
Dafa keluar dari mobil dengan menggendong Elang yang tertidur lelap dalam gendongannya. Fira mengikuti Dafa dari belakang dengan menenteng tas ransel kecil. Mereka masuk ke dalam rumah. Setelah acara kumpul keluarga di rumah Skala membuat mereka kelelahan apalagi pulang agar larut malam. Dafa membawa masuk Elang dalam kamar dan merebahkan putranya dengan pelan dan hati-hati, dia takut putranya terbangun. Pria itu menutupi tubuh Elang sebatas dada dengan selimut tidak lupa memberikan kecupan di kening sang anak.
Dafa masuk ke kamar dan tidak mendapati Fira. Tapi dia mendengar suara seseorang yang sedang muntah, buru-buru Dafa berjalan kearah kamar mandi dan masuk ke dalam.
"Kamu kenapa, sayang? " tanya Dafa panik dan khawatir yang nampak jelas di wajahnya.
Dafa mengusap punggung istrinya lembut. Fira terus memuntahkan seluruh isi dalam perutnya hingga cairan bening yang dia muntahkan. Pria itu membersihkan bibir Fira dengan air karna istrinya sudah tidak bertenaga untuk berdiri. Dia juga mengambil tissue di dekat wastafel dan membersihkan bibir istrinya.
"Kamu kenapa sampai bisa muntah kaya gini? Masuk angin? Aku kerokin ya " ujar Dafa menyingkirkan rambut panjang Fira yang menutupi wajah.
"Aku gak tau, tiba-tiba kepala ku pusing dan mual. Aku mau istirahat aja gak mau di kerokin " ujar Fira. Dafa mengangkat tubuh Fira seperti koala dan membawanya keluar dari kamar mandi. Pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas kasur.
Dafa membuka laci mencari minyak angin dan menyingkapkan baju Fira sebatas dada.
"Mau ngapain? " tanya Fira.
"Aku mau olesi minyak angin di perut kamu , mungkin kamu masuk angin " ujar Dafa.
Tangan besar nan hangat itu mengusap perut Fira membuat wanita itu merasakan nyaman. Tangan Dafa tidak dapat di kondisikan dan merambat ke tempat lain.
"Mas, aku lagi gak mau main " ujar Fira dengan suara lemas. Dia seakan tau apa isi fikiran suaminya.
"Aku gak ngajak kamu main, cuma ngolesin minyak angin ke perut kamu " ujar Dafa yang tersenyum masam dan kecewa. Fira yang menyadari perubahan ekpresi dan nada suara suaminya bangkit dari kasur, dia mengubah posisi duduk.
"Kamu marah sama aku, mas. Gara-gara gak bisa melayani kamu. Ya sudah aku mau " ujar Fira.
"Sudah Fira, tidak usah di paksakan. Lebih baik kamu istirahat . Aku masih bisa menahannya" ujar Dafa. Fira terkekeh mendengarnya dan mencubit pipi suaminya gemas.
"Bener gak mau, nanti kamu ngambek sama aku " ujar Fira mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak di antara mereka berdua. Saat bibir mereka akan menyatu Dafa mendorong pelan Fira. Fira mengernyitkan dahinya dengan penolakan suaminya. Tadi Dafa yang mau tapi saat dia sudah siap Dafa malah menolaknya.
"Kamu istirahat , jangan memaksakan" ujar Dafa mengusap pucuk kepala Fira dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Sekarang istirahat, aku mau ke dapur buatin kamu teh hangat setidaknya tubuh kamu menghangat kalau minum teh " ujar Dafa hendak bangkit dari sisi ranjang tapi tangan Fira mencekal.
Pria itu mengangkat satu alisnya seakan berkata kenapa.
"Gak usah buatin aku teh hangat cukup kamu peluk aku nanti tubuh aku menghangat " ujar Fira memeluk lengan suaminya.
"Pintar kamu sekarang ngegombal siapa yang ngajarin? " tanya Dafa dengan nada bercanda, tangannya mencubit hidung istrinya gemas.
"Aku gak ngegombal dan itu memang kenyataan tubuh aku akan menghangat kalau kamu peluk " ujar Fira. Dafa tersenyum dan memeluk istrinya. Fira memejamkan matanya merasakan tubuhnya menghangat dalam dekapan Dafa.
"Sekarang tidur ya sayang. Besok aku harus kerja " ujar Dafa membaringkan tubuh Fira ke kasur.
Cup
Fira menarik tengkuk suaminya ,mencium dan menyesap bibir suaminya sebentar. Dafa membulatkan matanya dengan mimik muka yang terkejut dengan kelakuan istrinya. Pria itu segera menjauh dan menutupi selimut di tubuh Fira. Sedangkan wanita itu terkikik geli karna tau pasti Dafa akan ke kamar mandi untuk menuntaskannya.
"Perlu aku bantu, mas" goda Fira. Membuat Dafa yang akan masuk ke kamar mandi menoleh menatap Fira yang tertawa puas karna telah mengerjainnya. Dafa mendengus kesal dan segera masuk ke kamar mandi sebelum dia menerkam Fira.
*******
Dafa menuruni anak tangga sambil menggerutu karna kesusahan memasang dasi. Dia bisa memasang dasi tapi tidak sebagus dan serapi Fira.
Fira meletakkan makanan yang baru dia buat di meja makan . Asap mengepul dari makanan yang di buat tadi .
"Sayang, tolong bantuan aku pasang dasi! " teriak Dafa dari meja makan membuat Fira yang tengah mencuci tangan terhenti . Wanita itu segera mengeringkan tangannya dan berjalan mendekati suaminya.
"Kenapa mas, teriak pagi-pagi gini?Malu nanti kedengaran tetangga" ujar Fira. Dafa menyengir dan menunjuk dasi yang mengalung di lehernya.
"Pasangin, aku gak bisa masang dasinya" ujar Dafa . Fira terkekeh dan memasang dasi di leher suaminya dengan telaten .
"Sudah selesai " ujar Fira menatap hasil karyanya karna memasang dasi dengan rapi.
__ADS_1
"Terimakasih, aku berangkat kerja dulu ya. Maaf tidak bisa makan sarapan pagi dengan kamu " ujar Dafa mengecup bibir ranum istrinya .Fira mencium punggung tangan suaminya .
Dafa segera pergi karna ada rapat pagi ini. Fira menatap punggung suaminya yang sudah menghilang. Wanita itu tiba-tiba langsung berlari ke wastafel dan muntah-muntah di sertai kepala yang pusing.
Fira tersentak ketika sebuah tangan mungil menarik ujung bajunya.
"Bunda kenapa? Bunda sakit? " tanya Elang dengan suara serak,anak itu baru bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan dan memeluk boneka dinosaurus.
"Gak sayang, bunda cuma masuk angin, Elang baru bangun hmm? " tanya Fira sekedar mengalihkan topik pembicaraan agar anaknya tidak terlalu khawatir.
"Iya bunda " jawab Elang.
"Kalau gitu, Elang mandi dulu ya baru sarapan, sayang" ujar Fira dengan lembut. Elang mengangguk kepalanya dan berlari menuju kamarnya untuk melaksanakan apa yang bundanya perintahkan.
*****
Dafa memasuki kantor dengan terburu-buru. Di arah berlawanan seorang wanita juga berjalan terburu-buru.
Brakk
Mereka berdua sama-sama meringis kesakitan karna jatuh berbarengan kelantai.
"Aduh pantat aku, aku sakit " ringis Nevia memegangi pantatnya. Dafa sama halnya tapi tidak separah Nevia.
"Dasar kurang ajar banget sih, apa kamu gak pu-" ucapan Nevia terpotong ketika menatap Dafa. Dia terpesona dengan ketampanan pria yang ada di depannya.
"Gantengnya" puji Nevia dengan pelan. Gadis itu segera membenarkan penampilannya takut pria ini jadi ilfeel padanya.
Dafa membersihkan jasnya yang sedikit kotor. Dia menatap sekilas Nevia yang seperti cacing kepanasan menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya. Dafa segera pergi tanpa mengucapkan apapun hanya wajah datar yang di tampilkan.
"Uhh, ganteng dan bersikap dingin. Kaya di novel-novel. Aaaa tipe aku banget !! " teriak Nevia histeris menatap punggung Dafa yang mulai menjauh dari pandangan matanya.
__ADS_1
Bersambung...