih tenang.
Dafa menatap bersalah pada Elang yang masih menatap dengan sorot mata marah.
"Maafin ayah, nak. Maafin ayah " ujar Dafa dengan nada suara lirih. Dia mencium pipi putranya dengan lembut.
__ADS_1
"Ayah hiks.. " pecah sudah tangis Elang yang sudah dia pertahankan, dia merentangkan kedua tangannya. Dafa memeluk Elang dan menggendong putranya yang sebentar lagi akan bertambah umur.
"Maafin ayah, sayang" ujar Dafa menciumi seluruh wajah Elang dan mengusap air mata yang membasahi wajah putranya.
"A-ayah j-jabgan m-marahin E-elang lagi. E-elang takut lihat ayah marah" ujar Elang makin menenggelamkan wajahnya di leher Dafa dengan menangis sesegukan. Dafa menarik Fira yang menangis melihat adegan itu.Mereka saling berpelukan dengan suara tangisan Elang dan Fira yang mengisi ruangan kamar ini . Entah mengapa Fira menjadi cengeng seperti ini.
******
"Jangan kaya gitu lagi,ya ndut . Kamu mau jadi paling ngambil gelang punya orang lain " omel Devia sambil menyuapi opor ayam pada Albian. Anak bertumbuh bongsor itu hanya diam menunduk sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Mata Albian melirik ke kanan-ke kiri mencari keberadaan Papahnya hanya sang Papah yang bisa menolongnya dari omelan Mamahnya.
"Paham tidak, kalau tidak paham. Mamah potong jatah makan kamu " ancam Devia. Albian langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Tapi jangan di ulangi ya lain kali. Malu lah badan sudah gendut suka ambil barang orang " celetuk Devia.
"Mamah, aku gak gendut cuma kesubulan aja " ujar Albian tak terima dengan ucapan sang Mamah.
"Kenapa ini? " tanya Skala duduk di sebelah Albian. Bocah ini tersenyum lebar melihat kedatangan Skala.
"Papah tadi Mamah kata aku gendut, padahalnaku cuma kesubulan aja " adu Albian. Skala tersenyum dan mengusap pipi chubby putranya.
__ADS_1
"Iya kamu memang tidak gendut tapi..... bongsor" celetuk Skala membuat Albian menggeram marah.
"Akhh, Papah kenapa sama kaya Mamah?Bian gak gendot cuma kesubulan aja " ujar Albian kekeh, dia menganggap bahwa dia tidak gendut hanya kesuburan. Sedangkan Skala dan Devia tertawa bersamaan melihat wajah cemberut Albian yang makin menggemaskan.
******
"Suka sama mainannya? " tanya Sakha pada Alvian. Anak itu melihat mainan mobil-mobilan dan robot-robotan yang di kasih kakeknya.
"Vian suka cuma ini tellalu berlebihan kek. Kenapa halus beli mainan mobilan tiga pasang dan lobotan tiga pasang juga. Kan Vian cuma butuh satu aja " celoteh Alvian yang duduk di pangkuan Sakha. Lea dan Sakha tertawa mendengar celotehan cucunya.
"Mainan ini tidak kakek kasih semua sama kamu. Nanti mau kakek kasih ke Albian dan Elang" ujar Sakha. Alvian hanya ber"oh"saja menanggapinya.
"Sakha, Lea ayo makan dulu " ajak Devan.
"Iya , aku nanti saja Devan. Aku ingin bermain-main dengan cucu ku ini" sahut Sakha terkekeh.
"Nanti makan ya ada opor ayam sama sate " ujar Devan. Sakha mengacungkan jempolnya.
"Sayang kamu kalau mau makan, makan aja. Aku nanti " ujar Sakha pada Lea.
"Ya sudah, tapi kamu mau aku ambilkan opor ayam ? " tanya Lea.
__ADS_1
"Tidak aku nanti saja masih kenyang " tolak Sakha dengan lembut. Lea beranjak dari sofa menuju meja makan yang tersedia beberapa jenis makanan dan kue-kue.
Bersambung...