
Devia menerima suapan dari Skala dengan telaten pria tersebut menyuapi istrinya. Skala mengusap sudut bibir Devia yang blepotan dengan lembut.
"Sudah , aku sudah kenyang makan buburnya" tolak Devia ketika Skala akan menyuapi lagi.
"Tinggal satu suap lagi ini" ujar Skala.
"Gak mau sudah kenyang " ujar Devia mengusap perutnya yang Kekenyangan.
"Ya sudah kalau gak mau lagi " ujar Skala menyuap sisa bubur tersebut ke mulutnya.
"Kamu gak jijik makan bubur bekas aku " celetuk Devia.
"Kenapa harus jijik ? Kamukan istri aku ,kita biasanya kalau berciuman apa kamu juga gak jijik? " tanya balik Skala . Devia hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Skala.
"Aku mau minum, haus" ujar Devia mengalihkan Pembicaraan. Skala memberikan segelas air putih pada istrinya. Devia menerima segelas air putih dari Skala dan meminumnya hingga tinggal setengah.
"Ini gelasnya" ujar Devia memberikan pada Skala gelas air putih tadi.
"Bekas bibir kamu di gelas ini yang mana? " tanya Skala. Dengan polosnya Devia menunjuk bekas bibirnya di gelas tadi. Skala memutar gelas tersebut dan meminum tepat dimana bekas bibir istrinya. Wajah Devia tersipu malu dan pipi yang memerah melihat Skala minum di bekas bibirnya.
Romantis❤
"Kenapa minumnya harus gelas yang ada bekas bibir aku? " Devia memberanikan bertanya dengan wajah yang masih memerah .
__ADS_1
"Supaya romantis. Kamu tau Rasulullah biasanya saat minum selalu mendahulukan Sayiddah Aisyah, istrinya.Agar bisa minum di mana bekas bibir istrinya tadi , romantis bukan? " tanya Skala.
"Iya, romantis banget" ujar Devia tersenyum malu-malu ternyata suaminya itu mengikuti ala Rasulullah . Walau Skala tidak seperti Rasulullah tapi pria itu memperlakukannya dengan Istimewa dan seakan dia barang yang begitu berharga hingga Skala begitu hati-hati menjaga dirinya.
"Kenapa ngelamun hmm? " tanya Skala mengusap pipi Devia lembut.
"Gak ngelamunin apa-apa" jawab Devia sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu buka baju dulu ya kita bersihkan tubuh kamu pakai kain basah " ujar Skala menyiapkan baskom kecil yang berisi air hangat dan kain.
Devia menahan tangan Skala saat akan membuka kancing bajunya. Pria itu mengangkat satu alisnya, bingung.
"Aku malu " ujar Devia.
"Kalau kamu gak pa-pa lihatnya, sedangkan yang malu kamu lihatin " ujar Devia.
"Udah gapapa buka bajunya, kalaupun aku macam-macam sama kamu gak pa-pa kan sudah halal juga" ujar Skala terkekeh pelan.
"Awas kamu macam-macam sama aku, lihat kondisi aku masih belum baik dan kamu keterlaluan banget kalau ngajak berhubungan sedangkan istri lagi sakit" gerutu Devia. Skala tertawa keras mendengar Jawaban istri kecilnya ini.
"Aku cuma bercanda tapi kayanya kamu yang pengen aku macam-macamin ya " goda Skala.
"Mas Skala!! Siapa juga mau di macam-macamin sama kamu dasar sudah tua mesum pula " celetuk Devia kesal.
__ADS_1
"Kalau aku gak mesum kamu gak akan bisa ngandung anak aku, mesum itu kebutuhan biologis. Nanti kalau aku gak mesum masa kamu yang minta jatah duluan"sahut Skala terkikik geli. Devia hanya mendelik sebal menatap Skala.
*******
Devia sudah selesai di bersihkan badannya oleh Skala walau suaminya itu selalu jail saat membersihkan badannya. Skala juga sudah mengganti baju kemejanya dengan baju kaos biru polos dan celana pendek sebatas lutut bermotif.
Skala tengah sibuk memeriksa berkas kantor yang belum dia selesaikan dan menyuruh sekretarisnya mengantarkan berkas yang perlu di tandatangani ke rumah sakit . Pria itu duduk bersandar di sofa sambil membaca berkas kantor sebelum dia tandatangani. Devia tengah asyik dengan ponselnya di sedang berselancar di sosial media sekedar hanya menscroll video untuk menghibur kebosanannya.
Skala tersenyum ketika menatap Devia, entah mengapa istrinya nampak lucu saat wajahnya terlihat serius. Devia yang sadar di perhatian , dia mendongak menatap Skala yang terus memperhatikan dirinya.
"Jangan dilihat kaya gitu , aku gak suka " gerutu Devia.
"Aduh istriku ini kenapa galak banget " sahut Skala.
"Aku gak galak, aku orangnya kalem gak banyak tingkah orangnya" sahut Devia.
"Masa " ujar Skala menggoda Devia.
"Mas Skala jangan gangguin aku terus, kamu lebih baik selesaikan kerjain berkas kantor kamu itu" ujar Devia. Gadis itu kembali memainkan ponselnya. Sedangkan Skala selalu puas membuat Devia kesal . Mengganggu istrinya sekarang menjadi penghibur saat dia penat memikirkan masalah perusahaan.
Bersambung...
__ADS_1