
Devia menatap nasi padang yang di makan Dafa.Wanita itu meneguk ludahnya kasar melihat kembaran memakan nasi padang dengan nikmatnya.
"Aku suapin ya " ujar Dafa menyuapi Fira dengan pelan. Wanita itu menerima suapan dari suaminya.
Mereka semua berkumpul dan menginap di rumah Dinda dan Devan.Karna sudah sangat jarang mereka berkumpul dengan anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Devia menarik ujung baju Skala membuat pria itu menghentikan acara makannya.
"Kenapa, sayang ? " tanya Skala. Devia menunjuk nasi padang yang di makan Dafa.Pria itu sadar di perhatikan adiknya menatap Devia yang fokus matanya pada makanannya.
"Kamu mau ini,dek? " tanya Dafa menunjuk nasi padangnya . Devia menganggukkan kepalanya cepat dengan mata yang berbinar-binar .
"Tidak usah Dafa, biar aku belikan nasi padang untuk Devia " tolak Skala.
"Gak pa-pa, kalau Devia mau, tapi tidak pa-pa 'kan kalau bekas aku " ujar Dafa menyodorkan makanan tersebut pada adiknya. Devia langsung mengambil makanan tersebut dan memakannya dengan lahap tak memperdulikan tatapan semua orang padanya.
"Kamu tidak usah khawatir Skala, tidak pa-pa Devia memakan bekas Dafa. Lagian istri kamu juga sedang hamil dan mudah ngiler lihat orang makan di depannya.Dulu Mamah kaya gitu, lebih parah lagi minta makanan milik ayah mertua " ujar Dinda terkekeh. Skala hanya menampilkan senyuman kaku, dia tidak melarang Devia makan apapun tapi untuk makanan bekas orang lain ,dia cukup melarang keras tapi kali ini dia tidak mungkin melarang istrinya karna ada mertuanya.
"Fira sudah isi belum kamu? " tanya Dinda dengan nada menggoda.Fira jadi salah tingkah mendengar pertanyaan mertuanya. Bagaimana bisa dia hamil bila Dafa belum menyentuhnya.
"Belum mah, lagian kami berdua baru menikah dan tidak mungkin secepat itu Fira hamil " sahut Dafa.
"Sudah-sudah, sekarang cepat habiskan makanan kalian. Dafa dan Fira hari ini mau pindah rumah " ujar Devan yang sedari tadi diam.
*******
Albian berjalan mendekati Dea yang tengah asyik bermain dengan boneka beruang yang baru di berikan Elang.
"Dea" panggil Albian, membuat gadis kecil itu menoleh menatap kearah bocah laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Ada apa Bian panggil, Dea? " tanya Dea . Dengan jailnya Albian mencolek pipi Dea dengan arang hitam yang dia dapatkan di belakang rumah tempat pembakaran sampah.
"Bian kok gitu sama Dea, lihat pipi Dea hitam " gerutu Dea menghapus pipinya yang menghitam.
"Jangan marah Dea, kamu 'kan aslinya kulitnya hitam jadi walna arang milip dengan walna kulit kamu hahaha..... coba kamu kaya Alexa, dia cantik, putih, dan gak hitam kaya kamu " ejek Albian sambil tertawa.
"Awww sakit" ringis Bian . Devia tiba-tiba langsung menjewer telinga putranya setelah melihat anaknya menghina cucu dari pembantu yang bekerja di rumah orang tuanya.
"Siapa yang ngajarin kamu menghina orang kaya gitu? Jawab Albian! Jangan sampai telinga kamu copot gara-gara Mamah jewer" ancam Devia yang geram dengan sikap putranya. Albian hampir menangis mendengar ancaman Mamahnya yang dia kira memang benar bila telinganya akan benar-benar copot.
"Gak ada yang ngajalin Bian , tapi memang benal kok kulit Dea kulit hitam " ujar Albian . Devia melepaskan jeweran di telinga putranya.
"Kamu gak boleh bilang kaya gitu, Dea itu manis dan cantik walau kulitnya hitam. Dan Mamah gak pernah ngajarin kamu buat menghina orang lain, apalagi kamu menghina fisik . Sekali lagi kamu ketahuan jailin dan ngatain Dea , Mamah aduin kamu sama Papah kamu biar di kirim ke pesantren " ancam Devia berkacang pinggang.
"Jangan aduin sama Papah, Bian gak mau di kilim ke pesantlen" rengek Albian memeluk pinggang Devia.
"Aku minta maaf sudah ngatain kamu " ujar Albian. Dea tersenyum dan menyambut uluran tangan bocah laki-laki tersebut.
"Iya, ndak pa-pa tapi Bian jangan hina Dea lagi ya, telus kita temenan ya " ujar Dea terus menampilkan senyumannya.
"Iya " jawab Albian dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Devia mengeluarkan tissue basah dari tasnya dan mengusap pipi Dea dengan lembut menghapus warna arang yang ada di pipi gadis kecil itu.
"Maafin Bian ya Dea. Dia memang jail tapi Bian baik kok. Ini tante kasih permen sama coklat buat Dea " ujar Devia memberikan coklat dan permen pada Dea. Gadis kecil itu menatap berbinar-binar dengan jajanan yang jarang bahkan tidak pernah dia beli karna faktor ekonomi dan juga tidak mau merepotkan neneknya. Satu-satunya orang yang merawatnya sejak umur dua tahun.
"Benelan tante, ini buat Dea " ujar Dea kegirangan.
__ADS_1
"Tante aku mau juga " ujar Alexa yang tiba-tiba muncul. Devia tersentak kaget karna Alexa tiba-tiba sudah ada di sebelahnya .
"Kamu mau coklat juga? " tanya Devia dan langsung di angguki bocah kecil itu.
"Tadi kamu kemana? Tante gak lihat kamu " ujar Devia memberikan coklat pada Alexa.
"Tadi aku ke gereja tante, belibadah. Setiap minggu aku sama mommy dan papi ke gereja " ujar Alexa. Devia hanya menganggukkan kepalanya karna dia sudah tau teman Albian adalah penganut agama Kristen tapi Devia dan Skala tidak mempersalahkan perbedaan itu.
******
Fira dan Dafa berpamitan pada Dinda dan yang lainnya. Hari ini mereka akan pindah ke rumah yang baru .Elang terus menampilkan wajah cemberut, dia sebenarnya ingin tetap tinggal di rumah oma dan oppanya . Mata bocah lelaki itu menatap kearah pohon. Dea menatap kepergian sahabat baiknya itu dari balik pohon , air mata membasahi wajahnya .
"Bunda, ayah. Elang temuin Dea dulu ya, mau pamitan" ujar Elang.
"Iya, sayang " sahut Fira. Elang berlari kearah Dea, dia tersenyum menatap sahabatnya yang meneteskan air mata.
"Kenapa nangis? Elang ada salah sama Dea? " tanya Elang kebingungan.
"Bukan ,tapi Dea sedih Elang bakal ninggalin Dea . Nanti kalau Dea di gangguin Bian sama Alexa , siapa yang bakal belain Dea " lirih Dea mengusap air matanya.
"Nanti aku suluh Alvian buat jagain kamu, nanti setiap minggu aku bakal kesini buat main sama kamu. Dea jangan nangis ya, kamu kalau kangen sama aku peluk aja boneka beruang yang tadi aku kasih " ujar Elang. Setelah mengucapkan itu , dua sahabat itu saling berpelukkan .
Semua orang menatap pada Elang dan Dea yang saling berpelukkan . Dafa juga merasa sedih karna harus memisahkan Elang dari Dea, sahabat anaknya.
"Kasihan mereka, mas. Aku jadi gak tega lihatnya" ujar Fira.
"Nanti setiap sabtu dan minggu kita kesini, supaya Elang bisa main dengan Dea" ujar Dafa merangkul pinggang istrinya. Albian memutar bola matanya malas melihat adegan mereka berdua yang berpelukkan. Sedangkan Alvian memperhatikan dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
__ADS_1
Bersambung....