
Dua orang suruhan itu memasukkan Ara ke dalam mobil dan menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak butuh waktu lama mobil berwarna hitam itu sudah sampai di depan rumah sakit. Para pengunjung rumah sakit dan suster menatap para bodyguard itu membawa Ara yang masih tak sadarkan diri. Mereka membawa masuk Ara ke dalam ruangan UGD tempat Irfan di rawat.
Nina tersenyum lebar ketika melihat orang suruhannya berhasil menemukan Ara dan membawanya kemari. Wanita paruh baya itu menyeringai sambil memegangi kartu nama Irfan. Iya, pemilik hotel tersebut adalah Irfan dan dia mengambil kartu nama pria tersebut agar petugas hotel percaya.
"Baringkan dia di sebelah brankar Irfan" perintah Nina. Bodyguard itu membaringkan Ara di brankar berseberangan dengan Irfan yang belum sadarkan diri. Pria itu belum sadarkan diri dengan kepala yang di perban. Cedera di kepala Irfan cukup parah akibat pukulan benda keras.
"Sekarang kalian berjaga di depan ruangan ini, jangan sampai ada dokter atau suster yang masuk kesini, paham! " ujar Nina.
"Paham, bos! " jawab mereka serentak. Dua bodyguard itu keluar dari ruangan tempat Irfan di rawat untuk berjaga di depan.
"Dasar anak tidak tau diri, syukur-syukur aku mau ngasuh dia seperti anak kandung sendiri, sekarang malah membangkang! " gerutu Nina mengambil botol air mineral dan membuka segel penutup botol tersebut.
Byurrr
Ara langsung tersadar ketika Nina menyiramnya dengan air dan membuka matanya perlahan. Pandangan matanya masih buram karna efek dari cairan obat bius itu masih berpengaruh. Ara mengerjap-ngerjapkan matanya dan dia bisa melihat dengan jelas Mamahnya berdiri tepat di depannya. Gadis itu dengan susah payah bangun dari brankar untuk mengubah posisi berbaring menjadi posisi duduk .
"Mah, aku kenapa di sini? Terus kenapa Mamah nyiram aku pakai air? " tanya Ara dengan suara yang terdengar lemas,seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun .
Plak
__ADS_1
Plak
Suara tamparan terdengar sangat keras ketika tangan Nina membentur pipi anak tirinya. Iya, Ara merupakan anak tiri Nina yang merupakan anak dari suami keduanya. Saat itu umur Kanaya putri kandung Nina berumur lima tahun dan Ara ber umur dua tahun . Nina dulu menjadi pengasuh Ara hingga ada ketertarikan antara ayah Ara dan Nina hingga mereka memutuskan menikah dengan alasan agar Nina bisa menjadi ibu sambung Ara .
Ara memegangi kedua pipinya yang terasa ngilu dan perih akibat tamparan Mamahnya. Matanya berkaca-kaca karna ini pertama kalinya Nina menampar dirinya.
"Mah kenapa aku di tampar!"ujar Ara tak terima.
"Mamah gak mungkin nampar kamu kalau tidak melakukan hal fatal. Lihat Irfan sekarang koma gara-gara kamu,Mamah nyuruh kamu mengantarkan makanan ke kamar Irfan bukan nabok kepala dia pakai vas bunga!" omel Nina berkacak pinggang dengan muka garangnya.
"Tadi kak Irfan mau perkosa aku, makanya aku pukul kepala dia. Mamah mau aku gak suci lagi, gak perawan lagi , terus aku hamil anak kak Irfan , nanti.... " Nina langsung menutup mulut Ara dengan telapak tangannya.
"Dasar matre! " celetuk Ara. Nina langsung tersadar dari hayalan indahnya dan menatap kearah putri tirinya.
"Jadi perempuan itu harus matre, memang kamu mau jadi gembel hah!! Ingat ayah kamu itu sudah mati ,siapa lagi yang biayai hidup kita kalau bukan dengan porotin si Irfan, jadi terpaksa Mamah melakukan cara mainstream" ujar Nina dengan bangganya. Ara memutar bola matanya malas.Gadis mungil itu menyeringai ketika sebuah ide yang cukup gila muncul di otak cantiknya.
Ara mengubah posisi duduknya membelakangi Nina yang berbicara sendiri membahas warisan Irfan. Gadis itu memasukkan jari telunjuknya ke tenggorokan agar muntah dan benar saja tidak butuh waktu lama dia muntah .
Jorok!
__ADS_1
Atensi Nina teralihkan pada Ara yang memuntahkan cairan bening di lantai rumah sakit. Matanya melotot melihat Ara terus muntah.
"Kamu kenapa? " tanya Nina panik dengan tatapan jijik pada Ara pasalnya air liur meleleh dari bibir gadis itu membasahi dagu Ara.
"Biasa aku lagi hamil " ujar Ara dengan santai. Nina membelalakan matanya mendengar ucapan Ara yang membuat jantungnya hampir copot.
"Wah,hebat Irfan!sekali bobol langsung jadi " ujar Nina histeris dan juga gembira. Gembira, karna bila Ara hamil makin mudah dia mengusai harta Irfan.
" Aku bukan hamil anak Irfan tapi anak Azka! "ujar Ara dengan volume sedikit keras. Nina yang awalnya senang kini menatap tajam pada Ara.
" Hamil anak Azka! Tidak, tidak itu pasti anak Irfan "ujar Nina bersikukuh.
" Mah, sebelum kak Irfan nyentuh aku ,sudah aku lumpuhkan dia ! Dan yang aku kandung anak Azka"ujar Ara dengan senyuman lebarnya. Nina menyipitkan matanya menatap Ara, dia tau anak tirinya ini tukang bohong.
"Kalau begitu kita periksa di dokter kandungan, Mamah mau pastikan kalau kamu benar-benar hamil anak Azka, mumpung kita ada di rumah sakit " ujar Nina dengan tatapan tajamnya. Ara meneguk ludahnya kasar , keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Mati aku kalau ketahuan bohong! Semoga ada keajaiban" batin Ara tersenyum pada Mamahnya menutupi kegugupannya.
Bersambung....
__ADS_1
Cerita Triplets tidak aku tulis disini, ok.